NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 25 - Berisik

Kening Alexa terkena lemparan batu yang ukurannya mungkin sekepal tangan bayi, tapi cukup untuk membuat Alexa merasa pusing. Dia meringis kesakitan dan langsung menutup pintu.

Steven yang baru tahu kalau kening Alexa terluka seketika panik. Tapi Alexa langsung mengambil masker milik Steven dan melemparnya ke Steven.

"Pakai!" perintahnya.

"Kening kamu—"

"Pakai saja masker kamu!" sela Alexa cepat.

Mau tak mau, Steven menurut—pandangannya tak lepas dari Alexa yang mengintip dari jendela untuk melihat keributan yang terjadi di luar.

Berbeda dengan Steven yang kini kebingungan tak mengerti kenapa tiba - tiba banyak orang melempari batu ke unit kontrakan Alexa.

"Apa ini karena aku ada di sini?" tanya Steven berbisik.

"Bukan. Nasibku saja yang buruk," balas Alexa tanpa menoleh.

Ya, Alexa sudah putus asa untuk memiliki takdir yang baik. Tidak akan ada satu hari pun yang bisa dia lalui dengan ketenangan bahkan di bawah alam sadarnya, Alexa tetap merasa ketakutan.

Kali ini ketakutannya lebih besar. Perih di keningnya tidak ada apa - apanya dengan ketakutannya pada pikirannya sendiri.

Padahal Alexa jelas tidak melakukan hal kriminal atau sesuatu dengan Steven. Tapi dia terlalu takut untuk membela diri.

"Aku bisa jelaskan ke mereka siapa aku." Steven mencoba membantu.

Tak ada tanggapan dari Alexa. Tubuhnya tampak gemetar tak melepaskan pandangannya dari luar jendela yang kacanya sudah pecah beberapa.

Kakinya lemas sehingga tubuhnya merosot menjadikan tubuhnya sebagai ganjal pintu ketika orang - orang mulai mendekat dan meneriaki namanya dengan berbagai cercaan dan hinaan.

"Alexa, aku di sini. Jangan takut." Tak tega, Steven menepuk pundak Alexa lembut.

Seolah tak mendengarkan ucapan Steven, Alexa merapatkan tubuhnya dengan lututnya—kedua tangannya menutup telinganya rapat - rapat.

Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru dan bola matanya bergerak tak karuan.

"PEL4CUR! KELUAR KAMU!"

"DASAR ANAK P3MBUNUH! KELUAR ATAU KITA DOBRAK?!"

"DOBRAK! DOBRAK! DOBRAK!"

Alexa semakin menutup rapat telinganya mendengar teriakan semua orang.

"Hei, lihat aku!" Steven duduk di lantai memegang wajahnya Alexa agar menatapnya.

Namun Alexa kacau. Dia bahkan ketakutan dengan keberadaan Steven. Dia tidak berani melihat siapa pun atau akan berakhir dengan luka. Tangannya mulai menjambak rambut panjangnya keras karena tak bisa mengatasi ketakutannya.

Steven berusaha menghentikan itu, namun gagal. Banyak rambut Alexa yang rontok karena dia menariknya terlalu kuat.

"Mereka akan memukulku! Tidak! Aku tidak mau!" Alexa menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada yang akan memukulmu. Aku di sini." Steven merasa ikut merasakan perih ketika luka di dahi Alexa semakin mengeluarkan banyak darah.

Apalagi karena Alexa banyak bergerak, darahnya belepotan di wajahnya.

BUNG!

Tubuh Alexa sedikit tersentak ketika pintu yang menjadi sandarannya mulai didobrak. Meski takut, Alexa tak beranjak dari tempatnya. Dia justru ingin mempertahankan pintu itu.

"HEI, PEL4CUR! KELUAR KAMU DARI KONTRAKAN INI!"

"BENAR! PERUSAK NAMA BAIK!"

Mendengar itu, Alexa mulai menggigiti lengannya kencang. Air matanya menetes satu persatu tapi tak ada isakan. Dia hanya semakin menyakiti dirinya sendiri.

"ALEXA!" bentak Steven dengan suara serak yang akhirnya membuat Alexa berhenti menggigit lengannya.

Steven menarik Alexa ke dalam pelukannya. Dia tahu semua orang sudah mulai mendobrak pintu itu, tapi yang terpenting adalah kondisi mental Alexa yang harus ditenangkan lebih dulu.

"Aku yang akan menghadapi mereka. Jangan takut," bisik Steven.

"Mereka akan memukulku."

"Aku yang akan memukul mereka. Oke?" Steven melepas dekapannya dan akhirnya mata mereka bertemu.

Steven merapikan sedikit rambut Alexa yang benar - benar berantakan. Dia merasa iba dengan semua yang Alexa alami secara beruntun.

"Aku janji kamu tidak akan terluka lagi karena mereka." Steven menunjukkan jempolnya.

Dengan tangan gemetaran, Alexa menyatukan jempolnya berusaha mempercayai Steven meski kepercayaannya pada orang lain sudah hilang.

Steven membantu Alexa bangkit dan langsung menyembunyikan Alexa di belakang punggungnya. Pintu hampir terdongkrak, ketika Steven akhirnya membuka pintu.

"Nah, ini dia laki - laki yang melakukan hal tidak senonoh dengan Alexa!" ucap para warga.

