NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Malam ini setelah kepergian ibu dan neneknya, Rania memutuskan naik ke atas dan menganti sprei.

Malam terasa dingin dari biasanya, gadis ini memutuskan berdiri di sisi ranjang membentangkan sprei abu-abu yang sudah di ganti.

Sementara Sprei putih telah ia lipat rapi dan di letakan di kursi, seolah warna abu-abu lebih terasa nyaman.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Krett.

Langkah kaku terdengar mendekat, itu adalah Arga Prananda yang datang mendekat.

Seketika Rania langsung menoleh ke belakang, melihat Arga yang masuk, refleks bantal yang sedang dirinya sarungi langsung jatuh.

Secara refleks tubuhnya mundur, punggungnya hampir menyentuh lemari, jari-jarinya mencengkram ujung sprei, napasnya menipis.

"Rania...," panggil Arga dengan lembut.

Arga melihat Rania nampak was-was, wajahnya terlihat ketakutan saat Arga mau mendekatinya.

"Sayang, tenang..," ucap Arga berusaha mendekati istrinya.

Rania berusaha menjaga jarak dari Arga, rasa traumanya kembali. Karena merasa gadis ini tak memiliki perlindungan.

Rania menelan ludahnya.

Napasnya naik dan turun, namun dirinya memaksa tetap berdiri, tubuhnya sudah gemetar hebat---di mata Rania Arga seolah siap memangsanya.

"Mundur!" teriak Rania yang berusaha menghindari sentuhan Arga.

Tatapannya nampak awas tak lepas dari Arga, menilai setiap gerakan istrinya-----Arga segera mengerti mungkin rasa trauma di masa lalu belum juga pulih.

"Sayang kamu sudah masak buat aku."

Arga berusaha mendekati Rania yang tubuhnya terus menghindar ketakutan, padahal Arga sekarang sudah menunjukan sifat lembut padanya.

"Kita omongin baik-baik yaa," pinta Arga dengan lembut.

Tapi Rania masih terus menghindar dan menutup kedua telinganya, dirinya mundur ketakutan.

"Rania!" teriak Arga, yang refleks membuat Rania mau lari ke arah pintu.

Langkahnya ingin berlari ke arah pintu, tapi Arga segera mundur menuju pintu kamar lalu segera menguncinya dan mengambil kuncinya.

Arga melakukan semua itu agar dirinya bisa lebih dekat dengan istrinya----Arga ingin bicara baik-baik pada istrinya dan tak mau seperti ini.

Rania yang melihat kunci pintu sudah di ambil oleh sang suami, langsung menelan salivanya.

"Ya allah tolong hamba," batin Rania dengan lirih.

Gadis bergaun salem lengan pendek itu berlari ke pojok sofa, dan menutup kedua telinganya.

"Arga...Ampun...jangan," pinta Rania dengan lirih berlari ke pojok sofa sambil menutup telinganya.

Rania berusaha mencari apapun itu, agar membuat Arga mundur.

Arga yang cerdik sudah memperkirakan hal itu, barang-barang yang mudah pecah dirinya singkirkan dan taruh di gudang.

Agar Rania tak memecahkannya, atau bahkan menggunakan pecahan kaca sebagai senjata.

Rania berlari ke pojokan menghindari Arga.

Arga yang tak mau pernikahannya terus menerus seperti ini akhirnya memutuskan mendekati sang istri.

"Mundur!" jerit Rania, gadis ini mau berlari tapi tangan Arga dengan sigap menahan tangan istrinya.

"Kyaaaa, lepasin!" ucap Rania.

Rania berusaha meronta-ronta agar lengannya minta di lepaskan, Arga berusaha mendekati sang istri.

"Rania tenang!" titah Arga.

Namun pemikiran masa lalu yang masih terngiang, bagaimana Arga menarik tangannya dan menyeretnya. Rania dengan sekuat tenaga meminta di lepaskan.

"Rania! Saya bilang kamu tenang dulu!" jerit Arga, tapi Rania terus meronta minta di lepaskan karena sudah amat ketakutan.

