NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tulisan di Atas Meja Jati

​Bab 8: Tulisan di Atas Meja Jati

​Kesempatan itu datang pada suatu Rabu siang yang terik. Nyonya Lastri pergi ke kota untuk menghadiri arisan sosialita, sementara Satria ikut bersama Tuan Wijaya untuk meninjau pabrik penggilingan padi di desa seberang. Rumah besar itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding kuno di ruang tengah dan suara gemericik air dari kolam ikan di halaman belakang.

​Mbok Sum sedang sibuk di dapur belakang, sedang mencuci tumpukan piring bekas makan siang yang gunugnya hampir menyamai tinggi badannya. Anindya tahu, ini adalah celah waktu yang sangat sempit dan berbahaya.

​"Anindya, tolong bersihkan meja makan dan ruang tengah, ya? Mbok mau selesaikan cucian ini dulu," teriak Mbok Sum dari dapur.

​"Baik, Mbok!" Jawab Anindya dengan suara yang ia usahakan tetap tenang, meski di dalam dadanya, jantungnya sudah berdentum seperti beduk.

​Anindya membawa kain lap lembap di tangannya. Ia melangkah masuk ke ruang tengah yang luas. Aroma pengharum ruangan yang mahal menyeruak, menyambut indra penciumannya yang biasanya hanya akrab dengan bau sabun cuci dan debu.

Namun, matanya tidak tertuju pada pajangan guci kristal atau sofa beludru yang mewah. Matanya tertuju pada sebuah buku kerja baru yang tergeletak terbuka di atas meja jati besar—buku matematika baru milik Satria.

​Di samping buku itu, tergeletak sebuah kotak pensil lengkap dengan penghapus dan penggaris. Anindya mendekat dengan langkah sangat pelan, seolah-olah lantai marmer itu terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Ia menelan ludah. Pandangannya terpaku pada halaman yang terbuka.

​Di sana, ada sepuluh soal latihan tentang pembagian bersusun yang diberikan Pak Guru kemarin sore. Satria baru mengerjakan dua soal, itu pun dengan jawaban yang salah dan coretan-coretan malas di pinggir kertas.

​Anindya menoleh ke arah dapur, memastikan Mbok Sum tidak muncul tiba-tiba. Setelah merasa aman, ia meletakkan kain lapnya dan duduk di tepi kursi yang seharusnya tidak boleh ia duduki. Ia menatap soal nomor tiga.

456+12\=....

Anindya tidak butuh waktu lama. Di dalam kepalanya, angka-angka itu seolah bergerak sendiri, menyusun diri dalam barisan yang rapi. Namun, ada godaan besar yang muncul di benaknya. Ia ingin tahu, apakah benar pikirannya sejalan dengan apa yang tertulis di buku itu. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya menulis di atas kertas yang putih, bersih, dan mahal, bukan di atas kertas bekas sampah dengan arang.

Dengan tangan gemetar, Anindya mengambil pensil mekanik milik Satria. Berat pensil itu terasa begitu pas di tangannya. Perlahan, ia mulai menuliskan angka-angka itu di atas selembar kertas buram yang ada di samping buku Satria. Ia mengerjakannya dengan sangat rapi, persis seperti yang diajarkan gurunya di desa dulu.

Satu soal selesai. Dua soal selesai. Tiga soal selesai.

Anindya merasa dunianya seolah berhenti berputar. Hanya ada dia, angka, dan pensil ini. Ia merasa begitu hidup. Untuk beberapa menit itu, ia bukan lagi seorang pelayan, ia bukan lagi seorang pengantin kecil yang malang. Ia adalah Anindya, seorang murid yang sedang mengerjakan tugasnya.

Namun, lamunannya buyar saat mendengar suara pintu pagar depan yang terbuka.

Kriet...

Anindya tersentak. Kepalanya berdenyut kencang karena kaget. Ia segera meletakkan pensil itu kembali ke tempatnya semula, persis di posisi yang sama agar tidak dicurigai. Ia menyambar kain lapnya dan mulai menggosok meja dengan gerakan panik.

Suara mobil Tuan Wijaya terdengar memasuki garasi. Anindya segera berpindah ke arah rak buku, berpura-pura sedang mengelap debu di sana. Napasnya terengah-engah, wajahnya memerah karena takut setengah mati.

Satria masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut. Ia tampak lelah dan kesal. Tanpa menyapa siapa pun, ia langsung menuju meja makan dan melihat buku matematikanya yang masih terbuka.

