Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.
Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.
"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah selesai mengobrol dengan orang tuanya, Arini Wijaya mengambil ponselnya untuk menelepon Arya Wiratama, namun ponsel di tangannya sudah bergetar lebih dulu. Nama "Suamiku" yang tertera di layar begitu mencolok mata. Arini segera mengangkatnya.
Dia ingin mengatakan sesuatu dengan penuh semangat, tetapi mulutnya hanya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara. Dia takut mendengar suara Arya yang menyatakan tidak bisa memaafkannya.
"Halo."
"Sayang, aku di sini."
"Istriku..."
Mendengar Arya memanggilnya istri, Arini segera bertanya: "Sayang, kamu di mana?"
"Aku di kamar 666 Hotel Sunlan, aku menunggumu."
"Baik Sayang, aku segera ke sana!"
Setelah menutup telepon, Arini berlari kencang ke lantai atas, masuk ke ruang pakaian dan mulai memilih baju. Hanya dalam lima menit, Arini sudah berpakaian rapi dan turun ke bawah. Siapa bilang wanita butuh waktu satu jam untuk bersiap? Itu karena mereka tidak dalam keadaan darurat; Arini menyelesaikannya dalam sekejap.
Arini mengganti pakaiannya dengan kebaya modern emas ketat kesukaan Arya, stoking hitam, dan sepatu hak tinggi merah. Bagaikan embusan angin, dia menyerbu keluar rumah. Tepat sebelum dia keluar, Ibu Linawati memanggilnya.
"Bawa Kartu Keluarga-nya!"
"Ah, aku lupa!" Dia berlari kembali mengambil KK, lalu melesat keluar lagi.
Pak Jaya dan Ibu Linawati saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala dengan perasaan lega. Putri mereka benar-benar akan segera menikah. Saat Ibu Linawati sedang terharu, dia tiba-tiba tersadar, "Tunggu, Pak, dari mana Arini dapat baju ganti? Astaga, gadis nakal itu memakai kebaya sutra, sepatu, dan stoking koleksiku!"
Kebaya itu bernilai lebih dari lima ratus juta Rupiah dan merupakan koleksi favorit Ibu Linawati. Pantas saja sang ibu yang biasanya anggun sampai berteriak kesal.
Hotel Sunlan, Presidential Suite 666
Arini tiba di depan pintu dengan napas terengah-engah. Dengan tangan gemetar, dia mengetuk pintu kamar. Saat pintu terbuka, Arini menatap Arya dengan pandangan kosong sejenak, lalu tangisnya pecah sambil menghambur ke pelukan Arya.
"Sayang, aku sangat takut kamu tidak menginginkanku lagi."
Melihat Arini menangis tersedu-sedu, Arya memeluknya erat dan menepuk punggungnya pelan. "Maafkan aku Istriku, ini semua salahku karena telah membuatmu sedih. Aku benar-benar pantas dipukul." Setelah bicara, dia mengangkat tangan dan menampar pipinya sendiri dengan keras. Saat hendak menampar untuk kedua kalinya, Arini segera memegang erat lengannya.
"Sayang, kenapa kamu memukul diri sendiri? Akulah yang pantas dipukul. Seharusnya aku tidak merahasiakannya darimu, tidak seharusnya pergi ke kencan buta itu. Semua ini salahku."
Lalu dia mengelus pipi kanan Arya yang baru saja dipukul dengan lembut, mendongak dan meniupnya pelan. "Sakit tidak, Sayang?"
"Tidak sakit. Rasa sakit di pipi ini tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku melihatmu sedih."
Setelah perasaan Arini stabil, dia menceritakan bagaimana dia dijebak oleh ibunya. Mendengar itu, Arya merasa sangat bersalah. Arini menatap Arya, lalu memberikan kecupan di bibirnya. "Sayang, aku menginginkannya sekarang."
Melihat tatapan mata Arini yang penuh gairah, Arya langsung menggendongnya menuju kamar tidur. Arya membaringkan Arini di atas ranjang. Melihat penampilan Arini yang menggoda dengan kebaya ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, gairah Arya memuncak.
