"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 16
Indira berdiri perlahan, gerakannya tenang dan wajahnya kembali terkendali seperti biasa. Ia merapikan sedikit kerah bajunya, suatu refleks profesional yang sudah mendarah daging, meski sekarang ia sedang cuti.
"Selamat siang, " sapanya sopan. "Saya Indira. "
Adrian tersenyum ramah, mengulurkan tangannya tanda perkenalan. Indira tertegun sejenak, matanya justru menangkap ekspresi wajah Seno yang berubah ketika Adrian menyodorkan tangannya.
Sebelum akhirnya Indira menerima salaman tangan itu sambil tersenyum simpul.
"Aku sudah mengenal mu sejak lama, Keano adalah keponakan ku, dia selalu bercerita tentang mu, katanya kau adalah perawat yang hebat."
Sosok Adrian yang begitu supel meskipun baru kenal dan berbicara dengan informal membuat Indira jadi merasa tak tertekan, ia lantas mengangguk kecil. "Terimakasih, " katanya. "anak ini terlalu berlebihan berbicara tentang ku, " imbuhnya, sambil menjawil pipi Keano karena gemas.
Keano hanya bisa menggelembungkan pipinya, yang membuat mereka semua tertawa kecil kecuali satu orang-- Seno.
Dan Indira menyadari nya, entah dorongan dari mana gadis itu tiba-tiba berdiri di hadapan sang pria, lalu menunduk kecil, seolah salam hormat. "Pak Barata, " sapa Indira sopan, profesional. Jarak yang ia buat jelas dan.... sengaja.
Mentari menegang di samping nya, menoleh kaget. Dari matanya seakan berbicara kenapa Indira melakukan hal itu?
Disisi lain, Seno mengeraskan rahangnya. Cara Indira menyebut namanya--dingin dan formal-- entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada makian. Seolah-olah gadis itu ingin menegaskan kalau di luar mereka ini hanyalah dua orang asing.
Di sampingnya, Adrian berdiri kikuk. "kalian berdua... janganlah terlalu asing begitu, " ucapnya seolah penuh makna. Dia tahu soal pernikahan Seno dengan gadis di depannya ini, namun memilih seolah- olah tak tahu apa- apa, karena berpikir ini bukan ranahnya dan tak ingin reaksi nya justru membuat mereka semakin berjarak.
"Tidak ada yang asing, karena kami memang dua orang asing, tuan Adrian."
Celetukan Indira membuat atmosfer di sekitar terasa semakin canggung dan tegang. Adrian sengaja berpura-pura batuk untuk mencairkan suasana sementara Seno mengepalkan tangannya dengan tatapan lurus seolah menghunus ke arah Indira.
Wajah yang baru saja ia saksikan berjalan pergi tanpa air mata, kini berdiri disini dengan tegak, tenang dan orang-orang yang jelas menghargai nya.
Dan untuk pertama kalinya ekspresi Seno berubah retak.
"Kamu ternyata bekerja disini? " itulah kata yang pertama kali terlontar dari mulutnya, bukan bertanya, lebih seperti ingin memastikan. Ia memang mengetahui latar belakang Indira dan pekerjaan nya sebagai perawat namun siapa sangka gadis itu menjadi perawat di rumah sakit yang di bawah naungannya.
Indira mengangguk singkat. " iya. " Nada suaranya datar, tidak dingin, tidak pula hangat. Persis seperti cara ia berbicara pada orang yang tidak ingin ia libatkan lebih jauh.
Adrian menoleh pada Seno. “Kamu belum tahu?” tanyanya heran. “Keano sering cerita tentang Indira. Perawat yang bikin dia mau makan dan nggak rewel tiap kali harus disuntik.”
Keano mengangguk cepat. “Om Seno galak,” katanya polos. “Tapi Bu Indira baik.”
Mentari refleks menutup mulutnya, menahan tawa yang nyaris lolos. Adrian terbatuk kecil, mencoba menyelamatkan situasi. Seno sendiri menghela napas pendek, lalu melirik Keano dengan ekspresi tak terbaca.
“Om Seno nggak galak,” katanya akhirnya. “Cuma… nggak pintar bercanda.”
Keano berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Oooh.”
Jawaban itu membuat suasana mencair sedikit. Indira memanfaatkan momen itu untuk berdiri, merapikan tas ranselnya.
"Kebetulan saya saat ini masih sedang cuti, dan hanya kesini untuk melihat- lihat juga menjenguk Keano. "
"Loh... Kamu sudah mau pergi? " tanya Adrian, kaget.
