Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Hangat di Balik Dinginnya Kristal
Badai di Puncak Langit Utara telah mereda, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di tengah hamparan salju yang kini berubah menjadi kuburan kristal, Lin Xia berjuang melawan rasa takut dan kelelahannya sendiri. Di hadapannya, Chen Kai—pemuda yang baru saja membantai pembunuh tingkat tinggi—tergeletak tak berdaya.
"Tuan Chen Kai, kumohon jangan pergi seperti ini," bisik Lin Xia dengan suara parau.
Ia segera membalut tangan Chen Kai yang robek dengan kain sutra medis dan memberikan pil penstabil jantung. Namun, suhu tubuh Chen Kai terus merosot. Teknik terlarang yang digunakannya tadi telah mengubah darahnya menjadi sedingin es kutub.
Tanpa pikir panjang, Lin Xia menarik napas dalam-dalam. Tubuh kecilnya yang biasanya gemetar karena malu, kini dipaksa untuk menjadi kuat. Ia membalikkan tubuh Chen Kai, menarik lengan pemuda itu ke bahunya, dan dengan sekuat tenaga menggendongnya di punggung.
"Ugh..." Lin Xia mengerang. Tubuh Chen Kai jauh lebih berat dari yang ia bayangkan, terutama dengan pedang besar yang masih terikat di punggung pemuda itu.
Setiap langkah adalah perjuangan. Kaki Lin Xia terperosok ke dalam salju setinggi lutut. Angin malam yang menusuk tulang membuat bibirnya membiru, namun ia terus merapalkan mantra penghangat kecil untuk menjaga suhu tubuh Chen Kai di punggungnya.
"Satu langkah lagi... sedikit lagi..." gumamnya berulang kali seperti mantra.
Ia melewati hutan pinus yang gelap, menuruni lereng yang licin, hingga akhirnya cahaya dari gerbang Akademi Kekaisaran Langit terlihat di kejauhan. Saat kakinya menyentuh ubin batu akademi, kesadaran Lin Xia sudah di ambang batas. Namun, ia tidak berhenti hingga ia mencapai paviliun asrama mereka.
Dengan sisa tenaga terakhir, Lin Xia menendang pintu asrama hingga terbuka. Ia membawa Chen Kai masuk ke dalam kamar dan dengan hati-hati membaringkannya di atas tempat tidur yang empuk.
"Hah... hah... syukurlah..." Lin Xia jatuh terduduk di pinggir tempat tidur, napasnya tersengal-sengal. Keringat dingin bercampur dengan lelehan salju di wajahnya.
Ia segera mengambil handuk hangat untuk menyeka darah dan sisa es di wajah Chen Kai. Namun, saat Lin Xia hendak berdiri untuk mengambil air bersih, sebuah tangan yang besar dan dingin tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.
"T-Tuan Chen Kai? Anda sudah bangun?" tanya Lin Xia terkejut.
Mata Chen Kai masih tertutup rapat, namun alisnya bertautan, menunjukkan bahwa ia sedang mengalami mimpi buruk yang hebat atau rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat. Di bawah pengaruh sisa energi Inti Kristal Es, insting terdalam Chen Kai mencari satu-satunya sumber panas yang ada di dekatnya.
Dengan tarikan yang kuat dan mendadak, Chen Kai menarik tubuh Lin Xia ke atas tempat tidur.
"Kyaa!"
Lin Xia terpekik kecil saat tubuhnya jatuh tepat di samping Chen Kai. Sebelum ia sempat beraksi, lengan kuat Chen Kai sudah melingkar di pinggangnya, menariknya masuk ke dalam pelukan yang sangat erat. Chen Kai membenamkan wajahnya di ceruk leher Lin Xia, seolah-olah gadis itu adalah satu-satunya jangkar yang menjaganya tetap hidup di tengah samudra es yang membeku.
"Jangan... pergi..." bisik Chen Kai dengan suara serak yang penuh penderitaan. "Jangan tinggalkan aku sendiri... Ibu... Ayah..."
Lin Xia membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Chen Kai bisa mendengarnya. Wajahnya merah padam, panas menjalar dari pipi hingga ke telinganya. Ini adalah pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan seorang pria, apalagi pria sedingin Chen Kai.
Namun, saat ia merasakan betapa dinginnya kulit Chen Kai dan betapa rapuhnya pemuda itu saat ini, rasa malunya berganti menjadi belas kasihan. Aura mengerikan yang tadi dilihatnya di puncak gunung telah hilang, digantikan oleh seorang anak laki-laki yang hancur karena trauma masa lalu.
"Aku di sini, Tuan Chen Kai," bisik Lin Xia lembut. Ia ragu sejenak, namun akhirnya tangannya bergerak mengusap rambut hitam Chen Kai yang halus. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Lin Xia membiarkan dirinya menjadi "bantal peluk" bagi sang Pendekar Kristal. Rasa hangat dari tubuhnya perlahan-lahan menetralisir energi es yang mengamuk di dalam tubuh Chen Kai. Dalam keheningan malam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya bulan, dua jiwa yang berbeda kasta itu saling berbagi kehangatan di tengah badai kehidupan yang belum usai.
Lin Xia akhirnya ikut terlelap karena kelelahan, masih dalam pelukan erat Chen Kai yang tidak mau melepaskannya seolah-olah gadis itu adalah harta paling berharga miliknya.