NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Aku nggak tau berapa lama aku duduk disitu. Lima menit? Sepuluh menit? Atau sejam? Yang jelas, waktu udah malem. Langit makin gelap. Lampu jalan mulai nyala satu-satu—yang nyala cuma setengah, sisanya mati karena nggak pernah diperbaiki.

Tangan ku gerak sendiri. Ngumpulin baju-baju yang berserakan. Lagi. Untuk kesekian kalinya hari ini. Kemeja Pak Dodi yang tadinya putih sekarang coklat lumpur. Mukena Bu Ratna tambah item. Boneka Keke... isinya udah keluar semua, kapasnya basah kayak gumpalan daging busuk.

"Gimana aku jelasin ini sama mereka..."

Suara ku serak. Tenggorokan kering. Mata masih basah.

Ember plastik biru kesayangan ku—yang udah menemani aku kerja tiga tahun—sekarang gepeng kayak kerupuk diinjek. Nggak bisa dipake lagi. Besok aku harus beli ember baru. Harganya... berapa ya? Lima belas ribu? Dua puluh ribu?

Lima belas ribu aja itu udah bisa buat beli tiga bungkus mie instan. Buat makan Bapak dua hari.

Aku kumpulin baju-baju itu pake kedua tangan—nggak peduli lagi sama lecet yang perih. Aku peluk semua baju kotor itu kayak peluk bayi. Berat. Basah. Dingin.

"Ya Allah... tolong... tolong kasih jalan..."

Doaku nggak lebih dari bisikan. Tapi aku berharap... berharap Dia denger.

---

Jalan pulang kerasa lebih jauh dari biasanya. Mungkin karena aku capek. Mungkin karena kaki ku sakit. Atau mungkin karena beban di dada ku lebih berat dari baju-baju basah yang ku peluk.

Setiap langkah... sakit.

Sendal jepit ku udah miring sebelah. Yang kanan solnya copot setengah, jadi setiap ngelangkah, telapak kaki ku langsung kena aspal kasar. Perih. Tapi aku terusin aja. Nggak ada pilihan lain.

Di sepanjang jalan, orang-orang pada pulang. Ibu-ibu bawa belanjaan. Bapak-bapak naik motor berdua bawa anak sekolahan. Pasangan muda jalan berdampingan, ketawa-ketawa nggak jelas.

Mereka... kelihatan bahagia.

Aku iri. Iri banget. Tapi aku nggak benci mereka. Cuma... cuma pengen ngerasain juga. Rasanya pulang dengan senyum. Pulang tanpa beban. Pulang sambil bawa makanan enak buat orang tua.

"Tapi ya udahlah..."

Aku ngomong sendiri. Kebiasaan buruk yang muncul sejak Mama meninggal tiga tahun lalu. Sejak itu, aku sering ngomong sendiri. Kadang nanya, kadang jawab sendiri. Kayak ada Zahra lain di kepala yang nemenin.

"Zahra... kamu nggak gila. Kamu cuma... kesepian."

Iya. Kesepian.

Punya temen? Ada. Siti Khadijah. Tapi dia juga sibuk. Dia kerja dari pagi sampe malem jual gorengan di pasar. Kami jarang ketemu. Terakhir ngobrol... kapan ya? Sebulan lalu?

Punya pacar? Jangan harap. Cowok mana yang mau sama cewek buruh cuci yang bau keringet, kulitnya item, tangannya kasar, dan nggak punya apa-apa?

"Arkan..."

Eh. Kenapa kepikiran dia lagi?

Aku geleng-geleng kepala. Cepet-cepet buang pikiran aneh. Orang kayak dia nggak mungkin lah tertarik sama orang kayak aku. Dia cuma baik. Cuma lagi ngerasain... apa namanya... empati? Kasihan? Iya, pasti kasihan.

"Dasar Zahra bego. Jangan ge-er."

Tapi... tapi senyumnya tadi...

"UDAH! FOKUS ZAHRA!"

Aku teriak sendiri. Untung jalanan sepi. Kalo ada orang, pasti dikira gila.

---

Gang masuk ke kontrakan makin gelap. Lampu gang cuma satu, itupun lampunya redup kayak lilin. Jalanan becek penuh kubangan air hujan. Bau got menyengat. Tembok kanan-kiri penuh coretan nggak jelas. Ada yang gambar hati. Ada yang tulisan "Bayu + Sari". Ada yang... aku nggak mau baca. Kasar banget.

"Zahra? Udah pulang?"

Suara Bu Ria. Keluar dari rumahnya yang pintunya kebuka sedikit. Mukanya kelihatan khawatir.

