NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Sebenarnya siapa?

"Cucu kesayangan Oma ini mulutnya manis sekali," ujar Oma Tanudjaja sambil mencubit pelan pipi Manda.

Namun, begitu menoleh ke arah Seno, senyum hangat itu lenyap seketika, berganti tatapan tajam seorang matriark.

"Mulai besok, Manda dan Salma harus didampingi pengawal 24 jam. Oma tidak mau kejadian mengerikan seperti tadi terulang!"

Seno menghela napas, mencoba bernegosiasi. "Bu, mana ada murid sekolah bawa pengawal sampai masuk kelas? Nanti malah jadi sorotan media."

"Perkataan Oma adalah perintah mutlak! Lakukan atau berhadapan langsung dengan Oma."

Melihat ayahnya terpojok, Manda mencoba mengambil hati. "Oma, Papa benar. Membawa pengawal ke sekolah itu terlalu berlebihan."

Lagipula ada Pak Asep yang menjaga kami."

Salma, yang sedari tadi diam, tiba-tiba menyela dengan tenang. "Pa, aku setuju dengan Oma. Membawa pengawal menjamin keselamatan maksimal."

Selama kita tidak berbuat jahat, kenapa harus peduli omongan orang?"

"Dengar itu? Salma lebih dewasa pemikirannya!" Oma memelototi Seno.

"Pokoknya sudah diputuskan. Dua cucu kesayangan keluarga Tanudjaja harus aman!"

Seno akhirnya menyerah, tak berkutik di hadapan ibunya.

Tepat saat itu, ponselnya berdering.

Ia pamit ke ruang kerja dengan wajah tegang.

Malam semakin larut ketika Oma dan Opa akhirnya pamit pulang.

Salma mengantar mereka sampai mobil menghilang di tikungan, lalu berbalik badan.

Di sana, Manda sudah menunggu di bawah bayangan pohon kamboja, wajahnya separuh gelap.

"Salma Tanudjaja, aktingmu hebat sekali," desis Manda.

Salma tersenyum tipis. "Masih kalah hebat dibanding Kakak."

Manda melangkah maju, mengikis jarak hingga mereka berhadapan. "Jujur saja, kamu ini siapa? Aku curiga kamu bukan Salma!"

Salma yang asli tidak punya nyali dan tenaga sebesar itu untuk menghentikan mobil yang melaju kencang!"

Bukannya takut, Salma malah menantang tatapan itu. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita tes DNA publik sekalian?"

Biar seluruh dunia tahu, siapa putri kandung yang asli. Apakah aku yang diadopsi, atau justru Kakak yang dipungut?"

Wajah Manda memucat, refleks mundur selangkah.

Salma tertawa renyah, namun matanya dingin menusuk. "Silakan curiga semaumu."

Kalau kamu bisa membuktikan aku bukan Salma, aku anggap kamu menang."

Dengan sengaja, Salma menabrak bahu Manda keras-keras saat melintas, meninggalkan saudarinya yang terpaku menahan amarah di halaman yang dingin.

Suasana di ruang tengah mencekam.

Seno baru saja keluar dari ruang kerja dengan wajah gelap.

"Pelaku itu bunuh diri di kantor polisi," ujar Seno dengan suara bergetar menahan amarah.

"Dia menelan racun sianida saat petugas lengah. Masalah ini tidak boleh dibiarkan!"

Shintia menutup mulutnya, syok.

Salma mengerutkan kening.

Jika pelakunya sampai bunuh diri demi menutupi jejak, berarti targetnya adalah memusnahkan seluruh keluarga Tanudjaja.

Ingatannya melayang pada Riko Tanudjaja, kakak angkatnya yang lain.

Ia terlalu fokus pada Manda sampai melupakan ancaman lain.

"Pa, Ma, aku curiga Salma ini palsu!"

Suara Manda memecah ketegangan.

Ia masuk ke ruang tengah, menunjuk wajah Salma dengan dramatis.

"Kalian sadar nggak? Sejak sakit waktu itu, sifat Salma berubah total."

