Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Sonya duduk dengan tatapan kosong, terpaku pada jalanan yang terbentang melalui kaca mobil. Pikirannya terus melayang, bergulat dengan suara-suara yang menggema di benaknya, suara yang begitu familiar, namun sulit ia pastikan pemiliknya.
Di sisi lain, Intan sibuk menyusun rencana dalam pikirannya. Ia merasa bertanggung jawab atas semua kekacauan yang telah terjadi. Intan tahu ia harus segera mengambil langkah untuk memperbaiki semuanya, agar Sonya tak lagi terjebak dalam bayang-bayang trauma itu.
Keheningan yang menyelimuti mereka mendadak pecah oleh suara kecil yang lembut dan penuh kepolosan. "Bunda, Mama, apa Sasa bikin salah?" tanya Sasa, menoleh bergantian ke arah dua wanita yang kini berada di sisi kanan dan kirinya dengan mata besarnya yang penuh tanya.
Sonya dan Intan tersentak. Mereka saling menatap sebelum menoleh ke arah Sasa. Pertanyaan itu menusuk hati mereka, membawa rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.
"Nggak, sayang," jawab Sonya dengan suara lembut, berusaha menenangkan. "Kamu nggak salah sama sekali. Kamu anak yang sangat baik dan bijak."
"Benar, Sasa," sambung Intan dengan senyuman kecil yang dipaksakan. "Pilihan naik taksi tadi itu ide yang bagus sekali. Kamu selalu membantu Bunda dan Mama, kok."
"Tapi, kalau gitu, kenapa Bunda sama Mama kayak nggak suka?" balas Sasa dengan wajah bingung.
Sonya dan Intan kembali saling melirik. Rasa bersalah semakin menekan mereka. Dalam diam, keduanya sadar bahwa mereka terlalu larut dalam pikiran masing-masing hingga mengabaikan perasaan Sasa. Padahal, di usianya yang baru empat tahun, Sasa sudah sangat peka terhadap emosi di sekitarnya.
Intan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara. "Maaf, Sasa. Bunda sama Mama cuma lagi kepikiran banyak hal. Tapi itu bukan salah kamu, ya. Kita yang salah karena nggak kasih perhatian ke kamu. Mulai sekarang, Mama janji akan lebih mendengarkan dan memperhatikan kamu."
Sonya mengangguk setuju, lalu menggenggam tangan kecil Sasa. "Iya, Sasa. Kamu tahu nggak? Nggak apa-apa kalau kita lagi sedih atau bingung, asalkan kita saling cerita. Kamu juga boleh cerita kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, ya."
Sasa menatap ibunya dengan mata berbinar. "Jadi, kalau Sasa bingung, Sasa boleh tanya Bunda sama Mama?"
"Tentu saja, sayang," jawab Sonya sambil tersenyum, meski hatinya masih terasa berat.
Percakapan itu menghangatkan suasana di dalam mobil. Sonya dan Intan sadar bahwa mereka harus lebih hadir untuk Sasa, memberikan perhatian penuh, terutama saat anak kecil itu mencoba memahami dunia yang terkadang terasa membingungkan baginya.
Mereka mulai berbicara ringan, menanyakan rasa es krim kesukaan Sasa dan mainan apa yang ingin ia beli. Tawa kecil terdengar, mencairkan keheningan yang sebelumnya begitu menekan. Untuk sesaat, beban yang menggantung di hati Sonya dan Intan terasa sedikit lebih ringan.
Namun, tawa itu tiba-tiba terhenti ketika Sasa berkata dengan polos, "Bunda, Mama, kalau nanti Sasa pergi, jangan lupa makan es krim rasa stroberi kesukaan Sasa, ya."
Sonya langsung menoleh cepat, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Sasa, sayang, kenapa bicara seperti itu? Kamu nggak akan kemana-mana," ujarnya dengan suara bergetar, mencoba terdengar tegar.
Sasa menggeleng pelan, menatap kedua ibunya dengan tatapan serius. "Tapi, kata Bunda, Sasa sakit karena Ayah belum datang. Kalau Ayah nggak datang-datang, berarti Sasa nggak bisa sembuh, kan? Kalau Sasa nggak sembuh, nanti Sasa pergi ke langit, ya?"
Intan menutup mulutnya, menahan isakan yang hampir keluar. Sonya menarik napas tajam, lalu meraih tangan kecil Sasa dan menggenggamnya erat.
"Tidak, sayang," ucap Sonya, berusaha terdengar yakin. "Sasa nggak akan pergi ke mana-mana. Mama dan Bunda akan terus ada di sini buat kamu. Dan soal Ayah... sebentar lagi pasti akan datang," lanjutnya, seperti janji yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Intan membelai kepala Sasa dengan lembut. "Sasa kuat, tahu? Sasa anak Bunda dan Mama yang paling hebat. Kita sama-sama berjuang, ya, supaya Sasa cepat sehat. Yuk, kita makan es krim stroberi bareng-bareng, oke?"
