Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — My Dangerous Kenzo
...*****...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...*****...
Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul enam pagi ketika Naya turun dari kamarnya. Seragam sekolahnya sudah licin disetrika, rambutnya dikepang rapi, tasnya tergantung sempurna di bahu kanan. Semua sesuai standar. Selalu begitu.
“Pappi…” Naya duduk pelan di kursi makan. Pappi masih membaca koran, kacamata bertengger di hidung. Mommy hanya tersenyum tipis dari balik dapur, seperti biasa—hadir tapi membuat udara terasa berat.
“Nilaian ulangan kemarin?” tanya Mommy tanpa menoleh.
Naya menelan ludah.
“Sembilan puluh tiga.”
Alis Mommy sedikit berkerut.
“Kenapa bukan seratus?”
Pertanyaan itu tidak bernada marah. Justru itu yang membuatnya lebih berat.
“Aku… salah satu soal,” jawab Naya pelan.
Mommy melipat serbetnya, tatapannya tajam dan dingin.
“Kamu tahu standar kita, Naya. Kamu bisa lebih baik.”
Kata “kita” terdengar seperti penjara.
Naya mengangguk. Ia selalu mengangguk. Tidak pernah membantah, tidak pernah bertanya kenapa hidupnya terasa seperti daftar target yang tak ada habisnya.
“Mana sini, Pappi, liat,” kata Mommy sambil menyerahkan kertas ulangan Naya.
Pappi mengambilnya, menatap Naya hangat.
“Ini bagus. Kamu bisa evaluasi lagi untuk ulangan nanti.”
Mommy mendengus.
“Pappi selalu aja...”
Reno, yang duduk di sudut meja, ikut nimbrung.
“Yaudah lah, Mom. Naya juga udah usaha, kan.”
Di kamarnya, Naya tiduran sambil menatap langit-langit.
“Mommy jahat… I hate you, Mommy,” gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian, Naya bangun, menoleh ke jam dinding—pukul 12.00. Ia keluar kamar dan melangkah ke kamar Reno yang tepat berada di sebelahnya.
Naya membuka pintu, langsung memeluk Reno yang sedang meringkuk di kasur. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Reno, memeluk dari belakang.
“Kak… sini peluk aku,” Naya mencoba membalik Reno agar menghadapnya.
Tapi saat Reno berbalik… ternyata bukan Reno.
“Hallo, adik manis,” suara itu terdengar santai.
Naya membeku. Tangannya masih di perut yang ternyata bukan sixpack kakaknya, tapi sixpack Kenzo, teman Reno.
Naya langsung terkejut dan bangun.
“Sini tidur aku peluk,” kata Kenzo dengan nada santai sambil menepuk-nepuk kasur sebelahnya, tapi mata nakal menatap Naya.
Naya langsung menggeleng, panik, dan lari keluar dari kamar Kenzo, hampir tersandung kakinya sendiri.
Naya cepat-cepat masuk kamar, menutup pintu, lalu bersandar di belakangnya. Napasnya masih tersengal-sengal, jantungnya berdebar kencang. Wangi Kenzo… masih tercium samar, bikin pipinya panas sendiri.
Dalam hati, Naya bergumam pelan, “Kok gue bisa salah gitu ya… aneh banget.”
Ia menutup mata sebentar, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan Kenzo—senyum nakal, mata yang suka ngegodain, dan perut sixpack yang tadi tak sengaja ia sentuh—tidak bisa hilang begitu saja.
“Ya ampun… ini beneran gila,” batinnya sambil menyandarkan kepala ke pintu.
Tangannya menekuk di dadanya, mencoba menahan degup jantung yang terlalu cepat.
Ia melangkah ke meja belajarnya, menatap buku-buku dan alat tulis yang rapi tersusun. Tapi pikirannya kemana-mana. Kenzo, kakak, Mommy strict, Pappi hangat… semuanya bercampur jadi satu kekacauan di kepalanya.
Naya menarik napas panjang, mencoba menyusun logika. “Oke, jangan panik. Gue cuma...gak sengaja. Biasa aja… santai…” Tapi kata-kata itu terdengar hampa di telinganya sendiri.
