Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*28
Perintah itu langsung Dion sambut dengan napas berat. "Dokter Rika sedang pelatihan. Tidak bisa datang sekarang, dokter Kania."
"Apa? Tidak berguna." Kesal Kania bukan kepalang.
"Sejak awal aku tidak suka bekerja sama dengannya. Lihatlah buktinya sekarang. Tapi, tuan muda malah ingin tetap mempertahankan dia." Kania terus mengomel dengan kesal.
Dion yang mendengar omelan Kania hanya bisa diam saja. Karena, dia cukup tahu apa alasan Rika Rain rekrut menjadi dokter pribadinya. Tentu saja alasannya lagi-lagi karena Aina. Karena dulu, Rika cukup dengan dengan Ain.
Mereka tidak bisa dibilang bersahabat. Tapi, cukup dekat. Rika cukup sering memberikan bantuan sekecil apapun untuk Rain saat gadis itu membutuhkan bantuan. Bahkan, saat Rain berusaha mengejar Aina, sedikitnya ada campur tangan dari Rika saat proses pengejaran itu berjalan. Hingga akhirnya, usaha pengejaran itu berhasil. Rika juga bersorak bahagia untuk mereka berdua.
Jasa yang sedikit itulah yang Rain ingat sampai saat ini. Bahkan, ketika Rika menolak untuk bekerja dengan Rain pun, pria itu susah payah untuk membujuknya agar mau.
Semua bukan tanpa alasan. Tentu saja, karena Rain ingin mempertahankan apapun yang ada hubungannya dengan Ain agar tetap berada di sisinya. Walau dunia menolak, Rain tetap ingin bertahan. Begitulah usaha Rain untuk memiliki Aina lagi.
"Aina!"
"Tuan muda."
"Tuan muda. Anda sudah sadar?" Kania berucap dengan wajah bahagia.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?"
"Tuan muda pingsan sebelumnya. Dion langsung menghubungi saya."
"Dion. Jam berapa sekarang?"
"Tuan muda. Ini sudah cukup malam. Sudah hampir jam sembilan."
"Minta sopir mengantarkan dokter Kania sekarang juga. Sedang kamu, ikut aku ke suatu tempat."
Belum sempat Dion menjawab apa yang baru saja Rain katakan, Kania duluan yang angkat bicara. "Tuan muda. Anda mau ke mana? Ini sudah sangat larut, anda harus istirahat."
"Ee ... jika bisa, izinkan saya untuk beristirahat di vila anda malam ini, tuan muda. Karena ... ee ... malam sudah semakin larut. Saya-- "
"Maaf. Vila ini tidak cukup besar, dokter Kania. Tidak ada kamar tamu di vila ini. Jadi, saya tidak bisa menyambut tamu untuk menginap di sini."
"Ha?" Kania sama sekali tidak percaya kalau Rain akan menolaknya secara terang-terangan.
Yah ... meskipun itu sempat terlintas di benak Kania sebelumnya. Tapi, alasan yang tidak Rain berikan barusan sungguh sangat tidak masuk akal.
Vila yang Rain tempati adalah vila besar dengan dua lantai. Fasilitasnya juga lengkap. Kamarnya juga banyak. Masa iya di vila yang sebesar dan semewah ini tidak ada kamar tamunya? Bukankah alasan itu adalah alasan yang sama sekali tidak masuk di akal?
"Tuan muda."
"Dokter Kania bisa pulang sekarang. Maaf, saya tidak bisa menerima tamu untuk menginap. Terima kasih sudah datang," ucap Rain dengan cepat.
Tidak ada yang bisa Kania katakan. Hatinya sudah sangat kesal dengan penolakan-penolakan yang Rain berikan selama ini. Tapi, untuk menyerah. Dia tidak akan melakukannya. Dia akan tetap berjuang sampai Rain bisa ia dapatkan.
Setelah melepas napas berat, Kania berusaha mengukir senyum dengan susah payah.
"Baiklah, tuan muda. Saya permisi sekarang."
"Dion."
"Ya, tuan muda."
"Antar kan dia!"
"Baik, tuan muda."
*
Setelah Dion kembali, Rain sudah pun siap. Seperti yang telah ia katakan sebelumnya, dia akan pergi ke suatu tempat. Sekarang, dia benar-benar akan beranjak meninggalkan vila tersebut.
"Tuan muda. Anda, mau ke mana sebenarnya?"
"Ikut saja aku. Nanti, kamu juga akan tahu ke mana aku akan pergi."
Rain meraih kunci mobil yang ada di tangan Dion. "Aku yang akan mengemudi."
"Apa? Tapi, tuan muda. Apa tidak sebaiknya, tuan muda istirahat saja di belakang. Biar saja yang bawa mobilnya."
"Kenapa, Dion? Kamu takut aku bawa kamu ke alam lain ya?"
Seketika, wajah Dion langsung berubah. Ketakutan yang ada dalam pikirannya ternyata langsung Rain ungkapkan. Mau tidak mau, Dion langsung nyengir kuda sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ti-- tidak, tuan muda. Tidak. Saya tidak berpikir begitu. Maksud saya .... "
"Lupakan saja. Aku tidak ingin membahas hal yang tidak penting lagi."
Rain pun kembali melangkah. Sementara Dion, pria itu langsung melepas napas berat secara perlahan di belakang tuan mudanya. Namun, baru juga beranjak beberapa langkah, Rain langsung memutar tubuhnya kembali untuk melihat tangan kanan kepercayaannya itu.
"Ee ... Dion. Kamu tenang saja. Malam ini, kamu akan baik-baik saja. Jangan cemas. Aku gak akan bawa kamu ke dunia lain. Karena saat ini, cahaya ku sudah kembali. Aku yakin kami akan bertemu tak lama lagi. Jadi, aku harus tetap baik-baik saja."
Dion tidak bisa berkata-kata sedikitpun. Jujur saja, dia kaget, takut, cemas, juga, masih banyak perasaan lain yang datang menghampiri hati dan pikirannya. Namun, dia tidak bisa mengungkapkan apa yang saat ini ada dalam pikiran tersebut. Perasaan campur aduk itu, tidak bisa dia utarakan sedikitpun.
Rain tidak pernah mengemudi sejak lima tahun yang lalu. Tapi malam ini, dia berniat untuk mengemudi lagi. Hati siapa yang tidak kecut? Nyali siapa yang tidak menciut, coba?
"Tuan muda. Anda yakin mau nyetir sendiri?"
Sekali lagi, Dion memastikan keinginan tuan mudanya dengan hati-hati.
Pertanyaan Dion langsung Rain jawab dengan senyuman manis. "Kenapa, Dion? Masih takut? Masih tidak percaya kalau aku akan mengemudikan mobil ini dengan baik?"
"Bu-- bukan begitu, tuan muda. Han-- hanya saja ... sa-- saya .... "
"Baiklah, sekarang kita coba." Rain berucap cepat. Sambil berucap, dia menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Pertama mengemudi saja Rain sudah membuat jantung Dion berdebat sangat kencang. Ingin sekali rasanya Dion berteriak, tapi yah ... dia adalah majikan. Dia adalah bos yang memberinya gaji setiap bulan. Tidak ada yang bisa Dion lakukan selain pasrah dengan keadaan.