NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman penuh hasrat

Begitu kakinya menginjak lantai marmer rumah itu, Ciara langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Lorenzo dengan mata yang masih basah, namun kini penuh amarah yang tak ia sembunyikan lagi.

Tatapan itu membuat dada Lorenzo mengencang.

Lorenzo tahu. Tatapan seperti itu hanya muncul ketika putrinya benar-benar terluka.

Namun pria itu tetap berdiri di tempatnya, memilih diam, memilih peran sebagai ayah yang tegas daripada ayah yang disukai.

Ciara mengatupkan rahangnya, lalu tanpa berkata apa pun, ia berlari menuju kamarnya yang berada di bawah tangga menuju lantai dua. Langkahnya tergesa, bahunya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ia paksa diam.

“Ciara…” panggil Lorenzo, suaranya berat.

Gadis itu tidak menoleh.

Lorenzo menghela napas panjang, lalu berkata lirih, seolah berbicara pada punggung putrinya yang menjauh,

“Maaf, Ciara. Ini yang terbaik.”

Ciara sudah sampai di depan pintu kamarnya. Tangannya berhenti sejenak di gagang pintu saat mendengar kalimat itu.

“Daddy tetap nggak bisa membiarkan kamu bersama pria yang sudah berumur seperti Altair,” lanjut Lorenzo, nadanya tegas meski jelas ada rasa bersalah yang menyelinap.

Ciara tertawa kecil. Tawa pahit yang nyaris terdengar seperti isakan.

“Yang Daddy larang bukan karena umur,” katanya akhirnya, tanpa menoleh. “Tapi karena Daddy takut kehilangan kendali atas hidup aku.”

Kalimat itu membuat Lorenzo terdiam.

Pintu kamar Ciara tertutup dengan bunyi cukup keras. Tidak dibanting, tapi cukup untuk menegaskan jarak yang kini tercipta di antara mereka.

Di dalam kamar, Ciara bersandar di balik pintu. Air matanya jatuh lagi, kali ini tanpa ia tahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara tangis agar tidak terdengar keluar.

Sementara itu, Lorenzo masih berdiri di ruang tengah, menatap pintu kamar putrinya yang tertutup rapat. Tangannya mengepal pelan.

“Aku ayahmu,” gumamnya lirih. “Tugasku melindungimu, meski harus kau benci aku karena itu.”

Namun jauh di dalam hatinya, Lorenzo tahu, melindungi Ciara kali ini berarti menghancurkan sesuatu yang mulai tumbuh di hati gadis itu. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Lorenzo tidak yakin apakah keputusan ini sepenuhnya benar.

Sementara itu, Altair telah sampai di kediaman Luciano. Langkahnya panjang dan tergesa saat menuruni tangga menuju ruangan bawah tanah, tempat sebuah mini bar dibangun tersembunyi dari hiruk pikuk rumah utama.

Lampu temaram menyambutnya. Aroma kayu dan alkohol bercampur di udara.

Altair meraih sebotol wine tanpa membaca labelnya. Tutup botol dibuka dengan satu hentakan, lalu cairan merah itu langsung ditenggaknya. Setengah botol habis hanya dalam hitungan detik.

Ia memejamkan mata, kemudian merebahkan tubuhnya di atas meja bar. Satu lengannya terkulai, sementara botol wine masih digenggam erat.

“Ini tidak adil, Tuhan,” gumamnya pelan. Suaranya parau, matanya memerah.

Altair kembali meneguk wine itu, beberapa kali, lebih lambat kali ini, seolah ingin menenggelamkan pikirannya sendiri. Bayangan wajah Ciara muncul silih berganti di benaknya. Tatapan polos itu. Senyum yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya.

Dan kini, semua terasa direnggut begitu saja.

Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Luciano muncul dengan ekspresi datar, namun sorot matanya langsung menangkap kondisi Altair.

“Kau minum sendirian lagi,” ucapnya tenang.

Altair tidak menoleh. “Aku bahkan tidak punya alasan untuk berhenti.”

Luciano mendekat, mengambil gelas, lalu menuangkan wine untuk dirinya sendiri. “Lorenzo?”

Altair tertawa pendek, hambar. “Dia benar. Tapi itu tidak membuatnya terasa lebih mudah.”

Luciano terdiam sejenak, lalu berkata, “Perasaan tidak pernah peduli pada usia, Altair. Yang peduli hanya manusia.”

Altair mengusap wajahnya kasar. “Masalahnya, manusia itu ayahnya.”

Keheningan kembali menggantung. Hanya bunyi napas berat Altair dan denting halus botol di meja.

Luciano menepuk meja perlahan. “Jika kau menyerah sekarang, maka semua yang kau rasakan hanya akan jadi penyesalan. Tapi jika kau bertahan, kau harus siap menghadapi konsekuensinya.”

Altair menatap botol di tangannya, lalu meletakkannya perlahan. “Aku tidak ingin melukainya,” ucapnya lirih.

