NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25.Ancaman Baru dari Arah Tak Terduga

Setelah dari museum, Mahira merasa ada yang aneh. Bukan karena keris—keris sudah aman di rumah nenek, dijaga oleh Ustadz Hariz dengan doa-doa pelindung. Tapi karena... feeling. Feeling yang mengatakan ada bahaya lain yang mengintai.

Dan feeling itu terbukti benar keesokan harinya.

"Papa panggil kamu," kata Raesha sambil ngetuk pintu kamar Mahira pagi itu. "Ada tamu penting. Dari Prancis katanya. Investor besar yang tiba-tiba tertarik sama Qalendra Group."

"Investor?" Mahira bangun dari tempat tidur—rambut masih acak-acakan. "Dari mana? Kenapa tiba-tiba?"

"Nggak tahu. Papa juga bingung. Soalnya kemarin baru dapet email, hari ini orangnya udah sampai Jakarta. Dan dia minta ketemu kamu spesifik. Bilang mau bahas project development yang kamu handle."

Mahira langsung waspada. "Kenapa harus aku? Bukannya investor biasanya ketemu Papa langsung atau Direktur Keuangan?"

"Makanya Papa minta kamu turun sekarang. Dia mau kita semua hadir."

***

Ruang tamu rumah nenek penuh—Papa duduk di sofa utama, Mama di sampingnya. Khaerul ada juga—duduk agak jauh di pojok, masih kelihatan nggak nyaman berada di keramaian. Dan di tengah ruangan—duduk dengan elegan di sofa panjang—seorang wanita asing.

Wanita itu... cantik. Terlalu cantik. Rambut pirang panjang terurai sempurna. Mata biru yang tajam. Kulitnya putih bersih tanpa cela. Pakai blazer putih dengan celana hitam yang ketat—professional tapi tetap seksi. Dan caranya duduk—kaki menyilang dengan percaya diri—membuat Mahira langsung nggak suka.

"Ah, ini pasti Mahira Qalendra," kata wanita itu dengan bahasa Indonesia yang fasih tapi aksen Prancis masih kental. Dia berdiri—tingginya hampir sama dengan Mahira, mungkin 165 cm—dan mengulurkan tangan. "Saya Isabelle Lavigne. Senang akhirnya bertemu dengan Anda."

Mahira menjabat tangan itu—dan langsung merasa dingin. Bukan dingin suhu. Dingin yang... yang nggak bisa dijelaskan. Seperti ada yang salah dengan wanita ini.

"Senang bertemu juga," ucap Mahira sambil cepat-cepat menarik tangannya. "Papa bilang Anda investor dari Prancis?"

"Betul. Saya mewakili Lavigne Consortium. Kami bergerak di bidang properti dan hospitality di Eropa. Dan kami tertarik untuk expand ke Asia—khususnya Indonesia." Isabelle duduk kembali dengan gerakan yang terlalu halus, terlalu sempurna. "Dan setelah riset, kami menemukan Qalendra Group sebagai partner yang ideal."

"Kami sangat honored," kata Papa dengan senyum diplomatis. "Tapi kalau boleh tahu, kenapa Anda spesifik minta ketemu Mahira? Bukankah untuk investment talk, seharusnya dengan saya atau Direktur Keuangan kami?"

"Karena saya tertarik dengan project yang Miss Mahira handle. Project yayasan dengan Al-Hakim Corporation." Isabelle menatap Mahira langsung—dan ada sesuatu di matanya yang membuat Mahira merinding. "Saya dengar project itu sangat... unik. Melibatkan aspek spiritual dan community development yang jarang dilakukan perusahaan besar."

"Anda dengar dari mana?" tanya Mahira dengan nada waspada.

"Oh, saya punya sumber." Isabelle tersenyum—senyum yang nggak sampai ke mata. "Dan saya juga dengar ada... komplikasi. Dengan salah satu anggota keluarga Anda. Khaerul Danesh, bukan?"

