"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_35
Subuh selalu datang dengan cara yang sunyi, tapi pagi itu justru terasa terlalu hidup.
“Bangun yuk, udah subuh.”
Aku menggeliat, setengah sadar, setengah enggan meninggalkan hangatnya kasur. Dinginnya sesuatu menyentuh pipiku membuatku spontan membuka mata. Tanganku refleks menepis, tapi tangan itu terlalu kokoh
“Tangannya dingin banget, ih,” rajukku lirih setelah mataku menangkap sosok Naren berdiri di sisi ranjang, rambutnya masih basah, wajahnya segar seperti baru disiram embun.
Ia terkekeh pelan. “Ya iyalah. Abis mandi.”
Tangannya tetap di pipiku, dingin tapi lembut. Lalu tanpa aba-aba, ia menyibak selimut yang menutupi tubuhku. Aku refleks menjerit kecil dan buru-buru menariknya kembali.
“Ih!”
Tawanya makin lepas melihat reaksiku yang panik.
“Mana nih Rayna Gahar Rusdiantoro yang pantang mundur itu? Kok sekarang menciut?” ejeknya, mata hitamnya berkilat penuh goda.
“Itu karena kamu yang mancing ya,” balasku ketus, tapi suaraku justru terdengar kalah.
“Udah. Buruan mandi,” katanya sambil berdiri tegak. “Aku mau ke masjid dulu. Kamu sholat di rumah aja.”
Nada suaranya berubah lebih tenang, dewasa. Ada jarak yang otomatis tercipta, dan aku tahu—di balik semua canda dan godaan, Naren selalu tahu kapan harus berhenti.
Setelah mandi wajib dan sholat subuh, aku bergegas ke dapur. Udara pagi masih dingin, jendela dapur sedikit berembun. Aku mengikat rambut, menyiapkan bahan, mencoba menenggelamkan pikiranku dalam rutinitas ku setiap pagi semenjak berstatus istri.
“Assalamu’alaikum.”
Senyumku otomatis merekah. Suara itu selalu punya efek menenangkan, tak peduli seberapa ribut isi kepalaku.
“Wa’alaikum salam,” jawabku sambil melangkah ke ruang tengah.
Naren berdiri di sana, masih dengan sarung dan kemeja koko yang tadi ia kenakan saat berangkat,hanya kini songkoknya sudah tak ada di atas kepala. Ia memperhatikanku dari ujung kepala sampai kaki, lalu menaikkan satu alis.
“Jalannya kok biasa aja. Kirain bakal kayak waktu itu,” godanya dengan senyum mengejek “Udah adaptasi.” celetuk ku ketus percampuran antara kesal dan malu
Tawanya langsung menggelegar, memecah keheningan pagi itu dengan kehangatan yang membuat dadaku terasa penuh.
“Nggak usah masak,” katanya tiba-tiba sambil melangkah mendekat. Tangannya melingkar di pinggangku dari belakang. “Kita pesen aja sarapanya.”
Aku sedikit menggeliat, kaget sekaligus geli. “Kenapa? Masakanku nggak enak?” sewotku.
“Enak banget,” bisiknya di telingaku, suaranya rendah dan dekat. “Tapi emang kamu nggak capek?”
Aku menoleh setengah, menatapnya tajam. “Menurut kamu?”
Menurut aku sih enggak,” katanya santai. “Orang cuma satu ronde doang.” lanjut nya tak tau malu
Aku reflek menabok lengannya dan melepaskan diri. “Satu ronde, tapi kamu mainnya ngawur.”
Ia tertawa lagi, kali ini malah lebih terdengar sangat puas.
setengah jam kemudian bubur ayam pesanan kami sudah datang. aku segera menuangkan di mangkuk yang sedari tadi sudah siap di hadapan Naren.
“Jadi ke klinik Maya?” tanyanya di sela suapan.
“Jadi dong,” jawabku penuh semangat.
“Sebelum ashar harus udah di rumah.” peringatnya tegas
“Siap, Bos.”