Dia jadi jago bela diri, berani melawan, bahkan gayanya berubah.

Mana mungkin Salma yang lemah lembut punya tenaga monster buat nahan mobil tadi sore?"

"Pa, Ma, dia pasti palsu! Kejadian hari ini pasti rekayasanya supaya dia terlihat jadi pahlawan!"

Seno dan Shintia tertegun.

Keraguan mulai merayap di mata mereka.

Perubahan Salma memang drastis.

Manda tersenyum licik melihat reaksi orang tua angkatnya.

"Hahaha..."

Tawa Salma menggema, membuat seisi ruangan bingung.

Tiba-tiba tawanya berhenti, berganti tatapan tajam yang langsung menusuk Manda.

"Kalau aku palsu, berarti Kakak lebih palsu lagi. Kak, ngomong begitu pakai hati nurani nggak?"

Darah lebih kental daripada air. Aku asli atau tidak, Papa dan Mama yang paling tahu rasanya.

Justru tuduhan Kakak yang bertubi-tubi ini membuatku curiga... jangan-jangan Kakak memang ingin menyingkirkanku?"

Kata-kata Salma menohok.

Ikatan batin orang tua tak bisa dibohongi.

Seno dan Shintia tersadar.

Manda panik. "Tapi kekuatannya nggak masuk akal! Ngaku, di mana kamu sembunyikan Salma asli?!"

Salma menatap orang tuanya dengan mata berkaca-kaca, memainkan perannya dengan sempurna. "Kakak pasti nggak tahu seberapa besar kekuatan manusia saat putus asa."

Detik itu, di kepalaku cuma ada Papa.

Kalau usaha penyelamatanku dianggap niat jahat, aku nggak akan membela diri."

"Aku cuma menyesal, kenapa waktu itu aku nggak biarkan saja mobil itu menabrak Kakak!"

"Cukup!" bentak Seno, emosinya meledak. "Apa-apaan ini asli atau palsu? Salma anak kandungku, titik!"

Manda, omonganmu itu konyol.

Masuk kamar kalian masing-masing sekarang! Memalukan!"

Manda mengepalkan tangan, rencananya menjadi senjata makan tuan.

Dengan kesal ia menghentakkan kaki menuju kamarnya.

Salma hanya menatap punggung Manda dingin.

Ia tahu, perang baru saja dimulai.

Di sebuah vila mewah, aura membunuh menguar dari tubuh Aksa Abhimana.

"Cari tahu siapa dalangnya. Gali sampai ke akar-akarnya, terutama pergerakan dari Amerika!" perintahnya dingin pada bawahan yang gemetar ketakutan.

"Siapa yang berani bikin Tuan Muda Aksa marah besar begini?"

Rian Mahesa muncul dari lantai dua, langsung menghempaskan diri di sofa dengan gaya santai.

"Tumben mukamu kayak tembok retak. Aku jadi pengen berguru sama orang yang bikin kamu emosi."

Aksa melirik tajam. "Mau foto aibmu kutempel di baliho pusat kota lengkap dengan koordinat GPS?"

Rian langsung melompat duduk tegak. "Oke, ampun! Bercanda doang, elah!"

Aksa mengabaikannya dan berjalan ke ruang kerja, jemarinya langsung menari di atas keyboard komputer dengan kecepatan mengerikan.

Rian mengekor masuk, wajahnya berubah serius. "Sa, kamu beneran serius sama Salma?"

"Terus, kamu sama Naya gimana? Cuma main-main?" Aksa membalas tanpa menoleh.

"Situasiku beda! Aku sibuk, banyak fans..."

"Cewek yang pergi karena numpuk rasa kecewa nggak akan bisa dikejar balik," potong Aksa datar.

"Kalau nggak ada urusan penting, pergi sana.

Kamu buang oksigen di sini."

Rian mendengus. "Oke, oke. Gini, manajemenku mau bikin live streaming di Restoran Royal Feast, tapi manajermu nolak terus."

Tolonglah, Bos Besar."

"Royal Feast tempat eksklusif. Gayamu terlalu alay, bisa merusak citra."

