Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Pelipur Lara Nana
Sang ayah seolah ingin menampar, tetapi tangan itu tertahan oleh ibu Isna yang langsung menarik pergelangannya.
“Jangan!” bisiknya tajam. “Kita sudah cukup bikin masalah. Jangan tambah lagi.”
Ayah Isna menggertakkan gigi, wajahnya memerah menahan amarah.
“Aku malu punya anak seperti kamu, Isna,” desisnya. “Kalau orang-orang tahu semuanya—”
Isna menatapnya dingin.
“Justru itu. Orang-orang nggak boleh tahu,” potongnya cepat. “Dan satu-satunya cara… cuma ini.”
Belum sempat ayahnya menjawab, suara klakson mobil terdengar dari luar. Tiga kali. Tergesa. Panik.
Semua orang otomatis menoleh.
Tirai jendela tersibak.
Ferdi turun dari mobil. Wajahnya kusut, langkahnya goyah, seolah beban besar menempel di pundaknya. Tangannya menggenggam erat kotak perhiasan Diana, seakan itu satu-satunya pegangan.
Pintu rumah terbuka.
“Assalamu’alaikum,” suara Ferdi terdengar pelan, namun penuh kegelisahan.
Ayah Isna tidak menjawab. Hanya memandang, tajam.
Ibu Isna menarik napas panjang.
“Wa’alaikumsalam… masuk, Pak,” ucapnya akhirnya.
Ferdi melangkah ke dalam. Sekilas, matanya menangkap gaun putih yang menempel di tubuh Isna. Dadanya mencelos.
Semua terasa salah.
Terlalu cepat. Terlalu gelap.
Tapi bayangan video itu kembali melintas. Wajah Diana. Wajah Nana. Desa. Nama baik. Jabatan.
Ia menelan ludah.
“Aku… minta Bapak dan Ibu ikut,” katanya terbata. “Sekarang. Kita ke KUA. Kita selesaikan.”
Isna tersenyum tipis, puas.
Ibunya memejamkan mata, antara jengkel dan iba.
“Pak Fandi,” ucap ayah Isna datar, “Anda yakin? Ini bukan akad biasa. Ini bukan soal malu, atau omongan orang. Ini soal… hidup.”
Ferdi menunduk.
“Aku sudah nggak punya pilihan,” jawabnya lirih.
Isna melangkah mendekat, meraih lengan Ferdi seolah hendak menenangkan — padahal genggamannya menyerupai cengkeraman.
“Sudah, Pak. Jangan pikir panjang,” katanya manis. “Yang penting halal dulu. Setelah itu, semua beres.”
Ayah Isna tertawa pendek — pahit.
“Beres?” ulangnya sinis. “Sejak kapan kejahatan bisa dibereskan hanya dengan akad?”
Isna menatap tajam.
“Pak,” katanya perlahan, suaranya menegang, “kalau Bapak terus ngomong begitu, nanti Bapak sendiri yang menyesal.”
Ibu Isna memegang lengan suaminya, memberi isyarat diam.
“Kita ikut saja,” ujarnya pelan. “Biar jadi saksi. Biar semua jelas.”
Ferdi mengangguk cepat, seakan takut berubah pikiran bila terlalu lama berdiri di sana.
“Ayo sekarang. Sebelum terlambat.”
Mereka berjalan keluar. Isna menyelipkan gaunnya, menaiki mobil dengan wajah yang kembali tenang — seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan apa yang ia kejar.
Di kursi kemudi, tangan Ferdi bergetar. Kotak perhiasan tergeletak di pangkuannya.
_____
Sementara itu di rumah Nana ...
Rumah terasa kosong. Sunyi. Seperti tidak lagi punya jiwa.
Nana duduk di ruang tamu, memegangi lututnya yang masih perih. Kepalanya berat, matanya sembab, pikirannya kusut.
Pintu pagar tiba-tiba diketuk.
Pelan, tapi berulang.
Tok. Tok. Tok.
Nana mengusap pipi, berusaha terlihat biasa, lalu berjalan membuka pintu.
Di sana — berdiri Dimas.
Wajahnya khawatir. Nafasnya sedikit terengah karena terburu-buru.
“Nana…” suaranya lembut. “Aku dengar kabar. Aku langsung ke sini.”
Nana terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis — senyum yang dipaksa.
“Makasih udah datang,” ucapnya pelan.
Dimas masuk. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti di pintu kamar Diana yang masih terbuka. Aroma obat masih terasa sampai ke sana.
“Turut berduka, Na,” katanya lirih. “Aku bener-bener ikut sedih.”
Nana hanya mengangguk.
Beberapa detik hening, sampai akhirnya Dimas menarik napas panjang — seolah mengumpulkan keberanian.
“Nana… aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat,” ucapnya pelan. “Tapi aku nggak sanggup lihat kamu sendirian begini. Ayahmu… pergi entah ke mana. Kamu baru kehilangan Ibu. Dan—”
Dimas menelan ludah.
“Kalau kamu mau… aku siap nikahin kamu. Hari ini nggak harus, kapan pun siapnya. Yang penting kamu nggak sendirian lagi.”
Kata-kata itu membuat Nana membeku.
Bukan karena bahagia.
Bukan juga karena tersinggung.
Lebih karena hatinya terasa semakin berat.
Ia menatap Dimas — mata pria itu jujur. Tidak ada paksaan. Tidak ada kepentingan. Hanya ketulusan.
Namun luka di dada Nana terlalu baru.
“Mas Dimas…” suaranya pelan. “Aku… belum sanggup mikirin soal nikah.”
Dimas langsung menunduk.
“Aku tidak maksud—”
“Aku tahu,” potong Nana lembut. “Mas baik. Mas tulus. Tapi nikah… bukan obat buat semua ini. Aku cuma… butuh ditemenin. Butuh ada orang yang nggak pergi.”
Dimas terdiam.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kalau cuma itu,” katanya pelan, “aku bisa.”
Mereka lalu naik ke balkon — tempat yang biasanya jadi tempat Diana menjemur bunga dan duduk sore-sore.
Senja memerah. Langit perlahan menggelap. Angin lembut menyentuh wajah.
Nana bersandar di kursi rotan.
“Mas…” bisiknya. “Aku takut.”
***
Bersambung...