Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Dalam Doa
Pagi mulai menampakkan sinarnya. Safira, merentangkan kedua tangannya.
Setelah salat subuh tadi, ternyata dia tertidur. Bahkan, mukena masih melekat di tubuhnya.
Dari arah dapur, suara panci dan sendok beradu pelan. Safira, bergegas kesana, setelah memakai jilbab instannya.
"Bu ..." panggil Safira, begitu melihat Hayati sedang mengaduk bubur.
"Udah bangun? Bagaimana keadaan mu?" tanya Hayati, bernada khawatir. "Udah mendingan? Bagas bilang, semalam kamu gak bisa tidur," Hayati, mengecilkan api kompor, dan mendekati Safira.
Begitu tangan keriput itu terulur memeriksa keningnya. Mata Safira langsung berkaca-kaca.
"Eh masih gak enak badan kah? Sebaiknya kamu istirahat aja," perintah Hayati, terkejut.
Hayati terkejut bukan karena suhu badan Safira. Melainkan, karena Safira yang berkaca-kaca.
"Aku udah sehat kok bu ... Ibu istirahat aja. Biar aku yang lanjut masak," tutur Safira, mendorong pelan tubuh mertuanya.
Ketika bubur sudah matang, Bagas datang dari pintu belakang. Di tangannya, dia membawakan cabe serta tomat.
"Dari sawah bang?" tanya Safira begitu, melihat plastik di tangan suaminya.
"Iya, sepertinya cabe kita bisa panen hari ini," balas Bagas.
Bagas memang menanam cabai dan tomat di salah satu sawahnya. Kenapa tidak menanam padi? Karena, sekarang lagi musim kemarau. Dan sawah yang di tanami cabai, agak lebih sulit mendapatkan air, di bandingkan sawah-sawahnya yang lain.
"Aku ikut bang ... Masak sampai sekarang, abang belum pernah mengajak ku ke sawah," rengek Safira.
"Emang kamu mau ke sawah?" tanya Bagas tersenyum.
Bukan tanpa alasan dia gak membawa Safira ke sawah. Dia masih teringat tentang hinaan yang di keluarkan Anwar dulu. Yang mana, akan mengajak Nadia, untuk bekerja di sawah.
Dan sekarang, dia ingin membuktikan pada lelaki itu. Bahwa tuduhannya gak benar. Buktinya, selama menikah, Safira belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sawah.
Atau mungkin, istrinya tak tahu dimana aja sawahnya berada.
"Mau bang, dari pada di rumah kan," rengek Safira bergelayut manja. "Eh, kayaknya gak jadi deh, karena semalam aku janji ingin pulang ke rumah ibu," ungkap Safira teringat janjinya pada sang ibu.
"Kalo begitu abang antar ya,"
"Jangan, adik pergi sendiri aja. Lagipula, abang harus manen cabai kan?" larang Safira, merasa tak enak.
"Kan yang manen orang lain, abang temani kamu aja,"
"Gak apa, aku pulang sendiri aja. Abang disini, temani ibu," tolak Safira.
Akhirnya, mau tak mau Bagas mengalah. Karena dia menduga, barang kali istrinya mau manja-manja dengan orang tuanya.
Setelah meminta izin pada Hayati. Safira bergegas ke rumah orang tuanya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Safira tiba di rumahnya.
Disana, terlihat Malik yang sedang menjaga warung.
"Bang ibu mana?" tanya Safira, seraya menarik sebuah jajanan.
"Di dalam, kamu pulang sendiri? Mana Bagas?" tanya Malik, celingukan.
"Bang, sepeda motornya di depan loh, udah jelas aku pulang sendiri," cibir Safira memutar mata.
"Kan biasanya dianterin," kekeh Malik, mengaruk kepalanya.
"Aku mau ketemu ibu dulu," ungkapnya, berlalu.
Begitu masuk, Safira langsung menangkap ibunya yang sedang menampi beras, di ruangan.
"Bu ..." Safira memanggil ibunya. Wajahnya langsung berubah muram.
"Ada apa?" tanya Juliana, melihat muka anaknya yang berubah sendu.
Ketakutan mulai membayang. Dia takut, jika Safira mendengar sesuatu yang tak harus di dengarnya.
