Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kim, Aku Merindukanmu.
(Pie sedang berada di barisan para murid yang sedang mengikuti upacara bendera, di sisinya menjulang tinggi Kim yang berdiri seolah menjadi tameng sinar matahari pagi yang cerah.
Seperti biasa, Kim selalu tampak keren dengan seragam putih-abu.
Perlahan tapi pasti, tangan Kim menggenggam tangan Pie yang berada di sebelahnya.
Rona wajah keduanya terlihat bahagia dan penuh kasih.
Pie merasa dirinya begitu dicintai oleh Kim. Kulit putihnya yang bercahaya membuat Kim semakin menawan.)
Kembali, Pie mengusap wajahnya secara kasar. Sudah beberapa kali dalam dua bulan ia bermimpi tentang Kim. Terkadang mimpi yang sama selama tiga hari berturut-turut.
"Padahal aku tidak merindukanmu, tapi kenapa aku selalu bermimpi tentangmu, Kim?"
Pie mengecek pesan facebook, Kim belum membalas pesan terakhir Pie yang meminta foto dirinya untuk dihapus.
Unggahan terakhir pun pada tiga bulan lalu. Kim seolah menghilang dari kehidupan.
Sejujurnya, setiap kali Pie bermimpi maka ia akan merindukan Kim. Namun, perasaan itu Pie menguburnya dalam-dalam.
Ia tak ingin mengejar Kim yang menurutnya sudah mempermainkan hatinya. Cukup ia dihantui Kim di dalam mimpi saja.
"Pie, kenapa kau terlihat lesu? Apa kau sakit?"
"Tidak, Rum. Moodku sedang jelek."
"Ooh, kau sedang period?"
Pie menggeleng pelan.
"Mungkin PMS." Pie meringis
"Makan makanan kesukaanmu, akan membantu memperbaiki moodmu, Pie."
"Itu tidak akan membantu, Rum. Terima kasih saranmu."
"Lalu?"
"Lupakan saja, Rum."
"Obatnya hanya bertemu Kim."
Pie kembali menyusun loyang-loyang yang berisi adonan kue mentah untuk di panggang. Rum menuju ruang tengah untuk mempacking kue-kue yang sudah matang.
"Sedang apa sweety pie?"
"Sedang istirahat, aku hari ini bekerja."
"Oh, saya menganggu?"
"Tidak."
"Kapan kau ke perpus lagi, Pie?"
"Belum tahu, ada apa Mas?"
"Ingin bertemu denganmu, makan lalu belanja."
"Kenapa tidak -" Pie memotong ucapannya, ia enggan meminta sesuatu yang tidak diinginkan oleh pria itu.
"Tidak apa, Pie?"
"Tidak jadi, lupakan saja, Mas."
"Kabari saya kalau Pie ke perpus ya?"
"Iya, Mas."
Pie menghela napas menatap layar yang menampilkan percakapannya dengan Tria.
Pie masih denial jika Tria tidak berniat serius padanya seperti apa yang dikatakan oleh pria itu.
Tria tidak pernah menyinggung tentang dimana dia tinggal ataupun tentang keluarga Pie. Pria itu hanya berbicara tentang topik ringan.
Kening Pie yang terus berkerut saat bekerja membuatbya cepat merasa lelah. Ia ingin pekerjaannya cepat selesai dan pulang.
Nyatanya, usai pulang dari bekerja Pie malah duduk di teras minimarket menatap kesibukan orang-orang yang berlalu lalang. Di depan meja terdapat sebotol air mineral yang sudah ia teguk hampir separuh botol.
Moodnya hari ini benar-benar kacau, rasanya ia ingin menangis tapi tak bisa.
"Kenapa aku terus bertemu dengan buaya? Dan kenapa aku selalu termakan rayuan mereka? Hidupku sungguh kasihan."
Pie membuka folder lama di mana terdapat foto-foto sewaktu SMP-SMA.
Tanpa sadar Pie tersenyum ketika menatap foto dirinya bersama teman-teman sekolah SMA saat pelatihan UN di Kabupaten beberapa tahun yang lalu.
Ketika itu, ia mendengar Kim ingin bertemu dengannya. Diam-diam Pie kembali tersipu.
Kim ada di sudut kecil hatinya, mantan kerennya itu memiliki tempat tersendiri, takkan pernah terganti oleh siapapun.
Dering telepon menyadarkan lamunan Pie, itu dari Ayah.
"Halo, yah?"
"Kau di mana? Sudah pulang?"
"Sudah, Yah. Aku sedang di perjalanan."
"Belikan ayah bakso jika kau ada uang."
"Berapa porsi, Yah?"
"Tiga porsi denganmu jika kau mau. Nanti Ayah ganti uangnya."
"Baik, Yah."
Pie segera beranjak pergi menuju warung bakso yang menurutnya enak.
Beberapa menit menunggu, ia sudah mendapatkan bakso tiga porsi, Pie langsung melajukan motornya agar cepat sampai di rumah.
