Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Kebenaran yang Menghancurkan
#
Mahira tidak bisa bernapas. Tangannya gemetar memegang bahu Khaerul yang masih terkapar lemah. Matanya berkaca-kaca menatap wajah sepupunya, mencoba mencerna kebenaran yang baru saja menghantam pikirannya seperti petir.
"Azka," bisiknya parau. "Kamu... kamu Azka."
Zarvan berdiri kaku di sampingnya. Wajahnya pucat seperti mayat. Bibirnya bergetar, ingin bicara tapi tidak ada suara yang keluar. Adiknya. Pangeran Azka yang berusia lima belas tahun. Yang mati menyelamatkannya tiga ratus tahun lalu.
"Tidak mungkin." Suara Zarvan akhirnya keluar, serak dan hancur. "Tidak mungkin. Khaerul itu... dia selalu punya ingatan Khalil. Dia bilang dia Khalil. Dia..."
"Dia bohong," potong Mahira dengan suara gemetar. "Atau lebih tepatnya... dia tidak tahu. Dia pikir dia Khalil karena ingatannya bercampur. Karena Azka mati di tangan Khalil, jadi..."
Ustadz Hariz menghampiri dengan langkah pelan. Wajahnya serius, penuh keprihatinan yang mendalam.
"Jiwa yang mengalami kematian traumatis," jelasnya lirih, "kadang membawa ingatan pembunuhnya. Terutama kalau kematiannya penuh kebencian dan dendam. Azka mati sambil melihat wajah Khalil. Mati sambil mendengar tawa Khalil. Jadi saat bereinkarnasi, ingatannya terkontaminasi. Dia pikir dia Khalil, padahal dia korban."
Raesha yang mendengar penjelasan itu langsung menutup mulut dengan tangan. Air matanya jatuh begitu saja.
"Jadi selama ini," katanya terbata, "selama ini Khaerul menderita karena merasa bersalah atas dosa yang bukan dosanya? Dia... dia menyiksa diri sendiri karena ingatan pembunuh yang bukan dia?"
Tidak ada yang menjawab. Karena jawabannya terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Mahira memeluk Khaerul erat. Tubuhnya bergetar hebat menahan isak. Dia ingat semua perkataan Khaerul. Semua rasa bersalah yang dipikul sepupunya. Semua mimpi buruk. Semua penyesalan.
Dan itu semua... salah.
"Maafkan aku," bisik Mahira di telinga Khaerul yang masih tidak sadar. "Maafkan aku karena tidak menyadarinya lebih cepat. Maafkan aku karena membiarkanmu menderita sendirian."
Zarvan jatuh berlutut. Tangannya menyentuh kepala Khaerul dengan sangat lembut, seperti menyentuh barang paling berharga di dunia.
"Azka," panggilnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Adikku. Kamu... kamu kembali padaku."
Ingatan tiba-tiba membanjiri pikiran Zarvan. Ingatan sebagai Dzarwan. Ingatan bermain dengan Azka kecil di taman istana. Mengajarinya berkuda. Mendengar tawanya yang riang. Memeluknya saat Azka mimpi buruk.
Dan ingatan terakhir. Ingatan paling menyakitkan.
Azka berlari ke paviliun saat mendengar teriakan. Melihat Dzarwan terluka parah dengan Khalil berdiri di atas tubuhnya. Azka berteriak, mencoba menyerang Khalil meskipun dia hanya anak lima belas tahun tanpa senjata.
Khalil tertawa. Menikam Azka berkali-kali. Membiarkan tubuh kecil itu jatuh di samping tubuh Dzarwan yang sekarat.
"Kakak," bisik Azka waktu itu dengan suara yang nyaris hilang. "Maafkan aku. Aku tidak bisa... aku tidak bisa selamatkan kakak."
Dzarwan ingin memeluknya. Ingin bilang semua baik-baik saja. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Darahnya terlalu banyak keluar.
Yang bisa dia lakukan hanya menatap adiknya mati perlahan.
Sendirian.
Kesakitan.
Dan merasa gagal.
Zarvan menangis. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, dia menangis tanpa bisa berhenti. Isak tangisnya memecah keheningan malam, membuat semua orang di situ ikut merasakan penderitaan yang sudah tertahan tiga ratus tahun.
"Maafkan aku," isaknya sambil memeluk Khaerul. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Maafkan aku karena membiarkanmu mati. Maafkan aku, Azka. Maafkan aku."
Papa yang baru tiba dengan pasukan keamanan berdiri terpaku. Melihat putrinya dan calon menantunya menangis memeluk Khaerul membuat dadanya sesak.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada Ustadz Hariz.
Ustadz Hariz menjelaskan dengan singkat. Dan Papa langsung paham kenapa suasana di sini begitu berat.
"Bawa Khaerul ke rumah sakit," perintahnya cepat. "Sekarang. Dia butuh perawatan."
Beberapa petugas medis yang ikut dalam tim langsung bergerak. Membawa tandu. Mengangkat tubuh Khaerul dengan hati-hati.
Mahira tidak mau melepaskan tangan Khaerul. Dia ikut naik ambulans, duduk di samping sepupunya sambil terus menggenggam tangannya yang dingin.
Zarvan ikut. Duduk di sisi lain. Menatap wajah Khaerul yang pucat dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada cinta. Ada penyesalan. Ada rasa bersalah yang begitu dalam.
Ambulans melaju cepat menembus jalanan Jakarta yang masih sepi karena tengah malam.
Di dalam, hanya ada bunyi mesin monitor jantung yang berbip pelan. Dan isak tangis Mahira yang tidak bisa berhenti.