Ia duduk di kursi, menatap langit-langit kamarnya, dan sedikit tersenyum sendiri. Ada rasa malu, geli, tapi juga… anehnya, nyaman. Kenzo—meski dia cuma teman kakaknya—bisa bikin hatinya berdetak begitu cepat.
Naya menunduk, menatap buku catatannya tanpa membaca satu pun kata.
Reno yang baru saja datang dari mini market, menggunakan motor Kenzo, memarkirnya di halaman. Setelah itu, ia naik ke atas dan langsung mengetuk pintu kamar Naya.
“Nihh,” Reno menyerahkan sekotak snack dan segelas susu stroberi ke Naya.
“Lo… masuk ke kamar gue yaa?” Reno menatapnya curiga.
“Hahh, nggak kok, serius,” Naya cepat-cepat menjawab.
“Jangan masuk ke kamar gue,” Reno tetap kesal, menyilangkan tangan.
“Siapa juga yang mau ke kamar lo?” Naya balik menatap dengan nada agak nakal, tapi matanya tetap hangat.
“Kok lo ngambek, di kamar gue lagi ada Kenzo,” Reno menambahkan, setengah bercanda, setengah ingin menenangkan Naya.
“Ya ya ya…” Naya menjentikkan bibirnya, ekspresinya campur kesal dan geli.
“Sebel banget sih lo, Reno!”
Reno tersenyum tipis, menyerahkan snack itu lebih dekat lagi.
“Yaudah, makan dulu, biar mood lo nggak jelek terus,” katanya sambil duduk di tepi ranjang.
Naya menghela napas, menatap cemilan itu, lalu sedikit tersenyum. Meskipun hatinya sedikit kesal, snack yang Reno berikan membuathatinya agak sedikit membaik.
Reno keluar dari kamar Naya, menutup pintu perlahan. Ia berdiri sejenak di depan pintu, memastikan adiknya benar-benar di dalam dan baik-baik saja. Setelah itu, ia menghela napas pelan, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri.
Langkahnya terdengar pelan di lantai rumah yang selalu sunyi di malam hari. Reno membuka pintu kamarnya, masuk, lalu menutupnya rapat. Tangannya masih berada di gagang pintu beberapa detik, seolah pikirannya belum sepenuhnya meninggalkan kamar Naya.
Ia tahu, adiknya tidak benar-benar baik-baik saja.
“Naya ke sini nggak?” tanya Reno sambil menaruh kantong plastik di meja.
“Ke sini tadi bentar,” jawab Kenzo santai sambil selonjoran di kasur. “Liat gue, terus balik lagi.”
Reno menoleh cepat.
“Tadi bilangnya nggak ke sini.”
Kenzo cuma nyengir kecil, bahunya terangkat seolah tak mau ribet menjelaskan.
“Nih, pesenan lo,” Reno menyerahkan bungkusan snack ke Kenzo.
“Thanks,” Kenzo menerimanya, lalu langsung membuka bungkusnya.
Kenzo, teman sekelas Reno, memang sudah terlalu sering main ke rumah itu. Kadang cuma buat main PS, kadang cuma duduk-duduk nggak jelas, bahkan sering tetap di kamar meski Reno tertidur. Rumah itu sudah seperti rumah keduanya.
Berbeda dengan rumahnya sendiri.
Di rumah Kenzo, semuanya ada, luas dan mewah, tapi sepi. Kedua orang tuanya sibuk mengurus perusahaan, rapat ke luar kota, atau pulang larut malam. Tidak ada yang benar-benar menunggunya pulang.
Makanya, rumah Reno jadi tempat pelarian Kenzo.
Tempat yang hangat, berisik, dan… terasa hidup.
Kenzo mengunyah snack-nya pelan, pikirannya entah kenapa melayang ke kamar sebelah.
Ke wajah kaget Naya.
Ke sentuhan yang seharusnya tak terjadi.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Adek lo lucu juga ya,” gumamnya pelan.
Kenzo langsung menoleh tajam.
“Jangan macem-macem sama adek gue.”
Reno tertawa kecil.
“Tenang aja, gue gak gigit.”
Dan entah kenapa, malam itu terasa sedikit berbeda dari biasanya.
...*****...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...*****...