NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Dering telepon terdengar pelan di nakas, hampir tak terdengar jika seseorang terlelap begitu dalam. Seakan dia sendiri ragu, pantaskah membangunkan seseorang di jam segini? Bukankah terlalu pagi?

Cyan membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar tersadar dari mimpi yang belum selesai. Gadis itu mendesah kesal, tapi ya sudahlah. Mau tidak mau ia terjaga karena alarmnya berbunyi sejak tadi.

Ia memandang jendela luar. Ruangan yang masih gelap dengan aroma khas AC itu membuat pandangannya terbatas. Hanya cahaya lampu kota yang merembes masuk lewat celah tipis tirai. Di nakas tadi, angka-angka berkedip, memantulkan cahaya biru terang di lantai kamarnya.

Ternyata masih pukul tiga lebih dua menit, waktu yang seharusnya masih digunakan orang-orang untuk beristirahat.

Cyan berkedip dua kali, berusaha memastikan apakah penglihatannya sudah sepenuhnya sadar atau masih terjebak sisa mimpi tadi malam. Namun, ponsel itu tetap berdering di atas nakas. Layarnya menyala, memantulkan cahaya pucat ke wajahnya, menampilkan satu nama.

[Magenta.]

Cyan langsung duduk, mengusap wajahnya sebelum menatap sekali lagi ke layar benda pipih itu.

“HAH?”

Seruan itu lolos begitu saja, tapi dia buru-buru menutup mulutnya sendiri. Dadanya naik turun saat ia menarik napas cepat. Ia meraih ponsel itu dan mengangkatnya sedikit menjauh dari wajahnya.

Ia tak berani menyentuh lebih jauh. Sebelum akhirnya getaran itu kembali terdengar, kini lebih nyaring dan seolah memaksa Cyan segera mengangkat teleponnya. Tanpa pikir panjang, Cyan menekan tombol angkat, mendekatkan ke telinga.

“H-halo?” jawab Cyan dengan nada suara turun satu oktaf. Maklum karena baru bangun, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.

Di seberang sana juga hening sebentar, seolah Magenta juga sedang menyesuaikan diri dengan pagi yang terlalu dini. Namun, Cyan tetap menyadari ada napas berat di sana, seseorang yang baru bangun juga.

“Halo sayang. Kamu udah bangun?” tanya Magenta.

Cyan mengerjap, lalu menghela napas kecil sebelum menjawab.

“Tadi belum, karna kamu telpon jadi udah,” jawab Cyan jujur.

Ada jeda singkat yang tercipta. Cyan terdiam sesaat, lalu mencari posisi nyaman di ujung kasur sambil menunggu kesadarannya benar-benar penuh.

“Hehehe, bagus dong,” kata Magenta akhirnya. Cyan menggeser tubuhnya, menyandarkan punggung ke kepala ranjang.

“Kenapa emangnya? Masih jam tiga, lho Gen,” tanya Cyan agak kesal.

“Ini sahur pertama. Aku tuh cuma mau mastiin kamu nggak terlambat bangun,” jawab Magenta tersenyum tipis.

Cyan terkekeh gemas mendengarnya. Entah mengapa, suara Magenta yang serak-serak basah itu terdengar lucu baginya. Lebih terkesan dewasa dan sangat mendominasi hubungan mereka.

“Kamu sok-sokan mastiin aku. Padahal kamu sendiri jelas baru bangun juga,” sindir Cyan membuang pandang ke sembarang arah.

“Enggak, Syan. Aku udah bangun dari tadi.” Magenta membantah cepat, tetapi suaranya tidak menaikturun.

“Bohong. Itu suaramu masih kedengeran serak banget,” pungkas Cyan menahan tawanya.

“Ketahuan, ya? Hehe.” Magenta menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, lengkap dengan senyum kudanya. Cengengesan.

Ah, gagal sudah, memang tidak bakat membohongi seorang Cyan.

“Banget. Curiga alarmnya dibuang tuh karena jengkel dibangunin paksa,” ujar Cyan lagi.

“Halah. Gini-gini aku juga punya niat baik, lho,” ucap Magenta mendengkus kesal.

