NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: PAGI YANG MENCEKAM.

Revan menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar mereka. "Aku paman angkatnya. Dan jika kau tidak ingin berurusan dengan kepolisian atas tuduhan percobaan penyerangan dan perdagangan anak di bawah umur, sebaiknya kau tarik mundur kaki busukmu itu sekarang juga."

​Kata 'Paman' itu menggantung di udara, menciptakan efek instan yang tak terduga. Bara tertegun. Di dunia jalanan seperti ini, urusan keluarga adalah satu-satunya hal yang paling dihindari agar tidak memancing aparat. Ia menatap Valerie yang masih berada dalam gendongan Revan, mencari konfirmasi. Valerie hanya bisa memejamkan mata, membenamkan wajahnya di bahu Revan karena malu dan lemas.

​Melihat tidak ada penolakan dari Valerie, Bara perlahan menurunkan botolnya. Ia mendengus, melangkah mundur untuk memberikan jalan. "Terserah. Bawa saja dia. Dasar gadis pengecut."

​Revan tidak membuang waktu. Ia melangkah lebar keluar dari kelab, mengabaikan tatapan sinis dan kamera ponsel yang masih mengikuti pergerakannya. Udara malam yang dingin langsung menyergap mereka begitu pintu keluar terbuka, namun kehangatan dari tubuh Revan adalah satu-satunya hal yang dirasakan Valerie sebelum dunianya perlahan menjadi gelap karena kelelahan dan pengaruh alkohol yang mulai menjalar ke sarafnya.

Hujan mulai turun membasahi aspal jalanan saat Revan meletakkan tubuh Valerie yang lunglai ke kursi penumpang mobil sedan mewahnya. Gadis itu tidak lagi meronta, namun kesadarannya telah menguap, digantikan oleh racauan pedih yang keluar dari bibirnya yang pucat.

"Aku tidak mau pulang, Paman..." gumam Valerie, kepalanya terkulai ke sandaran kursi. Matanya terpejam rapat, namun butiran air mata merembes keluar, membasahi pipinya yang kotor oleh riasan yang luntur. "Ayah... Ibu... mereka bahkan tidak menginginkanku. Untuk apa aku pulang ke sana?"

Revan tertegun dengan tangan yang masih memegang sabuk pengaman. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mendengar napas Valerie yang tersengal. Kalimat itu bukan sekadar racauan mabuk; itu adalah jeritan luka yang selama ini Valerie simpan rapat-rapat.

"Aku cuma produk gagal, kan?" Valerie terkekeh sumbang dalam tidurnya, sebuah tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Lebih baik aku hilang... lebih baik aku tidak pernah lahir..."

Revan mengepalkan tinjunya kuat-kuat di atas kemudi. Selama tiga bulan terakhir, ia telah mengerahkan segala koneksinya, menyisir setiap sudut kota hanya untuk menemukan gadis ini. Dan sekarang, melihat Valerie dalam kondisi sekacau ini, ia hancur karena penolakan, dan merasa tak berharga. Membuat rasa frustrasi yang hebat menghantam dada Revan. Ada amarah yang membara terhadap kakak angkatnya yang begitu tega membuang permata demi sebuah ambisi kosong.

"Kau bukan produk gagal, Val," bisik Revan rendah, suaranya parau oleh emosi yang ia tekan sendiri. "Mereka saja yang terlalu buta untuk melihatmu."

Revan menyadari bahwa membawa Valerie pulang ke rumah keluarga Adiwijaya malam ini sama saja dengan melemparkannya kembali ke kandang singa. Dalam kondisi mabuk dan kacau seperti ini, Ibu Valerie pasti akan meledak dan justru memperburuk keadaan. Setelah pergulatan batin yang singkat, Revan memutar kunci kontak. Hanya ada satu tempat aman yang tersisa yaitu, apartemen pribadinya.

​Mobil itu melaju menembus pekatnya malam, membelah rintik hujan yang semakin deras. Revan tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, sebuah motor matik butut dengan pengendara berjaket hoodie gelap terus membuntutinya dengan jarak yang terjaga. Di balik saku jaket pria itu, sebuah ponsel masih menyala, menyimpan rekaman video dan foto-foto yang akan segera mengubah hidup sang dosen muda dalam hitungan jam.

