Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 35
PERTEMUAN YANG DINGIN
Veronica menghembuskan asap rokok perlahan, seolah kata-katanya hanyalah bisikan santai, bukan ancaman. Matanya yang perak—mata yang sama seperti milik Vale—berkilat dingin, tanpa sisa kehangatan keluarga.
Vale berdiri beberapa langkah darinya. Tubuhnya tegak, rahangnya mengeras. Angin ladang menggulung mantel hitamnya, membuatnya tampak seperti bayangan kematian yang enggan pergi.
“Berapa banyak pembunuh yang kau kirim?” tanya Vale akhirnya, suaranya rendah dan rata.
Veronica tersenyum kecil. “Kau menghitungnya?”
“Aku bosan membersihkan darah orang-orang bodoh yang kau sewa.”
Veronica tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan suara retakan dari sesuatu yang telah lama busuk.
“Mereka gagal karena kau selalu dilindungi nasib sialmu itu. Atau…” Ia melirik sekilas ke arah mobil Vale, ke kursi penumpang tempat Eliza duduk membeku. “…karena sekarang kau punya sesuatu untuk dijaga.”
Vale tidak menoleh, tapi bahunya menegang dan tatapannya semakin tajam. “Dia tidak ikut urusan ini.”
“Oh, tapi dia sudah ada di dalamnya sejak kau menyentuhnya.” Veronica melangkah mendekat satu langkah. Tanah berkerikil berderak pelan di bawah sepatu haknya.
“Kau selalu seperti ini, Nathaniel. Selalu ingin menjadi pahlawan dalam cerita berdarah kita. Padahal…” senyumnya melebar tipis, “…kau sama kotornya denganku.”
Mata Vale menggelap. “Aku tidak menjual perempuan muda di klub murahan.”
“Itu bisnis.”
“Itu pemerkosaan yang kau bungkus dengan musik keras dan lampu merah.”
Veronica mendecakkan lidah. “Ah, moralitas. Kau baru menemukannya sekarang?”
Hening turun di antara mereka, berat seperti kabut.
Di dalam mobil, Eliza menggenggam ujung mantel hitamnya erat-erat. Jantungnya berdetak terlalu keras, seolah ingin memecahkan tulang rusuknya sendiri. Ia bisa melihat punggung Vale—tegang, dingin, tak tergoyahkan.
Ia ingin turun.
Ia ingin berteriak.
Namun kakinya terasa seperti terpasung.
‘Ini dunianya… bukan duniaku,’ bisiknya dalam hati, sementara air mata perlahan mengalir tanpa suara.
Di luar, Veronica menghela napas panjang.
“Kau datang menemuiku hanya untuk memberi ceramah?”
“Aku datang untuk menghentikanmu.”
“Hentikan aku?” Veronica terkekeh. “Kau tidak pernah bisa menghentikanku, kakak. Kau hanya bisa membunuhku. Sama seperti yang kau lakukan kepada Cedrik sata kecil dulu, kau masih ingat!”
Vale terdiam.
Tangannya mengepal. Veronica menatapnya penuh tantangan. Jika saja dia tidak melihat sosok adik dalam diri Veronica, mungkin detik itu juga Vale akan membunuhnya sendiri.
“Ayo. Lakukan. Bukankah itu akan menyelesaikan semuanya?” Angin bertiup lebih kencang. Rambut pirang Veronica menari liar, seperti api yang menantang badai.
Vale melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya satu lengan. “Aku tidak akan memberimu kehormatan itu.”
Veronica menatapnya lama, lalu tertawa lirih.
“Kalau begitu, aku akan terus hidup… hanya untuk menghancurkan semua yang kau cintai.”
Tatapan Vale berkilat, seperti pisau yang baru diasah. “Sentuh dia,” ucapnya pelan, berbahaya, “dan aku pastikan, aku tidak akan membunuhmu cepat.”
Untuk pertama kalinya, senyum Veronica sedikit goyah, mendengar ucapan kakaknya yang lebih dingin dan bukan ancaman belaka.
Namun hanya sesaat. Ia mundur selangkah, mematikan rokoknya di kap mobil merah.
“Kita belum selesai, Nathaniel.”
Vale tidak menjawab.
Veronica masuk ke mobilnya, menutup pintu dengan keras. Mesin meraung, lalu kendaraan itu melesat meninggalkan debu dan keheningan yang terasa seperti luka terbuka.
