"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Haruskah aku sedih atau bahagia atas kabar ini?" Lirih Naina begitu ia mengetahui dirinya tengah mengandung.
Naina mengingat kembali ucapan Ibu bidan tadi, "iya, mbak tengah hamil 18 minggu."
"Masa kehamilan tak selamanya di tandai oleh mual dan ngidam. Harusnya mbaknya senang dong. Karena kebanyakan wanita tidak ingin mengalami masa mual dan ngidam."
"Karena ada flek terus, saya sarankan mbak istirahat total, ya. Jika mbak terus bekerja di masa kehamilan bisa-bisa nanti mbak pendarahan hebat dan keguguran."
Naina menggenggam buku pemeriksaan ibu hamil serta foto hitam putih hasil USG. Naina mengutuk dirinya sendiri. Betapa bodohnya dirinya, sampai-sampai kecolongan hamil dan di tinggalkan suaminya kembali.
Kehamilan pertama tanpa suami, kenapa terjadi lagi hal yang sama. Di kehamilan kedua harus tanpa suami. Naina menangis, ia sungguh tak sanggup bila harus menghidupi kedua anaknya.
Apakah Naina harus kembali ke Ibu kota dan meminta maaf pada Ryan? Namun jika hal itu ia lakukan, Naina akan semakin terhinakan karena ia datang sebagai pengganggu rumah tangga orang.
"Mari kita lupakan tentang sosok Ayah. Tolong bertahan dan tak membuat Ibu sakit, ya." Naina berucap pada anak dalam kandungannya.
Sesampainya di rumah, Naina menyandarkan badannya pada kursi usang. Rasanya lelah. Nayla menghampiri Naina dan bertanya apakah ibunya baik-baik saja.
"Nay, mari kita lupakan Ayah, oke?" Ucap Naina pada putrinya.
" Gak mau, Nay pengen Ayah." Nay mulai tantrum namun Naina bisa mengendalikannya.
"Nay, Ayah sudah meninggal. Ayah sudah tenang di sisi Tuhan." Naina memeluk putrinya, agar putrinya tak bisa melihat matanya yang berbohong.
"Ibu pasti bohong. Ayah gak mungkin meninggal."
" Tapi kenyataannya begitu, sayang. Kita doakan ayah, ya."
Naina terpaksa berkata demikian, agar suatu saat nanti Nayla bisa memberitahu adiknya bila bertanya tentang Ayahnya.
Nayla terus saja menangis dan memanggil Ayahnya. Begitu pun Naina, ia menangis karena tak sanggup hidup seorang diri dan mengurus kedua anaknya.
Ada penyesalan dalam diri Naina. Harusnya ia kabur membawa harta, seperti kalung dan beberapa perhiasan miliknya. Ia harusnya tak mendengarkan egonya. Naina menyesal sekarang. Ia sangat membutuhkan uang yang banyak untuk menghidupi kedua anaknya.
...****************...
"Bulan ini lu gak nyusul istri lu?" Ucap Dani pada Ryan.
5 bulan telah berlalu saat kepergian Naina dari sisi Ryan. Meski Ryan tak begitu memikirkan Naina, tapi hatinya belum juga mengikhlaskan hari-harinya tanpa buah hatinya.
Ryan terdiam, sebagai seorang Ayah, Ryan kehilangan jantung hatinya. Cinta yang tak bisa ia ungkapkan lagi untuk putri kecilnya. Pandangan Ryan masih kosong. 5 bulan ini tak ada tanda-tanda keberadaan Naina dan putrinya.
"Lu masih memikirkan Nay?" Tebak Dani.
"Bagaimana tidak di pikiran. Sebagai seorang Ayah, gue gak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Gue akan menghukum Naina yang pergi membawa anak gue."
"Coba lu minta bantuan bokap lu aja. Pak Arif banyak kenalannya, siapa tahu beliau bisa menemukan Nay." Saran Dani.
Ryan menatap Dani tajam, "gak bisa, Dan. Belum tentu juga bokap gue bakal menerima Nay."
Malam itu, lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala, namun ruangan kerja Ryan tetap temaram. Asap rokok mengepul, menari-nari di antara bayangan Ryan yang tampak kian tirus. Ucapan Dani tentang meminta bantuan ayahnya, Pak Arif, terus berdenging seperti lebah yang mengganggu. Ryan tahu, ayahnya adalah pria yang menjunjung tinggi martabat keluarga di atas segalanya. Membawa kembali Nayla—anak dari istri yang dianggap sebagai "kesalahan"—hanya akan memicu badai baru.
