NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 35 - Pesta Ulang Tahun ke-70

“Sander… Sander…”

Suara Fasha bergetar. Ia menekan jari-jarinya ke punggung bawah dengan panik, memeras otaknya, namun tak menemukan alasan yang masuk akal.

'Tolong… aku bukan orang mesum. Sungguh.'

Kepalanya kacau. Dalam kondisi seperti ini, siapa pun pasti akan salah paham. Bahkan ia sendiri tak yakin bisa mempercayai dirinya.

“Hm.”

Satu suku kata itu membuat jantung Fasha mencelos. Ia tak tahu apakah Sander sedang marah. Senyum dipaksakan di wajahnya, sementara kakinya seolah terpaku di lantai.

“Ayo berangkat kalau sudah siap.”

Sander bergerak lebih dulu. Fasha terdiam sesaat sebelum akhirnya mengikutinya.

Mereka berjalan berdampingan dalam keheningan canggung. Fasha beberapa kali ingin membuka percakapan, namun melihat ekspresi datar Sander, ia memilih diam.

Di kursi belakang mobil, dengan jarak setengah tubuh di antara mereka, Fasha menoleh. Mata Sander terpejam, jari-jarinya bergerak perlahan di atas lutut, ritmis. Fasha menarik napas, ragu, lalu mengulurkan tangannya sedikit.

“Fasha.”

Ia tersentak, segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang punggung. Sikapnya mendadak patuh.

“Aku di sini. Ada apa?”

Bulu mata Sander membentuk bayangan tipis di bawah matanya. Cahaya dan bayangan berganti di wajahnya seiring mobil melaju. Tanpa alasan jelas, Fasha menahan napas, tegang seperti menunggu vonis hidup dan mati.

Sander sendiri masih tenggelam dalam keterkejutan yang tak terucap.

Siapa pun akan merasa janggal melihat seseorang mengendus bajunya dengan begitu obsesif.

Denyut di pelipisnya menguat. Pergelangan tangannya terasa gatal, ujung jarinya menggenggam telapak tangan sendiri. Ia tak mampu menjelaskan perasaan itu—asing, mengganggu, namun… tidak sepenuhnya menjijikkan.

Saat Fasha berbalik, Sander menghela napas lega, meski langkahnya melambat seolah berharap gadis itu akan menyusul dan menjelaskan.

Mungkin aku terlalu banyak berpikir.

Situasi Fasha memang tak bisa dinilai dengan logika normal.

“Kita sudah sampai.”

Sander membuka mata setengah. Setelah pengemudi mengulang ucapannya, ia menjawab pelan, “Hm.”

Rumah tua itu diselimuti sutra merah. Bahkan pohon layu di pintu masuk pun dihiasi kain keberuntungan. Konon, George sengaja meminta nasihat khusus—merah dipercaya membawa umur panjang dan kesehatan.

Pesta ulang tahun ke-70 itu berlangsung megah.

Mobil-mobil mewah memenuhi area parkir. Cahaya lampu dan dekorasi berkilau memantulkan kemewahan yang disengaja.

Kilin berdiri di pintu masuk, menyambut tamu. Saat seseorang menanyakan luka di wajahnya, senyumnya meredup sejenak sebelum kembali tenang.

“Kemarin aku tak sengaja membuat pamanku marah,” katanya lembut. “Kata sandi pintunya adalah hari wafat nenek. Aku hanya memuji baktinya… entah mengapa dia mendadak mengamuk.”

Separuh wajah Kilin bengkak. Setiap geraknya kaku, luka-lukanya nyata.

“Kau sudah menderita,” kata George datar. “Aku akan menegurnya.”

Kilin menelan kalimat tentang perusahaan yang hampir terucap. Ia tahu kapan harus berhenti.

Bisik-bisik memenuhi aula.

“Sander bahkan tak datang ke ulang tahun ayahnya sendiri.”

“Kudengar dia dipaksa menikah dengan orang bodoh.”

“Kasihan… mungkin sudah dipukuli sampai tak bisa keluar.”

Tawa kecil menyusup di antara ejekan—lalu membeku.

Sander berdiri di sana.

Wajah-wajah itu memucat.

“Paman… kau sudah kembali?” Kilin tersenyum kaku, tubuhnya gemetar. Luka-lukanya tampak jelas.

Tatapan Sander dingin, menusuk, namun ia tak berkata apa pun.

Hening menyebar.

Seseorang berdeham gugup, menyapa dengan suara tercekat.

“T-Tuan Sander…”

Sander mengangguk singkat.

Saat itu, sebuah tangan kecil menggenggam pergelangan tangannya.

“Saudaraku… dia menatapku. Aku takut.”

Fasha gemetar, bersembunyi di balik tubuhnya.

“Jangan takut,” jawab Sander datar. “Dia tidak akan menyentuhmu lagi.”

Makna kalimat itu langsung dipelintir.

Pemahaman pun mengalir—dan semuanya mengarah ke Kilin.

Tak heran dia dipukuli.

“Kak,” Fasha berbisik, suaranya polos namun tajam, “mereka bilang kamu sakit. Tapi kamu sehat. Aku juga bukan orang bodoh.”

Jari-jari mereka saling bertaut.

Aura Sander makin dingin.

“Keluarga Carter kuat. Mengapa orang-orang jahat masih berani bicara buruk?”

Keringat dingin membasahi punggung banyak orang.

Sander tersenyum tipis—senyum tanpa kehangatan.

“Itu artinya mereka gagal.”

George datang dengan tongkatnya. Wajahnya menegang saat melihat pemandangan itu.

“Apa yang terjadi?”

Fasha menoleh polos.

“Mereka bilang keluarga Carter hanya omong kosong. Itu artinya apa?”

“Itu penghinaan,” jawab Sander tenang.

Wajah George memucat.

“Keluar,” katanya dingin. “Keluarga Carter tidak bekerja dengan orang bermuka dua.”

Para tamu itu diusir dengan sopan—dan harga diri mereka runtuh di depan umum.

Saat aula kembali riuh, George menatap tangan Sander… lalu tangan yang digenggam Fasha.

Raut jijik melintas.

“Sander,” katanya tajam, “apakah ini caramu kembali?”

“Kau memohonku,” balas Sander. “Tanpa reputasimu, aku tak perlu datang.”

Amarah George meledak. Tongkat terangkat.

Fasha melangkah ke depan, menutup mata.

Namun tongkat itu tertahan.

Sander menggenggamnya.

“Aku sudah bilang,” ucapnya dingin, “ini semua kemampuanmu.”

Tongkat terjatuh.

Sander meraih tangan Fasha dan melangkah pergi.

Di balik sutra merah dan senyum palsu, topeng George akhirnya retak—dan runtuh sepenuhnya.

1
hile sivra
ayo dong sander, dipercepat peka nya itu bibit bibit udah tumbuh /Proud/
hile sivra
luwooh fasha tercyduk ambil kemeja ayang /Shy/ teruusss..... /Shy/
hile sivra
pantes pas liat riwayat bacaan ada yang update tapi kok asing, ternyata ganti gambar sampul toh /Facepalm/
Lynn_: Iya ka.. makasih🙏 Dukung terus ya😇🙏
total 3 replies
hile sivra
haduuh tanggal 2 maret up nya, bisa 2 hari lagi ga sih thoorr/Scowl/
Lynn_: Makasih udah baca dan komen ya kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!