Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Kesibukan Berbeda
Malam itu rumah terasa tenang, seperti biasanya. Tafana duduk di ujung sofa, membuka ponsel tanpa benar-benar membaca. Ravindra di seberangnya, masih dengan kemeja kerja, mengetik cepat di laptop.
“Eh,” kata Tafana, nadanya ringan, hampir bercanda. “Kita jarang keluar bareng ya kalau libur.”
Ravindra tidak langsung menoleh. “Iya sih,” jawabnya sambil terus mengetik. “Kita sama-sama sibuk.”
Tafana mengangguk kecil, menunggu. Ada jeda tipis—berharap keluar tawaran untuk berjalan-jalan bersama.
“Lagian weekend ini aku harus ke luar kota,” lanjut Ravindra. “Ada masalah produksi di pabrik.”
“Oh.” Kata itu keluar begitu saja dari bibir Tafana. Pendek. Ia tersenyum tipis, lalu merapikan bantal sofa yang sebenarnya sudah rapi.
Dalam kepalanya, ia mengulang kalimat yang sama seperti doa: ini pekerjaan, tanggung jawabnya.
Ia tidak mau bertingkah manja atau membebani. Momen liburan bisa menunggu; kewajiban tidak.
-oOo-
Pagi datang terlalu cepat. Tafana berdiri di depan lemari, memilihkan pakaian Ravindra. Kemeja kerja disetrika rapi. Kaos dilipat. Jas digantungkan dengan jarak pas. Gerakannya otomatis, seperti mengerjakan daftar yang sudah dihafal. Semua dimasukkan ke dalam koper yang akan dibawa.
Ravindra mondar-mandir dengan koper yang telah ditutup. “Kunci mobil di mana?”
“Di meja,” jawab Tafana tanpa menoleh.
Beberapa menit kemudian, semuanya siap. Ravindra mengenakan sepatunya, lalu mendekat. Ia menyalami Tafana, mencium keningnya—singkat, tepat di titik yang sama seperti biasa.
“Aku berangkat,” katanya.
“Hati-hati,” balas Tafana.
Pintu tertutup. Mesin mobil menyala, lalu menjauh. Tafana berdiri sendiri di ruang tengah, menatap gantungan jas yang kini kosong. Pagi itu berjalan normal. Terlalu normal. Dan justru di situlah perihnya tinggal.
-oOo-
Mobil Ravindra melaju sejak pagi, menembus jalan antarkota yang lengang. Yunika duduk di kursi penumpang, membuka jendela sedikit, membiarkan angin masuk. Musik lama diputar pelan, lagu yang mereka kenal sejak sekolah.
Mereka mengobrol seadanya, tentang rute tercepat, tentang papan penunjuk yang berganti, tentang kopi apa yang akan diminum nanti. Tidak ada pembahasan berat. Tidak perlu.
Menjelang siang mereka tiba. Ravindra langsung mengarah ke hotel, bangunan modern dengan fasad kaca, berdiri tak jauh dari pusat kota. Ia menurunkan koper, check-in singkat, lalu menoleh pada Yunika.
“Aku ke pabrik dulu. Nggak lama,” katanya.
Yunika mengangguk, melepas sepatu, merebahkan diri di sofa dekat jendela. “Santai. Aku tunggu.”
Sore itu Ravindra menyelesaikan urusan dengan cepat. Dua jam di pabrik: inspeksi, tanda tangan, instruksi singkat. Masalahnya kecil, teknis. Begitu keluar gerbang ia merasa ringan, seolah sisa hari sepenuhnya miliknya.
Malam mereka habiskan dengan berkuliner di kawasan tua kota. Warung tenda berjejer, lampu kuning menggantung rendah. Mereka memesan sate, mie godog, es jeruk nipis.
Yunika tertawa ketika saus menetes ke jari Ravindra. Ia menyodorkan tisu tanpa mengejek.
Setelah itu, mereka berjalan pelan, membiarkan malam lewat tanpa rencana.
-oOo-
Di kamar hotel yang temaram, Ravindra berhenti di dekat meja, seperti baru ingat sesuatu yang tertinggal di kepalanya. Ia meraih tas, mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru.
“Ini,” katanya, nadanya lebih rendah dari biasanya.
Ada ragu yang tidak biasa.
Yunika mengangkat alis, lalu mengambil kotak itu.
Begitu terbuka, cahaya lampu memantul di batu biru yang dingin dan dalam. Sebuah gelang bermata blue sapphire.
“Ini buat aku?” suaranya melembut, nyaris tak percaya.
Ravindra mengangguk. “Aku lihat ini… dan kepikiran kamu.”
Yunika tertawa kecil, lalu mendekat. Ia mengangkat pergelangan tangannya. “Pakaikan.”
Jari Ravindra menyentuh kulitnya saat mengaitkan gelang. Sentuhan singkat itu tertinggal lebih lama dari seharusnya.
Yunika tidak menarik tangannya. Ia justru menatap Ravindra, dekat, cukup dekat untuk membuat napas mereka bertabrakan.
“Kalau kamu begini,” kata Yunika pelan, “aku susah bersikap biasa.”
“Aku juga,” jawab Ravindra jujur.
Yunika memeluknya lebih dulu. Pelukan yang rapat, menuntut. Ravindra membalas, menurunkan wajahnya ke leher Yunika, menghirup wangi yang sejak siang menempel. Tawa kecil Yunika berubah jadi desah tertahan.
