NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suara ketukan jari di atas meja kaca itu terdengar nyaring dan tidak sabaran. Dareen terus memutar-mutar kartu di genggamannya dengan gerakan lihai namun kasar, pria itu mengembuskan napas panjang yang sarat akan kekesalan.

Bagaimana tidak? Kartu yang ia dapatkan benar-benar buruk, membuat mood bermain pokernya hilang seketika.

Dareen melirik tumpukan chip seharga jutaan dolar di samping tubuhnya, lalu berdecak sinis.

"Sialan, kartu macam apa ini!" protesnya sembari melemparkan salah satu kartu ke meja dengan gerakan emosional.

Tujuan Dareen datang ke klub malam ini sebenarnya sederhana, hanya ingin menenangkan diri sebab bayangan Afnan yang bersinar di bawah perlindungan Algio terus menghantuinya.

Dareen merasa perlu sebuah ketenangan. Namun, Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya.

Lawan Dareen, Petrus Huboto, seorang direktur perusahaan batangan nikotin itu terkekeh penuh percaya diri, "Hahaha, aku harap kali ini aku bisa mengalahkanmu, Anak Muda." Ujarnya.

Pria setengah abad itu tampak sangat menikmati momen. Petrus sudah sering kehilangan banyak aset karena kalah bermain melawan sang CEO maskapai penerbangan itu. Namun malam ini, angin tampaknya berembus ke arahnya.

Mendengar harapan itu, rahang Dareen mengeras. Bagaimana bisa ia mendapatkan angka seburuk ini?

Bagaimana jika ia kalah dari pria yang sebentar lagi akan memasuki tanah, mau ditaruh di mana muka tampannya?

"Ayo, keluarkan kartu As milikmu, atau mau tak mau kau harus mengambil kartu tambahan lagi, hahaha!" Petrus tertawa mengejek.

"Tua bangka, shut your mouth." Desis Dareen tajam.

Tatapan pria itu kini sedingin es, sanggup membuat siapa pun menciut, namun Petrus terlalu jemawa karena merasa di atas angin. Dareen benar-benar ingin membungkam mulut jahanam itu sekarang juga.

"Sial! Kaparat liang lahat!"

Dareen mencoba mengatur strategi, ia menutup mata sejenak untuk memutar otak, mencoba mengabaikan tawaan Petrus yang penuh ejekan. Kartu di tangannya semakin banyak, sementara Petrus hanya memegang beberapa kartu saja.

"Oh, my goddamn!" Dareen mengumpat tertahan. Ia membuka mata dan melirik ke meja sebelah, tempat Bryan juga sedang berjudi. Melihat wajah sang teman yang tak kalah frustrasi, setidaknya sedikit mengurangi rasa sebal di hatinya.

Jika ia kalah, setidaknya ia tidak malu sendirian.

Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar hebat.

Drttt... Drttt... Drttt...

Fokus Dareen buyar seketika, ia merogoh benda pipih itu dan membaca nama yang tertera di layar.

"Mommy is calling." Gumam Dareen pelan, pria itu menghela napas pendek. Haruskah ia mengangkatnya sekarang atau menyelesaikan permainan sialan ini?

Memijat pelipisnya sejenak, Dareen akhirnya mengangkat tangan, memberikan tanda interupsi.

"Pilihanmu ada dua, jeda permainan ini, atau lanjutkan melawan Jax. Aku harus mengangkat telepon penting."

Petrus mengetuk meja dengan telunjuknya, tampak berpikir, "Jeda saja. Aku ingin melihat kekalahanmu dengan mataku sendiri, bukan kekalahan Jax."

Tanpa membalas, Dareen segera bangkit. Ia meletakkan kartunya dalam posisi tertutup di atas meja dengan kasar, ia harus menghindari kebisingan klub agar bisa mendengar suara sang mommy dengan jelas.

"Sialan tua bangka itu, dia benar-benar ingin melihatku kalah." Gerutu Dareen sembari melangkah cepat menuju private room yang telah ia pesan bersama teman-temannya.

Begitu memasuki ruangan yang lebih tenang itu, Dareen langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa kulit yang empuk. Ia segera menggeser ikon hijau di layar ponselnya, tak ingin membuat sang ibu menunggu lebih lama lagi.

"Dareen! Kamu ini ke mana saja, hah? Mengangkat telepon Mommy saja lamanya bukan main! Apa kamu tidak tahu kalau sekarang suasana di rumahmu sedang kacau?"

Begitu sambungan terhubung, Dareen langsung disuguhkan rentetan omelan yang melengking tajam, secara spontan, ia menjauhkan ponsel dari telinganya, khawatir jika gendang telinganya akan rusak akibat frekuensi suara sang mommy yang sedang berada di puncak emosi.

"I’m so sorry, Mom. Ada apa sebenarnya?" Tanya Dareen dengan hati-hati, ia menyandarkan punggungnya di sofa, mencoba mencari ketenangan yang sedari tadi absen dari harinya.

"Ada apa kamu tanya?! Sekarang kamu pulang, Dareen! Mommy sedang di mansion pribadimu sekarang, dan tebak siapa yang Mommy temukan di sini? Istrimu!"

Dareen memijat pangkal hidungnya perlahan, mencoba menetralisir rasa pening yang seolah meracuni kepalanya.

"Lalu? Dia memang tinggal di sana, bukan?"

"Masalahnya menantu Mommy terus menangis, Dareen! Dia terlihat sangat kacau dan ketakutan karena kamu tidak bisa dihubungi sejak tadi sore. Dia pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu di luar sana!" Suara Mommy-nya melunak, namun sarat akan penekanan.

