Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Uruskan Surat Ceraiku
Pertanyaan itu menghantam Arkan seperti godam. Ia tidak menyangka di tengah kebingungannya, Maya justru menanyakan hal yang begitu murni. Arkan berlutut kembali, kali ini tanpa paksaan, tanpa sisi posesif.
"Iya, May. Aku sendiri yang memastikan pemakamannya. Dia dikuburkan di tempat yang tenang, penuh bunga,” jawab Arkan lembut, tangannya perlahan mengusap punggung tangan Maya yang masih memegang jarinya. “Dia pergi dengan tenang, May.”
“Di manakah tempat yang layak itu, Pak Dokter?” tanya Maya dengan suara yang nyaris hilang. Matanya yang sembab menatap lurus ke dalam netra dr. Arkan, mencari kejujuran di sana. Air mata mulai menggenang kembali, siap untuk tumpah.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Maya sudah tahu. Rian dan mertuanya pasti membuang bayinya ke tempat asal-asalan tanpa nisan yang jelas karena mereka menganggap bayi itu sebagai aib dan beban.
Dr. Arkan tertegun, ia bisa merasakan keputusasaan yang memancar dari tubuh mungil itu. Meski ponselnya terus bergetar menunjukkan keadaan darurat di rumah, ia tidak bisa mengabaikan Maya. Ia mengelus sebelah bahu Maya dengan gerakan yang sangat lembut, mencoba menyalurkan kekuatan.
“Berkumpul dengan anak-anak lainnya, Maya. Tempat itu sangat indah, banyak pepohonan, dan cukup tenang. Aku sendiri yang memilihkan tempatnya agar dia tidak sendirian,” jawab Arkan dengan nada baritone yang menenangkan.
Maya memejamkan mata erat-erat. Air matanya jatuh dengan deras, mengalir melewati pipi pucatnya dan jatuh membasahi bajunya yang sudah lembap oleh air susu. Jawaban Arkan adalah konfirmasi atas kebohongan suaminya yang kemarin mengatakan bayi mereka sudah “diurus dengan layak”. Ternyata, itu semua kebohongan publik, dan hanya dokter asing inilah yang peduli pada kehormatan terakhir anaknya.
“May, aku benar-benar harus pergi. Urusan di rumah sudah tidak bisa menunggu,” ucap Arkan penuh penyesalan. Ia hendak melangkah pergi, namun ia merasakan tarikan kuat pada ujung jubah putihnya.
Sret! Maya mencengkeram kain jubah itu begitu erat hingga jemarinya memutih. “Pak Dokter…”
Arkan berhenti, tubuhnya menegang.
“Izinkan aku menebus kesalahanku,” bisik Maya sambil menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang hancur. Genggaman pada jubah Arkan semakin erat, seolah-olah jubah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya. “Izinkan aku merasakan bagaimana menjadi ibu yang sesungguhnya. Aku sudah gagal menjaganya saat di dalam kandungan…dan aku tidak ingin melihat orang tua lainnya gagal melihat tumbuh kembang bayinya hanya karena kekurangan asupan.”
Suasana ruangan itu mendadak hening. Hanya terdengar detak jarum jam dan deru napas Arkan yang tertahan. Arkan membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap Maya yang masih menunduk dengan bahu yang bergetar.
“May, kamu… kamu serius mau membantuku?” tanya Arkan memastikan. Suaranya terdengar tidak percaya, sekaligus lega yang luar biasa. “Ini bukan karena paksaan, kan?”
Maya perlahan mendongak, matanya yang basah menatap Arkan dengan tekad yang baru. Ia mengangguk pelan namun pasti. “Aku ingin putra Anda hidup. Setidaknya, biarkan air susu ini berguna untuk nyawa yang masih ada.”
Arkan menarik napas dalam, rasa syukur yang luar biasa memenuhi dadanya. Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Maya yang masih memegang jubahnya.
“Terima kasih, Maya. Terima kasih banyak. Aku janji, aku akan menjagamu sebaik aku menjaga putraku.”
“Bisakah aku meminta satu hal?” pinta Maya dengan nada suara yang lebih stabil, namun penuh dengan kepahitan.
Arkan langsung mengangguk tanpa ragu. “Apa pun, May. Katakan saja.”
“Tolong uruskan surat ceraiku dengan suamiku, Rian. Dan bawa aku pergi dari sini,” ucap Maya lirih namun tegas.
Arkan terbelalak. Ia tidak menyangka permintaan itu akan keluar secepat ini. “May, apa kamu serius? Cerai bukan perkara kecil.”
Maya mengangguk pelan, tatapannya kosong menembus dinding ruangan. “Sudah tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan di sana, Dok. Bisakah Anda membawaku pergi hari ini juga? Aku mulai lelah mendengar dan melihat semuanya.”
Dr. Arkan perlahan berdiri di hadapan Maya. “May, bertahanlah satu hari lagi. Bukannya aku tidak mau membawamu sekarang, tapi aku tidak bisa melanggar prosedur kepulanganmu demi kebaikan kesehatanmu sendiri. Jahitanmu masih baru. Bertahanlah satu hari, dan setelah itu aku janji akan membawamu pergi jauh dari mereka.”
Maya terdiam sejenak, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah. Jadi, kapan aku bisa memberikan ASI-ku?”