Pintu tertutup. Lampu diredupkan. Kata-kata berhenti dibutuhkan.
Malam itu tidak tentang janji atau besok. Hanya tentang dua tubuh yang memilih untuk saling menghangat, dan tidak bertanya apa pun selain, "Tinggal sedikit lebih lama, ya."
-oOo-
Pagi masih tipis ketika mereka tiba di kawasan bukit kapur itu. Udara menggigit ringan, kabut beringsut pelan di antara pinus. Jalur kayu memanjang seperti undangan; lembah hijau menghampar di kejauhan.
Mereka berjalan menyusuri jalur kayu. Yunika menunjuk gardu pandang. “Ke sana dulu. Katanya kalau kabutnya naik, lembahnya kelihatan kayak dilukis.”
Ravindra menyesuaikan langkahnya dengan Yunika. “Kamu bangun sepagi ini demi kabut?”
“Demi lihat kamu lucu pakai jaket pinjaman,” balas Yunika.
Di gardu pandang, mereka bersandar. Angin membawa aroma tanah basah. Yunika menghela napas puas. “Enak, ya. Rasanya kayak liburan beneran.”
Ravindra mengangguk. “Iya.” Lalu, tanpa sadar, ia meraih tangan Yunika. Mereka diam, membiarkan pagi bekerja.
Mereka minum kopi tubruk di kios kecil, berbagi pisang goreng yang masih panas.
Turun dari bukit, mereka menyusuri pasar suvenir. Ravindra membelikan Yunika tas anyaman kecil, lalu menambah gantungan kunci, lalu syal tipis.
Di deretan toko oleh-oleh, ia memilih lapis legit, keripik singkong pedas, cokelat lokal, semuanya diperuntukkan bagi Yunika. Wanita itu menggeleng, setengah protes, setengah senang.
Siangnya, waktunya wisata kuliner lagi. Mereka mencoba gudeg manggar, lalu menutup dengan es krim tradisional. Bersama Yunika, ia tertawa tanpa mengingat jam, memilih tanpa ragu, membeli tanpa alasan.
Sore mereka habiskan di tepi danau buatan. Angin menggerakkan permukaan air, perahu kayuh melintas pelan. Mereka membeli jagung bakar dari pedagang kaki lima, duduk berdampingan di bangku kayu. Yunika menyandarkan bahu sebentar, cukup lama untuk terasa, cukup singkat untuk tidak perlu dijelaskan.
Di perjalanan pulang Ravindra merasa ringan, bebas dari daftar kewajiban, bebas dari perhitungan. Bersama Tafana, ia selalu berhati-hati. Bersama Yunika, ia lupa berhati-hati.
Yunika sendiri menikmati semuanya dengan sikap yang tampak wajar. Ia tidak meminta kepastian.
Tidak membahas masa depan. Ia hadir, mendengarkan, menyesuaikan langkah. Dalam diam, ia tahu cara berada di ruang yang kosong tanpa mengaku memilikinya.
Aku tidak merebut, pikirnya, menatap pantulan lampu kota dari jendela. Aku hanya mengisi.
Dan di situlah garis tipis itu bergeser. Tanpa sumpah. Tanpa drama. Hanya akhir pekan yang terlalu menyenangkan untuk disebut kebetulan dan terlalu keji untuk dimaafkan.
Di sela tawa itu, ada perasaan yang tak ia ucapkan: ia merasa lebih muda. Dan untuk akhir pekan ini, perasaan itu terasa cukup.
-oOo-
Akhir pekan itu Tafana hidup di ritme yang dikenalnya baik.
Pagi hingga sore dihabiskan di studio butik Sierra: papan mood penuh swatch kain, jarum pentul berkilau, suara mesin jahit berlapis instruksi. Ia berdiri di tengah ruangan, memberi arahan singkat, memotong keputusan tanpa ragu.
Asisten mencatat, penjahit mengangguk. Gaun untuk seorang selebriti harus selesai fitting Senin. Permintaan stasiun TV datang bertubi, warna diganti, potongan dipertegas. Tafana bergerak cepat, tenang. Tangannya tahu ke mana harus pergi.
Namanya disebut dengan hormat. “Bu Tafana, ini cocok?”
“Iya. Tapi turunkan satu sentimeter,” jawabnya, pasti.
Tafana sempat melirik ponselnya, tak ada pesan satu pun dari Ravindra. Ia menghela napas gusar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sore turun. Lampu studio dipadamkan satu per satu. Ia pulang membawa lelah yang puas, lelah yang terasa pantas.
Di rumah, sunyi menyambut. Lampu dinyalakan tanpa disambut apa pun. Ponselnya bergetar sekali: pesan singkat dari Ravindra.
"Sampai bertemu besok. Jaringan jelek."
Tidak ada foto. Tidak ada cerita.
Malam memanjang. Tafana makan seadanya, mencuci piring, melipat kain sampel di sofa. Teleponnya sunyi. Ia tidak menelepon balik.
Di kamar, ia menggantung blazer dengan hati-hati, seperti menutup hari yang berhasil. Lalu duduk di tepi ranjang, menatap ruang yang terlalu luas. Di luar, kariernya berisik dan hidup. Di dalam rumah, heningnya tidak bisa dijahit.
Mereka sama-sama sibuk. Hanya saja, Ravindra memilih kesenangan, sementara Tafana memilih bertahan dan berkembang.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