"Iya Bu... maaf telat..."

"Astaga, tanganmu kenapa? Berdarah gitu!" Dia langsung keluar, pegang tangan ku yang lecet. "Kamu jatuh? Baju-bajunya... kenapa kotor semua?"

"Tadi... tadi kejatuhan ujan, Bu. Terus kepleset..."

"Sudah, masuk dulu. Biar Ibu obatin. Bapakmu dari tadi nanyain kamu terus."

"Nggak usah Bu, aku bisa sendiri. Bu Ria udah capek seharian—"

"Kamu ini keras kepala banget sih! Udah, sini!" Dia narik tangan ku—bukan kasar, tapi tegas. Kayak Mama dulu kalau lagi khawatir. "Bapak, temenin dulu Pak Ahmad ya! Zahra mau aku obatin!"

Suara Pak Bambang dari dalam: "Iya, nggak apa-apa! Sini Pak Ahmad, kita ngobrol!"

Aku diem aja. Dibawa Bu Ria masuk ke rumahnya yang—walau kecil—jauh lebih layak dari kontrakan ku. Ada TV. Ada kulkas. Ada sofa, meskipun udah lusuh. Dindingnya nggak lembab kayak kontrakan ku yang berjamur dimana-mana.

"Duduk sini. Biar Ibu ambil obat merah."

Aku duduk di kursi kayu deket meja makan. Baju basah ku netes-netes ke lantai. Aku merasa bersalah. Kotor-kotorin rumah orang.

"Bu... maaf lantainya jadi basah..."

"Nggak apa-apa. Nanti Ibu pel." Bu Ria balik bawa kotak P3K lusuh. Dia buka, ambil kapas, obat merah, sama perban. "Tangan kanan dulu."

Dia beresin luka ku dengan hati-hati. Pelan. Tiap kali kapas kena luka, aku nahan napas. Perih. Tapi aku nggak mau ngeluh. Udah cukup merepotkan.

"Zahra... kamu terlalu memaksakan diri."

"Nggak apa-apa kok, Bu. Aku biasa."

"Biasa tapi lukanya kayak gini? Ini dalem, Zahra. Harusnya dijait."

"Nggak perlu, Bu. Nanti juga sembuh sendiri..."

Bu Ria diem. Dia terus ngobatin sambil sesekali ngelihat wajah ku. Tatapannya... sedih. Kayak natap anak sendiri yang lagi susah.

"...Zahra, Ibu tau kamu lagi susah. Bapakmu juga lagi sakit. Tapi... tapi kamu nggak sendirian. Kalau butuh bantuan, bilang aja sama Ibu. Jangan ditanggung sendiri."

Tenggorokan ku nyesek. Lagi.

"...Bu Ria udah bantuin banyak, Bu. Kontrakan aku aja nunggak tiga bulan... Zahra... Zahra nggak enak..."

"Rezeki Ibu lagi banyak bulan ini. Nggak apa-apa. Lagian, Ibu sama Bapak nggak punya anak. Kamu kayak anak Ibu sendiri, Zahra."

DEG.

Anak.

Mama dulu juga suka bilang gitu. "Zahra anak Mama satu-satunya. Mama sayang banget."

Dan sekarang Mama udah nggak ada.

"Bu... makasih..." Suara ku gemetar. "Makasih banyak, Bu..."

"Iya. Udah, jangan nangis. Nanti matanya bengkak." Bu Ria selesai balut tangan ku. Rapi. "Kamu mandi dulu sana, ganti baju. Nanti Ibu bikinin teh anget. Bapakmu juga Ibu kasih."

Aku cuma bisa ngangguk.

---

Kamar mandi kontrakan... nggak layak disebut kamar mandi. Lebih tepatnya, kolong sempit ukuran 1x1 meter dengan ember penuh air keran, gayung plastik kuning yang udah bolong, sama sabun batangan murah yang sisa seujung jari.

Air kerannya dingin. Beku. Tapi aku nggak bisa ngeluh. Minimal ada air bersih.

Aku siram kepala pake gayung. Satu kali. Dua kali. Badan ku gemetaran. Gigi gemeretak. Dingin banget. Tapi aku terusin. Bersihin lumpur di rambut. Bersihin bau got di badan. Bersihin... semuanya.

Sabunnya tinggal sedikit. Aku irit-irit pakenya. Cukup buat yang penting aja. Badan. Ketek. Kaki.

Rambut... ya udah lah. Disiram air aja cukup.

Selesai mandi, aku keluar pake handuk tipis—yang tadinya putih sekarang abu-abu karena udah belasan tahun dipake. Baju ganti ku cuma ada satu: daster lusuh warna pink pudar sama hijab segiempat coklat yang udah mulai bolong di ujungnya.

