Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Pria Tua Menjijjkan
“Pagi pak” sapa Nareya
“Pagi neng cantik” balas sapa Pak Kadir, kepalanya miring dan tatapan langsung tertuju ke dada lalu naik ke wajahnya. Bibirnya melengkung dengan mata menyipit.
Nareya risih dengan tatapannya, yang pasti itu sangat tidak sopan. Perempuan seringkali disalahkan sekalipun menjadi korban pelecehan. Tidak ada yang salah dengan pakaian Nareya. Nareya berpakaian formal seperti karyawan lain. Hanya saja styling fashionya memang membuatnya tampak lebih modis. Rambut panjangnya diikat setengah supaya tidak mengganggunya saat bekerja di lapangan, dan setengah yang tergerai pun jatuh dengan cantik di bahu sampai ke depan dada.
“Jaga matanya Pak, kalau gak mau saya colok!” ketus Nareya dengan tegas sambil menatap Pak Kadir.
“Apa sih neng, cantik-cantik kok ketus banget, nanti cepat tua lho” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Bukanya mangkir justru makin menantang reaksi Nareya.
Tidak biasanya Nareya bisa menahan emosinya, walaupun dia ingin sekali mengeluarkan sumpah serapahnya. Prioritasnya adalah menyelesaikan masalah disini. Sebelum dapat teguran lagi dengan bosnya itu. Tentu saja dia juga masih ingat dengan gertakan Kala, seolah bisa kapan saja dipecat.
“Bapak yang bertanggung jawab soal gudang kan, ini kenapa selalu ada laporan data tidak singkron dengan sistem?” ucap Nareya cepat sambil membuka menatap layar tabletnya,
“Iya neng itu si adminya pasti lupa ga input. Kemarin buru-buru soalnya tim pickup sudah datang.”
“Tapi tidak bisa seperti itu terus pak! Saya mau cek langsung ke gudang” Nareya bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu gudang
Pak Kadir dengan cepat berdiri di hadapan Nareya, menghalangi langkahnya. Nareya refleks mundur dua langkah karena pergerakan Kepala Gudang itu membuat jarak wajah mereka sempat sangat dekat.
“Gausah neng, itu nanti si Jojo aja yang ke gudang buat cek. Tim gudang sempat mencatat datanya kemarin, tinggal di cek sedikit aja buat disesuaikan” tolak Pak Kadir.
Nareya menaikan satu alisnya menatap pria perut buncit itu. Sudah kedua kalinya melakukan inspeksi selalu dihalangi masuk ke gudang.
Jeda beberapa saat diantara mereka, Nareya hanya menganalisis dan menelisik setiap ekspresi Pak Kadir
“Jo… coba cek catetan kemarin sudah sesuai sama jumlah di gudang atau belum. Sekalian di cek expired sama kalo ada kerusakan” perintah Pak Kadir kepada Jojo, salah satu tim gudang yang pernah Nareya lihat juga sebelumnya.
“Oh kalau begitu saya bantu aja biar cepat selesai” pancing Nareya.
“Sudah biar si Jojo aja” tolak Pak Kadir.
“Minta tim gudang lain untuk bantu supaya segera selesai” pinta Nareya sambil kembali mengujinya
“Nggak perlu cerewet, itu Jojo udah ahli, bentar aja kok nunggu” sentak Pak Kadir tetap berdiri di dekat pintu Gudang.
Nareya tersenyum miring, prasangkanya langsung terkonfirmasi. Semua barang di gudang adalah kebutuhan yang dapat dijual dengan cepat. Jadi dugaan awal Nareya kemungkinan yang terjadi adalah penyelundupan barang. Setiap sudut memang ada cctv yang bisa saja memberi bukti penyelundupan. Tapi Nareya memilih cara cepat yaitu, langsung ke target yang dituju, pelaku utama.
“Kenapa pak? Pak Kadir terlihat gelisah”
“Gak, saya biasa saja.”
“Oke biar saya masuk berarti nggak masalah ya?” tekan Nareya dia yakin pasti ada sesuatu kejanggalan yang sengaja ditutupi. Kalau sampai jumlah barang terlalu jauh berbeda akan sulit untuk mencari alasan, sehingga bisa langsung terkonfirmasi siapa pelakunya.
Tanpa menunggu jawaban, Nareya menerobos masuk. Ruangan yang sangat luas dengan rak-rak besar berjejer penuh barang. Tiba-tiba suara pintu gudang yang super besar itu tertutup cukup nyaring sehingga Nareya refleks menoleh ke sumber ke belakang.
Pak Kadir dan Jojo menutup rapat pintu dan menguncinya dari dalam. Melihat senyuman menjijikan itu muncul lagi membuat detak jantung Nareya seperti terdengar sampai telinganya, dengan tempo yang cepat.
