Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Malam Bersama Kinan
Rumah yang biasanya memberikan kehangatan bagi Alana, kini terasa lebih dingin dari biasanya. Kasur kapuk di atas dipan jati dalam kamar utama tak lagi beraroma khas yang selalu dia simpan dalam beberapa tahun terakhir. Begitu pula dengan setoples teh melati yang tak berkurang satu pun.
Begitu Alana membuka daun pintu utama, hanya sunyi yang menyapanya. Tak ada lagi sapaan hangat yang menyambutnya bersama senyuman. Tak ada lagi aroma teh melati hangat yang menguar di udara. Pengharum ruangan beraroma lavender pun mengering di sudut ruangan.
Di belakangnya ada Kinan dan Ella yang baru saja ikut memakamkan Laksmi. Tak sampai setengah hari, Alana sudah tak dapat lagi melihat sosok ibunya. Hanya sepasang baju terakhir yang melekat di tubuh Laksmi kini berada di pelukannya.
Alana menoleh sambil tersenyum kecil. "Silakan masuk, Ma. Biar saya buatkan minum di dalam," katanya.
Ella yang melihat itu tentu menyadari Alana tengah berusaha baik-baik saja. Namun, mta sembab dengan kantung mata semakin gelap itu tentu tak dapat berdusta. Alana tentu tidak dalam kondisi baik-baik saja, terlebih lagi untuk melayaninya sebagai tamu.
Tak menjawab, Ella bergerak mendekat. Direngkuhnya tubuh yang semakin kurus itu ke dalam pelukannya. Memberikan kehangatan yang tentu Alana rindukan dari sosok Ibu.
"Yang kuat ya, Nak," bisiknya di samping telinga Alana.
Mendengar itu, Alana dapat kembali merasakan genangan air yang mengaburkan pandangannya. Alana sampai tak berani menggerakkan bola matanya, takut air mata itu kembali terjatuh untuk kesekian kalinya. Hidungnya memerah di waktu yang sama.
Kinan yang masih berdiri di belakang sana terdiam. Meski pemandangan penuh air mata itu bukan lagi kali pertama baginya, namun dia masih terus terpana setiap melihat Alana menangis sebegitunya. Tak pernah ada dibenaknya bahwa sosok perempuan yang selalu mengembangkan senyum pada siapa pun itu akan ada dalam momen serapuh ini.
Tak ingin terus berkontak mata dengan Alana yang menatapnya kosong, Kinan membuang mukanya. Pandangannya kini jatuh pada pot tanaman kesayangan Laksmi yang ada di teras. Tanaman yang sebelumnya selalu disirami dengan setengah gembor air itu tampak sedikit mengering.
Sementara di depan sana, Ella menguraikan pelukannya. Siapa sangka dia yang leih dulu menitikkan air mata sebelum Alana. Lalu, wanita itu tersenyum kecil.
"Mama pulang dulu, ya. Biar Kinan di sini temanin kamu," kata Ella lembut.
Mendengar namanya disebut, Kinan kembali menoleh ke arah dua perempuan yang ada di depan pintu sana. Meski dia sudah mengatur wajahnya sedatar mungkin, namun tak sapat dipungkiri ada sorot heran di sana.
Ella menghela nafasnya. "Kamu suaminya, Ki. Lagi pula, kalian juga belum pernah tinggal di satu rumah yang sama gara-gara Kinan yang sering lembur dan Alana yang sibuk jaga Ibu, kan?"
Alana sempat melirik sebentar ke arah Kinan. Dia sudah lebih dulu menduga bahwa pria itu mungkin akan kabur dari situasi ini. Karena pada dasarnya pernikahan ini hanya berlangsung di depan orang lain saja, seperti perjanjian di antara mereka.
Namun, tanpa diduga Kinan malah mengangguk mantap. "Iya, Ma. Aku bakal di sini sama Alana," katanya.
Mendengar itu, Ella tersenyum kecil. Lalu, tangannya mengusap punggung Alana sejenak. "Mama pulang dulu, ya. Besok Mama ke sini lagi," pamitnya.
Setelah mengatakan itu, ketukan langkah kaki berbalut heels tebal yang terlalu tinggi terdengar di sekitar mereka. Ella melangkah pergi dari hadapan keduanya. Tak lupa juga dia tersenyum kecil sesaat setelah menutup pintu pagar besi yang tak terlalu tinggi.
Begitu Ella menghilang dari pandangan mereka, Alana memandang ke arah Kinan. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam sambil berpandangan sat sama lain. Terutama Alana yang memiliki ratusan pertanyaan dalam kepalanya.
"Kenapa?" tanya Kinan yang mulai tak nyaman ditatap dengan sorot datar dari Alana.