Arini melihat tatapan Arya yang seperti serigala kelaparan, lalu berkata manja: "Sayang, kebaya ini tidak boleh dirobek ya."
Sayangnya sudah terlambat. Arya langsung merobek kebaya tersebut dan menerjang ke arahnya. Keduanya terus "bermesraan" hingga larut malam baru berhenti. Arini bersandar di tubuh Arya sambil berkeringat.
"Sayang, lain kali jangan tidak percaya pada isterimu. Kamu harus tahu, isterimu adalah wanita yang paling mencintaimu di dunia ini."
Arya mengelus rambutnya. "Aku tahu. Mulai sekarang aku tidak akan sembarang cemburu lagi. Jika ada masalah, aku akan bicara baik-baik."
"Sebenarnya saat kamu marah hari ini, aku juga merasa senang. Itu artinya kamu sangat peduli padaku," Arini mencium bibir Arya. "Tapi kamu menyebalkan, sudah kubilang jangan merobek kebayanya, kamu tetap merobeknya."
Arya menepuk bokong Arini dengan gemas. "Salahkan aku? Itu karena kamu telat melarangnya."
Arini merasa ingin menangis tapi tak ada air mata. "Ini adalah kebaya sutra kesukaan ibuku. Karena kamu robek begini, ratusan juta melayang."
"Astaga, mahal sekali?" Arya terkejut.
"Ini pesanan khusus desainer. Bagaimana aku menjelaskannya pada ibuku nanti?"
Selesai makan malam yang dipesan lewat layanan kamar, Arya dan Arini bersandar di sofa.
"Istriku, apakah kamu akan pulang malam ini?"
Arini melihat jam. "Sudah selarut ini, aku tidak pulang. Aku akan telepon orang tuaku dulu." Dia menghubungi Ibu Linawati.
Telepon segera tersambung. "Halo Bu, malam ini aku menemani suamiku, aku tidak pulang."
Tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar dari Ibu Linawati di telepon. "Gadis nakal! Di mana kebaya sutraku? Kalau sampai rusak, jangan harap kamu bisa pulang dengan tenang!"
Arini tersentak kaget dan menatap Arya dengan tatapan memelas. Arya dengan pasrah mengambil alih ponsel Arini. "Ibu, ini Arya."
Begitu suara Arya terdengar, suasana di telepon langsung hening. Panggilan "Ibu" itu membuat hati Linawati merasa sangat nyaman. "Eh, menantuku yang baik. Kalau ada waktu datanglah ke rumah, Ibu akan masakkan gudeg spesial untukmu."
"Baik Bu. Arini tadi agak terburu-buru saat datang sehingga tidak sengaja merobek kebaya Ibu. Beritahu di mana tempat pesannya, nanti aku pesankan yang baru dan lebih bagus untuk Ibu."
"Tidak usah Arya, itu cuma baju. Besok setelah kalian sah, pulanglah ke rumah, Ibu akan buatkan tumpeng untuk merayakannya."
"Baik, Bu."
"Arini itu sejak kecil manja, tolong lebih sabar ya. Kalau dia nakal, bilang sama Ibu."
Arya mengedipkan mata pada Arini, yang membuat Arini kesal dan mencubit pinggang Arya dengan sekuat tenaga.
"Aduh, sakit, sakit!"
"Arini! Apakah kamu sedang menjahili menantuku? Tunggu saja pembalasanku besok!" teriak ibunya di telepon.
"Ibu, aku cuma mencubitnya pelan kok. Dia sengaja, Bu! Bu, apakah aku ini benar-benar putri kandungmu?"
"Ibu sudah bosan melihat wajahmu selama 36 tahun. Mana ada yang lebih baik dari menantuku sekarang. Sudah ya, istirahatlah kalian. Jangan lupa besok pulang."
Arini segera mematikan ponselnya, takut ibunya akan bicara lebih jauh lagi.