NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Mansion Darwin, Medan. Pukul 06.00 WIB.

Cahaya matahari pagi Kota Medan yang hangat mulai menyusup di sela-sela gorden sutra tebal berwarna sampanye yang menutupi jendela raksasa kamar utama. Kamar itu begitu megah, dengan furnitur bergaya Eropa klasik yang didominasi warna emas dan putih, mencerminkan kekayaan tanpa batas pemiliknya. Namun, bagi wanita yang baru saja membuka matanya, kemegahan ini terasa seperti penjara yang sangat nyaman.

Sava mengernyitkan dahi. Hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya kembali adalah denyut nyeri yang menghantam kepalanya. Ia mencoba bergerak, namun rasa sakit yang tajam seolah menarik saraf di pinggangnya, membuatnya mendesis tertahan.

"Awh..." rintihnya pelan.

Sava menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang yang dilapisi beludru empuk. Ia memijat pelipisnya dengan jemari yang masih terasa lemas. Ingatannya berputar pada peristiwa semalam—bagaimana Garvi membawanya pada puncak kenikmatan berkali-kali tanpa ampun, seolah sedang menghukumnya sekaligus mengklaimnya kembali setelah insiden Arkan. Tubuhnya terasa remuk, pinggangnya terasa seperti ingin patah. Setiap inci kulitnya seolah masih menyimpan jejak tangan Garvi yang menuntut.

Saat sedang sibuk memijat pinggangnya yang nyeri, Sava tiba-tiba merasa sedang diperhatikan. Ia menoleh perlahan ke sisi kanan ranjang.

Di sana, Garvi Darwin sudah terjaga. Pria itu berbaring menyamping, menyangga kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diletakkan di atas paha Sava yang tertutup selimut. Ia masih bertelanjang dada, menampakkan lekuk otot perut yang sempurna dan bahu tegap bak dewa Yunani yang diterpa cahaya pagi.

Garvi tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Sava dengan mata gelapnya yang dalam, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya sejak membuka mata hingga mengeluh kesakitan. Sebuah senyuman manis—senyuman yang seringkali menjadi senjata paling mematikan bagi para wanita di luar sana—merebak di bibirnya yang kokoh.

"Selamat pagi, Ave," sapa Garvi. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun terdengar sangat seksi dan penuh kasih.

Sava tersentak. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Ia merasa kikuk, canggung, dan terkejut karena tidak menyangka Garvi akan menatapnya seintens itu di pagi buta.

"M-Mas... sejak kapan kamu bangun?" tanya Sava terbata-bata. Ia berusaha menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahunya yang terekspos, meski ia tahu Garvi sudah melihat segalanya semalam.

Garvi membetulkan posisi tubuhnya. Ia duduk di samping Sava, membuat kasur itu sedikit amblas karena bobot tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat lembut—sangat kontras dengan kebrutalannya semalam—Garvi mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Sava dan merapikan anak rambut yang menempel di dahi istrinya.

"Sudah sejak tadi," jawab Garvi lembut. Matanya mengunci tatapan Sava. "Melihat wajahmu yang baru terbangun adalah pemandangan terindah yang pernah ada di dunia ini, Ave. Lebih indah dari matahari terbit manapun yang pernah kulihat."

Sava tertegun. Ada getaran hebat yang merambat di dadanya. Inilah sisi Garvi yang paling berbahaya. Sisi lembut, penuh perhatian, dan kata-kata manis yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sepanjang malam. Meskipun otaknya berteriak bahwa ini mungkin hanya manipulasi lain, hatinya tetap jatuh terlalu dalam pada pesona pria ini.

"Kenapa mukamu merah begitu?" tanya Garvi jahil. Ia mendekatkan wajahnya, menatap pipi Sava yang kini memang benar-benar merona seperti buah delima.

Sava memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan memabukkan itu. "Tidak ada. Muka merah itu hanya karanganmu saja, Mas. Mungkin karena suhu kamar terlalu panas."

Garvi terkekeh kecil, suara tawa yang sangat ia sukai karena terdengar tulus—setidaknya untuk saat ini. Ia mencubit pelan hidung mancung Sava.

"Baiklah, baiklah... kalau itu maumu. Tapi kamu tidak bisa membohongi detak jantungmu sendiri, Sayang."

Garvi mengecup kening Sava cukup lama, lalu menjauhkan wajahnya. "Sekarang mandilah. Kita punya banyak jadwal di kantor hari ini. Ingat, Mr. Garvi tidak suka bawahannya terlambat, bukan?"

Sava mengangguk kaku. "Hmm... iya."

Sava mencoba beranjak dari ranjang. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk berdiri. Namun, saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, ia sedikit limbung karena rasa nyeri di pinggang bawahnya kembali menyerang.