Sudah dua hari, Pie memikirkan Kim. Ia merasa begitu rindu pada mantannya itu. Pie merasa dirinya aneh, ia bisa menjalin hubungan dengan orang lain dan mencintai pasangannya, namun perasaan Kim seperti abadi.
Pie menscroll beranda facebook untuk melihat aktivitas Kim, namun sama seperti sebelumnya. Tidak ada aktivitas baru.
Ke mana, Kim?
"Kim, hatiku rindu. Hatiku sesak mengingatmu. Kau di mana?"
Perlahan air mata menetes di pipi, Pie terisak pelan. Ia mengutuk Kim yang setiap kali menghantuinya di dalam mimpi dan membuat Pie merindu.
"Bohong jika aku sudah melupakanmu." Pie tergugu, air mata semakin berjatuhan.
"Kim.."
"Aku.. Rindu.. Hiks.."
Hampir setengah jam, Pie menangis meluapkan rasa rindu yang ditanggungnya, ia lelah kemudian tertidur dengan beralaskan bantal basah akibat air matanya.
Usapan lembut di kepala membuat Pie membuka matanya perlahan.
"Kau kenapa, Pie?"
Kedua matanya sembab, bibirnya sedikit bengkak. Ia tak mungkin mengatakan tidak apa-apa pada Mama sedangkan wajahnya jelas terlihat berantakan.
"Moodku jelek, Mama."
"Separah itu?"
Pie mengangguk pelan, ia merasakan damai ketika usapan lembut dari sang Mama di pucuk kepalanya.
"Kau ingin makan sesuatu? Mama akan buatkan untukmu."
"Tidak, Ma. Aku hanya ingin tidur."
"Baiklah, lanjutkan tidurmu." Mama keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar Pie.
Pie melihat ada notifikasi yang masuk ke ponsel, ia segera membuka pesan tersebut.
Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan, itu adalah balasan pesan dari Jemmy.
Ia berharap Kim menghubunginya, saat ini perasaannya begitu menggebu.
Sekali lagi, Pie merasa bingung dengan hatinya yang ia anggap murahan. Mudah menyukai laki-laki disaat dirinya masih memiliki perasaan yang lain.
Panggilan telepon dari Facebook membuat Pie terkejut. Akun anonim yang ia simpulkan adalah akun dari Tama yang lain.
Panggilan telepon terputus, lalu sebuah pesan facebook masuk.
"Ada yang harus kubicarakan. Angkat teleponku, ini aku Tama."
"Lewat pesan saja. Aku akan menyimak."
"Tidak, kita harus mengobrol melalui telepon."
Kali ini Pie menguatkan mentalnya, ia ingin bayang-bayang Tama berakhir hari ini juga.
"Oke."
Tak lama panggilan telepon kembali masuk, Pie segera menjawabnya.
"Halo, Pie?"
"Ya. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku masih berhutang janji padamu, Pie."
"Apa itu?"
"Aku tidak akan menikah jika kau belum menikah. Sekarang, jawab aku. Kau sudah menikah atau belum?"
"Belum."
"Oke, aku meminta izin untuk membatalkan janjiku."
"Ya. Hubungan kita sudah berakhir, Tama. Sekarang kau bebas ingin menjalin hubungan yang baru."
"Bagus. Terima kasih, Pie."
"Ya."
"Pie?"
"Hm?"
"Kau tak menyesalinya?"
"Menyesali apa?"
"Hubungan kita berakhir."
"Tidak. Itu sudah berlalu beberapa tahun. Aku baik-baik saja."
"Kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Kau jahat, Pie. Aku tak baik-baik saja sejak kau hilang kabar."
"Benarkah?"
"Ya. Kau pikir aku bermain denganmu? Lalu bagaimana sikapku selama ini mengejarmu? Berganti-ganti akun hanya untuk menghubungimu."
"Aku selalu mengemis pada teman-temanmu agar memberitahu nomor atau akunmu yang baru."
"Kau melarikan diri tanpa memikirkan perasaanku."
Pie memejamkan matanya, ingatan bagaimana kenangan manis Tama memenuhi otaknya lagi.
"Kau puas, Pie?"
"Ya."
"Kau tidak minta maaf padaku?"
"Itu yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak meminta maaf padaku atas janji-janji palsumu? Aku sangat lama menunggu pertemuan kita, Tama. Kau menipuku."
"Aku tidak menipumu, Pie. Kau yang kurang sabar."
Lagi, kesabarannya diragukan. Pie memijit keningnya. Keringat dingin keluar dari dahinya, inilah yang ia rasakan ketika berbicara dengan Tama usai dirinya sadar telah ditipu oleh pria itu.
"Sudah, cukup. Kita akhiri saja dari pada perpisahan kita menjadi buruk."
"Hah.. Kau selalu begitu, Pie. Seolah-olah menjadi korban."
"Ya, selamat malam, Tama. Semoga kau bahagia dan aku jauh lebih bahagia."
Pie menutup telepon dengan sepihak. Ia kembali memblokir sebelum rentetan pesan hinaan dikirimkan oleh Tama. Ia tak sanggup membaca semua itu.