"Bu, a-aku mau cerita," Safira melangkah. Duduk, disamping ibunya.
"Bentar, ibu bereskan ini dulu," Juliana membereskan dedak dari beras, yang tadi di bersihkannya.
"Katakan!" serunya, ketika dia telah membereskan pekerjaannya.
"Kenapa sampai sekarang aku belum hamil sih bu? Padahal, kami udah menikah enam bulan, lamanya," ujar Safira lirih. Bahkan kini, dia memilih merebahkan kepalanya, ke paha sang ibu, setelah sebelumnya, membuka hijabnya.
"Apa Bagas,"
"Bukan, bahkan bang Bagas tak menyenggolnya sekalipun," potong Safira cepat.
"Jadi? Apakah itu mertua mu?"
Safira menggeleng cepat. Mereka bahkan, tak sekalipun membahas tentang anak padanya.
"Terus kenapa kamu pikirkan? Lagipula, kalian baru menikah enam bulan. Banyak yang di luar sana, mereka baru bisa merasakan hamil, setelah bertahun-tahun lamanya,"
"Dan apakah harus menjadi salah satu dari mereka?" Safira mendongak, menatap sang ibu, yang mengelus rambutnya.
"Kapan pun itu, Tuhan lebih tahu, waktu yang tepat," balaa Juliana, memejamkan matanya.
Dalam hati, dia berdoa agar sang anak segera memiliki benih kehidupan di rahimnya.
Dan Safira perlahan memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut, yang membuatnya terlelap.
"Ibu doakan, semoga kamu bahagia, dimanapun kamu berada nak," ujar Juliana, menatap anaknya, yang mendengkur halus.
✨✨✨
Di sawah, Bagas mengantarkan makanan untuk tiga orang pemetik cabainya.
Dia merekrut, tiga orang wanita. Ada yang janda, ada yang gadis, ada pula ibu-ibu yang memang membutuhkan uang lebih.
"Wah, udah kekumpul banyak," Bagas menatap satu karung berisi cabai.
"Rejeki kamu Bagas, mana cabainya lagi mahal-mahalnya," celetuk pemetik yang janda.
"Alhamdulillah, rejeki istri," balas Bagas tersenyum ramah.
"Iya, kami lihat, sejak menikah penampilan mu juga udah berbeda bang," yang masih gadis ikut menimpali.
"Syukur Alhamdulillah, ternyata aku gak salah pilih istri," balas Bagas.
"Mending gitu, noh lihat Nadia. Bahkan belum nikah sampai sekarang. Dia pasti masih mengharapkan mu," sambung ibu yang sejak tadi diam.
"Jangan bilang begitu bu ... Pekara, jodoh, maut, rejeki, hanya Allah yang tahu," peringat Bagas.
Entah kenapa, setiap nama Nadia di sebutkan, rasa berdesir di hatinya tak pernah menghilang.
Padahal, mati-matian, dia mencoba membuka hati untuk istrinya.
Mungkin, inilah yang dinamakan cintanya habis di orang lama. Dan dia berharap, semoga Safira tak kan pernah menyadari kekurangannya.
Sebab Bagas sadar, kalau sang istri benar-benar mencintainya. Terlihat dari binar, ketika menatap matanya.
"Iya ih bu ... Semuanya sudah di atur sama yang maha kuasa," balas ibu yang janda, menegur temannya.
Karena gak mau berlama-lama. Bagas pun izin untuk pamit pulang. Serta dia membawakan cabai, yang sudah ada satu karung penuh.
Ketika di perjalanan pulang, begitu rumah Nadia terlihat. Bagas menghentikan sepeda motornya. Hal yang sering di lakukan semenjak dia berpacaran dengan Nadia.
Dulu, dia selalu mengirimkan pesan pada Nadia. Memberitahukan jika ia akan melewati rumahnya. Dan Nadia sendiri, akan keluar ataupun berdiri di pintu, untuk menatap sang belahan jiwa.
"Tuhan, hatiku milikmu ... Dan sekarang, aku kembalikan rasa ini padamu. Cabut lah, semua rasa cintaku untuknya. Dan izinkan aku untuk mencintai istri ku sepenuhnya," lirihnya, sebelum kembali menjalankan sepeda motornya.
kebiasaan ih