Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamparan Tanah Surga
Sekar berdiri diam cukup lama.
Bukan karena takut bergerak, melainkan karena tubuhnya sedang menyesuaikan diri dengan kenyataan yang tidak memiliki padanan logis dalam memori hidupnya, baik sebagai gadis desa, maupun sebagai profesor.
Tanah di bawah telapak kakinya terasa hangat.
Bukan hangat matahari siang, melainkan suhu stabil yang merambat pelan ke tulang, seperti lantai laboratorium yang dijaga konstan agar sampel tak rusak.
Ia menunduk.
Tanah itu berwarna hitam pekat.
Bukan cokelat gelap seperti tanah sawah biasa, melainkan hitam legam dengan kilap halus, seolah menyimpan minyak atau mineral dalam jumlah tinggi. Permukaannya remah, tidak menggumpal, tidak kering, dan tidak becek.
Sekar berjongkok.
Jarinya menyentuh tanah itu perlahan.
Teksturnya lembut, nyaris seperti serbuk kopi yang baru digiling, namun terasa hidup, hangat, elastis, dan lembap tanpa meninggalkan noda lengket di kulit.
Tanah ini… bernapas.
Ia menarik tangannya cepat.
Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena panik, melainkan karena sensasi yang terlalu familiar.
Ini adalah tanah dengan struktur ideal.
Porositas seimbang. Aerasi sempurna. Kadar air terjaga.
Tanah impian setiap peneliti pertanian.
Sekar mengangkat kepala.
Di hadapannya terbentang lahan luas.
Sangat luas.
Garis cakrawala terlihat jelas, namun tidak menyilaukan mata. Cahaya di tempat ini seperti difilter oleh langit yang tak terlihat sumbernya, lembut, merata, tanpa bayangan tajam.
Hamparan tanah hitam itu membentang sejauh mata memandang, kira-kira satu hektar, nyaris tanpa kontur ekstrem. Tidak ada bebatuan besar. Tidak ada akar liar yang merusak permukaan.
Semuanya… siap ditanami.
Sekar berdiri perlahan.
Kakinya melangkah satu langkah ke depan.
Tidak ada hambatan.
Tidak ada rasa pusing.
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa menit lalu di bawah hujan Menoreh.
Ia menelan ludah.
“Ini… bukan halusinasi biasa,” gumamnya lirih.
Angin berembus pelan.
Bukan angin gunung yang dingin dan tajam, melainkan hembusan hangat dengan aroma samar, bau tanah subur yang baru dicangkul, bercampur wangi dedaunan muda dan sesuatu yang manis, nyaris seperti beras baru dipanen.
Aroma itu membuat perutnya bergejolak.
Bukan karena lapar, melainkan respons biologis terhadap sesuatu yang terasa… menenangkan.
Sekar memejamkan mata sejenak.
Ia menghirup udara dalam-dalam.
Tidak ada bau busuk.
Tidak ada lembap apek.
Udara di tempat ini bersih, ringan, dan terasa lebih “padat”, seolah setiap tarikan napas membawa lebih banyak oksigen daripada seharusnya.
Ia membuka mata.
Di kejauhan, di sisi kanan hamparan tanah, sesuatu berdiri.
Bukan pohon.
Bukan batu.
Sebuah bangunan kecil.
Sekar memfokuskan pandangan.
Itu gubuk.
Namun bukan gubuk reyot seperti yang ia tinggali bersama ibunya.
Bangunan itu berdiri anggun, sederhana, terbuat dari bambu tua berwarna madu. Anyaman dindingnya rapi, rapat, tanpa celah kasar. Atapnya dari ijuk yang tersusun halus, melengkung ringan, seolah dirancang oleh tangan yang memahami estetika, bukan sekadar fungsi.
Gubuk itu tidak besar.
Namun proporsinya… pas.
Tidak berlebihan. Tidak sempit.
Seperti rumah yang tahu persis untuk siapa ia dibangun.
Sekar melangkah mendekat.
Setiap langkah terasa natural, seolah tanah ini mengenal ritme tubuhnya. Tidak ada batu yang menyakiti telapak kaki. Tidak ada duri yang menggores.
Hanya tanah lembut dan suara langkah yang teredam.
Semakin dekat, semakin jelas detail bangunan itu.
Di depan gubuk terdapat teras kecil dari papan kayu halus. Pintu gesernya tertutup, namun tidak terkunci. Di sisi teras, tumbuh beberapa tanaman liar, daun lebar berwarna hijau tua, segar, tanpa lubang hama.
Sekar berhenti tepat di depan pintu.
Jantungnya berdetak pelan.
Ada rasa aneh di dadanya.
Bukan takut.
Lebih seperti… rasa pulang.
Ia mengulurkan tangan.
Pintu bambu itu ringan saat disentuh.
Geserannya halus, tanpa bunyi berderit.
Di dalam, ruangan itu bersih.
Sangat bersih.
Lantainya dari kayu, licin dan hangat. Tidak ada debu. Tidak ada sarang laba-laba. Tidak ada bau pengap seperti rumah kosong.
Cahaya lembut masuk dari celah jendela bambu di samping, memantul tenang di permukaan lantai.
Di tengah ruangan terdapat meja kayu rendah.
Kosong.
Tidak ada perabot berlebihan.
Namun ruang itu tidak terasa hampa.
Justru terasa… menunggu.
Sekar berdiri di ambang pintu cukup lama.
Matanya menyapu setiap sudut.
Ini bukan tempat yang muncul secara acak.
Segala sesuatu di sini terasa disengaja.
Ia melangkah masuk.
Begitu telapak kakinya sepenuhnya menyentuh lantai kayu, ia merasakan getaran halus, sangat lembut, seperti resonansi rendah yang merambat dari bawah.
Bukan suara.
Lebih seperti respons.
Sekar berhenti.
Ia menunduk, menempelkan telapak tangan ke lantai.
Hangat.
Stabil.
Aneh, tapi menenangkan.
Gubuk ini… hidup.
Kesimpulan itu muncul begitu saja, tanpa analisis panjang.
Sekar berdiri kembali.
Di sisi kiri ruangan, terdapat pintu kecil yang terbuka.
Ia melangkah ke sana.
Di balik pintu itu, ia melihat sumber cahaya yang lebih terang.
Dan suara.
Bukan suara air mengalir deras.
Melainkan gemericik halus, ritmis, seperti tetesan yang tak pernah tergesa.
Sekar mendekat.
Di luar gubuk, tak jauh dari pintu samping, terdapat mata air.
Airnya jernih.
Sangat jernih.
Bukan jernih sungai pegunungan yang masih membawa sedimen, melainkan bening nyaris transparan, hingga dasar kolam kecilnya terlihat jelas.
Dasarnya dilapisi batu halus berwarna abu muda.
Air itu memantulkan cahaya lembut, menciptakan kilau kecil yang bergerak perlahan.
Sekar berlutut di tepi mata air.
Aroma yang sama kembali tercium.
Wangi yang menenangkan.
Tidak menyengat.
Tidak tajam.
Lebih seperti campuran daun muda, beras hangat, dan sesuatu yang… suci, meski ia enggan menggunakan kata itu.
Ia mencondongkan tubuh.
Uap tipis naik dari permukaan air, meski suhu di sekitarnya tidak dingin.
Uap itu tipis, hampir tak terlihat, namun cukup untuk menciptakan sensasi hangat di wajahnya.
Sekar menelan ludah.
Refleks tangannya hampir saja menciduk air itu.
Namun ia menghentikan diri.
Bukan karena takut.
Melainkan kebiasaan lama, disiplin seorang peneliti yang tidak menyentuh sampel tanpa observasi awal.
Ia hanya menatap.
Air itu tenang.
Tidak ada arus deras.
Namun permukaannya terus bergerak halus, seolah berdenyut dengan ritme tertentu.
Sekar duduk bersila di tepi mata air.
Punggungnya tegak.
Matanya fokus.
Ia mengamati.
Lingkungan ini sunyi.
Namun bukan sunyi kosong.
Ada suara angin lembut.
Ada gemericik air.
Ada sensasi kehadiran, seperti berada di ruang konservasi alam yang dijaga ketat, tempat di mana tidak ada yang rusak, tidak ada yang tergesa.
Perutnya kembali terasa ringan.
Bukan kenyang.
Namun tidak lagi melilit.
Tubuhnya berhenti berteriak.
Ia menghembuskan napas panjang.
Baru saat itu ia menyadari.
Sejak masuk ke tempat ini, bahunya tidak lagi tegang.
Rahangnya tidak lagi terkunci.
Tubuhnya, yang sejak terbangun di dunia ini selalu berada dalam mode bertahan hidup, akhirnya… melepas.
Sekar menunduk, menatap jari manisnya.
Tanda lahir bulir padi itu kini tampak biasa.
Tidak bersinar.
Tidak hangat.
Seolah tak pernah melakukan apa pun.
Namun Sekar tahu.
Tanpa tanda itu, ia tidak akan berada di sini.
Ia mengangkat pandangan.
Hamparan tanah hitam membentang lagi di hadapannya.
Gubuk bambu berdiri tenang di samping.
Mata air berkilau lembut di dekatnya.
Semuanya diam.
Menunggu.
Sekar menutup mata sejenak.
Di balik kelopak matanya, bayangan ibunya muncul.
Wajah pucat.
Napas pendek.
Gubuk bocor.
Perut kosong.
Sekar membuka mata.
Tatapannya berubah.
Bukan lagi tatapan gadis desa yang terpojok.
Melainkan tatapan seorang ilmuwan yang berdiri di depan sistem baru yang belum memiliki definisi.
“Baik,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
“Kita mulai dari observasi.”
Ia berdiri.
Langkahnya mantap saat ia berjalan kembali ke tengah lahan.
Di bawah cahaya lembut yang tak memiliki matahari, Sekar Wening berdiri di atas tanah surga, tanah yang untuk pertama kalinya sejak ia terlahir kembali, memberinya satu hal yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Pilihan.
Dan ruang untuk bernapas.