Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman yang hidup lagi seson 2
l
Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalaman.
Langit menampakkan warna biru muda yang lembut, seperti lembaran baru yang belum tersentuh tinta apa pun.
Aku membuka jendela kamar dan membiarkan angin pagi masuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.
Raka masih tertidur di ranjang, wajahnya terlihat tenang.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku melihatnya tidur tanpa wajah tegang.
Aku tersenyum kecil, lalu berjalan ke dapur untuk membuat teh hangat — sesuatu yang dulu menjadi kebiasaan kecil kami sebelum semuanya terasa jauh.
Suara gemericik air dari teko, aroma daun teh, dan sinar matahari yang menembus tirai — semuanya terasa akrab, seolah pagi ini ingin memberi tanda bahwa sesuatu sedang mulai hidup lagi.
Ketika aku kembali ke kamar, Raka sudah bangun.
Dia duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela.
“Udara pagi ini enak banget, ya,” katanya pelan, suaranya serak tapi hangat.
Aku meletakkan cangkir teh di meja. “Kayak udara setelah badai.”
Dia menatapku, tersenyum samar. “Kamu percaya nggak, Ly… kadang badai datang bukan buat menghancurkan, tapi buat ngasih kita kesempatan mulai lagi?”
Aku duduk di sebelahnya, menatap sinar pagi yang jatuh ke lantai.
“Kalau gitu, mungkin hujan kemarin bukan kebetulan.”
Dia menggenggam tanganku pelan. “Aku nggak mau cuma minta maaf, Ly. Aku mau berubah.”
Aku menatap matanya — kali ini tidak hanya lelah, tapi juga jujur. “Kita sama-sama belajar, Rak. Nggak ada yang salah, cuma sempat lupa gimana caranya pulang.”
Dia tersenyum kecil, menggenggam lebih erat. “Boleh nggak, kita mulai dari taman lagi?”
Sore itu kami berdiri di halaman belakang rumah — taman kecil yang dulu kami bangun bersama.
Rumputnya tumbuh tak rata, beberapa bunga kering, dan flamboyan di sudut tampak lesu. Tapi di mataku, taman itu tetap indah — karena di sinilah semua cerita kami dimulai.
Raka mengambil sekop kecil dan mulai menggemburkan tanah. “Aku pengen taman ini hidup lagi,” katanya sambil tersenyum. “Biar kita juga ikut tumbuh bareng dia.”
Aku ikut berjongkok, menanam bibit bunga kecil berwarna ungu yang kubeli beberapa hari lalu.
“Kamu tahu ini bunga apa?” tanyaku.
Dia menggeleng.
“Lavender,” jawabku. “Simbol ketenangan.”
Raka menatapku, lalu menanam satu di sebelahku. “Kalau gitu, aku tanam dua. Biar tenang kita dobel.”
Aku tertawa kecil. Suara tawa itu, yang lama tidak terdengar, membuat udara di antara kami terasa hangat lagi.
Kami menanam, menyiram, dan sesekali saling menggoda seperti dulu.
Dan di sela-sela itu, aku melihat sesuatu di mata Raka yang sempat hilang — cahaya kecil dari seseorang yang dulu membuatku jatuh cinta di bawah langit SMA.
Hari-hari setelahnya berjalan lembut.
Kami mulai menemukan kembali hal-hal sederhana yang dulu kami abaikan: makan malam berdua, jalan sore ke taman kota, atau sekadar duduk di balkon sambil berbagi cerita tentang hari itu.
Tapi kehidupan, seperti biasa, tak pernah membiarkan segalanya berjalan terlalu tenang.
Suatu pagi, aku menerima pesan dari pihak sekolah.
“Selamat, Bu Alya. Bapak Kepala Sekolah mengajukan Ibu sebagai kandidat untuk program pertukaran guru ke Jepang selama enam bulan.”
Aku tertegun lama menatap layar ponsel.
Ini kesempatan besar — kesempatan yang tak pernah aku duga akan datang. Tapi di sisi lain, bayangan Raka langsung terlintas di pikiranku.
Sore harinya, aku memberitahunya.
Dia sedang duduk di ruang tamu, membaca majalah desain. Ketika aku bercerita, tangannya berhenti di halaman yang terbuka.
“Enam bulan?” suaranya pelan.
Aku mengangguk. “Iya. Tapi belum tentu diterima, masih seleksi. Aku belum jawab apa-apa.”
Dia diam lama, menatap lantai. “Kamu pengen ikut?”
Aku menarik napas panjang. “Sebagian dari aku pengen. Tapi aku juga takut… ninggalin kamu, ninggalin rumah ini.”
Raka menatapku, senyumnya samar tapi matanya hangat. “Ly, kalau kamu dapet kesempatan buat tumbuh, aku nggak boleh jadi alasan kamu buat berhenti.”
Aku menatapnya, air mata hampir jatuh. “Tapi… kita baru aja baikan, Rak. Aku takut kita balik jauh lagi.”
Dia berdiri, menghampiriku, menggenggam tanganku.
“Cinta yang kita tanam, Ly, nggak bakal mati cuma karena jarak. Aku percaya sekarang — yang penting bukan seberapa sering kita bareng, tapi seberapa kuat kita pengen tetap satu.”
