Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter³⁵ — Status yang Sama.
Malvin muncul dari dalam rumah dengan kaos hitam dan celana santai. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi sorot matanya sudah kembali tajam begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
Ia berhenti.
Tatapannya jatuh pada Mama Wina, lalu bergeser ke Fahira.
Fahira langsung maju, suaranya melengking seperti orang yang merasa paling berhak atas diri Malvin.
“Malvin! Kamu tahu nggak apa yang terjadi sama aku?!”
Namun Malvin tidak langsung menjawab, dia menatap Fahira beberapa detik lalu berkata dengan suara datar. “Kamu akhirnya sampai juga.”
Semua orang terdiam.
Fahira berkedip. “A-apa maksudmu?”
“Aku dapat kabar dari warga, lalu dari Pak RT juga. Katanya ada wanita sombong dari kota yang nyari-nyari aku, dan aku tebak itu kamu.”
Fahira menatapnya, tidak percaya.
“Kamu… kamu tahu dari awal?”
Malvin mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Fahira maju lagi, kali ini lebih dekat. “Kalau kamu tahu, kenapa kamu diam?! Kenapa kamu nggak cari aku? Aku ditipu… dan akhirnya aku jadi seperti ini!”
Malvin menatap Fahira dengan pandangan tajam. “Itu bukan urusanku! Kita nggak punya hubungan apa-apa. Jadi apa pun yang terjadi padamu… itu tanggung jawabmu sendiri.”
Fahira terpaku, ia membuka mulut tapi tidak ada suara yang keluar.
Lalu Malvin menoleh ke arah ibunya. “Mah...”
Mama Wina tidak tersenyum, ia menatap putranya seolah sedang menilai barang mahal yang baru saja ia temukan kembali.
“Jadi ini tempat kamu tinggal?”
Malvin menjawab tenang. “Iya.”
Mama Wina melangkah maju satu langkah. “Malvin, Mama nggak datang untuk ribut. Kamu pasti tau, untuk apa Mama datang. Mama cuma mau lihat... perempuan yang bikin kamu lupa diri.”
Lastri yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tetap tenang. Ia tidak mundur, tapi juga tidak maju. Ia hanya berdiri seperti pagar yang tidak bisa digeser.
Malvin menoleh pada Lastri, lalu kembali menatap ibunya. “Lastri nggak bikin aku lupa diri, justru dia... membuatku sadar.”
Mama Wina menyipit. “Sadar?”
Malvin menjawab tanpa ragu. “Sadar kalau selama ini... Mama selalu merasa paling berhak mengatur hidupku.
Fahira mendengus. “Kamu berani bicara kasar pada Tante Wina? Dia ibumu sendiri! Kamu pasti sudah terpengaruh perempuan kampung ini! Mana pantas dia untukmu, Malvin. Aku jauh lebih pantas! Aku bahkan kuliah... lulusan luar negeri!”
Padahal, penampilan Fahira saat itu benar-benar memprihatinkan. Lusuh dan jauh dari kata anggun, mirip seperti gembel. Tidak sejalan sama sekali dengan keangkuhannya saat ini.
Lastri menatap Fahira tenang, tanpa emosi berlebihan. “Saya memang orang kampung, pendidikan saya juga tidak tinggi. Tapi etika dan adab saya, insyaAllah lebih baik dari Anda. Sejak datang... Anda berteriak-teriak, menyelonong masuk, dan tidak berhenti menghina.”
Fahira tersentak. “Kamu—!”
Lastri menatap Fahira tanpa berkedip, ia menghela nafas. “Dan yang paling aneh… Anda datang ke rumah orang lain dalam keadaan seperti ini, tapi masih bersikap angkuh.”
Fahira melotot, namun Lastri tidak mundur.
“Saya tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapapun apalagi dari Anda. Tapi... satu hal yang saya yakin,” Lastri mengangkat dagu sedikit, “Harga diri seseorang itu, bukan dari gelar luar negeri atau pakaian mahal. Harga diri tampak dari sikap seseorang yang tidak merendahkan dirinya sendiri, serta dari kemampuannya menghormati orang lain.”
Kalvin yang berdiri di samping Alya refleks mengangguk kecil, seolah sedang mendengar ceramah yang masuk akal.
“Kamu—” Fahira maju, tangannya terangkat hendak menampar Lastri.
Namun...
“Fahira! Cukup!”
Malvin bergerak cepat, langsung berdiri di depan Lastri. Tubuhnya menjadi penghalang, menahan Fahira sebelum tangan itu sempat mendarat.
“Malvin, kamu—”
Mama Wina hendak membela Fahira, namun Malvin lebih dulu mengangkat satu tangan untuk menghentikan ibunya. “Mah, kita bicara di dalam.”
Lastri menatap Malvin, lalu menatap Mama Weni dengan sopan. “Maaf, Bu. Saya tidak akan membiarkan siapa pun datang ke rumah ini untuk merendahkan, apalagi membuat keributan.”
Mama Wina mendengus pelan, lalu melangkah masuk. Semua orang mengikutinya tanpa suara.
Di ruang tamu sederhana itu, Mama Wina duduk di sofa. Alya duduk di sampingnya, Kalvin berdiri dekat jendela. Fahira duduk paling ujung, wajahnya masih kesal.
