Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunggu Aku Nanti Malam
Sambil merangkul bungkusan pemberian Seran dan membawa janur di tangannya, Jenara mengajak ketiga anak itu masuk ke rumah. Entah mengapa setiap kali Seran ada, Jenara merasa keluarga ini lebih aman dan lebih hidup.
“3G, kalian duduk dulu di sini,” ujar Jenara lembut sambil menunjuk ruang tengah.
Giri, Gatra, dan Gita patuh. Mereka duduk berdampingan di atas tikar pandan yang sudah mulai pudar warnanya. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Jenara saat ia melangkah ke dapur.
Jenara menyimpan susu, madu, dan bahan-bahan lain di rak kayu. Ia menata semuanya dengan hati-hati, memperlakukannya seolah harta yang paling berharga.
Setelah itu, Jenara kembali ke ruang tengah.
“Kalian mau bantu Ibu membuat hiasan janur?" tanyanya.
Ketiganya langsung mengangguk bersamaan, meski tanpa suara. Gerakan kecil itu saja sudah cukup membuat dada Jenara terasa hangat.
Jenara duduk bersila di lantai, meletakkan janur di tengah-tengah mereka. Dengan sabar, ia mengambil satu helai janur, meluruskannya perlahan, lalu mulai memberi contoh.
“Begini caranya,” ucap Jenara memulai. “Janurnya dilipat menyilang, lalu ujungnya diselipkan ke sini. Jangan terlalu kuat supaya tidak sobek.”
Ia memperagakan membuat bentuk sederhana. Anyaman kecil menyerupai kipas dengan ujung runcing, cukup cantik untuk digantung di tepi meja. Kemudian, Jenara menunjukkan cara membuat hiasan lain, bentuk segitiga kecil yang bisa dirangkai berjajar.
Gita memperhatikan dengan sangat serius. Jarinya yang kecil bergerak hati-hati mengikuti contoh. Gatra sempat salah melipat, janurnya terpuntir ke arah yang keliru, sementara Giri lebih banyak mengamati sebelum akhirnya mencoba.
Sementara anak-anak bekerja, Jenara beralih ke meja kayu yang akan ia gunakan sebagai sarana berjualan. Jenara mengelap permukaannya dengan kain basah, membersihkan sisa debu dan noda lama. Setelah itu, ia mengambil jerami kering dan menatanya tipis-tipis di atas meja. Jerami itu memberi kesan hangat dan sederhana, seperti kios kecil di pasar desa.
Usai meja siap, Jenara kembali menghampiri anak-anak. Ia tersenyum saat melihat hasil kerja mereka.
Anyaman Gatra dan Giri memang sedikit miring, beberapa ujung janurnya tidak sama panjang. Namun buatan Gita benar-benar rapi, simetris, dan bersih.
“Kalian semua hebat," puji Jenara tulus. “Punya Gita sangat bagus."
Mata Gita membesar. Pipinya memerah dan jarinya mencengkeram janur buatannya dengan bangga.
“Sebagai hadiah atas kerja keras kalian, Ibu akan membuat sesuatu. Tunggu sebentar, ya.”
Ia bangkit dan melangkah ke dapur.
Di sana, Jenara mengambil susu segar yang tadi diberikan Seran. Susu itu masih dingin disimpan dalam wadah tanah liat.
Jenara menuangkannya ke panci kecil, menyalakan api kayu bakar dengan hati-hati, lalu mengaduknya perlahan. Setelah susu mulai hangat, Jenara menambahkan bubuk cokelat dan satu sendok madu kental. Aroma manis cokelat dan madu segera memenuhi dapur.
Jenara mengaduknya dengan ritme pelan, memastikan cokelat larut sempurna. Minuman itu ia buat sedikit lebih kental agar mengenyangkan. Cocok untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Ia menuangkan minuman itu ke tiga cangkir kecil dari tanah liat, lalu mengambil satu mangkuk mi kuah yang tadi masih tersisa untuk Giri. Dengan hati-hati, Jenara kembali ke ruang tengah dan meletakkannya di atas meja.
“Ini untuk kalian,” katanya.
Dengan antusias, Gita dan Gatra memegangi cangkir mereka. Mata mereka berbinar saat mencicipi tegukan pertama. Giri, yang baru saja duduk, langsung menyantap mi kuah.
“Enak…” gumam Gatra pelan.
Jenara tersenyum, hatinya terasa penuh dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
“Habiskan, ya,” ucapnya lembut. “Setelah ini, Ibu ajari kalian menulis.”
