Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah
Lagi ini terasa indah. Langit sangat cerah secerah hati ku. Karena akan ada fiting baju tunangan milik mbak Sofia. Aku sangat semangat dan semoga di suka.
Di Kamar Aku sedang siap siap untuk pergi ke butik. Aku memilih celana kulot warna hitam di Padukan dengan atasan Abu muda dan jilbab senada. Serta riasan tipis seperti biasanya. Aku melangkah keluar Kamar dengan ringan. Lu dating ruang Makan yang Sudah penuh dengan hidangan di meja beserta para anggota keluarga yang tengah duduk di kursinya masing masing.
" Pagi semua .. " Sapaku semangat.
" Pagi nak.. duduk dan Makan lah sarapanmu" jawab ibu.
" Dih seneng bener nih. Ada apa gerangan kak? " Lala bertanya karena melihat wajah sang kakak begitu bahagia.
" Hari ini ada yang mau fiting. Semoga dia suka dengan karyaku"
" Oh gitu... pasti suka lah. Kan buatan kakak keren keren semua."
" Kamu muji muji kakak ada maunya pasti. "
"Nggak kak aku serius".
" Masa sih...? "
" Beneran. Eh tapi... bikinin aku gaun dong kak buat ke ultah teman*... suara Lala merayu agar sang kakak mau buatin baju buat dia.
" Nah kan pasti gitu".
Semua tertawa riang menyaksikan drama pagi ini. Ayah dan ibu pun sudah sangat paham akan situasi yang sering sama seperti ini.
" Kalo ada maunya aja". Apapun alasannya Amara tak pernah mampu menolak rengekan adik satu satu nya itu. Sering Lala meminta baju yang si inginkan dan selalu berhasil didapatkan.
" Kakak kan selalu baik. Pasti di kasih". jawab Lala dengan sangat yakin.
" Kapan mau di pakenya? "
" Selasa depan kal masih sekitar 10 hari lagi. Boleh ya? "
" Ntar kakak usahain deh".
" Yes.... Thanks kak... ". Kemudian dia memelukku erat.
Sarapan sw selesai sarapan kini aku bersiap pergi kerja. Aku duduk si teras rumah sambil menunggu Adit datang. Ayah pin telah siap berangkat. Beliau keluar rumah dan duduk di sebelah ku sebelum menuju mobilnya.
" Berangkat bareng ayah nggak? "
" Aku mau di antar Adit yah"
" Oa gitu... yaudah hati hati aja kamu. Ingat ya Ra. Bagaimanapun kamu dan Adit bukan muhrim. Jangan terlalu dekat dan tetep jaga jarak".
Deg... Tiba tiba ada sesuatu perasaan tak enak di hati.
" Maksud ayah? "
" Masa kamu nggak ngerti sih....? ".
" Kan ayah udah kenal siapa Adit. Kalian juga udah sering ngobrol. Ayah belum percaya sama Adit? *.
" Sejujurnya ayah masih ragu. Entah apa yang di ragukan tapi sepertinya waktunya belum pas aja. Makanya kemarin ayah belum terima lamaran Adit".
Ternyata itu alasan ayah. Baiklah aku akan ikuti kata ayah. Karena selama ini forasatnya sering banget benar.
" Kamu dengarkan Ra". Ayah men megang tanganku karena aku hanya diam. " Apa kamu marah sama ayah? ".
* Aku nggak pernah marah sama ayah. Aku selalau percaya sama ayah kok. Lagian aku nggak sebucin itu sama Adit sampe nggak dengerin ayah". kuucapkan dengan senyum yang paling tulus.
" Syukurlah kalo gitu" ayah beranjak dari duduknya" Ua udh ayah berangkat duluan ya... ingat kamu jangan dekat dekat. "
" Iya yah siap"
" Jujur ayah lebih suka teman kamu yang kemarin nganterin Lala itu. Tapi semua tetep pilihan kamu. Ayah selalau mendukung".
Deg.. kok ayah bilang gitu. Dia lebih setuju sama Arsaka? ayah nggak tahu aja kalo tuh orang yang sudah membuat hati anaknya porak poranda. Tapi kok ayah bisa bilang gitu sih...
Ayah pergi bersalah meninggalkan ku yang masih mematung. Dan saat itu juga Adit datang menjemput.
" Yuk ra jalan... ". dia mengajak ku pergi tapi aku masih terdiam si tempat memikirkan perkataan ayah barusan" Ayo kok malah diam?"
" Eh.. iya ayo langsung berangkat akan". aku tersentak dari lamunan karena suara Adit sedikit lebih keras.
" Ngelamunin apa sih? Sampe di panggil panggil nggak denger? ".
" Nggak ngelamun kok. cuma kepikiran sesuatu aja".
" Apa tuh? ".
" Biasa kerjaan". Nggak mungkin juga dong aku cerita ke dia. Biarin aja biar aku aja yang tahu.