Ia menatapku sebentar, lalu menyodorkan kartu kredit. “Pakai kartu kredit yang aku kasih ke kamu. Aku nggak mau dibilang nggak menafkahi istri.”
"Beneran? yakin? Aku orangnya boros, loh. Kalau nyalon bisa habis puluhan juta.” sahutku
“Aku nggak akan jatuh miskin walaupun kamu nyalon tiap hari selama sepuluh tahun.” jawabnya cangak. tapi jika seoarang Narendra yang mengatakan itu, maka terdengar masuk akal
“Idih, sombong.”
“Kamunya mancing.”
Getaran ponsel memecah percakapan kami. Aku melirik layar—nama Ajeng menyala terang.
“Angkat aja,” pintaku.
“Nggak usah,” jawab Naren singkat sambil berdiri. “Aku berangkat kerja dulu.”
Aku membetulkan dasinya. “Hati-hati.”
“Kamu juga.” Ia mengusap pucuk kepalaku, lalu tanpa diminta, menunduk dan mengecup keningku.
Tubuhku membeku sesaat. ternyata hubungan pernikahan kami sudah sejauh dan sedalam ini. semua pengorbanan ku ternyata tidak sia-sia.
Saat pintu tertutup dan langkahnya menjauh, satu pikiran menyusup tanpa izin.
Apa aku benar-benar sudah menggeser posisi Ajeng?
Aku menggeleng, mengusirnya. Aku segera mengganti daster dengan setelan rajut cokelat susu oleh-oleh dari Maya kemarin, merias diri sekadarnya, lalu bersiap menuju Madani. Empat puluh lima menit membelah jalanan Solo, hingga akhirnya aku tersenyum puas melihat klinikku ramai.
Ya. Madani adalah klinik ku juga. aku pemegang tujuh puluh lima persen sahamnya. sekarang klinik ini total ada enam belas cabang di Jawa dan Kalimantan. dan tempat yang aku datangi ini adalah pusatnya.
“Selamat pagi, Bu Rayna,” sapa Nita, resepsionis
“Pagi Nit. Bu Maya ada?”
“Ada. Ibu sudah ditunggu.”
dengan semangat aku langsung mengetuk pintu dengan keras. Maya mempersilahkan masuk, mungkin dikira aku salah satu pasiennya
“Rayna!” pekiknya berlari memelukku begitu aku masuk.
Tampilannya mencolok hari itu—rok span hitam, kemeja hijau metalik, rambut bergelombang lembut.
“Seksi banget, Bu,” godaku.
“Harus dong. kan akhirnya mau hangout setelah empat tahun vakum.” cicitnya penuh antusias. Aku ikut tersenyum haru.
“Yuk, aku udah nemu kafe yang recommended.”
“Aku mau perawatan dulu.” cicitku
“Ah, nggak perlu. Lo udah cantik setelan pabrik.” jawab Maya. dengan cepat menyambar kunci mobil dan menarik ku kembali keluar ruangan
Bedjo Cafe menyambut kami dengan udara sejuk dan aroma pinus. Pemandangan hijau terbentang, membuatku menarik napas panjang.
Kami tertawa, selfie, memesan banyak makanan yang entah bagaimana cara menghabiskan nya nanti.
“Uh, akhirnya kita bisa kayak gini lagi,” teriak Maya lega.
entahlah. jika ada kata di atas terimakasih, maka pasti aku menggunakan itu untuk mengungkapkan nya pada Satu-satunya sahabat ku ini. empat tahun lalu, semenjak aku memutuskan untuk mengurung diri, maka ia juga melakukan hal yang sama. padahal Maya adalah anak party mentok. nongkrong di cafe adalah bagian dari rundown hidupnya, tapi karena ku enggan, maka dia juga meninggalkan itu semua.
hingga suara yang tidak asing itu, merusak agendaku dengan Maya
“tuh kan... beneran si orgil, " cuap Ajeng se enak jidat
“Si Anjir. lo kenal Rayn?" Maya langsung berkilat marah
“Gadunya laki gue,” jawabku santai.