"Sa, plis! Bagi hasil deh!"

"50-50."

"Gila lo! 30 persen!" tawar Rian putus asa.

"Deal."

Rian merasa baru saja dirampok.

Ia menghela napas, lalu teringat sesuatu sebelum pergi.

"Kalau kamu beneran suka Salma, hati-hati sama Riko Tanudjaja. Aku ketemu dia beberapa kali di Amerika."

Semua pacarnya mirip fisik sama Salma.

Dan orang itu... licik banget."

Gerakan tangan Aksa terhenti seperskian detik. "Aku mengerti."

Soal live streaming, gratis buat kamu."

Rian melongo.

Hanya karena info soal Riko, si pelit Aksa membatalkan bagi hasil?

Bucin tingkat dewa, batin Rian sambil geleng-geleng kepala.

Sepeninggal Rian, Aksa langsung membobol database universitas Riko.

Matanya menyapu data dengan cepat.

Umur 20 sudah lompat tingkat, beasiswa penuh, jenius.

Riko Tanudjaja... Aksa menyeringai dingin.

Berani menyentuh Salma, bersiaplah hancur.

Keesokan harinya, berita tentang Salma viral.

Video CCTV yang memperlihatkan gadis SMA menahan mobil menyebar luas, memicu perdebatan netizen.

Banyak yang menuduh itu settingan dan mulai membongkar 'aib' masa lalu Salma.

Di meja makan, Manda tampak menikmati bubur ayamnya dengan senyum tersembunyi.

Ia sudah membaca komentar jahat netizen pagi ini.

Salma muncul dengan wajah segar, duduk di hadapan Manda.

Ia membuka ponselnya sebentar, melihat caci maki itu, lalu tersenyum manis pada Manda.

"Kakakku sayang, jangan khawatir. Karena aku nggak punya rahasia kotor, hidupku pasti jauh lebih tenang daripada hidupmu."

Senyum Manda membeku. "Syukurlah kalau begitu."

"Aku berangkat dulu."

Salma menyambar tasnya, meninggalkan Manda yang memukul meja dengan kesal.

Seno yang melihat interaksi itu dari tangga hanya bisa menghela napas kecewa.

Niatnya untuk mengirim Manda kuliah ke luar negeri semakin bulat.

Di luar gerbang, Salma memilih berjalan kaki menuju halte bus.

Baginya, berdesak-desakan di bus umum bersama Aksa jauh lebih menarik daripada naik mobil mewah bersama Manda.

Namun hari ini, wajah Aksa tampak keruh.

"Aksa, kenapa mukanya ditekuk terus?"

"Marah," jawab Aksa singkat.

"Marah sama diri sendiri karena nggak bisa menjagamu dengan baik."

Salma tertegun. "Aksa, itu kecelakaan. Aku sendiri nggak bisa prediksi, apalagi kamu."

Aksa berhenti melangkah, menatap Salma dengan intensitas yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang.

"Salma, kalau aku lebih waspada, kamu nggak akan bahaya."

Saat itu... aku benar-benar takut kehilanganmu."

Salma menatap mata itu.

Ada ketulusan dan ketakutan yang nyata.

"Aksa, jawab jujur. Kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu segininya sama aku?"

Aksa memegang kedua bahu Salma lembut namun tegas. "Salma, tidak peduli siapa aku, cukup ingat satu hal:"

Aku lebih memilih menjadi musuh seluruh dunia daripada membiarkanmu terluka sedikit pun."

Janji itu terucap begitu berat dan dalam.

Salma terpaku, mencari kebohongan di mata Aksa namun tak menemukannya.

Di saat yang sama, sebuah mobil mewah melintas pelan.

Manda menurunkan kaca jendela, matanya membelalak melihat kedekatan Salma dan Aksa di pinggir jalan.

Cih, levelmu memang cuma cocok sama cowok miskin itu!

Dengan cepat Manda memotret mereka berdua, tersenyum licik melihat hasil fotonya.

Ini bisa jadi senjata baru.

1
Erchapram
Bagus sekali
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!