" Oh... iya mau ketemu klien ya.... kenapa... ,? gugup? Udah santai aja. Positif thinking aja. "
" Iya... "
Dia nggak tahu aja kalo aku lagi bimbang. Yaudah deh lupain aja dulu. Mending tetep fokus sama mbak Sofia.
Tepat jam delapan aku sampai di butik. Adit langsung berlalu pergi setelah aku turun dari mobil. Aku fokus menatap ke dalam butik berharap ada kabar baik datang dari sana.
Aku masuk dengan tenang mencoba tetap santai walau hati ku berdegup kencang.
" Udah datang Ra? Yuk ikut aku bentar.. " mbak Nayla menyapa ketika aku sudah memasuki butik.
Aku pun menurut berjalan si belakangnya.
" Lihat ini? kok kaya gini? " Dia menunjukan sebuah gaun yang robek di sebelah punggung.
Aku meraih gaun itu dari tangannya.
" Kok sobek sih? perasaan kemarin masih utuh deh." ucapku kaget dengan apa yang ku lihat.
" Terus gimana tuh... kan hari ini mbak Sofia mau dateng buat liat liat gaun ini? Siapa sih... yang sobekin?. Nadanya panik bercampur marah.
" Apa sobek semua mbak? "
" Iya ke empatnya nggak ada yang utuh. Gimana dong? ".
" Duh gimana ini? Bu Zahira pasti marah banget. Kalo di benerin masih bisa nggak ya? "
" Gimana caranya mau benerinnya orang sobeknya parah gini*.
" Tapi siapapun pelakunya, ini udah keterlaluan".
Di tengah kepanikan kami bu Zahira datang.
" Pagi.... Ada apa wajah kalian panik banget". Dia memandangi wajah kami satu persatu. mencoba menyelediki.
" Lihat ini bu... Gaunnya rusak semua"
Mbak Nayla menunjukan gaun itu pada bu Zahira.
Pemilik toko mengambil gaun itu dan langsung memeriksanya.
" Kok rusak gini? Siapa yang rusaki sih? Padahal kemarin kan masih utuh waktu kita tinggal pulang". Bu Zahira pun tak kalah panik dari kami.
"ini terus Sofia gimana? ". " Aduh... kita harus cari biang kerok nya. ".
" Coba kita cek CCTV aja bu". Aku mencoba meemberi solusi. " Habis itu kita harus bertindak".
Kamipun melihat rekaman
cctv nya. Dan kita melihat ada seseorang yang sengaja menggunting gaun gaun itu Hanya saja wajah orang itu tak terlihat jelas karena memakai masker. Kami benar benar marah melihatnya tapi juga tidak bisa berbuat apapun. Kami hanya bisa mengumpat dalam hati.
" Urusan siapa yang merobek kita cari nanti. Yang penting sekarang cari solusi untuk menghadapi Sofia". akhirnya bisa Zahira memutuskan.
" Acara tunangannya kapan bu?".
" Sabtu depan".
" Itu artinya tinggal lima hari lagi dong? Wah kalo bikin lagi yang baru keburu nggak ya?
" Makanya. "
" Nanti diskusikan aja bu sama mbak Sofia. Siapa thi sia punya solusinya*. Aku mencoba memberi solusi yang bahkan akan jadi solusi atau tidak aku juga nggak tahu
" kalo dia marah atau nggak terima gimana?"mbak Nayla masih kikuk.
" Kayaknya kamu benar deh Amara... Kita cari solusi nya manti". Potong bu Zahira sebelum aku menjawab.
" Betul.... kita siap siap aja akan segala kemungkinan yang akan terjadi".
"Jangan lupa berdoa supaya semua bisa di atasi. "
Di tengah kegalauan kami? Datang seorang pegawai memanggil.
"Maaf bu ada tamu yang nunggu di depan katanya mau ketemu bu Zahira " ucap karyawan itu memberi tahu
" Iya saya kesana sekarang". bu Zahira tampak berfikir keras mencari solisi.
Sampai di depan butik, bu Zahira ketemu dengan mbak Sofia. Dia kaget dan semakin panik. Tapi dia mencoba setenang mungkin.
" Eh... kamu udah dateng Sofia?. Yuk langsung masuk aja" Anaknya
" Iya aku sengaja datang pagi karena nanti siang udah ada janji. " Mereka pun masuk menuju tempat di mana gaunnya berada.
" Maaf Sofia.... " Bu Zahira menyerahkan gaun itu. "Sepertinya ada yang sengaja melakukannya. Maaf sekali" Dia terlihat sangat menyesal.
Mbak Sofia membelalakkan mata kaget.
Sementara kami bertiga sudah sangat deg deg an. Takut menerima kenyataan yang ada.
" Apa ini? sampah. ..?. "
Deg ...