Tak butuh waktu lama, susu cokelat tandas dan mi di mangkuk licin tak bersisa. Jenara berdiri sambil mengumpulkan gelas dan mangkuk kotor. Gita spontan ikut bangkit, mengambil satu cangkir dengan kedua tangannya yang mungil.
“Terima kasih, Gita. Kau selalu membantu Ibu.”
Gita memandang Jenara dengan mata bulatnya yang jernih. Tatapan itu polos, tanpa curiga, tanpa takut.
“Ibu sekarang baik… dan pandai memasak. Aku mau di dekat Ibu.”
Kalimat sederhana itu menghantam hati Jenara tanpa peringatan. Tangannya yang memegang mangkuk sempat gemetar. Jenara menunduk, lalu mengelus puncak kepala Gita dengan penuh sayang.
Ini pertama kalinya ia merasakan apa artinya memiliki anak perempuan. Di dunia nyata, ia bahkan tak pernah membayangkan pernikahan, apalagi keluarga. Hidupnya terlalu penuh rencana pribadi, ambisi, dan kebebasan. Namun kini, satu kalimat polos dari seorang anak kecil mampu membuat matanya terasa perih.
“Nanti saja Ibu cuci gelas,” ujar Jenara, berusaha menahan getar di suaranya. “Sekarang, kita belajar menulis.”
Ia menggandeng tangan Gita untuk kembali pada kedua saudaranya. Di sana, Jenara meletakkan satu lembar daun lontar di atas meja.
“Ini huruf A,” katanya pelan sambil mulai menulis garis demi garis. “Pelan saja, lihat baik-baik.”
Ia mencontohkan satu huruf sambil menjelaskan cara membentuknya.
Giri mencodongkan tubuh, Gatra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Gita duduk paling dekat dengan Jenara. Mata mereka mengikuti ujung pena dengan saksama.
Jenara membimbing tangan mereka satu per satu.
“Tangan jangan kaku. Tarik napas dulu. Tidak apa-apa kalau miring.”
Sesekali Gatra menggelengkan kepala saat tulisannya terlalu besar, Giri mengerutkan kening serius, dan Gita mencoba meniru penuh kehati-hatian. Proses itu meski lambat tetapi terasa hangat.
Tanpa mereka sadari, Seran lewat di ambang ruang tengah. Langkahnya melambat. Ia berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di hadapannya.
Jenara yang duduk tegak dengan wajah sabar. Anak-anak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap petunjuk yang diberikan wanita itu.
Namun tak lama kemudian, satu per satu anak mulai menguap. Mata Gatra berair, Giri mengusap wajahnya, sementara Gita mulai bersandar ke lengan Jenara.
Jenara menyadari kehadiran Seran. Lekas saja ia meletakkan pena dan menegakkan tubuh.
“Kau sudah selesai bicara dengan tamumu?”
“Sudah,” jawab Seran singkat.
“Mau makan? Ada mi kuah yang aku simpan untukmu," lanjut Jenara.
Seran menggeleng pelan. “Nanti saja. Aku akan mengurus anak-anak mandi. Sepertinya sebentar lagi mereka ingin tidur.”
Ia melirik ketiga anak itu sekilas, lalu kembali menatap Jenara.
“Lakukan aktivitasmu. Nanti malam, tunggu aku di kamar. Aku ingin bicara."
Kalimat terakhir itu membuat jantung Jenara mendadak berdegup lebih kencang.
Menunggu Seran di kamar.
Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi bagi Jenara terasa sangat canggung. Ruang sempit, satu tempat tidur, dan pria yang masih terasa asing meski berstatus suami. Ia menelan ludah, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang.
“Baik,” jawabnya singkat.
Tepat saat itu, Seran tiba-tiba maju menghampiri Jenara, mengikis jarak di antara mereka. Jenara tersentak kaget, apalagi wajah Seran kini terlalu dekat dengannya.
"K-kau mau apa?" tanya Jenara gugup.
Alih-alih menjawab, Seran hanya mengulurkan tangan dan mengusap lembut pipi Jenara. Kemudian, ia menunjukkan selembar jerami di telapak tangannya.
"Ada kotoran di wajahmu."
Detik selanjutnya, Seran berbalik dengan santai dan mengajak anak-anak pergi. Meninggalkan Jenara sendirian di ruang tengah.
Pipi Jenara langsung memanas. Ia tidak mengerti kenapa pria dingin itu sering menunjukkan perhatian. Ditambah lagi, mereka akan bicara berdua saja nanti malam. Yang jelas, Jenara sudah bertekad untuk menjaga jarak aman dari Seran, demi melindungi hatinya sendiri.