​Sesampainya di apartemen, Revan kembali membopong Valerie. Lorong gedung yang sepi hanya menyisakan suara langkah kaki Revan yang terburu-buru. Ia membuka pintu unitnya dengan kode akses digital, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna monokrom dan aroma maskulin yang menenangkan.

​Revan merebahkan Valerie di atas tempat tidur di kamar utama. Kamar itu sangat luas, berbanding terbalik dengan tubuh mungil Valerie yang kini tampak begitu rapuh di tengah kemewahan itu.

​"Jangan tinggalkan aku..." igau Valerie saat Revan hendak beranjak untuk mengambil air hangat. Tangan mungil gadis itu mencengkeram ujung kemeja Revan dengan sisa tenaga yang ada. "Jangan buang aku lagi..."

​Revan membeku. Ia menunduk, menatap wajah Valerie yang kini terlihat begitu polos tanpa topeng pemberontaknya. Di bawah lampu kamar yang temaram, perasaan yang selama ini ia kunci di sudut tergelap hatinya mulai merayap naik. Rasa ingin melindungi, rasa ingin memiliki, dan rasa cinta yang seharusnya tidak pernah ada untuk keponakannya sendiri.

​Ia melepaskan tangan Valerie dengan perlahan, menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada. "Aku tidak akan membuangmu, Valerie. Tidak akan pernah."

​Revan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah jalan raya, mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih. Namun, di bawah sana, di seberang lobi apartemen, ia tidak melihat sosok pria ber-hoodie yang sedang tersenyum puas sambil menekan tombol 'Send' pada sebuah surel yang ditujukan ke biro humas universitas ternama tempat Revan mengajar.

Fajar baru saja menyingsing, menyelinap malu-malu di balik tirai blackout apartemen Revan. Pria itu sudah bangun sejak pukul lima pagi, duduk di meja kerjanya dengan segelas kopi hitam yang sudah mendingin. Namun, kedamaian pagi itu hancur berkeping-keping saat ia menyalakan ponselnya.

Layar ponselnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi yang membanjir seperti air bah. Puluhan pesan WhatsApp dan ratusan panggilan tak terjawab memenuhi layar. Jantung Revan berdegup kencang, bukan jenis degupan yang menyenangkan. Matanya terpaku pada daftar panggilan tak terjawab paling atas.

Arini (kakak) - 15 panggilan tak terjawab.

​Revan menarik napas dalam. Ibu Valerie. Wanita itu adalah tipikal sosialita yang hanya akan menghubungi Revan jika ada urusan sangat penting, karena ia tahu betapa sibuknya Revan sebagai dosen dan peneliti. Namun, 15 panggilan di pagi buta? Ini bukan sekadar urusan penting; ini adalah bencana.

​Sebelum ia sempat menekan tombol panggil balik, sebuah pesan masuk dari seorang rekan dosen di universitas muncul. Sebuah tautan video singkat. Dengan jari gemetar, Revan membukanya.

​Wajahnya mendadak pias. Video itu diambil dengan kualitas yang cukup jernih namun dari sudut yang sangat jahat. Di sana, di tengah keremangan kelab malam, terlihat Revan yang sedang mencengkeram tangan Valerie dengan wajah penuh emosi. Karena angle kamera yang diambil dari posisi rendah, mereka tidak terlihat seperti paman yang sedang menolong keponakannya. Sebaliknya, Revan terlihat seperti pria dewasa yang sedang merayu atau bahkan memaksa seorang gadis remaja yang tampak teler.

​Parahnya lagi, video itu terpotong tepat saat Revan menggendong Valerie keluar dengan posisi kepala Valerie bersandar di ceruk lehernya. Judul unggahan itu lebih mengerikan: "Dosen Teladan atau Predator Malam? Rahasia di Balik Kehidupan Glamor Sang Akademisi."

​"Sial!" umpat Revan rendah. Ia membanting ponselnya ke atas meja, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

​Kini ia mengerti mengapa Kak Arini menelponnya berkali-kali. Bukan karena rasa khawatir terhadap putrinya yang hilang, melainkan karena video ini telah mencoreng wajah keluarga Adiwijaya yang sangat diagung-agungkan itu. Revan bisa membayangkan bagaimana kakaknya itu meledak dalam kemarahan saat ini.

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!