Vale tetap berdiri di tempatnya beberapa detik, sebelum akhirnya berbalik menuju mobilnya.
Dia tak menyangka akan berurusan dengan adiknya seperti itu setelah sekian lama.
“Kau baik-baik saja?” tanya Eliza yang menatap Vale ketika pria itu duduk diam menatap lurus.
“Ya.“ Jawab singkat dan suara mesin mobil.
Vale memutar mobilnya dan melaju ke arah yang berlawanan dengan Veronica. Tetap di dalam mobil, hanya ada hening saat Eliza sendiri tak berani bila bertanya hal-hal yang masih panas.
“Aku tidak tahu, permasalahan apa yang terjadi di keluarga mu.” Kata Eliza yang akhirnya memberanikan diri membuka suara. “Aku minta maaf jika tidak bisa membantumu apa-apa.”
Vale masih terdiam beberapa detik, matanya fokus ke depan.
“Dunia ini memang kotor. Dan sekarang… kau berdiri terlalu dekat denganku untuk tetap bersih.” kata Vale tanpa menoleh.
Eliza menelan ludah, ia juga berpikir hal yang sama. Dan kali pertamanya dia harus dekat dengan orang-orang seperti Luis dan Vale.
“Dan aku akan memastikan tak ada seorang pun selain aku yang berhak membuatmu hancur.”
Ucapan kedua Vale seketika membuat Eliza menoleh kaget dan terheran seolah ada sesuatu yang mengganjal ia dengar.
Ia tidak tahu apakah itu janji perlindungan… atau ancaman cinta paling kejam yang pernah ia dengar daripada pukulan Luis Holloway.
Sementara Vale, dia sadar akan ucapannya barusan. Ia hanya menoleh ke Eliza dan melihat wanita itu hanya diam bersandar di dinding jendela mobil.
...***...
Melihat sebuah berkas di tangannya, Luis terkekeh kecil. Ia duduk di kursi kerjanya, lebih tepatnya berada di perusahaan Holloway. Namun bukan berkas kerja yang dia baca, melainkan surat cerai dirinya dan Eliza yang benar-benar sudah diselesaikan dengan cepat oleh Vale.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanya seorang pegawai wanita yang menatap aneh ke Luis.
Sementara Grag yang tahu akan sikap bosnya, dia hanya diam di sana dan mengamatinya saja.
“Tuan Luis— ”
Ucapannya menggantung ke udara saat mata Luis menatap ke arahnya dengan tajam dan mengancam. “Apa kau tidak lihat aku sedang apa?”
Suara Luis seperti tusukan meski lembut. pegawai tadi menelan ludah saat ia mulai gugup dan panik saat Luis meletakkan kertas-kertas itu di atas meja dan berjalan ke arah pegawai wanita tadi.
Dan Grag? Dia hanya diam, berdiri tegap dan menatap tegas.
PLAKK! Satu tamparan keras mendarat di wajah wanita malang tadi sampai dia menahan tangis dan ras sakit yang menjalar di pipinya.
“APA KAU TIDAK LIHAT AKU SEDANG APA, HUH?” gertak Luis yang sekali lagi menampar wajah pegawainya tanpa belas kasih dan tanpa memandang bulu.
Tentu saja pipi wanita itu langsung merah bengkak dan sudut bibirnya berdarah. Dia menangis dan mencoba menahannya sampai Grag akhirnya maju dan berdiri sejajar di dekat Luis.
“Tuan, dia sudah terluka, sebaiknya serahkan dia pada saya, jika tidak. Pegawai yang lainnya akan melihat.” Ujar pria itu.
“Bawa dia dari hadapanku. Singkirkan bagaimana pun caranya.” Kata Luis menatap tajam ke Grag.
“Tuan Luis... tolong maafkan saya, tolong...” kata wanita tadi yang mulai menangis dan menggeleng takut. Namun Luis mengabaikannya dan enggan mendengarnya.
Ia menatap ke kertas perceraian nya, dan itu membuat amarah meluap detik itu juga.
“Fuck...” umpatnya sembari menyeringai saat ia akhirnya akan menghadapi si Vale.
Dan api yang melahap ayahnya membuat emosi Luis tak terkendali. Dan tidak akan bisa hilang begitu saja.