Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tarian Pedang dan Tongkat di Liang Maut
Begitu kaki Li Yuan dan Dong Dong melangkah keluar dari gerbang gua, aroma amis yang menusuk langsung menyambut mereka. Ular raksasa kemarin tidak datang sendirian; ia membawa "pasukan keamanan" yang terdiri daripada belasan ular sanca hutan yang sangat tidak jauh berbeda.
"Lihat itu, Dong Dong. Sepertinya sate ular kita membawa teman-temannya untuk pesta," ujar Li Yuan. Ia menggenggam erat gagang pedang hitamnya. Meskipun masih tampak berkarat, kini ada getaran energi yang mengalir dari telapak tangannya ke bilah pedang tersebut.
Dong Dong memutar-mutar tongkat merah emasnya dengan lincah. "Baguslah. Aku bosan berlatih dengan angin. Mari kita lihat siapa yang akan jadi mangsa sekarang."
Ular-ular itu mendesis, membentuk lingkaran maut. Ular pemimpin yang kemarin mereka buli berada di barisan paling belakang, seolah-olah sedang memberikan komando. Tiba-tiba, tiga ekor ular melesat serentak dari arah yang berbeda.
"Sekarang!" teriak Li Yuan.
Li Yuan tidak lagi lari ketakutan. Dengan Arus Qi tingkat satu, gerakannya menjadi sangat tenang. Ia melakukan satu putaran rendah, pedangnya menebas udara, menciptakan gelombang angin tajam yang menghempas ular pertama hingga terpental ke dinding tebing.
BRUAK!
Pada saat yang sama, Dong Dong melompat ke udara, menggunakan kepala Li Yuan sebagai pijakan. "Tongkat Penghancur Bintang... MEMANJANG!"
Syuuuut!
Tongkat di tangan Dong Dong memanjang dalam sekelip mata, menghantam kepala ular kedua yang sedang menganga di udara.
POKK!
Suara hantaman itu terdengar sangat renyah. Ular tersebut jatuh bergedebuk dengan mata berpusing-pusing.
"Kerja bagus, Monyet!" Li Yuan memuji sambil melompat ke depan. Ia kini dikepung oleh empat ekor ular. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat gerakan Jalan Pedang Langit.
"Langkah Bayangan Langit!"
Tubuh Li Yuan seolah-olah terpecah menjadi beberapa bayangan. Ia bergerak di antara celah-celah belitan ular dengan kelajuan yang mustahil bagi manusia biasa. Pedang karatnya mengeluarkan cahaya hitam redup. Setiap kali pedang itu bersentuhan dengan sisik ular, terdengar suara dentingan logam yang kuat.
"Dong Dong, pukul ekor mereka!" perintah Li Yuan.
Dong Dong mendarat di tengah-tengah kerumunan ular. Ia memegang tengah tongkatnya dan mula berpusing seperti gasing. "Tarian Tongkat Monyet Gila!"
Tongkat itu memanjang dan memendek dengan pantas, menghantam setiap ekor dan badan ular yang coba mendekati Li Yuan. Kerja sama mereka sangat serasi; Li Yuan menangani serangan dari atas dan depan dengan pedangnya, sementara Dong Dong menyapu bersih bagian bawah dan belakang dengan tongkat ajaibnya.
Puncaknya, ular pemimpin yang besar itu coba melakukan serangan dari atas dahan pohon. Ia meluncur turun dengan mulut terbuka lebar, mengarah kepala Li Yuan.
"Aku sudah menunggumu, Kawan Lama!" Li Yuan tidak mengelak. Ia justru menusukkan pedangnya ke arah atas.
Dong Dong, yang melihat itu, segera memanjangkan tongkatnya ke bawah kaki Li Yuan, menciptakan tumpuan. "Lompat, Li Yuan!"
Dengan dorongan tongkat Dong Dong, Li Yuan melesat ke atas seperti peluru.
JLEB!
Pedang hitam itu, walaupun tampak tumpul, menembus rahang ular raksasa itu dengan mudah. Li Yuan mendarat dengan tenang di atas tanah, sementara ular besar itu jatuh terhempas, tidak berdaya lagi.
Ular-ular yang lain, melihat pemimpin mereka dikalahkan dengan begitu mudah, segera membubarkan diri dan lari ke dalam semak-semak dengan ketakutan yang amat sangat.
Li Yuan menyarungkan kembali pedangnya ke pinggang (yang diikat dengan tali akar). "Hah... ternyata menjadi kuat itu melelahkan juga."
Dong Dong mengecilkan kembali tongkatnya dan menyimpannya di telinga (seperti yang dilakukan tokoh legenda). "Tapi kau harus akui, kerja sama kita tadi sangat keren. Kalau ada orang yang melihat, mereka pasti akan menulis legenda tentang kita."
"Legenda tentang bocah dekil dan monyet yang baru saja sakit perut massal?" Li Yuan tertawa. "Ayo kita pergi dari sini. Bau naga di dalam gua itu masih menempel di bajuku. Kita perlu mencari sungai."
Hantu kakek yang mengawasi dari dalam gua hanya tersenyum tipis. "Mungkin mereka memang punya harapan. Tapi perjalanan ke Arus Qi tingkat sepuluh masih jauh, dan dunia di luar sana jauh lebih kejam daripada sekadar kumpulan ular hutan."