“Iya, iya. Niat baik, tapi ‘kan lucu aja. Telepon jam tiga pagi cuma buat ngecek aku udah bangun atau belum.”

“Biar kamu nggak kesiangan. Repot nanti Ibumu harus bangunin.”

“Perhatian amat, curiga mau minta sesuatu kan?”

“Yeehhh enggak, namanya juga sahur pertama. Hari pertama tuh harus semangat, Syan. Anak kecil aja di hari pertama sahur bangunnya jam satu pagi buat mukul bedug keliling kampung.”

Cyan membekap mulut menahan tawanya mendengar jawaban Magenta. Ada benarnya juga, hari pertama puasa memang selalu terasa seperti itu. Semangatnya masih utuh, belum terkikis kantuk atau lapar, mirip anak kecil yang bangun sahur dengan mata setengah terpejam, tapi sangat antusias.

Di seberang sana, Magenta terdengar menarik napas panjang, seolah berusaha menahan sesuatu. Ada jeda singkat sebelum akhirnya terdengar suara menguap yang dipaksa berhenti di sana.

“Kalau nguap tuh jangan ditahan Gen,” komentar Cyan.

“Kenapa?”

“Kelihatan menderita banget," jawab Cyan mengejek.

“Kamu sekarang ngatur-ngatur, ya. Mentang-mentang udah jadi pacar pura-pura.”

“Ih, enggak ngatur. Pengalaman aja.”

“Pengalaman apaan sayang?"

“Pengalaman sesama orang yang masih ngantuk.”

Magenta sontak tertawa mendengar jawaban asbun dari Cyan. Gurauan yang terkesan ringan, tetapi mampu membuat keduanya bangkit dari rasa kantuk menyebalkan itu.

Magenta menguap lagi, kali ini lebih panjang. Dari suaranya saja, Cyan sudah bisa membayangkan. Rambut yang pasti sedikit berantakan, mata setengah terbuka, juga wajah yang masih kusut karena sisa tidur. Apakah ia lupa bahwa bisa saja ada sisa-sisa liur di sekitar bibirnya?

Ewh, jorok sekali.

“Kamu sahur pakai apa?” tanya Cyan.

“Belum tahu. Kayaknya makan apa aja yang ada di sini,” jawab Magenta jujur.

“Di sana ada apa emang?”

“Mungkin mie kuah. Kalau nggak, ya … makan niat aja.”

“Yang terakhir itu nggak bikin kenyang kayaknya, Gen. Orang ngantuk emang gak boleh ambil keputusan besar, ya.”

“Makanya aku telepon kamu cantik.”

Tawanya terhenti sejenak, Cyan menghela napas.

“Kenapa?” tanya Cyan.

“Biar aku gak ngambil keputusan yang aneh,” jawab Magenta merasa bahwa itu hanyalah perkara sepele.

Sudut bibir Cyan terangkat sebelah, ia menggeleng pelan mendengar ucapan Magenta itu, meski ia tahu Magenta tak mungkin melihat gesturnya.

“Aku sahur dulu ya, Syan. Keburu siang.” Magenta meminta izin, sekaligus memberi peringatan agar Cyan juga ikut sahur sebelum waktu Imsak.

“Iya. Aku juga.”

“Kamu … makan yang banyak, ya. Biar kuat puasa hari pertamanya.”

“Aku loh selalu kuat. Kamu tuh yang harus makan banyak,” katanya santai.

”Maksudnya?” Magenta menaikkan alisnya.

“Ya, 'kan takut aja, tengah hari tiba-tiba minta Raka buat anterin ke kafe.”

Magenta tertawa. Kali ini benar-benar terdengar seperti seseorang yang sudah bangun dari tempat tidurnya.

“Hahaha, iya deh. Siap ibu ratu.”

Jeda, hanya terdengar suara napas keduanya.

“Selamat sahur ya, Syan.”

“Selamat sahur juga, Genta.”

Telepon itu berakhir tak lama setelahnya.

Cyan menatap layar ponselnya yang gelap, dan jam masih menunjukkan pukul 03:08. Dia menghela napas panjang, lalu tersenyum sendiri.