Luciano menatapnya dalam. “Maka pastikan, apa pun pilihanmu nanti, itu bukan karena kau takut.”

Altair menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya tidak lagi tertuju pada botol wine, melainkan pada satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Ciara.

“Nikmati malam ini, Altair. Tapi aku tidak bisa menemanimu minum sampai pagi. Ada Alana yang harus aku prioritaskan sekarang,” ujar Luciano sambil menepuk pelan pundak Altair.

Altair mengangguk singkat, tanpa banyak kata.

Luciano pun melangkah pergi, meninggalkan ruangan bawah tanah itu. Beberapa menit kemudian, ia telah sampai di kamarnya. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya saat melihat Alana berdiri di depan jendela, menatap gelapnya malam dengan mata yang masih menyimpan sisa kesedihan.

Luciano berjalan mendekat tanpa suara. Ia memeluk Alana dari belakang dengan lembut, seolah takut sentuhan itu akan merusak keheningan yang sedang ia jaga. Dagu Luciano bertumpu di bahu Alana, napasnya menghangatkan kulit leher istrinya.

Alana terkejut sesaat, lalu perlahan mengendur. Tubuhnya bersandar pada dada Luciano, mencari rasa aman yang sejak tadi ia butuhkan.

Luciano menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup aroma tubuh yang begitu ia kenal. Bukan nafsu yang muncul, melainkan kebutuhan untuk memastikan bahwa wanita ini baik-baik saja, bahwa ia masih ada di pelukannya.

“Luciano,” gumam Alana sambil menggeliat kecil, suaranya pelan namun jujur. “Kamu bikin aku geli.”

Luciano terkekeh pelan, namun tidak sepenuhnya menjauh. “Aku cuma mau kamu tenang,” ucapnya lirih. “Kamu nggak sendirian, Alana.”

Alana memejamkan mata. Tangannya terangkat, menggenggam lengan Luciano yang melingkar di pinggangnya. “Kadang aku masih mimpi tentang mereka,” bisiknya. “Ibu dan Ayah.”

Pelukan Luciano mengerat sedikit. “Aku tahu,” katanya lembut. “Dan setiap kali mimpi itu datang, aku ada di sini.”

Alana berbalik, menatap wajah suaminya. Matanya berkaca-kaca, namun ada senyum kecil yang mencoba bertahan. Luciano mengusap pipinya dengan ibu jari, menyeka jejak air mata yang hampir jatuh.

“Malam ini,” ucap Luciano pelan, “kamu boleh lemah. Biar aku yang kuat untuk kita berdua.”

Alana mengangguk, lalu menyandarkan keningnya ke dada Luciano. Di dalam kamar itu, kesedihan memang belum sepenuhnya pergi, tetapi untuk malam ini, ia terasa lebih ringan karena ada seseorang yang memilih tinggal dan memeluknya.

“Alana,” panggil Luciano perlahan. Ibu jarinya menyentuh bibir Alana dengan hati-hati, seolah sentuhan itu sesuatu yang sakral.

Alana mengangkat wajahnya sedikit. Ia memahami makna di balik sentuhan itu.

“Kau ingin menciumku?” tanyanya pelan, memastikan.

Luciano memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Tatapannya jatuh pada wajah Alana dengan intensitas yang tidak ia sembunyikan.

“Bahkan tidak sedetik pun aku tidak ingin menciummu, Alana.”

“Lakukan,” pinta Alana mantap.

Luciano tidak menunggu lebih lama. Tangannya naik ke rahang Alana, menahan wajah itu dengan lembut sebelum bibir mereka akhirnya bertemu. Ciuman pertama itu pelan, hampir ragu, seperti ia memberi kesempatan pada Alana untuk mundur jika mau.

Namun Alana justru membalasnya.

Bibir mereka saling bergerak perlahan, menyatu dalam ritme yang tenang namun sarat rasa rindu. Luciano mencium Alana bukan dengan tergesa, melainkan dengan perasaan yang ditahan terlalu lama. Seolah setiap sentuhan adalah pengakuan betapa ia mencintai wanita itu.

Alana menghela napas kecil saat Luciano sedikit memperdalam ciuman itu. Tangannya naik, mencengkeram kerah kemeja Luciano, menarik pria itu lebih dekat. Tidak ada kata yang terucap, hanya detak jantung yang saling bersahutan.

Luciano memiringkan kepalanya, ciumannya tetap lembut, namun kini penuh keinginan. Ibu jarinya mengusap pipi Alana, seolah memastikan bahwa wanita itu benar-benar ada di hadapannya.

Saat mereka akhirnya berpisah, dahi mereka masih saling menempel. Napas keduanya tidak sepenuhnya teratur.

“Kau membuatku lupa dunia,” bisik Luciano lirih.

Alana tersenyum kecil, matanya hangat menatap suaminya. “Peluk aku saja malam ini.”

Luciano mengangguk, lalu memeluk Alana erat. Tidak ada yang perlu dibuktikan lagi. Malam itu, kehadiran satu sama lain sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!