Semua orang langsung tegang. Khaerul di pojok ruangan mendadak berdiri—wajahnya pucat.

"Maaf, tapi itu urusan internal keluarga," potong Papa dengan nada yang nggak bisa dibantah. "Dan saya nggak lihat relevansinya dengan investment talk."

"Tentu saja relevan, Mr. Irfash." Isabelle mengeluarkan tablet dari tas mahalnya. "Karena investment saya datang dengan syarat: saya ingin Khaerul Danesh sebagai point of contact untuk project ini. Bukan Mahira."

"APA?!" Mahira hampir berteriak. "Kenapa harus Khaerul? Dia bahkan baru pulih dari—"

"Dari masalah kesehatan mental, saya tahu." Isabelle memotong dengan tenang yang menyebalkan. "Tapi justru itu yang membuat saya tertarik. Orang yang pernah jatuh dan bangkit kembali... mereka punya perspektif yang berbeda. Punya empati yang lebih dalam. Dan itu yang saya butuhkan untuk project ini."

"Atau kamu punya agenda lain," gumam Raesha—cukup keras untuk didengar semua orang.

Isabelle menatap Raesha dengan senyum yang makin lebar. "Tentu saja saya punya agenda, Miss Raesha. Semua orang punya agenda. Pertanyaannya: apakah agenda saya sejalan dengan keluarga Qalendra atau tidak?"

---

# BAB 22: Isabelle Muncul

Setelah pertemuan yang canggung itu selesai—Isabelle pergi dengan janji akan kirim proposal detail—Mahira langsung mengunci diri di perpustakaan bersama Raesha dan Khaerul.

"Ada yang salah dengan wanita itu," kata Mahira sambil mondar-mandir. "Aku ngerasain pas jabat tangan. Dia... dia nggak normal."

"Maksud kamu dia jin atau apa?" tanya Raesha dengan nada setengah becanda.

"Aku nggak tahu! Tapi dia terlalu... terlalu sempurna. Terlalu halus. Kayak... kayak boneka yang digerakkan sesuatu." Mahira berhenti di depan Khaerul yang duduk diam. "Dan kenapa dia minta kamu spesifik? Kamu kenal dia?"

"Nggak." Khaerul menggeleng. "Aku nggak pernah liat dia sebelumnya. Tapi..." dia ragu, "...tapi pas dia ngomong nama aku, ada sesuatu. Kayak... kayak aku pernah denger suaranya. Tapi bukan di kehidupan ini."

"Kehidupan lalu?" Raesha langsung paham. "Maksud kamu dia—"

"Aku nggak tahu!" Khaerul berdiri—frustrasi. "Ingatan aku masih berantakan! Ada yang jelas, ada yang kabur. Tapi suara dia... suara dia familiar. Dengan cara yang buruk."

Pintu perpustakaan terbuka. Zarvan masuk dengan wajah serius—dia baru dari meeting dengan tim legalnya.

"Aku cek background Isabelle Lavigne," katanya langsung tanpa basa-basi. "Dan hasilnya... aneh."

"Aneh gimana?" tanya Mahira.

"Lavigne Consortium itu nyata. Perusahaan besar di Prancis. Tapi..." Zarvan membuka laptopnya, menunjukkan beberapa dokumen, "...Isabelle Lavigne sendiri nggak ada di direktori perusahaan. Nggak ada di LinkedIn. Nggak ada di social media apapun. Seperti... seperti dia ghost."

"Atau dia pakai nama samaran," sahut Raesha.

"Atau dia bukan manusia," gumam Khaerul—dan semua orang menatapnya.

"Maksud kamu?" tanya Zarvan.

"Danial—adik Khalil di masa lalu—dia punya... punya asisten. Seorang wanita yang sangat setia padanya. Wanita yang akan lakukan apapun untuk lindungi Danial. Namanya..." Khaerul memejamkan mata, mencoba ingat, "...Isabeau. Atau sesuatu yang mirip itu."

"Isabeau... Isabelle..." Mahira merasakan darahnya membeku. "Kamu pikir dia reinkarnasi dari asisten Danial?"

