Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Sang Naga
Hong Kong di bawah naungan malam tampak seperti hamparan berlian yang mengapung di atas laut hitam, namun bagi Aira, cahaya neon yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit itu terasa seperti mata predator yang tak pernah berkedip. Di bawah komando Madam Sun, Aira dan Aristhide dibawa melewati jalur rahasia yang dikenal sebagai "Jalan Tikus Merah"—sebuah labirin terowongan logistik yang dibangun pada masa perang dan kini menjadi satu-satunya celah di jaring laba-laba digital Klan Long.
"Victoria Peak bukan sekadar bukit wisata," bisik Madam Sun saat mereka mendaki tangga beton yang sempit di dalam perut gunung. "Di bawah permukaan tanahnya yang mahal, terdapat sebuah fasilitas yang mereka sebut The Jade Chamber. Itu adalah pusat saraf finansial dan biologi Klan Long. Di sanalah ibumu disekap."
Aristhide memeriksa senjata taktisnya, wajahnya keras seolah terbuat dari granit. "Bagaimana dengan sistem keamanannya? Jika mereka bisa memindai DNA dari satelit, mereka pasti tahu kita mendekat."
"Kita menggunakan 'Kulit Hantu'," Madam Sun memberikan dua buah stiker transparan kecil untuk ditempelkan di belakang telinga mereka. "Ini adalah pengacau frekuensi biometrik. Satelit akan melihat kalian sebagai tumpukan data sampah, bukan sebagai manusia. Tapi ini hanya bertahan selama tiga jam."
Aira memegang perutnya yang kini terasa semakin tegang. "Tiga jam sudah cukup untuk mengambil Ibu dan keluar dari sana."
Mereka akhirnya mencapai pintu masuk rahasia: sebuah kuil kecil yang tersembunyi di rimbunnya hutan Victoria Peak. Di balik patung naga yang tertutup lumut, terdapat lift hidrolik yang membawa mereka turun ratusan meter ke kedalaman bumi. Saat pintu lift terbuka, Aira tertegun.
The Jade Chamber adalah perpaduan gila antara tradisi kuno dan fiksi ilmiah. Lantainya terbuat dari marmer giok hijau yang berkilau, sementara langit-langitnya dipenuhi layar holografik yang menampilkan aliran data saham dunia yang bergerak seperti sungai cahaya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tabung kaca raksasa yang berisi air biru jernih.
Di dalam tabung itu, Sofia Malik tampak mengapung, terhubung dengan berbagai selang sensor. Ia tidak tampak menderita; ia tampak seperti seorang dewi yang sedang tidur panjang.
"IBU!" teriak Aira, namun suaranya diredam oleh dinding kedap suara.
"Jangan mendekat!" Aristhide menarik Aira kembali saat melihat barisan Penari Naga yang muncul dari balik pilar-pilar giok.
Namun, para pengawal itu tidak menyerang. Mereka justru membungkuk rendah. Dari balik bayang-bayang tabung, muncullah seorang pria tua dengan jubah sutra panjang berwarna merah tua. Wajahnya halus tanpa keriput, meski rambutnya seputih salju. Inilah The Dragon Lord, pimpinan Klan Long.
"Aira," suara pria itu tenang, namun berwibawa tinggi. "Setelah tiga generasi, akhirnya darah murni kembali ke pangkuan naga."
"Lepaskan ibuku!" tuntut Aira, matanya berkilat penuh amarah.
"Ibumu tidak dalam bahaya, Aira. Dia sedang menjalani proses sinkronisasi. Dia adalah jembatan, tapi kaulah tujuannya," pria itu berjalan mendekati tabung. "Kakekmu, ayah Sofia, melakukan kesalahan besar saat dia membawa lari data genetik kami ke Eropa. Dia pikir dia sedang menyelamatkan kalian, padahal dia hanya menunda takdir."
Aristhide melangkah maju, menodongkan senjatanya tepat ke wajah pria tua itu. "Aku tidak peduli dengan takdir atau serum keabadianmu. Kita pergi dari sini sekarang, atau aku akan meledakkan pusat saraf ini."
The Dragon Lord tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kau pria yang berani, Aristhide Malik. Tapi kau tidak bisa menembak sesuatu yang sudah menjadi bagian dari sistem. Jika kau membunuhku, sistem pendukung kehidupan Sofia akan mati dalam satu detik. Dan jantung bayi di rahim Aira akan berhenti berdetak karena sinyal ultrasonik yang baru saja kami aktifkan di ruangan ini."