"Anindya! Kenapa kau menyentuh mejaku?" Teriak Satria begitu melihat posisi bukunya yang sedikit bergeser—atau mungkin dia hanya ingin mencari gara-gara.

Anindya menunduk, tangannya meremas kain lap yang basah. "Nin... Nin tadi cuma mengelap meja, Tuan Muda. Maaf kalau bukunya tergeser."

Satria mendengus, ia duduk di kursi dan menatap kertas buram di samping bukunya. Anindya mematung. Ia lupa membawa kertas buram itu! Ia tadi hanya fokus mengembalikan pensilnya.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Satria memegang kertas yang berisi jawaban soal-soal tadi.

"Apa ini? Coret-coretan apa ini?" Satria mengernyitkan dahi melihat angka-angka yang sangat rapi di kertas itu. "Siapa yang menulis ini? Kau?"

Anindya gemetar. Jika ia mengaku, habislah dia. "Bukan, Tuan Muda. Mungkin... mungkin itu kertas yang ditinggalkan Pak Guru kemarin," jawab Anindya, berbohong demi menyelamatkan nyawanya.

Satria menatap kertas itu, lalu menatap Anindya dengan curiga. "Pak Guru tidak menulis serapi ini. Dan ini jawaban soal nomor tiga sampai sepuluh. Semuanya benar." Satria terdiam sejenak, ia tampak bingung sekaligus kesal karena "siapa pun" yang menulis itu lebih pintar darinya.

Tiba-tiba, Nyonya Lastri masuk dari pintu depan dengan membawa banyak tas belanjaan. "Ada apa ini ribut-ribut?"

"Bu, lihat ini. Ada yang mengerjakan soal matematikaku di kertas buram ini. Jawabannya benar semua," lapor Satria.

Nyonya Lastri mendekat, ia melirik kertas itu dengan sebelah mata. Ia kemudian menoleh ke arah Anindya yang masih menunduk ketakutan. "Kau yang melakukannya?" tanya Nyonya Lastri dengan nada dingin yang menusuk.

"Bukan, Bu. Nin tidak tahu itu tulisan siapa," Anindya tetap pada kebohongannya.

Nyonya Lastri mengambil kertas itu, lalu merobeknya menjadi dua bagian tanpa ekspresi. "Mungkin itu hanya sisa-sisa catatan guru lesmu, Satria. Jangan dipikirkan. Dan kau, Anindya! Kenapa pekerjaanmu belum selesai? Pergi ke belakang, cuci piring-piring itu! Jangan biarkan Mbok Sum melakukan semuanya sendiri!"

"Baik, Bu," Anindya segera berlari menuju dapur. Ia merasa seperti baru saja lolos dari lubang jarum.

Di dapur, Anindya mencuci piring dengan gerakan yang sangat cepat. Air matanya menetes, menyatu dengan air sabun di bak cuci. Ia merasa sedih karena hasil kerjanya robek begitu saja, tapi di sisi lain, ia merasakan kemenangan kecil. Ia tahu dia benar. Ia tahu dia bisa.

Sementara itu, di ruang tengah, Satria masih menatap robekan kertas itu sebelum membuangnya ke tempat sampah. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh di hati anak laki-laki itu. Ia tidak sebodoh yang ibunya kira. Ia tahu Pak Guru tidak pernah meninggalkan catatan seperti itu.

Malam harinya, saat Anindya sedang duduk di kamarnya, ia mengeluarkan pulpen pemberian Pak Guru. Ia tidak berani belajar malam ini karena takut Nyonya Lastri masih curiga. Namun, di dalam hatinya, ia sudah merencanakan sesuatu yang lebih besar.

Jika mereka merobek kertas satu, aku akan menulis di kertas seribu kali lagi, batin Anindya.

Ia teringat tatapan Satria tadi. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan hanya kebencian, tapi ada sedikit keraguan. Anindya menyadari bahwa pengetahuannya mulai menjadi ancaman bagi ketenangan keluarga Wijaya. Dan ia akan terus mengasah ancaman itu, diam-diam, di bawah tangga, di balik kegelapan, hingga waktunya tiba baginya untuk meledak.

"Ayah... Nin sudah mulai berani," bisiknya pada boneka kainnya. "Tapi Nin harus lebih hati-hati. Mereka tidak boleh tahu kalau Nin sudah mulai mengejar mereka."

Anindya memejamkan mata, membiarkan kelelahan membawanya tidur. Di dalam mimpinya, ia tidak lagi berada di dapur, melainkan di sebuah ruangan besar dengan papan tulis putih, memegang pulpen dengan bangga, sementara semua orang yang menghinanya hanya bisa terdiam membisu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!