Squel Flight Attendant.
Denisa, dokter berusia dua puluh lima tahun itu telah menjadi janda diusianya yang bahkan belum genap dua puluh tahun akibat obsesinya pada laki-laki yang sangat mencintai kakaknya. Susah payah pergi jauh dan berusaha move on, Denisa dipertemukan lagi dengan mantan suaminya yang sangat ia hindari setelah lima tahun berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku serius Mas!
Apapun yang terjadi diantara mereka, Amanda kini sudah bisa mengendalikan emosinya. Lagian seumur hidupnya dia tidak memiliki musuh, mendiami Denisa berhari-hari saja cukup membuatnya tersiksa, dia yakin dengan sikap baik dan damainya justru bisa menarik hati Daniel, sesuai yang di sarankan Ricko.
Siang ini nyatanya dia mengajak Denisa makan siang bersama, dan Denisa tidak juga tidak menolak itu. Saat makan mereka menceritakan banyak hal, bukan perihal Daniel atau percintaan mereka yang abu-abu, murni obrolan santai antar teman, namun Amanda tetap meminta maaf atas sikapnya, dan berharap hubungan persahabatan mereka berjalan semestinya.
Dan ketika jam kerja Denisa sudah berakhir, Amanda menghampiri Denisa di ruang UGD untuk pulang bersama, karena setahunya, mobil Denisa belum selesai diperbaiki.
"Nis, jam kamu udah selesai kan? yuk pulang bareng, aku antar ke klinik."
Denisa yang sedang berdiskusi mengenai pasien yang tadi sempat dia tangani dengan dokter seniornya menoleh pada Amanda yang sudah berdiri diambang pintu ruang UGD. Denisa tersenyum mengangguk sebelum kemudian dia berpamitan pada dokter seniornya tersebut.
Denisa segera merapikan peralatannya, dan menghampiri Amanda yang setia menungguinya.
"Eits, Denisa. Kamu lupa kalau hari ini mau ambil mobil sama aku." Tiba-tiba Ricko muncul dan menyusul langkah mereka yang sedang berjalan menuju parkiran.
Keduanya membalikkan badan kompak. "Mas, Ricko." Sapa Denisa.
"Kota hari ini mau ambil mobil kamu, jadikan?"
"Ya ampun aku lupa." Denisa menepuk jidatnya.
"Nggak papa kan dokter Amanda yang terhormat, kalau saya culik dokter cantiknya?" kerling Ricko matanya, dan mendapat cibiran dari Amanda.
"Asal tidak ada masalah dengan pasien atau operasi anda, saya izinkan ya dr. Ricko Devansyah, Sp.JT."
Ricko dan Denisa terkekeh Amanda menyebut nama lengkap dan gelar Ricko. Mereka beriringan menuju parkir sambil berbincang ringan, saat akan berpisah menuju mobil masing-masing seseorang datang memanggil Amanda.
"Amanda."
Baik Amanda, Denisa dan Ricko menoleh keasal sumber suara. Dina datang dengan senyum manis terpatri dibibirnya. Denisa tentu saja dibuat terdiam dengan kehadiran Dina, apalagi saat melihat kedekatan keduanya yang saling berpelukan melepas rindu.
Denisa dapat melihat jika hubungan keduanya sangat dekat, dan begitu kentara jika Dina begitu menyayangi Amanda, terlihat cara Dina memperlakukan Amanda. Seperti perlakuan ibu pada anak perempuannya sendiri.
Hati Denisa serasa dicubit melihat pemandangan itu, ia seolah diingatkan jika dia tak ada apa-apanya jika harus disaingkan dengan Amanda, ibarat langit dan bumi. Amanda merupakan sosok sempurna seorang wanita, menantu san istri idaman yang bukan hanya memiliki kepribadi baik, tapi memiliki karir yang cemerlang, sedangkan dia hanyalah remahan gorengan yang tergeletak tak tersentuh.