Ia melangkah pelan menuju kamar mandi luas yang berlapis granit hitam itu. Baru saja ia ingin menutup pintu, sebuah tangan besar menahan pintu tersebut.

Garvi berdiri di sana, menyeringai dengan tatapan lapar yang kembali muncul.

"Mau apa lagi, Mas?" tanya Sava waswas.

"Aku ikut mandi," jawab Garvi santai, ia melangkah masuk tanpa menunggu persetujuan.

"Tidak! Mas Garvi, mandilah di kamar mandi sebelah. Aku ingin cepat-cepat!" tolak Sava, wajahnya kembali memerah.

Garvi justru menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Ia melangkah maju, memojokkan Sava di dekat bathtub mewah mereka.

"Sudah lama kita tidak mandi bersama, Ave. Lagipula, kamu sedang sakit pinggang, kan? Biarkan aku membantumu menggosok punggungmu... atau bagian lainnya," bisik Garvi di telinga Sava.

"Mas, jangan mulai lagi..."

"Sstt..." Garvi meletakkan jarinya di bibir Sava. "Hanya mandi, Sayang. Kecuali... kamu yang meminta lebih."

Garvi menyalakan shower, membiarkan air hangat mulai mengisi ruangan itu dengan uap yang menenangkan. Di bawah guyuran air, Garvi benar-benar menunjukkan sisi "suami" yang baik, namun Sava tahu, di balik setiap sentuhan lembutnya pagi ini, ada rantai yang semakin erat mengikatnya. Garvi sedang merayu raganya agar jiwanya lupa untuk pergi.

Sava hanya bisa pasrah, membiarkan suaminya itu membimbingnya dalam kehangatan yang menipu, sementara di balik kepalanya, bayangan pesan dari wanita tak dikenal semalam masih tersimpan rapi, siap menjadi bom waktu yang akan meledak saat mereka menginjakkan kaki di gedung Skyline Group nanti.

**

Di depan lobi utama yang megah, dua mobil mewah berhenti hampir bersamaan, namun dengan jarak yang cukup terjaga.

Pintu Rolls-Royce hitam terbuka. Garvi Darwin keluar dengan wibawa yang sanggup menghentikan napas siapa pun. Mengenakan setelan jas navy tiga lapis yang dijahit khusus, ia melangkah dengan ritme yang tenang namun mengintimidasi. Tak lama kemudian, Mercedes-Benz perak di belakangnya keluar sosok wanita yang tak kalah memukau.

Sava melangkah keluar dengan anggun. Rambut brunette curly-nya tertata sempurna, memantul di pundaknya seiring langkah kakinya yang mengenakan stiletto mahal. Ia mengenakan blus sutra berwarna gading dengan kerah tinggi yang diikat pita besar—pelindung cerdik untuk menyembunyikan "dosa" semalam di bawah kulitnya.

Keduanya berjalan menuju pintu otomatis lobi. Para karyawan yang berpapasan segera berbaris rapi, menundukkan kepala dengan hormat. Di mata publik, mereka adalah dua dewa bisnis Medan—pasangan pemimpin yang visualnya memabukkan namun memiliki hubungan profesional yang penuh duri. Tidak ada yang tahu bahwa di balik pintu mansion yang tertutup, mereka baru saja berbagi ranjang yang panas.

"Selamat pagi, Mr. Garvi," sapa Roy yang sudah menunggu di depan lift pribadi. Ia langsung membukakan tablet, siap membacakan jadwal padat sang CEO.

"Selamat pagi, Miss Sava," sapa Winata dan Desi hampir bersamaan saat melihat sang COO mendekat.

Langkah Garvi terhenti tepat di depan meja sekretaris sebelum masuk ke lift. Ia melirik Sava sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beralih pada Desi yang berdiri dengan gugup.

"Desi," panggil Garvi dengan suara baritonnya yang berat.

"Ya, Mr. Garvi?" Desi tersipu, merapikan sedikit blusnya yang sudah rapi.

"Laporan yang kamu kirimkan ke ruangan saya kemarin sore... sangat detail dan rapi. Kinerja Anda sangat luar biasa untuk ukuran orang baru. Pertahankan itu," ucap Garvi dengan senyum tipis yang sengaja ia tujukan untuk memancing reaksi seseorang.

Desi hampir saja memekik kegirangan. "Terima kasih banyak, Mr. Garvi! Saya akan bekerja lebih keras lagi."

Sava yang berdiri hanya dua langkah di samping mereka hanya bisa mengepalkan tangan di balik dokumen yang ia pegang. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Garvi. Pria itu sedang bermain dengan api, mencoba menguji seberapa kuat gunung es di dalam diri Sava bisa bertahan.

Sava memasang wajah paling datar yang ia miliki. "Jika pujian Anda sudah selesai, Mr. Garvi, saya rasa kita punya banyak pekerjaan yang lebih penting daripada sekadar berbasa-basi di lobi."