“Kenapa harus di kunci pintunya?” ucap Nareya berusaha tenang meskipun wajahnya sepenuhnya pucat. Alarm bahaya dalam dirinya langsung menyala. Dia baru teringat regulasi kantornya untuk turun inspeksi harus dengan tim.
“Supaya kita aman” jawab Pak Kadir sambil terkekeh.
“Aman dari apa?” sambil mencari cara menyelamatkan diri, Nareya terus bertanya supaya mengalihkan fokus mereka untuk menjawab pertanyaannya. Karena jika berteriak pun percuma karena suaranya tidak akan menembus dinding..
Nareya bisa saja langsung membuka handphone untuk meminta bantuan. Tapi bisa saja dia tak sempat tertolong saat berhasil mengirim pesan ataupun menelpon rekanya. Pandangan Nareya menangkap cctv di gudang, dia segera bergeser menempatkan posisinya terlihat jelas di cctv
“Aman dari orang yang bisa mengganggu kita” jawab Pak Kadir sambil mencabut kunci dari pintu lalu memainkanya dengan jari telunjuk. Sementara Jojo hanya diam bersandar ke pintu dengan sorot mata jatuh ke lantai.
“Ganggu apa? Kan cuma mau meriksa barang” tanya Nareya lagi sambil pura-pura mengoreksi data di sistem padahal dia melakukan call grup. Napas Nareya turun saat Kala yang langsung menjawab panggilanya. Walaupun tanganya sangat gemetaran, Nareya sempat mengetik pesan ‘tolong saya dikunci di gudang’ .
“Kan kita mau lakuin hal enak di sini, pasti kamu suka” ucap Pak Kadir terkekeh
“Apa maksudnya? Duh lupa ini gudang mana ya? mau cek di sistem nih” tanya Nareya sengaja bertanya agar yang menerima teleponnya bisa mendengar lokasinya.
“Masa lupa sih neng cantik? Gudang Unit 18 Utara. Gudang ini paling strategis di antara yang lain. Karena saya untung banyak di sini. Kalau kamu mau nurut sama saya, kamu pasti saya bagi. Bahkan yang bisa saya kasih bisa melebihi gaji kamu.” bisiknya dengan nada mendayu.
“Hah Gudang Unit 18 Utara, emang iya?” ulang Nareya memperjelas ucapanya dengan suara keras supaya terdengar oleh siapa saja yang tersambung. Melirik sekilas notifikasi, Kala membalas pesan di grup.
‘Tetap ajak berbicara’
Nareya menghela napas panjang, mengontrol rasa takutnya. Bukan cepat mengutus bawahannya untuk segera menyusul, Bosnya dengan tidak berperasaan itu justru minta dia terus ajak bicara pria hidung belang ini.
Pak Kadir sudah tersadar dia sedang dipermainkan “Ah tanya terus kamu cerewet, sengaja ya mempermainkan saya, gantian saya yang mainin kamu gimana?” tanya Pak Kadir sambil berjalan ke arah Nareya.
Nareya sudah tidak fokus, dia berjalan ke balik rak.
“Ahh takut kamu ya, saya paling gigit lembut kok” Pak Kadir berlari, Nareya ikut lari menjauh tapi Pak Kadir memanggil Jojo yang langsung menghadangnya. Sudah terkepung, Pak Kadir langsung memegang tangan Nareya.
Ditariknya mendekat, Nareya sudah membeku tak sanggup mengendalikan ketakutan nya. Pak Kadir mulai memainkan rambut Nareya yang sebagian jatuh di pundaknya. Bahkan telunjuknya sudah merambat ke dagu Nareya membuatnya mendongak.
“Jangan sentuh! minggir!” sentak Nareya hingga terlepas tangannya dari cengkraman pak kadir.
“Ngelawan kamu!” Menjambak rambut Nareya yang diikat setengah membuatnya langsung meringis pasalnya ditarik begitu kuat sampai wajahnya mendekat ke muka pak kadir.
Refleks Nareya meludahinya namun malah dengan satu tangan yang lain dicengkram rahangnya hingga semakin dekat dengan mulut Kepala Gudang itu. Nareya memejamkan mata juga menahan sakit dikepalanya rasanya seperti semua rambutnya mau terlepas.
Tapi bunyi pintu seperti di buka dengan kunci terdengar.
“Jo tutup itu pintu, tahan siapapun yang masuk” Jojo langsung bergegas menahan pintu yang hampir terbuka.
“Tolongggg!” teriak Nareya dengan kuat langsung ditampar wajahnya hingga berbunyi nyaring.
***
Sejak Nareya melakukan call group disaat yang bersamaan Kala juga sedang turun tangan langsung gudang kantor cabang yang sudah lama dicurigai.