Seolah baru tersadar dari lamunannya, Alana menggeleng. "Mau masuk dulu sambil nunggu Mas Aldo?" tawarnya.
"Saya nggak akan ke mana-mana hari ini." Kinan mengangkat bahunya. "Seperti yang saya bilang tadi, saya mau nemenin kamu di sini."
Alana terdiam sejenak. Dia bahkan tidak segan untuk menatap langsung pada mata pria di hadapannya, mencari ketidak jujuran yang mungkin tersimpan di baliknya. "Beneran?"
Kinan tak menjawab. Pria itu langsung melewati Alana begitu saja untuk masuk ke dalam rumah. "Terserah kamu saja."
...****************...
Benar saja. Kinan menepati ucapannya. Pria itu bahkan tak sedikit pun menampakkan wajah ingin segera pergi dari sana. Dia hanya duduk diam dan sesekali beranjak untuk ke kamar mandi atau memenuhi panggilan dari kantornya.
Kinan bahkan sadar bagaimana cara Alana meliriknya secara diam-diam sedar tadi. Perempuan itu bahkan beberapa kali mondar-mandir di hadapannya dengan tatapan yang seolah ingn menanyakan sesuatu. Maka begitu Alana kembali lewat di depannya dengan segelas air putih, Kinan menghentikannya.
"Kamu mau ngobrol sama saya?" tanyanya dengan tatapan tepat pada Alana.
Mendengar suara Kinan dari balik tubuhnya, Alana menghentikan langkahnya. Getar kecil pada air dalam gelas di tangannya pun menghilang bersama tubuhnya yang berhenti bergerak. Lalu, dia membalikkan tubuhnya ke arah Kinan.
"Kenapa?" tanyanya seolah tak melakukan apa-apa.
"Kamu kira, saya nggak tahu kalau kamu ngelirik saya dari tadi?" balas Kinan, balik bertanya.
Alana menggigit kecil kulit bibirnya yang tipis. Pandangannya beralih ke arah yang lain. Apakah gerak-geriknya tampak sejelas itu di mata Kinan?
Melihat Alana yang terdiam, Kinan menyilakan kakinya di atas kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah Alana. Da tepuk salah satu sisi kursi yang tak jauh darinya. "Duduk sini," pintanya.
Mendengar itu, Alana tampak ragu sejenak. Namun, memang ada hal yang sangat ingin dia tanyakan pada Kinan hingga dirinya beberapa kali lewat di depan pria itu. Dengan langkah ragu, Alana akhirnya duduk di tempat yang tak jauh dari Kinan, namun masih menyisakan jarak di antara mereka.
Alana berdeham sebentar begitu menyadari Kinan yang menunggunya untuk membuka suara. "Aku mau nanya, Mas," katanya.
Kinan tak menjawab. Bahkan sekecil anggukan singkat pun tak Alana dapatkan. Namun, Alana tahu pria itu masih menunggunya. Tampak jelas dari matanya yang masih mengarah pada Alana.
"Semalam waktu kamu masuk, Ibu masih ada?" tanyanya.
Kinan mengangguk. "Iya."
"Tidur?" tanya Alana lagi. Kini alisnya ikut terangkat seraya menunggu jawaban Kinan.
"Enggak. Ngobrol sama saya," jawab Kinan seadanya.
Bibir Alana membulat sempurna. Matanya merunduk pada ujung kakinya yang ada di permukaan lantai. "Kalau boleh tahu, kalian ngobrol apa?"
"Tentang kamu," timpal Kinan tanpa pikir panjang.
Pria itu masih tak melepaskan pandangannya dari Alana. "Ibu itu sayang banget sama kamu, Alana. Makanya beliau menitipkan kamu ke saya."
"Jadi, itu alasan Pak Kinan mau nemenin saya malam ini?" tanya Alana.
Kinan terdiam sejenak. Surai halus Alana yang jatuh menutupi wajah ranum itu menyapa pandangannya. Kinan tak peduli bahwa lawan bicaranya kini tak memandang ke arahnya. Dia juga dapat melihat kedua tangan lentik itu mencengkram erat tepian kursi kayu yang mengkilap.
"Bukan hanya untuk hari ini," ujar Kinan, mampu membuat Alana mendongak.
Dengan tatapan bingung, Alana melihat Kinan. "Maksudnya?"
"Saya bukan tipe orang yang tidak bertanggungjawab atas amanah yang sudah diberikan kepada saya, Alana."
Kinan membalas tatapan bingung milik perempuan yang lebih muda darinya itu. Dia sungguh-sungguh dalam mengatakannya. Tak hanya untuk malam ini, namun juga untuk malam-malam selanjutnya.