Pas aku lagi ngambil baju dari gantungan, mata ku nggak sengaja nangkep sesuatu.

Jas basah ku. Tergantung di paku tembok.

Dan... dari saku kanan... ada sesuatu yang nyembul.

Putih.

Aku dekatin. Ambil.

Kartu nama.

---

**ARKAN ALEXANDER WIJAYA**

*Director of Operations*

**WIJAYA GROUP**

Email: arkan.wijaya@wijayagroup.co.id

Phone: +62 812-XXXX-XXXX

Office: Sudirman Central Business District, Tower A Lt. 28

---

Aku bengong.

Kartu nama. Dia... dia ninggalin kartu nama di saku ku?

Kapan? Gimana? Aku nggak ngerasa ada yang masukin sesuatu—

Oh. Pasti pas dia bantuin aku. Pas dia ngeraih ember. Atau pas dia ngasih payung.

"Arkan Alexander Wijaya..."

Aku baca namanya lagi. Pelan. Kayak lagi ngapalin doa.

Wijaya Group.

Aku pernah denger nama itu. Perusahaan gede. Developer properti. Mall. Apartemen. Orang-orangnya... tajir semua.

"Director of Operations..."

Berarti dia... bos? Direktur?

Ya Allah.

Pantesan mobilnya mewah. Pantesan bajunya mahal. Pantesan dia... dia beda.

Aku duduk di pinggir kasur tipis. Natap kartu nama itu lama. Ada nomor teleponnya. Lengkap. Kalau aku mau... aku bisa hubungin dia.

Tapi buat apa?

Buat ngomong apa? "Halo Mas Arkan, makasih ya tadi udah bantuin. Oh iya, aku buruh cuci yang miskin, lagi butuh uang buat ganti baju langganan yang rusak. Bisa pinjemin nggak?"

Nggak. Nggak mungkin.

Aku... aku nggak mau jadi pengemis.

Tapi...

Tapi sejuta rupiah...

Aku gigit bibir. Kuat-kuat. Sampe kerasa perih.

"Nggak. Zahra, jangan. Kamu nggak boleh minta-minta."

Aku simpen kartu nama itu di bawah bantal. Dalam. Biar nggak keliatan.

Biar nggak menggoda.

---

"Zahra? Kamu udah selesai?"

Suara Bapak. Lemah. Dari balik pintu kamar.

"Iya Pak, sebentar..." Aku cepet-cepet pake daster sama hijab. Keluar. "Bapak kenapa belum tidur?"

Bapak duduk di kasur sambil ngelemin dada. Napasnya berat. Batuknya... ya Allah, batuknya makin parah.

"Uhuk... uhuk... Bapak... uhuk... Bapak nunggu Zahra... uhuk uhuk!"

"Bapak, pelan-pelan..." Aku duduk di sebelahnya, usap-usap punggungnya. "Napas pelan... iya... pelan..."

Batuknya mereda. Dikit. Tapi napasnya masih ngos-ngosan. Keringat dingin di jidat. Badannya panas.

"Zahra... tadi Bu Ria cerita... kamu jatuh..."

"Iya Pak, tapi nggak apa-apa. Cuma lecet dikit."

"Dikit? Tanganmu diperban..." Mata Bapak berkaca-kaca. "...Zahra... maafin Bapak... Bapak nggak bisa ngapa-ngapain... Bapak cuma jadi beban..."

"Bapak jangan gitu..."

"Kamu... kamu harusnya sekolah lagi... kuliah... kerja yang layak... bukan jadi buruh cuci kayak gini... ini semua salah Bapak... salah Bapak..."

"BAPAK!" Aku pegang kedua tangannya. Erat. "Jangan bilang gitu lagi. Zahra nggak nyalahin Bapak. Zahra sayang sama Bapak. Zahra... Zahra cuma punya Bapak sekarang. Kalau Bapak nggak ada, Zahra sendirian..."

Air mata ku jatuh.

Lagi.

Untuk kesekian kalinya hari ini.

"...Mama udah nggak ada... Zahra nggak mau kehilangan Bapak juga..."

Bapak nangis. Diam-diam. Pundaknya getar. Tangannya gemetar.

"...Zahra... anak Bapak yang baik... anak Bapak yang kuat..."

Kami berdua pelukan. Di kasur tipis yang empuk bekas. Di kamar sempit yang dindingnya berjamur. Di kontrakan yang atapnya bocor.

Tapi setidaknya...

Setidaknya kami nggak sendirian.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 3: Kembalinya Sang Penolong**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!