Ajeng langsung naik pitam. “Jaga mulut!”
“Ohhh....jadi ini MANTAN pacar suami lo?” Maya menekankan pada kata Mantan dengan ekspresi jijik nya
“Bukan mantan. Masih pacar. Dan sebentar lagi bakal istri satu-satunya Narendra.” jawab Ajeng tak tau malu
Maya tertawa keras, tawa geli dan mengejek.
“Pantesan lo santai-santai aja dia jadi simpenan laki lo. Ternyata bentukannya kayak gini.”
mendengar ucapan Maya, Ajeng langsung melangkah maju, amarahnya sudah di ubun-ubun. Maya hampir menamparnya, tapi aku menahan. bukan karena takut padanya, tapi takut jika sampai ada memvideokan kita dan viral. nama baik keluarga ku jelas jadi sasaran
“Tampar aja,” Ajeng tertawa sinis merasa bahwa kamu takut. “Abis itu gue bakal laporin ke Naren. Biar temen lo ini, cepet diceraikan.” ancam Ajeng sembari tertawa puas
Aku menatapnya tenang. “Yakin Naren bakal ceraiin gue?”
“seribu persen, "
Aku terkekeh. “Gimana mau di cerai? kalau yang bisa muasin lahir batinnya cuma gue.” ucapku sembari meyibak syal di leher hingga menampakan banyak bekas merah di sana
Wajah Ajeng seketika memerah. senyum nya langsung memudar.
"Kemarin pasti cuma akal akalan lo aja kan, Naren gak mungkin nglakuin itu sama lo," wajah Ajeng sudah berubah menjadi merah padam
"Hahaha, Ajeng Ajeng jangan naif jadi orang,sebaiknya mulai sekarang lo mulai menghitung mundur detik detik Narendra bakal depak lo dari kehidupannya," jawabku penuh percaya diri
"Kesombongan lo itu bakal musnah kalau lo tahu apa yang baru aja Naren kasih ke gue," Ajeng melangkah mendekat
"Lo mau depak gue dari panthausenya Naren kan, lo buang semua barang-barang gue yang ada disana. Trus dengan begitu lo pikir lo udah menang? nyatanya karna itu Naren justru beliin gue panthouse yang lebih luas dan lebih mewah dari pada Agonda," Ajeng nyengir penuh kemenangan.
aku terdiam sejenak. jadi Naren benar-benar membelikan Ajeng Penthouse.
Aku mengangguk pelan. “Dan lo bangga?”
"jelaslah. dan lo pasti iri kan? "
"Iri? yang waras-waras aja lah. gue justru bangga, karena emang udah sepatutnya kita itu ngasih sumbangan ke orang yang kurang mampu," tawa Maya langsung pecah mendengar ucapanku
"Dan apa tadi, Naren gak ngasih apapun ke gue? lawak banget sih lo. Gue ini istrinya sebanyak apapun yang dia kasih ke lo bakal lebih banyak apa yang gue dapat,"
"Gini deh gue perjelas biar otak dangkal lo nyampek, ibaratnya Naren itu bank, Lo itu nasabah dan gue adalah founder. Semakin banyak Naren ngasih ke lo semakin banyak feedback yang dia dapat dan otomatis gue juga yang pada akhirnya akan menikmati semuanya. sampai sini paham?" jawabku. Maya mengacungkan dua jempolnya untuk ku
Ajeng menyambar minuman dan hendak menyiramku tapi Maya secepat kilat menangkisnya hingga minuman itu berbalik mengenai bajunya
"Sadar diri sadar posisi say, mungkin menurut Narendra lo adalah pacar nya tapi di mata masyarakat Rayna adalah istri sahnya dan lo adalah pelakor. sekali gue viralin, lo bakal abis di bully satu indonesia rayah," ucap Maya
"Lihat aja Gue bakal aduin lo ke Narendra," ucap Ajeng sambil beranjak pergi
"Gue bom apartemen baru lo," teriak Maya sambil terkekeh
plisss dong kk author tambah 1 lagi