Aira memegang perutnya, ia merasakan denyut yang aneh—sebuah frekuensi rendah yang membuat jantungnya sendiri terasa nyeri. "Apa yang kau lakukan pada anakku?!"
"Kami hanya memberikan 'panggilan'," ujar sang Naga. "Bayi itu bukan sekadar manusia, Aira. Dia adalah inkubator biologis untuk algoritma yang bisa mengendalikan ekonomi dunia secara otomatis. Siapa pun yang memiliki akses ke detak jantungnya, memiliki akses ke seluruh transaksi digital di bumi."
Madam Sun tiba-tiba melangkah maju, tongkatnya bersinar redup. "Kau sudah gila, Long! Kau ingin mengubah cicitmu sendiri menjadi mesin?"
"Dunia butuh keteraturan, Sun. Dan keteraturan membutuhkan penguasa yang abadi."
Tiba-tiba, Sofia membuka matanya di dalam tabung. Ia melihat Aira. Meskipun tidak bisa bicara, matanya mengirimkan pesan yang jelas. Ia menggerakkan tangannya perlahan ke arah sebuah panel kontrol di bawah tabung.
“Hancurkan sistemnya, Aira... jangan pedulikan aku,” itulah yang terbaca dari gerakan bibirnya.
"Tidak, Ibu!" isak Aira.
"Aristhide, sekarang!" teriak Madam Sun.
Madam Sun menghantamkan tongkatnya ke lantai giok, menciptakan ledakan EMP (pulsa elektromagnetik) yang mematikan seluruh layar holografik dan lampu di ruangan tersebut. Dalam kegelapan total, Aristhide bergerak seperti bayangan, melumpuhkan para pengawal terdekat.
"Aira, lari ke panel kontrol!" perintah Aristhide.
Aira berlari di tengah kekacauan. Ia mencapai panel tersebut, namun The Dragon Lord sudah berdiri di sana, memegang sebuah belati kecil berbentuk taring naga.
"Kau tidak akan sanggup membunuh kakek buyutmu sendiri, Aira," bisik pria itu di telinganya.
Aira menatap mata pria itu—mata yang haus akan kekuasaan abadi. Ia teringat Bramantyo, ia teringat Oswald, dan ia teringat perjuangan Aristhide.
"Kau bukan keluargaku," desis Aira. Ia tidak menggunakan senjata, melainkan menggunakan kunci perak pemberian Ibu Saraswati yang selalu ia bawa. Ia menusukkan ujung tajam kunci itu bukan ke tubuh pria itu, melainkan ke lubang kunci darurat di panel kontrol yang ternyata memiliki mekanisme yang sama dengan brankas di Zurich.
Seketika, sistem alarm meraung. Cairan di dalam tabung Sofia mulai terkuras habis.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak The Dragon Lord panik.
"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan Sofia dua puluh tahun lalu," ujar Aira. "Aku menghapus seluruh basis data biometrik dari server pusat."
Ledakan energi terjadi dari pusat tabung. Aristhide menerjang Aira, melindunginya dari serpihan kaca saat tabung Sofia pecah. Sofia terjatuh ke lantai, terengah-engah mencari udara.
"Ibu!" Aira memeluk ibunya yang basah kuyup.
"Ayo pergi! Tempat ini akan terkunci secara otomatis!" teriak Madam Sun.
Mereka berlari menuju lift, meninggalkan The Dragon Lord yang meraung frustrasi di tengah reruntuhan teknologinya yang bernilai triliunan dolar. Namun, saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan besi mencengkeram pintu tersebut.
Bukan pengawal biasa. Itu adalah unit robotik keamanan yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan sisa-sisa sistem.
"Kalian tidak akan keluar dari Hong Kong hidup-hidup," suara digital The Dragon Lord bergema melalui speaker lift. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada yang bisa."
Lift itu mendadak meluncur jatuh dengan kecepatan yang mematikan.
Apakah mereka akan selamat dari lift yang jatuh bebas? Dan di manakah Adipati Narendra saat ini—apakah dia benar-benar tewas di Italia atau sedang merencanakan serangan balik dari luar?