Garvi terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan di telinga Sava. "Tentu saja, Miss Sava. Profesionalisme Anda memang tidak tertandingi."

Garvi melangkah masuk ke lift pribadinya disusul oleh Roy. Saat pintu lift akan tertutup, matanya sempat menangkap tatapan dingin Sava yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.

Di sisi lain, Sava melangkah menuju ruangannya dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Winata dan Desi mengikuti di belakang.

"Miss Sava," panggil Desi dengan nada riang yang tak tertahankan. "Mr. Garvi benar-benar baik ya, padahal rumornya beliau sangat dingin."

Sava tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan. Winata yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya itu segera mengambil alih pembicaraan.

"Desi, kembali ke mejamu dan siapkan berkas untuk rapat jam sepuluh nanti. Saya perlu bicara pribadi dengan Miss Sava," perintah Winata tegas.

"Baik, Kak Wina." Desi mengerucutkan bibir namun tetap patuh.

Begitu mereka masuk ke ruang kerja COO yang luas dan tenang, Winata segera membacakan jadwal utama yang belum sempat tersampaikan di lobi.

"Sava, ada kabar penting. Pak Arkan Wiratama dari Bank Global akan datang pukul sepuluh pagi ini untuk menyerahkan draf akhir pendanaan proyek Ring Road secara langsung," ucap Winata.

Sava terdiam sejenak. Nama Arkan seolah menjadi oase sekaligus ancaman di tengah harinya yang kacau.

"Arkan akan datang ke sini?"

"Ya. Dan sepertinya Mr. Garvi juga sudah tahu. Roy sempat menanyakan jadwalmu melalui pesan singkat tadi," tambah Winata.

Sava menghela napas panjang, ia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

"Baguslah. Setidaknya ada hal profesional yang bisa aku kerjakan hari ini tanpa harus memikirkan permainan manipulatif pria itu."

Di lantai teratas, di dalam ruang kerjanya yang bernuansa maskulin dan mewah, Garvi Darwin sedang berdiri menatap pemandangan kota Medan dari balik jendela raksasa. Jasnya sudah ia tanggalkan, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya.

"Roy," panggil Garvi tanpa berbalik.

"Ya, Tuan?"

"Sava meminta cerai dariku kemarin malam," ucap Garvi tenang, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana.

Roy yang sedang menata dokumen di meja seketika terhenti. Matanya membelalak tak percaya.

"Cerai? Nyonya Muda meminta cerai dari Anda?"

Roy sudah bekerja dengan Garvi selama bertahun-tahun. Ia tahu bagaimana tabiat tuannya, tapi ia juga tahu betapa sabarnya Sava selama ini.

"Lalu... apa keputusan Anda, Tuan? Anda akan mengabulkannya?"

Garvi berbalik perlahan. Senyum manipulatif muncul di wajah rupawannya bak dewa Yunani tersebut.

"Mengabulkannya? Roy, kamu tahu aku bukan orang yang suka membuang barang berharga milikku. Aku belum berhasil sepenuhnya meluluhkan gunung es itu. Bagaimana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja dan membiarkan pria seperti Arkan mengambil posisiku?"

Roy terdiam sejenak, menimbang kalimatnya. "Maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi jika Anda ingin Nyonya tetap berada di sisi Anda, sepertinya Anda harus mulai mengakhiri hal-hal yang tidak disukai Nyonya. Sikap Anda yang sering menggoda wanita lain, atau memberikan nomor ponsel Nyonya pada mereka... itu adalah luka yang terus terbuka."

Garvi terdiam. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Kalimat Roy menghantam ego Garvi yang setinggi langit. Ia teringat bagaimana Sava menangis semalam di balkon, bagaimana wanita itu memohon kebebasan dengan suara yang hancur.

"Aku hanya ingin dia cemburu, Roy. Aku ingin dia bereaksi," gumam Garvi hampir tak terdengar.

"Nyonya bukan cemburu, Tuan. Nyonya mulai mati rasa. Dan wanita yang mati rasa jauh lebih berbahaya daripada wanita yang marah," sahut Roy dengan nada mengingatkan.

Garvi membuang muka kembali ke arah jendela. "Arkan akan datang jam sepuluh nanti, kan?"

"Betul, Tuan."

"Pastikan pertemuan itu dilakukan di ruang rapat utama. Aku ingin mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Jika pria itu berani menyentuh tangan istriku lagi, aku tidak akan peduli soal pendanaan Bank Global. Aku akan menghancurkannya," desis Garvi dengan nada posesif yang mengerikan.

Roy hanya bisa menghela napas. Tuannya memang mencintai Sava, namun dengan cara yang salah—sebuah obsesi yang dibungkus dengan kemewahan dan kendali.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!