"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Retakan di Ruang Rapat
Pagi datang terlalu cepat.
Dan terlalu bising.
Nama Arlan Dirgantara menjadi trending sejak pukul enam pagi.
Bukan karena pencapaian.
Bukan karena ekspansi.
Tapi karena satu kata yang paling mematikan dalam dunia bisnis:
Skandal.
Aira baru membuka ponselnya ketika notifikasi bertubi-tubi masuk.
Berita.
Utas opini.
Spekulasi.
Beberapa bahkan menyebut proyek lima tahun lalu sebagai “pengorbanan yang disengaja”.
Nama ayahnya diputar ulang.
Dengan narasi yang tidak sepenuhnya benar.
Dan tidak sepenuhnya salah.
Ia menutup layar.
Tapi dunia tidak ikut berhenti.
Ruang rapat utama lantai 28 penuh.
Dewan direksi duduk dengan wajah tegang. Grafik penurunan saham terpampang besar di layar.
-12%.
Dan masih bergerak.
“Kita harus mengeluarkan pernyataan resmi,” salah satu komisaris berkata tegas.
“Kita sudah,” jawab Arlan datar.
“Itu tidak cukup.”
“Kita butuh penanggung jawab.”
Kalimat itu menggantung.
Semua tahu siapa yang dimaksud.
“Jika CEO sementara mengundurkan diri untuk meredakan pasar, dampaknya bisa ditekan,” lanjut suara lain.
Arlan tidak menunjukkan emosi.
“Kalian ingin saya mundur.”
“Untuk stabilitas perusahaan.”
Bukan untuk kebenaran.
Bukan untuk keadilan.
Untuk angka.
Arlan menyandarkan tubuhnya.
“Dan kalian yakin itu akan menghentikan narasi?”
Hening.
Karena mereka tahu—
ini bukan soal posisi.
Ini serangan yang terencana.
“Kita tidak bisa menunggu lebih lama,” ujar direktur independen. “Investor asing mulai menarik diri.”
Arlan berdiri perlahan.
“Beri saya 48 jam.”
“Arlan—”
“Empat puluh delapan jam,” ulangnya tenang. “Jika dalam waktu itu saya tidak bisa membalikkan situasi, saya sendiri yang akan mengajukan pengunduran diri sementara.”
Ruang itu sunyi.
Keputusan berisiko.
Tapi tak satu pun membantah.
Karena meski mereka meragukannya—
mereka tahu hanya Arlan yang cukup berbahaya untuk melawan Mahendra.
Sementara itu—
Aira berdiri di depan gedung perusahaan ketika seorang reporter menerobos pengamanan.
“Apakah benar ayah Anda adalah pihak yang bertanggung jawab atas proyek gagal itu?”
Pertanyaan itu datang seperti tamparan.
“Apa Anda berada di sisi Arlan Dirgantara atau keluarga Anda sendiri?”
Itu lebih tajam.
Flash kamera menyilaukan.
Suara berlapis-lapis.
“Apakah kontrak pernikahan Anda hanya bagian dari strategi menutup skandal?”
Itu yang paling kejam.
Aira tidak menjawab.
Ia menatap lurus ke depan.
Tenang.
Tapi tangannya gemetar.
Seorang staf keamanan akhirnya menutup jarak dan membawanya masuk.
Namun rekaman itu sudah tersebar.
Dalam waktu satu jam—
nama Aira ikut trending.
Bukan sebagai korban.
Bukan sebagai istri.
Tapi sebagai simbol konflik.
Di ruangannya, Arlan menonton potongan video itu tanpa ekspresi.
Namun rahangnya mengeras.
“Mereka mulai menyerang dia,” ujar asistennya pelan.
“Aku tahu.”
“Ini bisa memperburuk citra.”
Arlan berdiri mendadak.
“Citra bukan prioritas.”
“Lalu apa?”
Ia menatap layar sekali lagi.
Tatapan Aira di video itu—
tidak rapuh.
Tidak memohon.
Hanya terluka.
Dan itu lebih mematikan daripada tangisan.
“Mahendra ingin membuatnya goyah,” kata Arlan pelan.
“Dia salah orang.”
Di apartemen, Aira duduk sendirian.
Televisi menyala tanpa suara.
Semua kanal membahas hal yang sama.
Ayahnya.
Arlan.
Proyek lama.
Dugaan manipulasi.
Ia memejamkan mata.
Mahendra benar.
Ini baru permulaan.
Ponselnya berbunyi.
Bukan pesan.
Panggilan.
Arlan.
Aira menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Aku akan mengadakan konferensi pers,” kata Arlan tanpa basa-basi.
“Untuk apa?”
“Untuk menghentikan narasi sebelum menjadi kebenaran.”
“Dan apa yang akan kau katakan?”
Hening sejenak.
“Kebenaran.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi berbahaya.
“Aku tidak ingin kau melindungiku dengan kebohongan,” kata Aira pelan.
“Aku tidak akan.”
“Dan kalau kebenaran menyakitimu?”
Arlan tidak menjawab langsung.
“Aku sudah memilih risikonya.”
Aira terdiam.
Empat puluh delapan jam.
Itu bukan waktu untuk bertahan.
Itu waktu untuk perang.
Dan di luar sana—
Mahendra pasti sedang menunggu langkah berikutnya.
sangat seru