Lima bulan berlalu, dan Ryan baru menyadari betapa rapi Naina mengemas jejaknya. Tidak ada satupun teman-teman lama Naina yang tahu, bahkan Pamannya di kampung pun bungkam. Kebencian Ryan pada Naina kini bercampur dengan rasa haus akan kendali. Ia merasa dikhianati, bukan karena cinta, melainkan karena Naina telah merampas hak kepemilikannya atas Nayla.
Sementara itu, ratusan kilometer dari hiruk-pikuk ibu kota, Naina meringkuk di atas dipan kayu yang keras. Kamar kontrakan kecilnya di pinggiran kota Apel itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan isak tangis Nayla yang mulai mereda karena kelelahan.
Naina mengusap perutnya yang kini mulai membuncit. Usia kandungannya memasuki bulan ketujuh. Rasa sakit di pinggangnya kian menjadi, namun peringatan bidan tentang istirahat total hanyalah kemewahan yang tak mampu ia beli. Ia menatap kotak perhiasan di atas meja—kosong. Ia telah menjual semua perhiasannya, hanya menyisakan satu cincin kawin di jari manisnya.
"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya pada janin di rahimnya. "Ibu harus berbohong pada kakakmu. Lebih baik dia menganggap ayahnya sudah tiada daripada harus hidup meratap menunggu pria yang tidak pernah menginginkan kita."
Naina teringat kembali pada Ryan. Bayangan wajah pria itu kini tak lagi membawa debar cinta, melainkan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia membayangkan Ryan mungkin sedang tertawa di pesta-pesta mewah bersama istri sahnya, tanpa tahu bahwa di sudut gelap sebuah desa, ada nyawa lain yang sedang berjuang untuk bernapas.
Keesokan paginya, Naina memaksakan diri bangun lebih awal. Ia harus pergi ke pasar untuk membantu mbak Tin, memilih sayuran untuk warung nasinya—satu-satunya pekerjaan yang mencukupi kehidupannya. Namun, baru saja ia berdiri, rasa pening yang hebat menyerang. Pandangannya mengabur.
Zrett...
Setetes cairan hangat merembes di kakinya. Naina menunduk, wajahnya seketika pias melihat noda merah di lantai semen yang dingin.
"Tidak... jangan sekarang..." rintihnya.
Nayla, yang baru saja terbangun, melihat ibunya bersandar lemas di dinding. "Ibu? Ibu kenapa?" suara kecil itu bergetar penuh ketakutan.
"Nay... lari ke rumah Mbak Tin... minta tolong..." suara Naina nyaris hilang.
Saat tubuhnya perlahan merosot ke lantai, satu hal yang melintas di pikiran Naina bukanlah penyesalan karena tidak membawa harta Ryan. Melainkan ketakutan yang luar biasa: jika sesuatu terjadi padanya sekarang, Nayla akan sendirian di dunia ini. Dan jika ia terpaksa kembali ke Ryan, ia tahu itu adalah awal dari kehinaan yang lebih dalam.
Di saat yang sama, di Jakarta, ponsel Ryan bergetar. Sebuah pesan singkat dari detektif swasta yang ia sewa masuk: "Kami menemukan transaksi atas nama Naina Ayu di sebuah toko emas kecil di kota Batu."
Ryan berdiri tegak, matanya berkilat dingin. "Ketemu kau, Naina."
Dua kehidupan yang terpisah kini mulai bergerak menuju titik temu. Satu berjuang untuk bertahan hidup, satu lagi bergerak untuk menghakimi.
Ryan kembali teringat permintaan ayahnya untuk mengurus sebuah pabrik kecil milik Ayahnya. Sebelumnya Ryan menolak karena sebuah kota kecil yang tak bisa menjanjikan, meski itu adalah kampung halaman Kakek dan Neneknya.
"Ayah, aku setuju untuk mengurus dan merenovasi kembali pabrik yang ada di Batu." Ucap Ryan mantap.
Transaksi anak dan Ayah itu berlangsung lancar tanpa negosiasi yang rumit. Ryan tersenyum puas. Kebetulan yang tak di sangka itu akan mempertemukannya dengan Nayla dan membalaskan rasa kecewanya pada Naina.