Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pada Akhirnya
Safira memegangi ponselnya. Bagas menghubunginya.
Dan yang membuatnya terharu, Bagas sengaja melakukan hal itu ketika ia menemui Nadia.
Memang sederhana. Tapi, keputusan Bagas untuk menghubungi Safira ialah sesuatu yang tepat.
Setidaknya, selain menghindari dari fitnah, ini juga meminilisir jika nanti Nadia kembali megadu dombanya.
"Pulang lah, selesaikan masalah dalam rumah tangga mu," bisik Juliana, mengelus kepala Safira yang terbaring di pangkuannya.
"Entah dosa apa yang aku lakukan di masa lalu. Tapi, tolong jangan buat anakku menderita Tuhan," batin Juliana.
Dan Safira terlelap. Entah karena semalam kurang tidur, ataupun karena dia merasa masalahnya telah sedikit berkurang.
Hingga akhirnya, setengah jam kemudian, Bagas tiba dengan ojek.
Iya, ojek. Karena dia gak mau jika nanti Safira gak mau diboncengnya, dengan alasan agar sepeda motornya tak tertinggal di rumah ibunya.
Melihat istrinya terlelap di ruangan, Bagas mengangkatnya ke kamar.
Baru setelah itu, dia keluar dan berbicara empat mata bersama Juliana.
"Maaf, jika sampai kini aku masih membuat Safira terluka. Maaf, jika aku tidak bisa menjadi menantu yang baik. Maafkan aku, Bu," mohon Bagas, mengangkup kedua tangannya.
"Ibu memang sedih, tapi ini rumah tangga kalian. Ibu hanya mau kamu lakukan satu hal ... lepaskan Safira, jika memang kamu tidak menginginkannya," balas Juliana dengan lembut, tapi mengandung ketegasan di sana.
Bagas tercekat. Melepaskan? Berarti dia harus bercerai dari Safira? Harus terpisah dengan wanita yang belakangan ini mulai mengisi kekosongan hatinya?
"Bu..." lirih Bagas. Matanya membulat.
"Kau tahu? Ibu telah lama mengetahui jika hatimu masih dengan yang lama. Dan ini menjadi salah satu ketakutan ibu. Ibu sempat takut Safira menetap di sana. Ibu takut dia mengetahui semuanya. Karena pada kenyataannya, Safira telah mencintaimu," lirih Juliana, menahan perih di dadanya.
"Aku tahu aku bersalah. Namun, tolong berikan aku kesempatan. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan pada Safira dan juga ibu, tentang aku yang mulai mencintainya," pinta Bagas, memohon.
✨✨✨
Kembali ke sosok Nadia.
Nadia masih duduk di tanah ketika Bagas menghilang di ujung pematang.
Tangannya gemetar, lututnya terasa lemas. Napasnya tersengal, bukan karena berlari, tapi karena dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang kotor oleh tanah sawah. Baru kali ini ia merasa benar-benar sendirian.
Beberapa petani mulai berdatangan ke sawah. Nadia segera berdiri, merapikan dress-nya seadanya. Ia tak ingin jadi bahan tatapan. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan balai sawah, pulang tanpa menoleh lagi.
Di rumah, Nadia langsung masuk ke kamar. Pintu ditutup rapat. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk bantal. Tangisnya pecah begitu saja—tanpa suara keras, tapi terus mengalir.
Kalimat Bagas terus terulang di kepalanya.
"Aku tidak peduli kita punya anak atau tidak."
"Safira itu istriku."
"Jauhi Safira."
Dan yang paling menusuk: Ia tidak menatap Nadia dengan ragu. Ia menatapnya dengan keputusan.
Nadia menekan wajahnya ke bantal. Dadanya sakit. Kepalanya pusing. Selama ini ia yakin, Bagas hanya butuh sedikit dorongan. Sedikit tekanan. Dan sedikit rasa cemburu.
Tapi ia salah.
Yang ia lakukan justru membuat Bagas semakin jauh.
Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi. Wajahnya di cermin terlihat asing—mata sembab, rambut kusut, riasan luntur. Nadia menyalakan keran, membasuh wajahnya berkali-kali, seolah ingin menghapus semuanya.
"Kenapa aku ngomong begitu..." gumamnya.
Ucapan tentang Safira mandul kembali teringat. Saat itu ia mengatakannya dengan penuh keyakinan, tanpa ragu. Sekarang, ucapan itu terasa kejam. Bukan hanya pada Safira, tapi juga pada dirinya sendiri.
Nadia terduduk di lantai kamar mandi. Ia menutup wajah dengan handuk, menangis lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih dalam.
