Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 035 : Harga yang Harus Dibayar
Mesin pesawat menderu pelan untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya benar-benar mati di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Setelah belasan jam melintasi benua dan samudera, rombongan Keluarga Gautama akhirnya kembali menapakkan kaki di tanah air.
Lantai bandara yang dingin dan steril itu seolah menjadi saksi bisu atas kerapuhan yang disembunyikan rapat-rapat.
Di dalam bilik toilet yang tertutup, Rachel Gautama mencengkeram pinggiran wastafel dengan tangan gemetar. Tubuhnya mendadak kaku, dan rasa besi yang anyir menyeruak naik dari pangkal tenggorokannya.
Uhuk! Uhuk!
Suara batuk itu diredam oleh telapak tangannya sendiri. Namun, ketika ia menjauhkan tangan, cairan merah pekat sudah memenuhi jemarinya, bahkan terciprat ke porselen wastafel yang putih bersih.
Rachel mengerang kecil, sebuah rintihan pedih yang mengandung amarah sekaligus kepasrahan atas kondisi fisiknya yang kian ringkih.
"Sial..." umpatnya lirih, suaranya parau.
"Kenapa harus sekarang?"
Ia segera menyalakan keran, membiarkan air mengalir deras untuk menghanyutkan noda merah kental itu.
Dengan sisa tenaga, ia membersihkan bibirnya dan merapikan kembali syal yang melilit lehernya. Ia mematut diri di cermin; wajahnya tidak lagi sekadar pucat, tapi sudah serupa kertas yang tak berdarah.
Saat pintu bilik itu berderit terbuka dan Rachel mendorong kursi rodanya keluar, ia membeku.
Di depan pintu toilet, Melissa berdiri mematung. Wajah sahabatnya itu pucat pasi, matanya membelalak dengan genangan air mata.
Melissa telah mendengar semuanya—suara batuk yang menyiksa dan erangan kesakitan yang tak sanggup Rachel sembunyikan sepenuhnya.
"Hel..." suara Melissa tercekat.
Rachel hanya menatapnya datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa berdiri di situ? Menghalangi jalan saja," cetus Rachel dengan nada 'jual mahal' yang menjadi tamengnya.
"Jangan sok kuat, Hel! Aku dengar semuanya! Kamu batuk darah lagi, kan?" Melissa mencoba mendekat, namun Rachel memutar kursi rodanya menjauh.
"Cuma kecapekan, Sa. Jangan lebay. Ayo ke depan, yang lain sudah menunggu," jawab Rachel dingin.
Di area tunggu, Melissa kembali mencoba mendekati Rachel saat pasangan mereka, Adio dan Peterson, sedang berada di kamar mandi. Melissa mendorong kursi roda Rachel ke sudut yang sedikit lebih sepi.
"Hel, aku masih kepo sama kamu yang akhir-akhir ini sering batuk darah sama mimisan? Itu kenapa? Aku mau tahu!" tanya Melissa mendesak.
Rachel tersentak, namun ia teringat mandat para leluhur untuk tetap diam.
"Ya, namanya manusia punya batas, Sa!" jawab Rachel, bola matanya teralih cepat menghindari tatapan Melissa.
Melissa menghela napas, ia tiba-tiba memeluk Rachel dari belakang secara emosional.
"Jangan mati terlalu cepat! Banyak orang yang mencintaimu di sini! Jika boleh, aku mau kamu merelakan kekuatanmu saja! Jangan nyawamu! Kamu lebih berharga daripada itu, Rachel!" tutur Melissa dengan suara bergetar.
"Lepas!" ujar Rachel tegas.
Melissa melepaskan pelukannya dengan kecewa.
"Semua orang di sini sebentar lagi pasti bakalan menempuh kehidupan baru. Aku harap, kamu..."
"Kamu kenapa emosional gini?" sela Rachel malas. Beruntung, Adio dan Peterson segera keluar dari kamar mandi, memutus ketegangan itu.
Waktu mulai berjalan. Gautama Family sudah berada di sebuah penginapan yang mereka sewa untuk beberapa hari ke dapan.
Suasana penginapan setelah kepulangan mereka terasa sunyi. Rachel duduk di kursi rodanya di balkon kamar, menatap kegelapan malam.
Wajahnya sangat pucat, bahkan tampak lebih dingin dari udara malam itu. Adio sedang memeriksa kondisinya dengan saksama.
"Sayang, kamu kenapa? Sejak keluar dari dalam pesawat itu, wajahmu pucat sekali!" tutur Adio.
Ia memeriksa denyut nadi dan catatan medis sederhana yang ia bawa, namun tidak menemukan pertanda apa pun. Rachel tidak panas, namun tubuhnya terasa sangat dingin.