Raesha duduk di depan, menatap kosong keluar jendela. Pikirannya kacau. Khaerul yang dia kenal sejak kecil. Khaerul yang sering bertengkar dengannya. Khaerul yang menyebalkan tapi di saat yang sama paling setia membela keluarga.
Ternyata dia Azka.
Pangeran muda yang mati terlalu cepat. Terlalu tragis.
Dan bereinkarnasi membawa luka yang bukan miliknya.
"Ini tidak adil," bisik Raesha. Suaranya bergetar. "Kenapa dia harus menderita dua kali? Kenapa dia..."
Papa yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya.
"Karena dunia tidak selalu adil, sayang," jawabnya lirih. "Tapi kita akan pastikan kali ini berbeda. Kali ini dia akan tahu kebenaran. Dan dia akan bebas."
Ambulans tiba di rumah sakit. Khaerul langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Dokter dan perawat bergerak cepat memeriksa kondisinya.
Mahira dan Zarvan dipaksa menunggu di luar. Berdiri di koridor yang dingin dan steril, menatap pintu ruang gawat darurat dengan hati yang remuk.
"Dia harus selamat," bisik Mahira. "Dia harus."
Zarvan memeluknya dari belakang. Menopang tubuh Mahira yang hampir roboh karena kelelahan dan emosi yang terlalu berat.
"Dia akan selamat," katanya dengan keyakinan yang dipaksakan. "Dia sudah pernah mati melindungi kita. Kali ini dia akan hidup. Harus."
Satu jam berlalu seperti satu tahun. Akhirnya pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah lelah tapi lega.
"Dia stabil," katanya. "Kondisinya lemah karena dehidrasi dan stres berat. Tapi dia akan baik-baik saja. Dia butuh istirahat total beberapa hari."
Mahira hampir roboh lagi, kali ini karena lega. Zarvan menangkapnya, ikut tersenyum meskipun air mata masih mengalir.
"Terima kasih, Dok," kata Papa sambil berjabat tangan dengan dokter. "Terima kasih banyak."
Khaerul dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Mahira dan Zarvan masuk duluan, duduk di samping tempat tidur sambil menatap wajah Khaerul yang masih tertidur.
"Saat dia bangun," bisik Mahira, "kita harus kasih tahu kebenaran. Dia berhak tahu."
"Aku tahu." Zarvan mengangguk. "Dan aku akan minta maaf. Untuk semua yang terjadi tiga ratus tahun lalu. Dan untuk semua yang dia tanggung sendirian."
Mereka duduk dalam diam. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
Sampai Mahira tiba-tiba merasakan sesuatu.
Tasbih di lehernya bergetar.
Hangat.
Sangat hangat.
Dia menatap Zarvan. "Kamu merasakan ini?"
Zarvan mengangguk. Liontin yang dia pakai juga bergetar. "Ada apa?"
Mahira berdiri. Berjalan ke arah pintu. Tasbih semakin panas setiap langkahnya mendekat ke koridor.
"Mahira, tunggu." Zarvan mengikuti.
Di koridor, seorang pria berjas hitam berjalan melewati mereka. Wajahnya biasa saja. Tidak mencolok. Tapi saat dia lewat...
Tasbih Mahira nyaris membakar.
Mahira menoleh cepat. Menatap punggung pria itu yang terus berjalan menuju lift.
"Dia," bisiknya. "Dia..."
Zarvan langsung paham. "Khalil."
Pria itu masuk lift. Pintu mulai menutup.
Dan sesaat sebelum tertutup sempurna, pria itu menoleh.
Menatap Mahira dan Zarvan dengan senyum tipis yang penuh arti.
Senyum yang membuat darah Mahira membeku.
Karena dia kenal senyum itu.
Dia kenal wajah itu.
Meskipun berbeda.
Meskipun tiga ratus tahun sudah lewat.
Dia tahu siapa pria itu.
Dan saat kesadaran itu menghantam, Mahira hampir tidak percaya. Hampir tidak mau percaya.
Tapi tasbih tidak pernah bohong.
"Tidak," bisiknya. Tubuhnya gemetar. "Tidak mungkin. Dia..."
Zarvan menatapnya bingung. "Siapa? Mahira, kamu kenal dia?"
Mahira menatap Zarvan dengan mata yang penuh ketakutan.
"Itu," katanya dengan suara yang nyaris hilang, "itu Mas Budi. Kepala bagian teknologi informasi perusahaan kita."
Keheningan.
Lalu pemahaman perlahan muncul di wajah Zarvan.
Mas Budi. Yang menangani sistem keamanan. Yang punya akses ke semua data. Yang tahu semua rahasia perusahaan.
Yang kemarin membantu melacak serangan peretas.
Yang sepertinya membantu mereka.
Ternyata...
"Dia Khalil," bisik Zarvan. "Dia ada di dekat kita sejak awal. Dan kita tidak pernah curiga."
Mahira jatuh terduduk di lantai koridor. Tangannya gemetar memegang tasbih yang masih panas.
Semua kepingan puzzle tiba-tiba menyatu.
Kenapa serangan peretas bisa terjadi. Kenapa data mereka bocor. Kenapa Damian dan Isabelle selalu tahu rencana mereka.
Karena ada mata-mata di dalam.
Khalil.
Yang selama ini bersembunyi di balik wajah ramah seorang karyawan biasa.
Menunggu.
Mengawasi.
Dan sekarang...
Sekarang dia tahu mereka sudah menemukan kebenarannya.
Dan dia tersenyum.
Karena dia sudah siap untuk permainan terakhir.