“Dasar Magenta gila.” Ia menggumam, kemudian bangkit dengan senyum yang masih terlukis indah di sana.

***

Dapur apartemen sudah menyala terang ketika Cyan masuk ke dalamnya. Ibunya sedang menyiapkan piring, sedangkan ayahnya menuang air hangat ke gelas.

“Oh, kamu sudah bangun?” tanya ibunya sambil melirik jam.

"Iya bu, kenapa? Ada yang mau Cyan bantu nggak?”

“Tadi Ibu pikir kamu kesiangan.” Wanita setengah baya itu melanjutkan.

“Aku udah bangun, kok.”

Ia duduk, masih dengan sisa-sisa kantuk di bahu, tapi pikirannya jelas tidak sepenuhnya di dapur itu.

Telepon tadi bersama Magenta masih terngiang di pikirannya.

“Kayaknya hari ini sahur bareng pertama dan terakhir kami di sini, Nduk,” kata ayahnya tiba-tiba.

Cyan kemudian menoleh, menatap nanar serius.

“Maksudnya?”

“Kami mau pulang ke kampung besok pagi.”

“Jadi kalian di sini cuma tiga hari?”

“Iya. Niatnya 'kan mau ketemu calonmu saja. Habis itu, kami mau lanjut puasa di kampung,” lanjut ayahnya.

“Hmm,” gumam Cyan pelan. Ia mengunyah makanannya perlahan, mencoba mencerna jawaban itu tanpa menunjukkan apa pun di wajahnya.

“Ibu pengen puasa kayak biasa di kampung,” kata ibunya sambil tersenyum hangat.

“Ya udah, kalau memang Ibu sama Bapak lebih nyaman di sana, aku nggak bisa maksa juga,” katanya singkat sekaligus pasrah.

Mereka kembali makan dalam suasana tenang. Tak banyak percakapan yang muncul, hanya bunyi sendok yang bersentuhan dengan piring, mengisi ruang di antara pikiran-pikiran yang tak diucapkan.

Di tengah keheningan meja makan, akhirnya ibu Cyan membuka percakapan.

“Oh iya,” katanya, seolah baru ingat sesuatu.

Cyan pun langsung mendongak.

“Nanti kalau lebaran, calonmu yang kemarin itu ajak ke kampung, ya.”

Cyan hampir tersedak makanannya sendiri.

“Bu—”

“Biar sekalian kenal keluarga besar, Cyan,” tambahnya santai.

Cyan menunduk, wajahnya kini memanas. Kata calon itu terus terngiang di benaknya.

Ia menghela napas, lalu tertawa serak sebelum akhirnya terdiam pasrah.

Tamatlah riwayatnya. Sudah menduga akan terjadi seperti ini. Jelas saja alurnya memanjang ke mana-mana. Namun, ia tak menyangka mengapa harus dalam waktu singkat?

Ia belum siap, jujur saja.

“Kalau Magenta beneran terjebak harus jadi suami gue karena sandiwara ini gimana? Apa dia bakal mau?”

1
cerlista
Seru banget baca dua karakter ini lucu dan manis nya dapet kaya orang yang emang brantem tiap hari terus tapi cepet kangen.
Sinchan Gabut
Haish... bulan puasa hey 😆
Sinchan Gabut
aku kaget, kirain dah offc, taunya pura-pura. ah elah jd kangen kan eh hahahha
Anisa Saja
malu-malu meong nih
IR Windy
magenta makin seneng gak tuh dibilangin kek gitu
IR Windy
si raka emng peka bgt smpe hal2 kecil
IR Windy
hayoloo.. alya sampe neting gitu
IR Windy
okeee cyan mulai jinak nih kayaknya
IR Windy
kesempatan dlm kesempitan itu mh wkwk
IR Windy
kapan mreka gk brantem wkwk
IR Windy
si genta mah emg nyari kesempetn aja, jd gk cuma bantu
IR Windy
bantet gak tuh wkwk fiks kalo gaada magenta bakal sepi sih hidup cyan
IR Windy
magenta ngeselin poll ya
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Rain (angg_rainy): Awalnya🙈 balas budi aja lama2
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!