“Sekarang!” jawab Arkan dengan binar harapan di matanya. “Aku akan mengambil kantong penyimpanan ASI dan pompa manual. Kamu tunggulah di dalam sini, jangan ke mana-mana.”
Arkan segera berlari keluar ruangan dengan terburu-buru, semangatnya bangkit demi Leon. Namun, hanya beberapa detik setelah kepergian Arkan, bulu kuduk Maya meremang. Telinganya menangkap suara langkah kaki yang sangat ia kenali di lorong, langkah kaki yang berat dan ceroboh.
Bola mata Maya membesar. Ketakutan hebat menyerangnya seolah ia sedang melihat hantu. Tanpa pikir panjang, ia memutar roda kursi rodanya mundur ke belakang dengan panik. Ia tahu jika Rian menemukannya di sini, pria itu akan menyeretnya kembali ke neraka yang sama.
Ceklek! Pintu ruangan terbuka lebar.
Rian melangkah masuk dengan wajah kesal. “Loh, kata mereka Maya dibawa perawat ke sini untuk ganti perban. Tapi kok kosong?” Rian mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang tampak sunyi. “Hanya ada kursi roda di sini.”
Rian mendengus, berkacak pinggang di tengah ruangan dr. Arkan. “Mungkin gadis bodoh itu sudah kembali sendiri ke bangsal.” Tanpa rasa curiga sedikit pun, Rian berbalik dan keluar dari ruangan, membanting pintu dengan kasar.
Di sudut ruangan, di dalam sebuah lemari besi penyimpanan buku medis yang besar, Maya meringkuk. Beruntung tubuhnya yang kecil dan kurus akibat kurang nutrisi membuatnya muat bersembunyi di rak paling bawah yang pintunya sedikit terbuka.
Maya gemetar hebat. Kedua tangannya menutup mulutnya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Air mata ketakutan mengalir deras, membasahi telapak tangannya. Ia menahan napas, berdoa agar detak jantungnya yang berpacu kencang tidak terdengar sampai ke luar.
Di lorong persimpangan yang sibuk, langkah dr. Arkan terhenti mendadak. Matanya yang tajam menangkap sosok pria dengan kaos kusam dan gaya berjalan yang serampangan baru saja menjauh dari pintu ruangannya.
“Rian?” gumam Arkan dengan rahang mengeras.
Pria itu melihat punggung Rian berbelok ke arah lorong menuju rawat inap kelas tiga, tempat Maya seharusnya berada. Firasat buruk langsung menghantam dada Arkan. Ia teringat Maya yang ia tinggalkan sendirian di ruangannya. Tanpa membuang waktu, Arkan berbalik dan berlari kecil menuju ruangannya.
BRAAK!
Arkan membuka pintu dengan kasar hingga menghantam dinding. Napasnya memburu, matanya menyapu seluruh sudut ruangan dengan panik. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat ruangan itu sunyi. Kursi roda yang tadi diduduki Maya masih di sana, namun kosong melompong.
“Maya…” gumam Arkan lemas.
Kantong ASI dan pompa manual yang ia bawa terjatuh begitu saja ke atas meja kerja. Pikirannya kalut, ia yakin Maya pasti melarikan diri karena ketakutan melihat Rian, atau lebih buruk lagi, Rian telah menemukannya dan menyeretnya pergi melalui pintu lain.
Arkan hendak berbalik untuk mengejar, namun langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara isak tangis yang tertahan, sebuah rintihan kecil yang sangat halus dari pojok ruangan.
Ia memutar tubuhnya, mengikuti sumber suara yang berasal dari balik lemari besi penyimpanan buku medis. Arkan melangkah mendekat dengan hati-hati, dan di sana, di rak paling bawah yang sempit, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya.
“Maya,” gumam Arkan, suaranya kini melunak, penuh dengan rasa bersalah.
Maya meringkuk seperti bola di dalam sana. Wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat ketakutan, kedua tangannya masih menutup mulutnya rapat-rapat, dan matanya membelalak lebar dengan air mata yang terus mengucur deras. Tubuhnya gemetar hebat, saking hebatnya hingga terdengar bunyi gesekan antara bahunya dengan dinding besi lemari.
Melihat dr. Arkan, Maya tidak langsung tenang. Ia justru semakin memundurkan tubuhnya ke sudut lemari yang paling gelap, seolah-olah ia ingin menghilang ditelan bumi.
“Pergi, tolong jangan biarkan dia membawaku,” bisik Maya dengan suara yang pecah dan terbata-bata di balik tangannya.
Melihat ketakutan yang begitu nyata, sisi posesif dan protektif Arkan meledak seketika. Ia tidak peduli lagi dengan aturan rumah sakit atau prosedur medis saat ini. Yang ia tahu, gadis ini adalah miliknya, ibu susu dari putranya dan tidak ada satu pun, termasuk suaminya sendiri, yang boleh menyakitinya lagi.
Arkan berlutut di depan lemari, menutup akses pandangan dari luar pintu dengan tubuh tegapnya. “Dia sudah pergi, May. Aku di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu selama kamu ada di ruanganku,” ucap Arkan dengan suara rendah yang sangat tegas, namun menenangkan.
Ia mengulurkan tangannya yang besar, perlahan-laan mencoba menyentuh jemari Maya yang gemetar. “Keluar dari sana, May. Tempat itu dingin. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu mendekatimu lagi. Aku janji.”
...❌ Bersambung ❌...