Denisa menunduk menahan perih dihatinya, kenapa terasa sesak dan sakit, padahal dia dan Daniel tidak memiliki hubungan apapun saat ini, dan semua telah berakhir. Amanda jelas berstatus tunangan Daniel, wanita baik-baik, sedangkan dia, gadis nakal yang memiliki masa lalu kelam.
"Denisa, kamu kerja disini?" tegur Dina membuat Denisa mendongak menatap wanita itu, Dina menghampirinya, Denisa pikir Dina akan berpura-pura tidak mengenalnya. Tapi lagi-lagi dugaanya salah, Dina juga memeluknya, melakukan apa yang Dina lakukan pada Amanda, menempelkan pipi kiri dan kanan.
"Ini siapa pacar kamu, sayang?"
Panggilan sayang Dina berhasil membuat Denisa mematung, Denisa sampai menahan nafas sepersekian detik, ini rasa yang entah menelusup dalam hatinya. Denisa tak enak sendiri dengan Amanda.
Denisa mengikuti arah mata Dina yang secara kebetulan Ricko sedang menggenggam tanganya, Denisa tak berniat menarik tangannya yang digenggam Ricko, biarlah ini terjadi, Amanda sudah baik padanya.
"Iya tante, kenalkan ini mas Ricko," Denisa mendongak menatap wajah terkejut Ricko yang lebih tinggi darinya, dengan begitu yakin dan tanpa keraguan Denisa mengenalkan Ricko sebagai kekasihnya.
Ada rasa tak rela jika ternyata mantan menantunya ini sudah memiliki kekasih, tapi Dina cukup lega, berarti tak akan ada drama dalam hubungan Amanda dan Daniel.
"Mas Ricko kenalkan ini mamanya pak Daniel."
Oh, Ricko langsung paham maksud Denisa setelah mengetahui siapa Dina. Ricko mengulurkan tangan menjabat tangan Dina sopan.
Amanda sendiri specles dengan pengakuan Denisa, dia tentu senang, hatinya mengharu, jika Denisa sudah mengakui hubungannya dengan ini akan menjadi jalan tol untuknya merebut hati Daniel.
"Saya Ricko tante, dokter spesialis jantung disini." Dina hanya mengangguk.
"Kalian mau pulang bersama?" tanya Dina jadi kepo, hatinya berperang, satu sisi ingin hubungan Denisa dan Daniel bersatu, tapi dia juga takut menghancurkan hati Amanda.
"Iya tante," Denisa menjawab, "kami duluan tante, mari." Denisa menundukkan kepala tanda hormat, kemudian masuk kedalam mobil Ricko.
Denisa tersenyum dan melambaikan tangan pada Dina dan Amanda saat mobil Ricko sudah melaju. Dina mengikuti arah mobil Ricko sampai mobil itu hilang dari pandangannya, setelah dia bertemu anak kecil super hebat, Dina langsung teringat ucapan Daniel yang mengatakan jika Denisa membesarkan anaknya seorang diri.
Dina berharap, cucunya tidak mengalami pembulyan seperti yang dirasakan oleh Dara.
Amanda yang melihat itu menarik nafas, dadanya terasa sesak, mungkinkah Dina masih mengharapkan Denisa sebagai menantunya, seperti Daniel yang menginginkan mereka kembali.
* * *
Atmosfer didalam mobil Ricko terasa begitu dingin, Denisa hanya diam menatap luar jendela. Ricko melihat Denisa sejenak, kemudian kembali pada jalanan. Tapi mulut Ricko rasanya sangat gatal jika tidak berbicara pada Denisa, dan setiap kata yang keluar dari mulut Denisa bagai rangkaian melodi ditelinga Ricko.
"Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, kamu bisa cerita sama aku, Nis. Aku siap mendengar semua masalah kamu."
"Yang tadi aku serius, Mas," kata Denisa yang terdengar sangat ambigu ditelinga Ricko.