Ia sadar satu hal yang selama ini ia abaikan:
Bagas tidak pernah menjanjikan apa pun padanya.
Semua harapan itu ia bangun sendiri.
Malam datang. Lampu kamar masih mati. Kebetulan, ibu dan ayahnya memang lagi tak ada di rumah.
Nadia berbaring sambil menatap langit-langit. Ponselnya ada di samping bantal. Nomor Bagas masih tersimpan. Pesan terakhir masih ada.
Ia membuka layar. Mengetik:
"Bang, aku minta maaf..."
Jarinya berhenti. Pesan itu dihapus.
Ia tahu, maafnya tidak akan mengubah apa pun. Yang rusak sudah terlanjur rusak. Yang terucap tak bisa ditarik kembali.
Untuk pertama kalinya, Nadia menerima kenyataan yang paling tidak ia inginkan:
Bagas bukan miliknya lagi.
Dan mungkin, memang tidak pernah lagi.
Ia mematikan ponsel. Membalikkan badan, memunggungi dunia.
Di malam yang sunyi itu, Nadia menangis bukan karena kehilangan Bagas saja,
tapi karena menyadari bahwa dirinya sendiri telah berubah menjadi seseorang yang tak ia banggakan.
Dan penyesalan itu... datang terlambat.
✨✨✨
Jam menunjukkan pukul 10 pagi.
Kemarin, setelah mendengar tuduhan dari Nadia, sebelum menjemput Safira, Bagas sengaja datang ke dokter kandungan.
Dia bertanya dan mendaftar untuk pemeriksaan kesehatan kandungan istrinya.
Bukan, bukan hanya Safira saja yang diperiksa. Bagas juga ingin memeriksa dirinya sendiri.
"Kenapa kita tiba-tiba ke sini?" tanya Safira, membaca nama klinik.
Klinik Aqsa, nama itu terpampang jelas. Dan rata-rata orang yang ke sana ialah ibu-ibu hamil.
"Kita akan memeriksanya. Bukan aku percaya kamu mandul. Tapi kita akan melihatnya sama ahli, dan meminta pencerahan dari mereka," terang Bagas.
Safira mengangguk setuju. Walaupun perlahan, rasa minder dan takut mulai tertanam di hatinya.
Sekitar tiga puluh menit berlalu. Kini giliran Bagas dan Safira masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Ruang periksa itu sunyi, hanya terdengar bunyi pendingin udara dan suara kertas yang dibalik dokter.
Setelah sedikit berbincang dengan Safira, sang dokter langsung menyuruhnya untuk berbaring di ranjang khusus.
Asisten dokter dengan sigap menaikkan baju Safira. Dia juga menuangkan gel khusus ke perut Safira.
Safira refleks mengernyit. Tangannya mencengkeram sisi ranjang.
"Agak dingin ya, Bu?" tanya dokter sambil tersenyum tipis.
Safira mengangguk pelan.
"Kita periksa dulu ya, Bu, agar tahu letak permasalahannya," ujar dokter, mulai meletakkan sebuah benda ke perut Safira.
"Jadi, kalian udah menikah lebih, satu tahun?" dokter perempuan bernama Fitri itu kembali bertanya.
"Iya, Dok. Dan kami ingin melihat kenapa sampai sekarang aku belum bisa hamil," sahut Safira lirih, tapi jelas.
"Itu bagus. Karena semakin cepat pemeriksaan, akan semakin baik," sahut dokter, tersenyum ramah. "Tarik napas, hembuskan..." pinta dokter, masih memutari seluruh bagian perut Safira dengan alat khusus.
Safira menuruti. Bagas yang berdiri di samping ranjang tanpa sadar melangkah lebih dekat. Matanya terpaku pada layar monitor, mengikuti bayangan abu-abu yang bergerak seiring alat itu bergeser.
Namun, sesaat dokter mengernyit. Dia mencondongkan sedikit wajahnya ke komputer.
Dokter memiringkan alatnya, berhenti sejenak, lalu kembali menggerakkannya dengan lebih fokus. Ruangan terasa makin sunyi.
"Hmm..." gumam dokter pelan.
Safira menelan ludah. "Ada apa, Dok?" suaranya nyaris berbisik. "Apa saya beneran mandul?" sambung lirih, bahkan putus asa.
Dokter tersenyum kecil. Dia menggeleng pelan, tapi matanya masih menatap layar.
"Ini yang saya cari." Ia menunjuk satu titik kecil di monitor.
"Ini kantung kehamilan. Usianya sekitar enam minggu."
Dan kata-kata itu hanya membeku di udara.