Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
12. TGD.12
Pesawat Boeing 777 itu menyentuh landasan pacu Bandara Narita dengan guncangan halus yang membangunkan Shelly dari tidur ayamnya. Di luar jendela, langit subuh Jepang berwarna biru keunguan, sangat jernih, namun terlihat membeku. Saat pintu kabin dibuka dan ia melangkah keluar menuju garbarata, udara dingin yang tajam langsung menusuk pori-porinya, menembus jaket krem pinjaman dosennya.
"Selamat datang di Jepang," bisik Shelly pada dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena ia sadar bahwa ribuan kilometer dari rumah kayunya yang sederhana, ia baru saja memulai babak baru dalam sejarah keluarganya.
Proses imigrasi berjalan lancar. Shelly berdiri di depan petugas dengan sikap yang sangat sopan, persis seperti didikan Bapak untuk selalu menghormati siapa pun. Setelah mengambil koper tuanya yang tampak paling kusam di antara deretan koper bermerek lainnya, Shelly berjalan menuju lobi kedatangan.
Hal pertama yang ia lakukan bukanlah mencari koneksi Wi-Fi gratis, melainkan merapatkan syal hijau rajutan Ibu di lehernya. Aroma benang wol itu masih menyisakan sedikit bau asap dapur dan kasih sayang rumah. Baginya, syal itu adalah pelukan Ibu yang menjaganya dari suhu 2 derajat Celcius yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Keluar dari bandara menuju stasiun kereta, Shelly terpaku. Segalanya tampak begitu teratur, bersih, dan sunyi. Tidak ada suara klakson bus yang saling bersahutan seperti di terminal kotanya, tidak ada debu jalanan yang beterbangan. Di dalam kereta *Narita Express* yang membawanya menuju pusat kota, Shelly menatap keluar jendela dengan mata tak berkedip.
Ia melihat perumahan Jepang yang tertata rapi. Dan di sana, di sela-sela bangunan, ia melihat petak-petak sawah yang sedang beristirahat karena musim dingin. Sawah-sawah itu bersih, tanpa sampah plastik, dengan saluran air yang terlihat begitu jernih.
"Jadi ini tempatnya," gumam Shelly sembari meraba saku jaketnya, memastikan amplop berisi segenggam tanah desa dari Bapak masih ada di sana.
Setelah satu hari transit di Tokyo untuk orientasi, Shelly dan rombongan mahasiswa berangkat menuju Prefektur Niigata, pusat lumbung padi Jepang. Inilah tempat yang paling Shelly nantikan. Saat kereta meluncur menembus terowongan panjang di pegunungan, pemandangan berubah drastis. Seluruh daratan tertutup warna putih yang menyilaukan mata.
**Salju.**
Bagi teman-teman Shelly yang lain, salju adalah latar belakang foto Instagram yang estetik. Namun bagi Shelly, salju adalah tantangan alam. Ia turun dari bus di sebuah desa agrowisata dengan sepatu bot pinjaman. Kakinya tenggelam ke dalam butiran es putih yang lembut. Untuk pertama kalinya, Shelly menyentuh salju. Dinginnya membuat jarinya kaku, namun hatinya justru menghangat.
"Bapak, Ibu... Shelly sudah sampai di tempat salju," batinnya.
Di Niigata, Shelly dibawa ke sebuah laboratorium riset pertanian milik Universitas setempat. Di sana, ia diperkenalkan dengan seorang profesor tua bernama Tanaka-sensei. Tanaka-sensei adalah seorang ahli pemuliaan padi yang menghabiskan 40 tahun hidupnya untuk menciptakan varietas yang tahan terhadap cuaca ekstrem.
Saat melihat Shelly, Tanaka-sensei bertanya melalui penerjemah, "Mengapa gadis muda seperti kamu ingin belajar tentang lumpur di tempat sedingin ini?"
Shelly tidak menjawab dengan teori akademis yang rumit. Ia membuka tasnya, mengeluarkan foto Bapak yang sedang mencangkul di sawah mereka yang gersang saat musim kemarau.
"Ini Bapak saya," jawab Shelly dengan suara yang mantap meski sedikit bergetar karena dingin. "Di tempat saya, petani bekerja keras namun hasilnya seringkali hanya cukup untuk makan esok hari. Saya ke sini bukan untuk melihat salju, Sensei. Saya ke sini untuk belajar bagaimana membuat tangan Bapak saya tidak lagi gemetar saat menghitung harga pupuk yang mahal. Saya ingin membawa teknologi yang bisa membuat sawah kecil kami menjadi sumber kehidupan yang layak."
Tanaka-sensei terdiam lama melihat foto itu. Ia melihat ketulusan di mata Shelly—binar yang sama yang dimiliki oleh para petani sejati. Sejak saat itu, Shelly tidak diperlakukan seperti tamu, melainkan seperti murid magang yang lainnya.