Lastri menyuguhkan air putih dan teh hangat.
Fahira tertawa sinis. “Kamu cuma nyuguhin teh doang?”
Lastri menoleh. “Kalau Mbak Fahira mau makan, saya bisa masak. Tapi saya masaknya makanan rumahan, bukan makanan mewah, apalagi makanan restoran.”
Fahira mencibir. “Aku nggak makan makanan kampung.”
Lastri mengangguk pelan. “Syukurlah, berarti saya nggak perlu repot-repot masak.”
Kalvin nyaris tersedak menahan tawa, Alya menutup mulutnya agar tawanya tak menyembur.
Mama Wina mencondongkan tubuh, nada suaranya makin tajam. “Namamu, Lastri?"
“Iya, Bu." Lastri lalu ikut duduk.
“Terus kamu bisa dekat dengan Malvin karena apa? Karena proyek itu?” Tanyanya lagi.
“Iya, saya bekerja. Saya pendamping lapangan untuk proyek yang didanai perusahaan Bang Malvin. Saya yang mengurus pertanian dan lahan warga, pendataan, dan memastikan bantuan tepat sasaran.”
Fahira tertawa sinis. “Cih! Biasa aja.”
Lastri menoleh, suaranya tetap tenang. “Mungkin bagi Anda itu biasa. Tapi buat kami para petani… proyek ini sangat berharga. Ini bukan sekadar pengembangan desa, tapi soal kelangsungan hidup kami semua. Ini masalah hidup dan mati kami.”
Mata Mama Wina menyipit. Ia baru sadar—Lastri memang lantang dalam bicara, dan jelas bukan tipe perempuan yang gampang dijatuhkan.
Mama Wina melanjutkan, kali ini lebih menusuk. “Saya dengar, kamu juga janda.”
Lastri mengangguk. “Iya.”
Mama Wina menatapnya, mencari celah. “Dan kamu pikir, kamu pantas berdiri di samping anak saya?”
Lastri menarik napas pelan. “Saya tidak pernah meminta berdiri di samping anak Ibu, saya juga tidak pernah meminta untuk dipilih. Tapi kalau bang Malvin memilih saya… itu adalah hak-nya. Kalau Ibu mau menilai saya, silakan. Tapi jangan pernah menghina status saya sebagai janda. Percayalah... Bu. Jika rumah tangga berjalan baik, tidak ada perempuan yang ingin berakhir sebagai janda.”
Hening.
Malvin menatap Lastri lama, ada rasa bangga yang ia tahan.
Mama Wina mengalihkan pandangan. Namun ia menatap Lastri lagi, kali ini lebih serius. “Saya dengar... kamu sekarang terkenal. Kamu membuat seorang pejabat, anggota dewan daerah ditangkap.”
Lastri menjawab tenang. “Saya membantu seorang perempuan yang tertindas agar bisa mendapatkan keadilan. Tapi di saat yang sama, saya juga sedang memperjuangkan keadilan untuk diri saya sendiri.”
Mama Wina menyipit. “Kamu tahu tidak, kamu sedang melawan orang besar.”
Lastri mengangguk. “Saya tahu.”
Mama Wina menatapnya tajam. “Dan kamu tetap nekat.”
“Kalau saya diam, seseorang akan mati. Dan penjahat itu akan terus melakukan kejahatannya... tanpa pernah menerima hukuman.” Lastri menjawab pelan, tapi tegas.
Mama Wina terdiam.
Untuk pertama kalinya… sorot mata Mama Wina berubah. Tidak sepenuhnya lunak, tapi ada sesuatu. Karena jawaban Lastri tidak terdengar seperti orang yang sengaja mencari panggung.
Malvin menatap ibunya lurus. “Mah… itu alasan aku milih dia. Mama sekarang ngerti, kan?”
Mama Wina tidak menjawab, ia hanya menghela napas panjang.
“Lagipula…” Malvin menarik napas pelan, suaranya tetap tenang. “Aku bukan seseorang yang pantas Mama banggakan, statusku juga sama dengan Lastri. Aku pernah menikah… bahkan aku sudah punya anak.”
Saat Malvin bicara, Lastri tidak menunjukkan raut terkejut sama sekali. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia sudah tahu.
Semalam, setelah Denis memberi kabar kalau Mama Wina sedang menuju desa, Malvin memilih jujur pada Lastri. Ia menceritakan semuanya tanpa menutup-nutupi. Tentang statusnya sebagai duda… dan tentang satu anak perempuan yang ia miliki.
Saat itu Lastri memang sempat terdiam. Terkejut, tentu saja. Karena dulu saat ditanya, Malvin pernah menjawab dia lajang. Tapi kalau dipikir lagi, Malvin tidak pernah membohonginya. Lastri baru benar-benar paham sekarang. Lajang… bukan berarti bujang.
Lajang itu... bukan hanya berarti belum pernah menikah. Lajang juga berarti seseorang yang sedang sendiri. Dan dalam konteks sosial, lajang bisa berarti sendiri karena bercerai, atau karena pasangannya sudah meninggal.
semoga kalvin nanti jatuh cinta
Awas aja klo sampe bucin kau kalvin🫵