Di ruang keamanan dengan layar monitor yang menampilkan semua hasil rekaman cctv di tempat itu. Para penjaga keamanan sudah diamankan dengan lakban dimulutnya dan tali mengikat pergelangan tangan. Kali ini Kala hanya bergerak dengan Ardito asistennya dan dua anak buah saja agar tidak terlalu mencolok, justru membuat mereka yang terlibat melarikan diri.
“Coba lo liat ini, tikus mana yang berani menyelundupkan barang sebanyak ini?” ucap Ardito sambil menunjukan rekaman cctv yang sengaja dipotong untuk menghilangkan jejak perbuatan mereka.
“Tunggu ini lebih parah dari tikus biasa lainya. Lihat, dia bahkan membersihkan rekaman menjijikan ini semua, tapi dia memasang kameranya sendiri? Astaga…bahkan dengan bocah yang baru lulus SMA. Tua bangka bejad!” lanjut Ardito yang menemukan folder berisi potongan rekaman cctv yang menangkap adegan dewasa dengan karyawan. Itu semua membuat dia sudah tak bisa lagi melemparkan komentarnya lagi. Dia hanya segera mengcopy file itu sebagai bukti.
Kala memeriksa handponenya yang terus berbunyi, tak lama dia merintahkan Ardito untuk cek cctv di gudang. Kala langsung membisukan suaranya sendiri dan meloudspeaker teleponnya.
“Ooo anak kantor terlibat? Tim lu kan?” tanya Ardito mengkonfirmasi keraguannya, sambil menunjuk Nareya
“Iya, dia minta tolong di grup kantor. Tapi liat dulu, bisa aja dia memang sudah biasa terima bayaran seperti yang lain. Biarkan dia terus bicara.” ucap Kala.
“Kebetulan yang menguntungkan” ucap Ardito.
"Ya, pekerjaan ini akan cepat selesai kalau pria tua itu melakukanya. Kita bisa menggunakanya untuk memancing kuasa yang melindunginya muncul" jelas Kala.
“Dia minta tolong, duh udah bahaya banget, yakin kita gak tolongin sekarang?” ucap Ardito tapi tidak ada respon, akhirnya menoleh ternyata Kala sudah berlari keluar.
***
Air mata Nareya sudah luruh deras, sudah tak bisa lagi menahan lagi. Badanya sudah bergetar hebat.
“Lepaskan dia!” ucap Kala datang bersama Ardito yang membantu mendorong pintu itu hingga Jojo terpental
“Kamu gunakan kelemahan mereka bahkan kamu banyak edarkan video mu itu?! Kurang ajar. Ardito bereskan mereka berdua, saya sudah punya bukti semuanya.”
“Tau apa kamu! Beraninya kurang ajar, saya lebih senior di sini!”
“Saya sudah punya bukti, penyelundupan, manipulasi data, pelecehan terhadap karyawan, dan jangan harap ada yang bisa melindungimu, semua yang terlibat menanggung konsekuensi nya”
“Kamu tak tahu apapun. Tapi saya tau kamu” ucap Pak Kadir terkekeh, menatap lekat wajah Kala.
Tak butuh waktu lama anak buah Kala masuk dan membantu Ardito menyeret Pak Kadir keluar. Sebelum dia semakin melanjutkan ucapanya
Kala sempat terusik dengan ucapan Pak Kadir. Tapi sekarang perhatian Kala sepenuhnya tertuju kepada Nareya. Badanya sudah luruh ke lantai, terduduk sangat lemas dengan kaki menjulur.
“Ngapain kamu! Bodoh kah? Regulasi yang saya jelaskan apa tidak kamu pahami? Mengapa turun sendiri?”
Nareya memang terlalu gegabah datang inspeksi sendirian. Tim di kantor sedang kekurangan karena berapa mengajukan cuti. Tapi Nareya ingin permasalahanya cepat selesai. Lebih tepatnya dia ingin mengamankan posisinya. Tapi yang terjadi justru hal yang tidak dia inginkan.
“Gak becus kamu! Saya yang tetap turun tangan di sini”
“Maafkan saya.” Nareya langsung meminta maaf dengan sangat putus asa. Jika bukaan karena terdesak ekonomi, dia tidak akan pernah meminta maaf atas usaha kerasnya meski gagal.
“Ikut saya, kamu!” perintah Kala
Nareya hanya berpasrah, mengikuti. Ternyata Kala masuk ke mobil. Nareya jadi bingung, tidak ada kursi belakang. Haruskah duduk disebelah bosnya itu?
“Lama sekali? Kamu nunggu saya buka kan pintu?!”
“Tidak” Nareya langsung duduk di sebelah Kala. Nareya hafal rute ini, jalan menuju kantor lagi. Baiklah entah apa yang akan terjadi, tapi Nareya sibuk merapalkan kalimat ‘semoga gak akan terjadi masalah’ di dalam hati. Pasalnya prasangkanya jarang meleset. Dan sekarang prasangkanya mengarah ke hal buruk yang akan terjadi padanya.