Hari-hari Shelly di Jepang dihabiskan dengan jadwal yang sangat padat. Pagi hari ia berada di laboratorium mempelajari struktur sel padi, sore hari ia terjun ke lapangan tertutup (*greenhouse*) untuk mempelajari sistem irigasi otomatis yang menggunakan sensor kelembapan tanah.
Shelly belajar satu hal penting: Jepang maju bukan hanya karena mesinnya, tapi karena **kedisiplinan dan rasa hormat mereka terhadap alam**. Ia melihat bagaimana petani Jepang yang sudah tua masih sangat telaten merawat saluran air. Ia belajar tentang penggunaan pupuk organik dari limbah rumah tangga yang diolah dengan teknologi mikroba.
Di malam hari, di kamar asramanya yang sempit namun hangat, Shelly tidak beristirahat. Ia membuka laptopnya dan mulai menerjemahkan poin-poin penting yang ia pelajari ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Ia membuat sketsa sistem irigasi murah yang bisa diterapkan di desanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti bambu dan pipa bekas.
Ia juga sempat mengirimkan foto pertamanya kepada keluarganya. Foto itu memperlihatkan Shelly yang berdiri di tengah hamparan salju, mengenakan jaket tebal dan syal hijau Ibu, sambil memegang papan bertuliskan: "Bapak, Ibu, Shelly di Jepang. Sawah kita akan maju!"
Meskipun teknologi di Jepang sangat mengagumkan, ada saat-saat di mana Shelly merasa sangat kesepian. Makanan Jepang yang cenderung hambar dan dingin membuatnya merindukan gorengan tempe hangat buatan Ibu.
Suatu malam, ia mengeluarkan bekal sambal teri dari koper. Aroma terasi dan cabai yang kuat langsung memenuhi ruang makan asrama. Beberapa mahasiswa dari negara lain sempat menutup hidung, namun Shelly tidak peduli. Baginya, itu adalah aroma rumah. Ia menyuap nasi hangat dengan sambal teri itu sambil meneteskan air mata.
"Sabar, Shelly. Satu bulan saja. Kamu harus bawa pulang ilmu ini," ia menyemangati dirinya sendiri.
Di akhir program, setiap mahasiswa diminta mempresentasikan rencana proyek yang akan mereka bawa pulang ke negara masing-masing. Shelly berdiri di depan para profesor dan pejabat dari dinas pertanian Jepang.
Ia tidak mempresentasikan mesin besar yang mahal. Ia mempresentasikan konsep "Desa Mandiri Pangan Berbasis Teknologi Komunitas". Ia menjelaskan bagaimana petani desa bisa menggunakan aplikasi sederhana di ponsel (yang sudah dimiliki hampir semua pemuda desa) untuk memantau hama dan harga pasar, digabungkan dengan sistem pengolahan pupuk organik mandiri agar mereka tidak tergantung pada tengkulak.
Presentasi Shelly mendapat tepuk tangan berdiri (*standing ovation*). Tanaka-sensei menghampirinya dan memberikan sebuah kotak kecil berisi benih padi varietas unggul yang telah disesuaikan dengan iklim tropis.
"Ini bukan hadiah dari saya," kata Tanaka-sensei. "Ini adalah janji antara saya dan kamu. Tanamlah ini di tanah yang kamu bawa dari desamu itu. Saya ingin suatu hari nanti makan nasi dari sawah bapakmu.”
Saat tiba waktunya pulang, Shelly mengepak kopernya dengan lebih hati-hati. Koper itu sekarang jauh lebih berat. Bukan berisi oleh-oleh mewah atau baju baru, melainkan berisi tumpukan modul penelitian, sampel benih, dan catatan-catatan penting yang ia tulis dengan tinta penuh harapan.
Ia kembali mengenakan syal hijau dari Ibu. Di bandara, sebelum masuk ke pesawat, ia menoleh sekali lagi ke arah daratan Jepang yang mulai tertutup musim semi. Ia bersyukur pada negeri ini, tapi hatinya sudah terbang lebih dulu ke rumah kayu, ke sawah yang menanti, dan ke tangan Bapak yang berlumpur.
Shelly tahu, kepulangannya kali ini bukan hanya sebagai seorang mahasiswi yang habis jalan-jalan ke luar negeri. Ia pulang sebagai pembawa cahaya. Ia sudah melihat dunia, dan kini saatnya ia membangun dunianya sendiri di tanah kelahirannya.
Perjalanan ini membuktikan kata-kata Bapaknya: Bintang di kota boleh saja tertutup polusi, tapi bintang di desa akan selalu bersinar bagi mereka yang mau berjuang.