NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Abimana merangkak mendekati tempat tidur, mencium aroma parfum melati milik Arunika yang masih tertinggal tipis di bantal. Perasaan kehilangan itu menghantamnya jauh lebih keras daripada saat ia dipaksa menikah dulu.

​Dahulu ia merasa dipenjara oleh perjodohan ini, namun sekarang, saat pintunya terbuka dan Arunika pergi, ia justru merasa dunianya benar-benar runtuh. Ia baru menyadari bahwa kehadiran Arunika yang tenang, cerdas, dan tegas selama dua hari ini telah menjadi fondasi baru bagi hidupnya—fondasi yang baru saja ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

​"Kamu benar, Nika... aku pahlawan kesiangan yang kehilangan rumahnya." bisiknya pedih.

​Ia segera meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor Arunika dengan tangan yang masih bergetar hebat.

​Panggilan dialihkan.

​Ia mencoba lagi. Hasilnya sama. Arunika benar-benar telah memutus akses untuknya. Ia kemudian membuka aplikasi pesan, mengetikkan kata demi kata yang terasa tidak cukup untuk menebus kesalahannya.

​[Nika, maafkan aku. Aku salah. Aku benar-benar bodoh. Tolong katakan kamu di mana, aku akan menjemputmu. Jangan tinggalkan aku seperti ini, Mas mohon...]

​Pesan itu hanya bercentang satu.

​Abimana bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan meratapi kebodohannya. Ia harus melakukan sesuatu sebelum segalanya menjadi permanen. Ia menyambar kunci mobil dan jaketnya, tidak peduli meskipun tubuhnya sudah sangat lelah.

​Tujuannya hanya satu: Kediaman keluarga besar Arunika.

​Meskipun ia tahu ia mungkin akan diusir, dihina, atau bahkan dipukuli oleh ayah mertuanya, Abimana tidak peduli. Ia harus membawa Arunika pulang, atau setidaknya, ia harus memastikan istrinya tahu bahwa ia sangat menyesal telah menjadi pria paling bodoh hari ini.

​Di sebuah kamar kos yang sempit namun terasa jauh lebih hangat daripada apartemen mewah tadi, Arunika duduk di tepi tempat tidur milik Risa. Matanya menatap kosong ke arah jendela, sementara Risa sibuk merapikan beberapa barang yang dibawa sahabatnya itu dengan wajah yang masih menunjukkan rasa tidak percaya.

​"Gila kamu, Nika! Baru juga nikah sehari, masa sudah minggat saja? Satu kampus tadi gempar melihat Pak Abi lari keluar kelas." seru Risa sambil menoleh dengan mata membelalak.

​Arunika menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. "Laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya itu harus diberi pelajaran, Ris! Dia pikir dia siapa bisa memperlakukanku seperti pajangan di depan mahasiswanya sendiri?"

​"Tapi, Nik... apa tidak terlalu drastis langsung pergi begitu?"

​"Lalu aku harus apa? Diam saja saat dia membiarkan wanita lain menginjak-injak harga diri istrinya?" Arunika tertawa getir, suaranya kini terdengar tajam dan dingin. "Memang aku dianggap tidak punya hati sampai dia dengan mudahnya melakukan itu? Meskipun kami tidak saling mencintai, setidaknya dia sebagai laki-laki harus mengerti—bahwa ada janji di atas kertas dan di hadapan Tuhan yang harus dia jaga."

​Arunika mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Dia ingin menjadi pahlawan untuk Claudia? Silakan. Tapi jangan harap dia bisa pulang dan menemukan rumah yang sama. Aku bukan pelabuhan darurat yang bisa dia datangi hanya saat dia merasa bersalah."

​Risa menghela napas, ia duduk di samping Arunika dan merangkul bahu sahabatnya itu. "Terus sekarang rencanamu apa? Kamu tidak mungkin selamanya di kosanku yang sempit ini, kan?"

​Arunika menoleh, tatapannya kini berubah menjadi sangat datar—tatapan yang menunjukkan bahwa ia sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk saat ini.

​"Aku akan tetap kuliah seperti biasa besok. Aku ingin dia melihat bahwa tanpanya pun, duniaku tetap berputar. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya memiliki status tapi tidak memiliki kehadiran." sahut Arunika tegas. "Dan soal Papa Bima... aku akan menunggu sampai Mas Abi sendiri yang terjepit oleh kebohongannya."

​Tepat saat itu, ponsel Risa berdering. Nama 'Pak Abimana' terpampang di layar. Risa tersentak dan menunjukkan layar itu pada Arunika.