"Arga tolong, gua nggak akan...cari ribut lepasin gua," mohon Rania dengan isak tangis.

Mulut Arga berdecih lelah karena istrinya tak bisa mendengarkan keinginannya, "RANIA WIRATAMA!" teriaknya, wajah Rania langsung pucat.

Mendengar namanya di sebut dengan teriakan dari Arga, hal yang semakin menambah trauma pada diri gadis ini.

Setelah Rania diam.

Arga langsung memeluk Rania.

Rania masih diam membisu, wajahnya tanpa ekspresi.

Arga memeluk istrinya, wanita yang dirinya cintai segenap hatinya di masa lalu.

"Tenang...saya bilang kamu tenang...," ucap lirih Arga, masih setia memeluk sang istri.

Gadis berambut ikal itu masih setia di pelukan suaminya, dan wajah masih di penuhi air mata.

Arga melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut air mata di wajah istrinya.

"Kamu akhirnya tenang juga," ujar Arga dengan lembut dan penuh senyum.

Arga tersenyum menyentuh kedua pundak istrinya, Rania masih diam dirinya semakin trauma mendengar teriakan marah dari sang suami.

Arga menghela napas lelah.

"Duduk dulu sini, aku mau bicara."

Arga menarik istrinya dengan lembut, kali ini Rania diam tanpa ekspresi.

Arga bisa bernapas lega, kali ini istrinya tak menjerit kaya orang ketakutan lagi----melihatnya seperti melihat hantu.

"Rania...kamu nggak perlu takut, saya ini sekarang suamimu."

Arga duduk di samping sang istri, lalu pria itu memeluk kembali Rania ke dalam pelukannya.

"Tugas saya disini melindungi kamu, tak akan ada yang menyakiti kamu," kata Arga sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.

Rania masih diam tanpa ekspresi, Arga masih tak dapat berbicara apapun lagi.

"Rania...Bicara ama saya," kata Arga menguncang-guncangkan bahu istrinya.

Rania duduk diam di atas kasur tanpa ekspresi, wajahnya menatap kosong ke depan. Selain karena trauma Rania rupanya amat syok.

Syok.

Karena ini pertama kalinya Arga memeluknya, selain itu Rania merasakan nyaman di pelukan sang suami untuk pertama kalinya.

Arga merasa bahagia dirinya bisa memeluk sang istri, meskipun terlihat Rania amat syok parah.

"Rania, bagaimana menurutmu jika eyang menanyakan soal hubungan kita?" tanya Arga berbicara kepada Rania yang masih duduk diam.

Rania sama sekali tak dapat berbicara banyak, entah dirinya tak tahu harus berbicara apa pada Arga sang suami.

Suasana kamar mendadak canggung, dan semuanya terasa hambar.

"Sayang, aku berjanji akan bimbing kamu dan lindungi kamu," ucap Arga.

Arga berdiri karena terlihat Rania nampak tak nyaman, pria itu menghela napas lelah lalu berusaha berdiri.

"Rania bagaimana kalo kita berikan eyang Kartika seorang cicit," ujar Arga dengan antusias berdiri sambil tersenyum.

"Karena sebentar lagi eyang ulang tahun, kita akan berikan cucu yang gemuk, gemoy, lucu dan putih."

Arga terus mengoceh, seolah berusaha menghibur sang istri yang hanya diam tanpa ekspresi tengah terduduk di ujung kasur.

Sementara Rania hanya diam melamun, dan tanpa ekspresi tatapannya nampak kosong.

Arga terus tersenyum, lalu pria itu menarik sang istri untuk mandi.

"Kamu mandi dulu dan ganti bajumu," pinta Arga.

Rania menganggukkan kepalanya, Arga menghela napas---tangan Rania di tuntun oleh Arga menuju kamar mandi di kamar ini lalu soal handuk akan di antar.

"Bajumu aku taruh di kamar mandi juga, aku tak mau melihat tubuhmu tanpa izinmu," ujar Arga memeluk Rania---tangan pria itu membelai lembut punggung Rania.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!