Indira mengangguk mantap. "Kalau diijinkan. " Ia tidak ingin berlama-lama satu ruangan dan berbagi udara dengan laki-laki di hadapan nya. Karena niatnya kesini untuk melupakan masalah, tapi malah bertemu dengan sumber masalahnya.
Jadi bukankah lebih baik pergi?
"Yaaa... bu Indira kok udah mau pergi aja, " seruan itu datang dari Keano, wajahnya berubah muram.
Indira tersenyum pada bocah itu, lalu berjongkok lagi dan mengusap pipinya. "Keano sayang, bu Indira pasti bakal balik lagi kok, kita main dan belajar bareng lagi, tapi untuk kali ini Keano bersama om dulu ya, ada waktunya kita bertemu lagi. "
Keano lantas sumringah. "Ya udah, tapi janji dulu ya, " ujarnya sambil menjulurkan kelingking.
Indira tertawa kecil lalu menautkan kelingkingnya, tanda sebuah janji.
"Pasti."
Dan setelah membujuk Keano, Indira berdiri kembali tanpa menoleh pada Seno, ia berpamitan pada Adrian.
"Padahal tadinya aku ingin mengajak kalian berdua bermain bersama, tapi tidak apa- apa masih ada waktu untuk kita bertemu lagi, " kata Adrian akhirnya, ketika Indira ijin pamit pergi pada nya.
Indira tersenyum kecil, lantas mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi. "
Ia kemudian melenggang pergi, melewati Seno begitu saja yang sampai memiringkan kepala mengikuti langkah nya.
Sementara Mentari mengikuti langkah Indira, meski dengan wajah bingung.
Setelah kedua wanita itu pergi, Adrian tiba-tiba menoleh ke arah Seno dan tersenyum miring.
"Bini lo itukan, bro? "
tanyanya, kali ini dengan gaya yang lebih santai dengan Seno.
Seno hanya bergeming saja, kesal karena tak di sahuti Adrian kembali berucap.
"Boleh juga. Kalau lo gak mau, bisa buat gua. "
Dan saat itulah Seno bereaksi dengan mendelikkan matanya.
"Berani?! "
Sementara yang digertak malah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Gengsi aja lo gedein. "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seno menghembuskan napas kasar, tangannya masih mengepal ketika Adrian menepuk bahunya santai.
“Tenang, gue bercanda,” ujar Adrian sambil terkekeh. “Tapi serius, bro. Istri lo itu… bukan tipe yang gampang dipatahkan, " Ujarnya.
"Menurut gue, " lanjutnya yang terjeda.
Seno tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju ke pintu yang tadi dilewati Indira. Bayangan punggungnya yang tegak, langkahnya yang mantap, dan caranya memperlakukannya seperti orang asing, tiba-tiba semua itu berputar di kepalanya, mengganggu lebih dari yang ingin ia akui.
“Dia terlalu sok kuat,” gumam Seno akhirnya.
Adrian mengangkat alis. “Atau mungkin lo yang salah baca.”
Seno melirik tajam, namun Adrian sudah lebih dulu menoleh ke Keano yang sedang sibuk memainkan mainan barunya. Topik itu sengaja diputus, tapi benihnya sudah terlanjur tertanam di kepala Seno.
Di luar kamar perawatan, Mentari akhirnya tak bisa menahan diri lagi. “Ra… kenapa kamu manggil dia Pak Barata?” tanyanya pelan tapi penuh tanda tanya, sementara kakinya mengimbangi langkah Indira yang berjalan cepat.
Barulah beberapa saat kemudian mereka berhenti sejenak di ujung lorong, Indira menatap lantai putih mengilap yang memantulkan cahaya lampu. “Karena itu posisi yang paling aman,” jawabnya singkat.
Mentari menghela napas. “Kamu kelihatan… dingin banget tadi.”
“Karena kalau aku enggak bersikap begitu,” Indira menoleh, senyumnya tipis tapi matanya lelah, “aku bisa runtuh di tempat, " Katanya dan ia yakin Mentari pasti mengerti kata di balik ucapannya itu.
Mentari terdiam. Ia mengenal Indira sejak kuliah, sejak gadis itu masih suka menangis diam-diam di toilet kampus lalu keluar dengan wajah biasa saja. Indira memang selalu begitu-- pandai menyembunyikan perasaannya.
Mereka melanjutkan langkah tanpa banyak bicara, sampai akhirnya keluar dari gedung utama rumah sakit. Udara sore menyentuh wajah Indira, membuatnya menarik napas panjang, seolah baru saja keluar dari ruang tertutup yang menyesakkan.
“Sepertinya dia melihat kamu berbeda hari ini,” ujar Mentari pelan.
Indira tersenyum samar. “Biarin.”
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah