Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upacara Penerimaan
"Tolong! Ada anjing gila lepas!"
Salma Tanudjaja melompat-lompat heboh di balik punggung Pak Rahmat, matanya menatap Burhan dengan ejekan yang tak ditutup-tutupi.
Burhan, pemilik Padepokan Rajawali yang sombong itu, wajahnya merah padam. "Bocah ingusan! Cari mati ya?!"
Tanpa aba-aba, Burhan menerjang. Angin dari pukulannya menderu tajam. Pak Rahmat dengan sigap menahan serangan itu hanya dengan satu tangan, melindungi Salma di belakangnya. Di sisi lain, Aksa Abhimana langsung pasang badan, matanya waspada penuh.
"Serang! Tangkap cewek itu!" teriak Burhan pada gerombolan muridnya.
Pak Rahmat menggeram, "Burhan, kamu benar-benar nggak punya malu ngeroyok anak kecil!"
"Persetan! Habisi mereka!"
Suasana di gang sempit Jalan Pendekar itu mendadak chaos. Pak Rahmat sibuk menahan Burhan, tapi jumlah lawan terlalu banyak. Namun, saat Pak Rahmat hendak berbalik melindungi Salma, matanya terbelalak.
Aksa bergerak. Bukan gerakan amatir anak SMA biasa, tapi gerakan efisien seorang petarung.
Satu pukulan, satu tendangan, satu bantingan. Murid-murid Burhan berterbangan seperti boneka kain.
"Aksa, keren banget! Hajar terus!" Salma bersorak heboh, bertepuk tangan layaknya cheerleader pribadi. Naya di sebelahnya malah asyik merekam pakai HP sambil senyum-senyum. "Konten mahal nih, 'Pangeran Ngamuk Demi Ayang'."
Hanya dalam hitungan menit, anak buah Burhan rata dengan tanah. Burhan melongo, syok berat melihat pasukannya dikalahkan seorang bocah SMA.
Aksa menepuk tangannya, membersihkan debu. Dia menatap Burhan dengan tatapan dingin yang menusuk tulang.
"Pak Rahmat, tolong minggir," ucap Aksa santai tapi mengintimidasi. "Biar saya yang kasih pelajaran orang tua ini."
Pak Rahmat tertegun. Di mata pemuda ini, dia melihat kilatan potensi yang mengerikan. Anak ini... calon juara dunia.
Burhan yang harga dirinya terinjak-injak langsung mengamuk. "Bocah sialan! Mati kau!"
Dia melancarkan jurus andalannya, tinju yang mematikan. Tapi bagi Aksa, gerakan itu lambat sekali. Dia hanya memiringkan kepala sedikit, serangan Burhan meleset telak.
"Cuma segitu?" ejek Aksa.
Sebelum Burhan sadar, Aksa sudah melancarkan serangan balasan. Cepat, tepat, dan brutal. Burhan terlempar, punggungnya menghantam tembok. Aksa menahan dada Burhan dengan kakinya, mengunci pergerakan sang ketua padepokan.
"Lepasin gue!" Burhan meronta, mukanya pucat pasi karena malu. Kalah dari mantan juara dunia itu wajar, tapi kalah dari anak SMA? Mau ditaruh di mana mukanya?
"Pergi," desis Aksa. "Atau perlu saya patahkan tanganmu dulu?"
Burhan menelan ludah. Nyalinya ciut. Begitu Aksa melepaskan injakannya, Burhan dan sisa-sisa muridnya langsung kabur terbirit-birit.
"Salma, ayo pulang," Aksa berbalik, mode membunuhnya langsung hilang berganti tatapan lembut ke arah Salma.
"Tunggu!" Pak Rahmat yang sedari tadi bengong akhirnya bersuara. Dia menghadang jalan mereka dengan wajah canggung. "Kalian... saya mau bicara."
Aksa menatap datar. "Nggak perlu, Pak. Maaf mengganggu."
Aksa menarik tangan Salma, hendak pergi. Pak Rahmat panik. Gengsi sebagai mantan juara dunia runtuh seketika. Dia tidak boleh kehilangan bibit sepotensial ini!
"Saya terima! Saya mau angkat kalian jadi murid!" teriak Pak Rahmat. "Saya, Ikko Rahmat, bakal turun gunung lagi buat ngelatih kalian!"
Langkah Salma terhenti. Dia menyikut pelan pinggang Aksa sambil menahan senyum. Rencana berhasil.
Mereka berbalik. "Bapak serius?" tanya Salma, matanya berbinar.
"Saya nggak pernah main-main. Masuklah, kita lakukan upacara penerimaan," Pak Rahmat menghela napas, setengah lega setengah terharu.
Di halaman rumah sederhana itu, Salma, Aksa, dan Naya melakukan sujud penghormatan. Bagi Pak Rahmat, momen ini membangkitkan kembali api semangat yang sudah lama padam. Dia bersumpah akan mencetak juara baru.
"Guru, kami pamit dulu ya, besok sekolah," pamit Salma ceria setelah upacara selesai.
Tiba-tiba, seorang gadis remaja muncul dari pintu rumah dengan wajah cemberut. "Pak! Makanannya mana? Laper nih!"
Itu Rara, anak Pak Rahmat. Begitu melihat Salma, matanya membulat. "Eh? Kakak Cantik yang waktu itu? Pak, Bapak akhirnya mau ngajar lagi? Asyik! Kita bakal kaya dong? Bisa makan daging tiap hari?"
Tak!
Pak Rahmat menjitak kepala anaknya. "Otakmu isinya makanan doang! Bapak ngajar bukan buat duit!"
Rara mengusap kepalanya sambil meringis. "Ya elah, Pak. Kencing aja bayar, masa ngajar gratis?" Dia lalu menoleh ke Salma, Aksa, dan Naya dengan senyum lebar. "Hai adik-adik seperguruan! Gue Rara. Siap-siap ya, latihan di sini itu neraka, tapi seru kok!"
Malam harinya, di kediaman mewah keluarga Tanudjaja.
Salma langsung menggelayut manja di lengan ayahnya, Seno Tanudjaja, begitu sampai rumah.
"Pa, Salma mau minta tolong dong. Penting banget," bisiknya sambil menarik sang ayah ke ruang kerja agar tidak didengar Manda.
Seno tertawa melihat tingkah putri bungsunya. "Ada apa sih, Tuan Putri? Mau minta tas baru? Atau liburan?"
Wajah Salma berubah serius. "Pa, Papa ingat Pak Rahmat? Juara dunia bela diri Indonesia yang dulu terkenal banget?"
Seno mengerutkan kening, lalu mengangguk pelan. "Ah, Papa ingat. Dulu Papa sempat mau jadikan dia bintang iklan, tapi orangnya menghilang. Kenapa?"
"Salma berguru sama dia sekarang," aku Salma bangga. "Tapi Pa, tempat tinggalnya di Jalan Pendekar itu nggak aman. Tetangganya preman yang tadi sore cari gara-gara sama Salma. Untung ada Aksa sama Pak Rahmat yang nyelamatin."
"Apa?! Ada yang ganggu kamu?" Seno langsung emosi. "Siapa orangnya? Biar Papa urus!"
"Udah beres kok, Pa. Tapi Salma kasihan sama Pak Rahmat. Boleh nggak Salma sewa ruko kosong kita yang di kompleks Blue Rain buat dia? Biar dia bisa buka perguruan yang layak, dan Salma juga latihannya aman." Salma menatap ayahnya dengan puppy eyes andalannya. "Sewa aja Pa, kasih diskon gede. Guruku itu orangnya berprinsip, dia bakal nolak kalau dikasih gratis."
Seno tertegun. Putrinya benar-benar sudah dewasa dan peka. "Ide bagus. Papa setuju. Apapun demi keamanan dan kemajuan putri Papa."
"Makasih Papa sayang! Oh ya, jangan bilang Kak Manda dulu ya. Kakak kan anaknya lembut, nanti dia kaget kalau tahu Salma belajar pukul-pukulan," Salma mengedipkan sebelah mata.
"Siap, Bos." Seno menautkan jari kelingkingnya dengan Salma, tertawa renyah.
Salma tersenyum puas. Dia membuka pintu ruang kerja, siap makan malam.
Di luar pintu, Manda berdiri mematung. Senyum manis palsunya sudah terpasang.
"Pa, Salma, ayo makan..."
Saat Salma melangkah melewati Manda, tiba-tiba...
Bruk!
Salma jatuh tersungkur.
"Aduh! Sakit!" pekik Salma sambil memegangi lututnya.
"Salma!" Seno panik dan langsung berjongkok. Dilihatnya lutut Salma yang memar biru (padahal itu memar sisa latihan kuda-kuda tadi sore).
Salma menatap Manda dengan mata berkaca-kaca, aktingnya layak dapat Piala Citra. "Nggak apa-apa kok Pa... tadi Salma cuma nggak sengaja kesandung kakinya Kak Manda. Kakak pasti nggak sengaja, kan? Papa jangan marahin Kakak ya."
Wajah Manda pucat pasi. Apa?! Aku bahkan nggak gerak!
Seno menatap Manda dengan tatapan tajam dan kecewa. "Manda! Apa-apan kamu? Lihat lutut adikmu sampai biru begitu! Kamu sengaja nyandung dia?"
"Pa, aku nggak..." Manda tergagap, air matanya mendesak keluar. Dia dijebak! Dulu dia yang sering pakai trik murahan ini untuk memfitnah Salma, tapi sekarang senjata itu memakan tuannya sendiri.
"Bi Surti! Bawa kotak obat!" teriak Seno, mengabaikan pembelaan Manda.
Bi Surti tergopoh-gopoh datang, sibuk mengurusi Salma. "Ya ampun Non, biru banget ini. Sini Bibi kompres."
Manda berdiri kaku, tangannya mengepal hingga kuku menancap di telapak tangan. Dia melihat Salma yang sedang diolesi obat, menyeringai tipis ke arahnya saat Seno tidak melihat.
Senyum kemenangan.
Dada Manda sesak. Dulu dia pusat dunia di rumah ini, sekarang dia seperti penjahat.
"Sudah, ayo makan. Lain kali hati-hati, Manda. Papa nggak suka ribut-ribut," ujar Seno dingin setelah selesai mengobati Salma.
Makan malam itu terasa seperti di neraka bagi Manda. Dia melihat orang tua angkatnya sibuk menyendokkan lauk untuk Salma, menanyakan rasa sakitnya, sementara dia diabaikan total.
"Pa, Ma, Manda kenyang," ucapnya dengan suara bergetar, lalu lari ke kamarnya di lantai atas.
Di dalam kamar yang terkunci rapat, topeng manis Manda hancur berkeping-keping.
Dia menyapu semua kosmetik di meja riasnya hingga jatuh berantakan ke lantai. Dia mengambil bantal, membantingnya, menginjak-injaknya seolah itu adalah kepala Salma.
"Mati lo! Mati! Mati!"
Napasnya memburu. Matanya merah nyalang penuh kebencian.
Salma... lo yang minta perang ini. Lo pikir lo bisa rebut semuanya dari gue?
Setelah emosinya sedikit reda, Manda merapikan kembali kamarnya secepat kilat. Dia mengambil ponsel, menekan satu nomor luar negeri.
Telepon tersambung. Suara dentuman musik klub malam terdengar bising.
"Halo? Tumben nelpon, adikku sayang?" suara berat dan sedikit mabuk menyapa. Riko Tanudjaja.
"Kak Riko..." Manda membiarkan suaranya terdengar rapuh dan menahan tangis. "Kakak kapan pulang? Manda kangen..."
"Kenapa? Ada masalah di rumah? Siapa yang bikin lo nangis?" Suara Riko langsung berubah serius, musik di latar belakang mengecil seolah dia pindah ke tempat sepi.
"Bukan... cuma... Kak, kalau Salma pacaran... itu bahaya nggak sih?"
Hening sejenak di ujung telepon.
"Apa?" Nada suara Riko turun beberapa oktaf, menjadi dingin dan berbahaya. "Salma pacaran? Sama siapa?"
"Anak biasa, Kak. Miskin, nggak punya apa-apa. Aku udah nasehatin Salma kalau cowok itu nggak bener, tapi Salma malah marah. Papa Mama juga ngebiarin aja. Kak... Salma itu masih kecil, aku takut dia dirusak. Kakak pulang dong, cuma Kakak yang didengerin Salma." Manda menuangkan bensin ke dalam api. Dia tahu betul sifat Riko yang obsesif dan posesif pada Salma.
"Oke," jawab Riko singkat. "Gue pulang. Sekarang."
Telepon diputus.
Di sebuah klub malam di Eropa, Riko Tanudjaja membanting gelas wiskinya ke lantai hingga pecah berantakan. Orang-orang di sekitarnya menyingkir ketakutan melihat aura membunuh yang memancar darinya.
Pacaran?
Beraninya kamu, Salma.
Manda tersenyum miring menatap layar ponselnya yang gelap.
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️