Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—20
"Buma, Ibu nanyain kamu, kapan kamu bisa pulang?" Zelie membaringkan tubuhnya, sembari menarik selimut, lalu menatap Bumantara yang sudah ingin keluar dari kamar nya.
Bumantara menengok, "Tidak untuk sekarang, Mbak. Karena aku harus mencari tau tentang keinginan Mbak."
Zelie berdecak, sambil melempar bantal yang tak sampai. "Kenapa? Kamu enggak iklas bantuin Mbak!"
Bumantara mengangkat kedua bahunya, "Membuang waktu," jawabnya santai, seraya keluar dari kamar Zelie dengan cepat, sebelum ia terkena serangan lagi.
"BUMANTARA!!!" teriak nyaring itu masih bisa di dengar Bumantara sebelum ia menutup pintu kamar. Untuk masalah Zelie tidak mungkin tidak ia bantu, sudah jelas pasti ia akan mencari tau tentang perempuan yang sedang bersama kekasih kakak nya.
*****
"Bagaimana kesiapannya?" Bumantara menaiki mobil nya, dengan ponsel yang menempel di telinga nya.
"Aris bilang, dia sudah lebih dari siap Bos," jawab orang dari balik telpon Bumantara yang masih tersambung.
"Saya akan ke sana," jawab Bumantara sebelum mematikan sambungan telepon itu, dia mulai menjalankan mobil nya keluar dari basement parkiran apartemen.
Getaran notifikasi di ponsel nya, kembali mengalih kan perhatian Bumantara yang sedang serius menyetir.
"Brio." Pesan yang saat ini sedang mengabarkan Arumi yang keluar malam-malam dari kontrakan. Secepat itu juga Bumantara menelepon nomor Brio.
"Hallo, Mas."
"Ikuti dia, Brio. Sebelum Ares yang akan menyusul ke sana," seru Bumantara memerintah, ia hanya tidak ingin pria brengsek itu bertemu dengan Arumi, meski pria brengsek itu masih di rawat di rumah sakit sekalipun.
"Baik, Mas. Ini aku juga lagi di jalan mengikuti Mbak Arumi."
"Bagus. Jangan sampai kau kehilangan jejak nya. Ares akan menyusul kesana," ucap Bumantara, yang memutuskan sambungan secara sepihak, lalu kembali menelpon Ares yang sebenar nya ingin ia ikuti serta dalam pembalasan dendam Aris — tapi Arumi lebih penting, jadi Ares emang lebih cocok untuk menjaga Arumi.
Selesai mengabari Ares yang setuju, Bumantara kembali melanjutkan perjalanan nya ke tempat yang ia tuju.
🌹🌹🌹
Arumi mendesah lelah saat merasakan perut nya memberontak ingin di isi, ia meletakan buku dan menengadah menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh lebih, mungkin jika ia keluar untuk mencari makan sepertinya masih sempat.
Dengan terpaksa Arumi bangkit dari duduknya, mengambil jaket yang tergantung berserta dompetnya, ia hanya akan berjalan kaki untuk sampai ke depan gang sana — selepas mengunci kontrakan nya, Arumi menengok kearah pintu kontrakan Elena yang juga terbuka bersama orangnya yang sudah terlihat rapi.
"Mau kemana, Mbak Arumi?"
Pertanyaan itu membuat Arumi kembali menengok kebelakang, mengerutkan kening saat melihat Brio yang tersenyum lucu dengan mata hampir tak terlihat.
"Mau keluar, Brio. Cari makan," jawab Arumi, seraya membalas senyuman Brio yang sudah bertanya.
"Aku enggak kamu tanya, bang Bri!" sela Elena berjalan mendekat dengan kedipan matanya mengarah ke arah Brio yang langsung bergidik jijik.
Arumi terkekeh melihat itu, ia tau jika Elena sering iseng mengerjai pemuda itu, apa lagi dengan ekspresi nya yang lucu.
"Ngapain nanya kamu, Mbak. Enggak baget."
"Ya, sudah jangan marah-marah gitu. Pipi putih mu semakin terlihat merona nanti," balas Elena terkikik.
"Arumi, tadi sore aku lihat mobil parkir disitu, terus orang di dalam lama sekali turun nya. Ingin ku ketuk pintu mobil nya, tapi aku lagi mendesah, jadi aku hiraukan aja. Kira-kira siapa yah, Arumi? Apa penguntit mu, Arumi?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Arumi tersedak ludahnya, tersenyum kikuk seraya menatap kearah Brio yang menaik alisnya, seakan-akan menunggu jawaban dari nya.