"Afnan menangis sesenggukan di depan Mommy sampai napasnya tersengal. Kamu ini ke mana saja? Kenapa istrimu sendiri tidak tahu suaminya ada di mana?"

Dareen terdiam sejenak. Bayangan Afnan yang bersinar dan terlihat tangguh bersama Algio di ruang rapat tadi mendadak kontras dengan penggambaran Mommynya tentang Afnan yang sedang menangis di rumah.

"Dia menangis?" gumam Dareen hampir tak terdengar, ada rasa asing yang mencubit dadanya rasa bersalah yang langsung ia tepis.

"Ya! Dan Mommy tidak mau tahu, tinggalkan apa pun yang sedang kamu lakukan sekarang! Leaving your activity and go home right now! Mommy tidak mau melihat menantu Mommy jatuh sakit hanya karena memikirkan suaminya yang tidak tahu diri ini!"

Tut... Tut... Tut...

"Fyuhh." Desah Dareen sembari berdiri dari duduknya, ia segera melangkah kembali menuju meja judi dengan langkah lebar.

Tentu saja Dareen akan memilih untuk bermain poker terlebih dahulu dari pada menuruti perintah sang Mommy yang kurang masuk akal, demi seorang Afnan ia harus meninggalkan permainannya? Tidak mungkin!

Dareen mengangkat tangan sebatas kepala, lalu kembali menduduki kursinya, "Kita lanjutkan permainannya, sekarang."

Lima belas menit berlalu dengan sangat cepat, namun terasa seperti siksaan bagi Dareen. Permainan judi di meja itu akhirnya usai, dan tebak siapa pemenangnya?

Tentu saja Petrus. Kehilangan fokus rasa lelah dan pening, ditambah dengan deretan kartu buruk yang ia pegang, membuat kekalahan menganga lebar di depan mata Dareen.

Petrus bertepuk tangan meriah, lalu dengan rakus meraup chip bernilai jutaan dolar milik lawannya.

 "Sesuai ucapanku, Anak Muda. Kali ini kau yang bertekuk lutut." Ucap Petrus sembari menyunggingkan senyum penuh kebanggaan yang memuakkan.

"Hanya sekali," Ujar Dareen dengan mata menajam sengit, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya, "Jangan terlalu jemawa, karena setelah ini kau yang akan merangkak memohon ampun."

"Baiklah, baiklah kutunggu momen itu, lain kali, jika ingin bertanding denganku lagi, bawa saja segepok dolar yang lebih banyak." Petrus menjawab santai sembari mengantongi chip hasil kemenangannya.

Dareen memutar bola mata jengah, lantas ia segera menyambar jasnya dan berjalan menuju meja Bryan. Telinganya sudah panas bukan kepalang mendengar ejekan Petrus.

"Masih di sini?" tanya Dareen ketus saat mendapati Bryan masih berkutat dengan permainannya.

Mendengar pertanyaan itu, membuat Bryan mendongak, wajahnya terlihat lesu, "Tentu saja, aku belum ingin pulang, jarang sekali aku memasuki club."

"Apa Disya tidak akan memarahimu?" Dareen menatap Bryan mengejek, mengingat bahwa teman sehidup sematinya itu kini menjadi seorang suami takut istri.

Bibir Bryan berdecak, "Jangan membawa nama Disya, atau kepalaku akan benar-benar pecah."

"Baiklah, baiklah. Jika Disya memarahimu, aku tidak ingin ikut campur." Dareen tertawa pelan, cukup kasian pada nasib teman yang tidak sebebas dulu sebelum menikah.

Menutup mata sejenak, Bryan melirik Dareen sebal, pria itu mendengus, "Kaparat! Aku melarikan diri, dia mengunci ruang kerjaku dan mengomel tanpa henti hanya karena aku lupa membawa pulang titipan kuenya."

"Sungguh? Kau takut?'

"Tentu saja! Aku benar-benar akan pingsan jika melihat tatapannya yang julid itu." Bryan mengerang, kembali mengingat sang istri.

Dareen mendengus remeh, sebuah tawa ejekan lolos dari bibirnya, "Lemah sekali, hanya karena urusan kue kau sampai kabur ke club?"

Bryan tidak marah, ia justru menyandarkan punggungnya dan menatap Dareen dengan tatapan penuh arti.

"Jangan terlalu sombong, Dareen. Aku berani bertaruh, besok atau lusa, kau akan merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah." Seru Bryan pelan.

Tentu saja Bryan berkata demikian karena ia sudah berpengalaman, dulu ia mengejek Kendrick sebab pria itu terlalu takut pada Celia, dan sekarang? Lihatlah, pria itu bahkan lebih takut pada Disya, istrinya.

Dareen menyunggingkan senyum miring yang arogan, "Itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak selemah kalian."

Bryan hanya mengangguk-angguk kecil dengan tatapan mengejek yang sangat jelas, "Oh ya? Kita lihat saja nanti."

"Sialan kau," Desis Dareen sinis, "Sebentar lagi Kendrick akan tiba, aku harus pulang terlebih dahulu, jangan membuang terlalu banyak chip dalam keadaan mabuk, Dude."

1
uby
aku mampierr, ayuks kalo berminat mampir juga silahkan gapapa baca yang penting like🥰😘
uby
Bales nan
uby
mokon do wkwk
Maemanah
good job afnan...bikin Daren prustasi thor ...lanjut thor 👍👍👍♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!