"Atau lebih buruk—dia jin yang pernah melayani Danial dan sekarang ikut bereinkarnasi untuk bantu Damian." Khaerul membuka matanya—dan ada ketakutan di sana. "Dan kalau itu bener, berarti Damian udah mulai gerak. Dia kirim Isabelle untuk... untuk apa? Infiltrasi keluarga kita? Atau—" wajahnya makin pucat, "—atau untuk bunuh aku sebelum ritual?"

Keheningan mencekam mengisi ruangan.

"Kita harus bilang Papa," kata Raesha akhirnya.

"Dan bilang apa? Bahwa investor dari Prancis itu sebenarnya jin reinkarnasi?" Mahira menggeleng. "Papa nggak akan percaya. Dia akan pikir kita paranoid."

"Maka kita harus cari bukti," kata Zarvan sambil menutup laptopnya. "Bukti nyata bahwa Isabelle itu berbahaya. Bukti yang bisa Papa terima."

"Gimana caranya?" tanya Khaerul.

"Dengan main game-nya dia." Zarvan menatap Khaerul. "Kamu terima tawarannya. Jadi point of contact untuk investment ini. Dan saat dia dekat dengan kamu—saat dia lengah—kita cari tahu apa agendanya yang sebenarnya."

"Kamu mau jadiin aku umpan?!" Khaerul berdiri—shock.

"Bukan umpan. Tapi... mata-mata kita." Zarvan menatapnya serius. "Kamu satu-satunya yang bisa deket sama dia tanpa bikin dia curiga. Karena dia yang minta kamu. Dan selama kamu deket sama dia, kita akan jaga kamu. Aku, Mahira, Ustadz Hariz—kita semua akan pastiin kamu aman."

"Tapi—"

"Khaerul," Mahira memegang tangan sepupunya, "aku tahu ini berat. Aku tahu kamu baru pulih. Tapi ini satu-satunya cara untuk tahu apa yang Damian—atau Danial—atau siapapun dia—rencanakan. Dan kalau kita tahu rencananya, kita bisa counter. Bisa lindungi semua orang."

Khaerul menatap tangan Mahira yang menggenggam tangannya—tangan yang hangat, yang percaya, yang nggak menghakiminya meskipun dia sudah nyakitin dia berkali-kali.

"Oke," ucapnya akhirnya dengan suara pelan. "Aku akan lakukan. Tapi kalian harus janji—kalian akan jaga aku. Karena aku... aku nggak kuat kalau harus di-possess lagi. Aku nggak kuat."

"Kami janji," kata Zarvan. "Dengan nyawa kami."

***

Keesokan harinya, Khaerul menghubungi Isabelle—bilang dia terima tawaran jadi point of contact. Dan wanita itu langsung mengundangnya dinner di hotel tempatnya menginap.

"Aku nggak akan pergi sendirian," kata Khaerul saat briefing dengan tim di rumah nenek. "Zarvan dan Mahira harus ada di hotel yang sama. Di meja sebelah. Atau di lobby. Atau di mana aja yang deket."

"Kami akan ada," jamin Mahira sambil menunjukkan Tasbih Cahaya di tangannya. "Dan kalau tasbih ini berubah panas—kalau ada bahaya—kami langsung datang."

"Dan aku akan pasang micro-transmitter di jacket kamu," tambah Zarvan sambil menunjukkan alat kecil sebesar kancing baju. "Jadi kami bisa denger semua yang dia omongin."

Khaerul mengangguk—wajahnya pucat tapi bertekad.

Dan malam itu—saat Khaerul duduk berhadapan dengan Isabelle di restoran hotel mewah—saat wanita itu tersenyum dengan senyum yang terlalu manis—saat dia mulai bicara dengan suara yang terlalu lembut—Khaerul menyadari satu hal:

Ini bukan sekadar business dinner.

Ini perangkap.

Dan dia sudah terlanjur masuk.

---

**BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!