"Oh itu... aku juga enggak tau, soalnya aku belum pulang dari sekolah," jawab Arumi meringis, ia sengaja berbohong untuk tak membuat banyak berita di kalangan kontrakan, dan aneh nya Elena percaya — padahal saat itu Bumantara lama sekali di dalam kontrakan nya, apa lagi saat Bumantara keluar dari kontrakan nya terus masuk ke dalam mobilnya.
Apa sama sekali tidak Elena lihat kah, pria itu?
"Emang kamu kemana, Mbak?"
"Aku? Ihhh... suka banget aku kalo kamu perhatian, Bang Bri. Malam ini aku mau cari pelanggan. Maaf yah, Bang Bri. Aku harus kerja soalnya," jawaban aneh itu membuat Brio ingin muntah.
"Apaan sih, enggak jelas banget, Mbak Elena ini," gerutuan kesal itu malah membuat kedua perempuan di depan nya tertawa.
Dan saat Brio ingin melangkahkan kaki nya pergi karena malu, menjadi terhenti saat mengingat Arumi yang ingin pergi.
Dia jadi ingat pekerjaan nya dengan anak remaja yang lebih muda sedikit darinya itu.
"Mbak Arumi, ayo sekalian kita jalan ke depan sana. Aku juga lagi sedang cari makanan nih," ajak Brio sekalian, dari pada ia jadi penguntit, lebih baik ia berjalan seiringan.
Lalu menelpon Bumantara, dengan ia yang mengikuti Arumi, pasti akan terdengar keren, meski sebenarnya ia pergi bersama.
Arumi mengangguk, "Ayo..."
"Tunggu...! Aku juga mau ikut, sekalian aja kita ke depan," seru Elena, bergegas turun dari terasnya mengikuti Arumi dan Brio yang sudah ingin jalan.
"Terus cowok kamu gimana, Mbak? Nanti dia gedor-gedor pintu kontrakan Mbak," tanya Brio seiring dengan langkah kaki mereka, bahkan dia sudah melancarkan aksinya untuk memberikan kabar kepada Bumantara.
"Yah, tinggal ku suruh jemput di depan. Sekalian minta traktir makan," kata Elena terkekeh. "Arumi, kok aku enggak pernah lihat Mas Dipta lagi yah?" tanya Elena lagi, sambil menatap Arumi di sebelah nya.
"Udah lama putus, Mbak," jawaban singkat itu menjadi obrolan terakhir Elena bertanya.
🌹🌹🌹
Bumantara menatap ketiga pria itu, yang saat ini sedang mencari alat tempurnya, karena terlalu lama membuat Bumantara menghela napas dengan berat.
"Apa yang membuat kalian lambat bergerak? Kapan kalian akan bergerak?" tanya Bumantara, sambil menghembuskan asap rokok yang baru saja ia hisap.
"Sebenar nya, kami sedang menunggu Kenzo, yang belum datang itu," jawab Axel sambil menggaruk belakang kepalanya.
Bumantara kembali menghembuskan napas panjang, "Kenzo sudah ada di sana bersama dengan Sean. Bahkan yang belum berangkat hanya kalian bertiga, dan sekarang malah menahan saya di sini."
Ketiga pria itu meringis, cengengesan, seraya berdiri tegak. "Kalo gitu... ayo kita berangkat Bos! Semua yang kami butuh kan sudah tersedia. Oo ya bos, dalam misi ini, ada berapa anggota kita, bos Buma?" tanya Axel lagi.
Bumantara berdiri dari duduk nya, sembari membuang potong rokok dan menginjaknya, "10. Saya rasa itu sudah cukup."
"10? Serius bos! Kok... sedikit," seru Virgo dengan mata yang terbelalak kaget.
Bumantara mendesah panjang, "Saya rasa kekuatan kalian bertiga saja sudah cukup untuk menumbang geng itu. Apa lagi saat ini mereka sedang di club' malam, yang sudah pasti banyak minum, dan membuat mereka lengah."
Ini ide Axel yang ingin menyerang geng itu, dalam keadaan yang mungkin tidak seimbang, itu menurut nya, karena mereka pasti sedang menghabiskan banyak minum yang memabukkan.
——
——
——
Bersambung...