Aku tak bisa berkata apa-apa.
Di matanya, aku melihat keyakinan yang dulu sempat hilang. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa bisa mempercayai cinta kami sepenuhnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat.
Aku menyiapkan berkas untuk seleksi program, sementara Raka sibuk menyelesaikan proyek baru. Tapi kali ini, sibuk kami berbeda — kami tetap punya ruang untuk saling menyapa, saling mendengar, dan saling pulang.
Suatu sore, aku pulang lebih awal dan menemukan Raka di taman belakang.
Ia sedang menata batu-batu kecil di sekitar bunga lavender yang mulai tumbuh.
“Biar nggak gampang terinjak,” katanya sambil tersenyum. “Kayak cinta kita — butuh dijaga, meski kelihatannya kecil.”
Aku tertawa. “Kamu jadi puitis sekarang.”
Dia pura-pura menghela napas. “Efek banyak siram bunga mungkin.”
Kami tertawa bersama, lalu diam, menikmati senja yang lembut.
Di antara keheningan, aku sadar — taman ini benar-benar hidup lagi.
Sebulan kemudian, kabar itu datang.
Aku diterima.
Aku membaca surel itu berulang kali, antara bangga dan takut.
Ketika Raka pulang, aku menunjukkan ponselku padanya.
Dia tersenyum lebar, lalu memelukku erat. “Selamat, Ly. Aku tahu kamu pasti bisa.”
“Rak, aku beneran pergi, nih.”
“Iya,” jawabnya pelan. “Dan aku bakal nunggu kamu di taman ini.”
Hari keberangkatan tiba.
Bandara pagi itu ramai, tapi bagiku, waktu berjalan lambat.
Raka menggenggam tanganku erat, seolah tidak ingin melepaskan.
“Aku nggak bakal nangis,” kataku dengan senyum gemetar.
Dia tertawa kecil. “Aku juga nggak. Tapi kalau air mataku keluar sendiri, jangan salahin aku, ya.”
Kami berpelukan lama.
“Jaga diri, Ly,” bisiknya. “Jaga hati kamu juga.”
Aku mengangguk pelan. “Kamu juga, Rak. Siram taman kita tiap hari.”
Dia tersenyum. “Selalu.”
Ketika pesawat lepas landas, aku menatap langit dari jendela.
Awan putih bergumpal di luar sana, dan di baliknya, aku tahu — ada satu orang yang sedang menatap langit yang sama dari rumah kami.
Hari-hari di Jepang berjalan cepat.
Aku mengajar di sekolah kecil di Kyoto, belajar banyak hal baru, dan sesekali menulis surat untuk Raka.
Kami berbicara lewat video call setiap malam, bercerita tentang hari-hari kami. Kadang obrolan singkat, kadang panjang. Tapi yang terpenting, kami tetap saling hadir.
Suatu malam, Raka mengirimkan foto taman kami.
Lavender sudah berbunga, dan flamboyan di sudut tampak lebih tinggi dari sebelumnya.
“Taman kita hidup lagi,” tulisnya. “Dan tiap kali aku nyiram, aku ngerasa kamu ada di sini.”
Aku menatap foto itu lama, tersenyum, lalu menulis balasan:
“Aku juga ngerasa kamu di sini, Rak. Cintamu nyebar sampai sejauh ini.”
Enam bulan berlalu.
Hari kepulanganku tiba bersamaan dengan musim hujan di Indonesia.
Begitu pesawat mendarat, aku langsung menatap langit yang kelabu — warna yang dulu selalu membuatku tenang.
Raka menjemputku di bandara.
Begitu melihatnya, aku langsung berlari ke arahnya. Kami berpelukan di tengah keramaian, tanpa peduli siapa yang melihat.
“Kamu kurusan,” katanya pelan.
Aku tertawa di bahunya. “Kamu juga.”
Kami pulang ke rumah, dan taman itu menyambutku dengan bunga lavender yang berwarna ungu cerah.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma tanah dan kenangan.
“Selamat datang di rumah,” kata Raka sambil memelukku dari belakang.
Aku menatap taman yang kini penuh warna. “Kamu beneran rawat ini?”
Dia mengangguk. “Setiap hari. Soalnya tiap kali aku nyiram, aku inget kata kamu — cinta harus disiram, bahkan kalau hujan berhenti.”
Aku berbalik, menatap matanya. “Sekarang hujan udah turun lagi, Rak. Tapi bukan di langit — di hati aku.”
Dia tersenyum, menatapku lembut. “Kalau gitu, biarin kita tumbuh bareng lagi.”
Kami duduk di bawah flamboyan, diam, tapi penuh rasa.
Dan di tengah taman yang kini hidup kembali, aku sadar — cinta kami bukan tentang seberapa kuat bertahan, tapi tentang seberapa ikhlas kami tumbuh kembali dari awal, setiap kali badai datang.
Taman itu kini bukan hanya taman biasa.
Ia menjadi saksi perjalanan dua hati yang belajar mencintai dengan tenang, bukan dengan tergesa.
Dan di bawah langit yang mulai memudar senjanya, aku berbisik pelan,
“Terima kasih, Tuhan. Karena di setiap musim, Engkau kasih kami alasan buat tetap tumbuh.”