Mata Sasa berbinar lagi, meski ada sedikit keraguan yang masih tersisa. "Jadi, Sasa nggak apa-apa? Sasa tetap bisa sehat?"
Sonya dan Intan mengangguk bersamaan. Senyum kecil muncul di wajah Sasa. "Kalau gitu, nanti kita beli es krim," katanya sambil menghitung jarinya. "Kita beli empat es krim rasa stroberi."
Sonya tersenyum lemah, berusaha menyembunyikan perasaan hatinya yang mulai berat lagi. "Empat? Satu lagi buat siapa?" tanyanya lembut.
"Untuk Ayah," jawab Sasa dengan polos, membuat Sonya menelan ludahnya dengan kasar.
***
Di sisi lain, Yudha memasuki rumah dengan langkah berat. Ia langsung menuju ruang kerjanya, melampiaskan rasa frustrasi yang membakar di dadanya. Dengan satu sapuan tangan, barang-barang di atas meja kerja terhempas ke lantai. Napasnya memburu, sementara pandangan matanya dipenuhi amarah.
Siapa lagi kalau bukan Reza penyebabnya. Entah sejak kapan lelaki itu kini seperti musuh bebuyutan untuk Yudha.
"Kamu lihat Sasa lebih menyukaiku. Kalau kamu bermain-main dengan Sonya, aku akan membuat anak itu membencimu seumur hidup."
Kalimat itu terus menggema di benak Yudha, seakan menancap dalam setiap sudut pikirannya. Awalnya, sebelum ia tahu Sasa adalah anak yang diasuh oleh Sonya, Yudha memiliki rencana yang jelas, balas dendam. Tapi semua berubah. Pertemuan dengan Sasa telah mengguncang keyakinannya.
Ada sesuatu yang baru muncul di hatinya, keinginan untuk memiliki semuanya. Sonya, Sasa, keduanya adalah miliknya. Ia tak rela, tak ada sedikit pun kerelaan di hatinya, jika Reza mengambil mereka darinya.
Saat Yudha masih berdiri diam di tengah ruangan berantakan itu, suara langkah tergesa-gesa mendekat. Bayu muncul di ambang pintu, wajahnya dipenuhi keterkejutan.
"Yud, apa yang terjadi di sini? Kenapa ruanganmu jadi berantakan begini?" tanyanya, menatap keadaan di sekitarnya dengan mata membelalak.
Yudha menoleh dengan sorot tajam. Ia tak butuh pertanyaan, apalagi penjelasan. "Aku tidak mau tahu. Cari informasi tentang anak yang diasuh Sonya. Yasya!" suaranya datar tapi penuh tekanan.
Bayu mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksud Yudha. "Ada apa dengan anak itu? Apa ada sesuatu yang perlu aku tahu?" tanyanya hati-hati.
"Bayu!" teriak Yudha, frustasi. Suaranya menggema di ruangan itu, membuat Bayu mundur setengah langkah. "Apa aku harus menjelaskan semuanya padamu dengan detail? Lakukan saja apa yang aku perintahkan, tanpa banyak ingin tahu!"
Bayu terdiam, meski ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Aku beri waktu dua puluh empat jam," lanjut Yudha, nadanya berubah dingin dan berbahaya. "Jika anak buahmu gagal mendapatkan informasi atau melakukan kesalahan sedikit saja, aku tak akan segan-segan membuat mereka kehilangan segalanya. Paham?"
Ancaman itu jelas, seperti pisau yang melayang di udara. Bayu menelan ludah, merasa dingin menyusup ke tulang belakangnya.
"Baik, Yud. Aku akan urus," jawabnya pelan, tahu bahwa bantahan hanya akan memperburuk keadaan.
Setelah Bayu pergi, Yudha menghela napas panjang. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut, mencoba meredakan amarah yang masih membara. Namun, bayangan Sasa dan Sonya kembali menyeruak di pikirannya, membuat hatinya sesak.
"Aku tidak akan kalah darimu, Reza," gumamnya pelan, suaranya penuh tekad. "Mereka hanya akan menjadi milikku, entah sebagai mainan atau sebagai orang yang berharga."
Tanpa sadari, Serly mendengar gumaman itu. Awalnya, ia hanya penasaran setelah mendengar keributan tadi. Namun, kini langkahnya terhenti, terperangkap dalam gumaman Yudha yang begitu gelap. Ia tidak berniat mengintip, tetapi kata-kata itu menyeruak begitu saja, merobek ketenangan yang sempat ia rasakan.