​"Nika... suamimu meneleponku! Sepertinya dia gila mencarimu."

​Arunika hanya melirik sekilas ke arah ponsel itu sebelum memalingkan wajah kembali ke jendela. "Jangan diangkat, Ris. Biarkan dia mencicipi sedikit rasa cemas yang aku rasakan di kelas tadi."

​"Jadi laki-laki kok plin-plan." gerutu Arunika, suaranya mengandung perpaduan antara kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Risa, namun matanya tetap tajam menatap ke arah ponsel yang masih bergetar di atas kasur.

​Risa hanya bisa meringis melihat nama dosen yang biasanya sangat disegani itu kini diabaikan layaknya panggilan operator oleh sahabatnya sendiri. "Nika, ini sudah panggilan kelima. Kalau dia menelepon kampus atau sampai menghubungi orang tuamu karena panik, bagaimana?"

​"Biarkan saja." sahut Arunika dingin. "Dia harus belajar bahwa setiap keputusan punya konsekuensi. Dia memilih untuk pergi saat aku memintanya bertahan, sekarang giliranku untuk tidak ada saat dia mencariku."

​Sementara itu, di dalam mobil yang melaju kencang di bawah temaram lampu kota, Abimana tampak kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan karena ia terus-menerus meraup wajahnya dengan frustrasi. Setir mobilnya dipukul berulang kali setiap kali panggilannya ke nomor Risa berakhir tanpa jawaban.

​"Sial! Angkat, Risa! Aku tahu Arunika bersamamu!" teriaknya pada kesunyian di dalam kabin mobil.

​Pikirannya kalut. Ia sudah sempat melewati rumah orang tua Arunika, namun ia berhenti di ujung jalan. Ia tidak punya keberanian untuk masuk. Jika ia mengetuk pintu itu dan ternyata Arunika ada di sana, ia tahu Ayah mertuanya—yang sangat menjaga kehormatan putrinya—tidak akan membiarkan Abimana pulang dengan kaki yang utuh. Tapi jika Arunika tidak ada di sana, kecemasannya akan berubah menjadi ketakutan yang nyata.

​Ia memutuskan untuk kembali memacu mobilnya menuju area kos-kosan di sekitar kampus, satu-satunya tempat yang masuk akal bagi mahasiswi seperti Arunika untuk bersembunyi.

​Drt... drt...

​Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan balasan dari Arunika atau Risa, melainkan sebuah pesan dari Claudia.

​[Abi, aku masih gemetar. Tolong kembali ke sini. Aku takut sendirian...]

​Abimana melirik pesan itu dengan tatapan muak. Kilatan amarah muncul di matanya. Tanpa pikir panjang, ia membalas pesan itu untuk pertama kalinya dengan kalimat yang paling jujur sejak mereka bertemu kembali.

​[Cukup, Claudia. Karena ulahmu dan kebodohanku mengikuti permainanmu, aku kehilangan istriku malam ini. Jangan hubungi aku lagi. Urusan kita benar-benar selesai.]

​Ia melempar ponselnya ke kursi penumpang. Nafasnya memburu. Fokusnya kini hanya satu: menemukan keberadaan Arunika. Ia teringat Risa pernah bercerita tentang lokasi kosnya di dekat gerbang belakang kampus.

​Tanpa mempedulikan waktu yang sudah hampir tengah malam, Abimana memarkir mobilnya secara asal di depan gang sempit. Ia berjalan cepat, matanya menyapu setiap deretan kamar kos.

​"Arunika! Nika, aku tahu kamu di sini!" teriaknya lirih, tidak ingin mengundang perhatian warga, namun suaranya sarat dengan keputusasaan.

​Di dalam kamar, Arunika mendengar suara yang sangat familiar itu dari kejauhan. Ia membeku. Risa menatapnya dengan wajah pucat.

​"Nika... itu suara Pak Abi. Dia beneran nyari ke sini!" bisik Risa panik.

​Arunika hanya terdiam, jemarinya meremas selimut tipis di kasur Risa. Hatinya sedikit bergetar mendengar nada suara Abimana yang terdengar hancur, namun logikanya segera menepis perasaan itu.

​"Jangan dibuka pintunya, Ris. Biarkan dia berdiri di sana sampai dia sadar bahwa tidak semua kesalahan bisa diperbaiki hanya dengan satu malam pencarian." ucap Arunika, suaranya kini bergetar namun tetap teguh.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!