"KITA SERET MEREKA BERDUA KE KANTOR POLISI!" Salah satu memprovokasi.

"Atas tuduhan apa?" Steven menanggapi mereka.

Semuanya akhirnya diam memandang laki - laki yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker itu. Bagaimana pun, Steven terlihat tenang di tengah situasi yang chaos banget itu.

"Tentu saja atas tuduhan perbuatan tidak senonoh," jawab salah seorang.

"Ada yang punya bukti? Tolong tunjukkan pada saya buktinya. Jika ada, saya akan menyerahkan diri. Tapi jika tidak, kalian yang akan saya laporkan atas pencemaran nama baik dan percobaan penyerangan." Steven balas mengancam.

Alexa masih bersembunyi di belakang Steven dengan harapan Steven tidak membuka maskernya, atau Steven akan mendapat masalah yang lebih besar lagi karena penggerebekan itu.

Semua orang hanya saling memandang. Tak ada yang berani menunjukkan apa pun karena mereka memang tidak memiliki bukti apa pun.

"Saya temannya Alexa. Saya cuman datang untuk mengantarkan makanan. Tapi karena kebetulan saya lapar, dia mengajak saya makan. Apa itu salah?" Steven menjelaskan.

"Tetap saja kalian berada di dalam rumah berduaan. Alexa sendiri mengakui kalau dia bekerja sebagai LC."

"Aku tidak mengakui." Alexa akhirnya angkat bicara. "Kalian yang menyimpulkan."

Steven menarik nafas panjang. Siapa sangka kalau Alexa hidup di antara orang - orang yang toxic dan asal bertindak tanpa tahu apa pun.

"Karena tidak ada yang memberikan bukti, saya tidak main - main dengan ancaman saya." Steven mengambil ponselnya bersiap menelepon polisi.

Tiba - tiba seseorang merebut ponsel Steven dan melemparnya ke dinding hingga layarnya pecah.

Tak ada reaksi langsung dari Steven yang hanya menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Dia tidak masalah dengan ponsel itu karena bisa membeli yang lebih bagus. Dia hanya benci cara ponselnya dirusak.

"Saya bisa langsung ke kantor polisi." Steven masih berbicara dengan santai.

"Kamu sendiri kenapa tidak melepas masker kalau kamu tidak bersalah?!"

"Jangan!" bisik Alexa.

Tanpa ragu, Steven akhirnya membuka maskernya meski Alexa sudah menepuk punggungnya beberapa kali memberi isyarat agar Steven tidak melakukan itu.

Tapi Steven tidak peduli.

Semua orang hanya menganga ketika melihat wajah Steven ada di hadapannya.

"Saya bisa membeli ponsel dengan model yang sama dengan mudah. Tapi saya menuntut ganti rugi." Steven memungut ponsel miliknya yang kondisinya benar - benar parah meskipun belum sepenuhnya mati.

Hening.

Mereka hanya fokus memastikan bahwa laki - laki yang ada di hadapan mereka adalah selebriti yang sedang naik daun itu.

"Sekarang kalian tuli?" sindir Steven semakin merasa kesal.

"A - anu... kami minta ma—"

"Kami tidak menerima maaf. Lihat lukanya!" Steven menyeka rambut Alexa memperlihatkan luka yang ada di dahi Alexa. Itu parah.

Alexa hanya menunduk sambil meringis kesakitan. Kepalanya benar - benar pusing dan rasanya dia ingin segera istirahat.

"Kalian menyerangnya tanpa bertanya yang sebenarnya. Lalu ponsel saya. Tidak peduli dengan kondisi ekonomi kalian, aku menuntut ganti rugi atas semuanya. Termasuk kekacauan unit kontrakan Alexa." Steven berapi - api.

Tiba - tiba seorang wanita bersimpuh di hadapan Steven membuat Steven menarik Alexa mundur menjauh. Tatapannya pada orang itu—penuh rasa jijik.

"Tolong jangan laporkan kami ke polisi. Kami akan menggantikan semua yang kamu minta," katanya.

Alexa samar - samar melihat wanita itu. Matanya mulai buram karena pusing di kepalanya yang semakin menjadi - jadi. Itu jelas Mbak Hera, orang yang pertama kali mengatakan Alexa bekerja sebagai LC.

"Itu urusan Alexa. Bubar!" Steven mengusir semua orang.

Mereka pun pergi masih belum lepas pandangan mereka dari Steven. Tentu saja tak ada yang percaya kalau Steven berteman dengan Alexa.

Keduanya bagaikan langit dan bumi.

"Sudah aman. Kamu—"

"Kamu juga pergi. Aku mau sendiri," ujar Alexa.

"Kamu yakin nggak apa - apa?"

"Kepalaku berisik. Jadi aku butuh sendiri." Alexa berjalan masuk ke rumahnya dan langsung menutup pintu.

Dia mengunci semua pintu, jendela dan mematikan semuan lampu. Setelah itu masuk ke dalam kamarnya masih dengan terburu - buru karena ketakutannya belum hilang.

Alexa mengambil kotak dari bawah ranjang. Ada obat penenang yang sudah dia beli secara online.

Melupakan aturan dosis yang dianjurkan, Alexa menelan pil itu sekaligus untuk membungkam kepalanya yang begitu berisik. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!