"Kedinginan! Biasa! Ah, aku mau istirahat boleh?" jawab Rachel mencoba mengakhiri pemeriksaan itu.
Adio menghela napas khawatir, namun ia tetap membantu Rachel berbaring di ranjang dengan sangat hati-hati.
Ia memberikan satu ciuman lembut di puncak kepala Rachel sebelum beranjak pergi. Di ambang pintu, ia melihat Cak Dika yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Aku mau ngomong sama Rachel, bentar!" ujar Cak Dika meminta izin pada Adio.
"Kenapa harus ijin aku? Dia adik sepupumu!" jawab Adio lalu pergi meninggalkan mereka.
Cak Dika masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Ia perlahan menghampiri Rachel yang duduk bersandar di ranjang, memperhatikan setiap langkah kakak sepupunya itu dengan waspada.
"Apa?" tanya Rachel singkat.
Cak Dika duduk di sisi batas ranjang Rachel, menatapnya dengan lekat dan serius.
"Apa yang sudah kamu dapatkan setelah menyelamatkan adik kandungmu? Di alam sana, apa yang para leluhur berikan ke kamu?" tanya Cak Dika.
Deg.
Pertanyaan itu menghantam jantung Rachel. Urusan di "alam sebelah" saat itu adalah rahasia antara dirinya dan ketiga leluhurnya.
"Diammu ini, sama seperti dua leluhur kita sebelum mati!" tutur Cak Dika lagi, suaranya merendah namun tajam.
"Maksudmu opo?" tanya Rachel kali ini dengan nada defensif.
(Maksud kamu apa?)
"Hel, semakin besar yang kamu dapatkan, semakin rusak fisikmu. Kita memang istimewa, tapi tubuh kita punya kapasitas. Alam sebelah akan memakan waktumu lebih cepat jika kamu meminta lebih! Jadi, tolong, katakan! Apa yang kamu miliki setelah kejadian itu?" tanya Cak Dika mendesak.
Rachel hanya tersenyum tipis. Ia meraih telapak tangan besar Cak Dika dan menggenggamnya.
Detik itu juga, sebuah penglihatan masa lalu melintas; Rachel melihat kilas balik yang cukup menyesakkan hatinya.
Cak Dika berjalan menangis sambil memikul sesuatu di bahunya. Setelah melihatnya cukup jelas apa yang sedang dipikul sepupunya itu, Rachel tersenyum.
"Terima kasih, sudah jadi orang yang paling bisa diandalkan, Cak! Aku capek, aku mau istirahat," tutur Rachel melepaskan genggaman tangannya lalu menarik selimut untuk tidur. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Cak Dika.
Cak Dika berdiri dengan perasaan kesal yang memuncak. Ia menatap Rachel yang sudah terbungkus selimut.
"Yang aku tahu, Hel! Seluruh keturunan yang menjadi maskot dan memiliki Nyai Ratu akan berakhir sama jika kamu tidak mendengarkan mereka. Tapi, pemilik jimat tertinggi selalu ditempatkan dalam situasi sulit. Aku berharap sekali, kamu menghargai segala cinta yang diberikan seluruh orang pada kamu. Jangan buat mereka kecewa!" tutur Cak Dika sebelum keluar dari kamar.
Setelah malam itu, Rachel Gautama kembali hibernasi selama dua minggu lamanya. Ia hanya berbaring di tempat tidur, memulihkan tenaganya yang terkuras habis.
Hingga suatu sore, Adio membawakannya secangkir kopi hangat. Rachel menyesap kopi itu sambil membuka sebuah koran internasional.
Matanya terpaku pada sebuah berita besar:
"THE BLACKWOOD MASSACRE: SHERIFF MONTANA TAWARKAN IMBALAN JUTAAN DOLLAR BAGI PEMECAH KASUS 12 PENDAKI YANG TEWAS SECARA MISTERIUS DI TENGAH BADAI."
Laporan itu menyebutkan bahwa 12 pendaki ditemukan tewas dengan tubuh utuh, namun secara mengerikan, seluruh tulang di dalam tubuh mereka hilang tanpa ada bekas luka sayatan.
Di lokasi kejadian, tercium aroma melati kering yang menyengat—sebuah aroma yang sangat dikenal oleh Rachel.
Rachel menutup koran itu, matanya berkilat tajam.
"Yo, hibernasiku sudah selesai. Siapkan paspormu. Kita ke Amerika. Ajak semua orang!" ujarnya.
Saat itu, Audio hanya mampu menghela nafas saja atas apa yang Rachel katakan.
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
merinding bayangin kematian toby 🥺
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
Tami kan bener dia random banget