seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN DI TEMPAT BARU
Fajar menyingsing di atas danau yang kini tak lagi tenang. Asap tipis membumbung dari puing-paralatan canggih yang hancur di dalam rumah. Aris, dengan napas yang satu-satu, mencoba berdiri sambil menekan luka tembak di bahunya. Kayla dengan sigap menyobek taplak meja linen putih, melilitkannya kuat-kuat ke tubuh Aris untuk menghentikan pendarahan.
"Kita harus bergerak sebelum unit pembersihan mereka datang, Aris," ucap Kayla tegas. Tidak ada lagi keraguan di suaranya. Kayla yang dulu rapuh telah mati; yang tersisa adalah seorang wanita yang siap melintasi neraka demi keluarganya.
Mereka tidak menggunakan mobil mewah yang ada di garasi. Aris telah menyiapkan sebuah truk tua berkarat yang disembunyikan di balik gudang kayu di seberang danau. Di dalam truk itu terdapat identitas baru yang paling sempurna yang pernah dibuat Aris: paspor, akta kelahiran, dan dokumen kewarganegaraan sebuah negara kecil di Skandinavia.
Selama perjalanan melintasi perbatasan darat yang sunyi, Aris duduk di kursi penumpang, mengamati Ariel yang tertidur pulas di pangkuan Kayla.
"Kayla," panggil Aris pelan. Suaranya terdengar lebih manusiawi daripada sebelumnya. "Jika nanti... jika suatu saat aku kembali kehilangan kendali karena kepalaku... aku ingin kau melakukan apa yang harus kau lakukan. Jangan biarkan aku menyakiti kalian lagi."
Kayla menggenggam tangan Aris yang dingin. "Kau tidak akan kehilangan kendali. Kita akan mencari bantuan medis yang tepat di sana. Kita tidak lagi sendirian melawan dunia, Aris. Kita adalah satu."
Enam bulan kemudian.
Sebuah desa nelayan kecil di pesisir Norwegia menjadi saksi lahirnya kehidupan baru bagi mereka. Mereka dikenal sebagai keluarga Larsen. Aris, yang kini memiliki rambut lebih panjang untuk menutupi sebagian luka bakarnya dan selalu mengenakan kacamata hitam, bekerja sebagai pengolah data lepas secara daring. Sementara Kayla kembali ke gairah lamanya: melukis pemandangan aurora yang indah.
Namun, fokus utama mereka adalah Ariel.
Bayi itu tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa. Di usianya yang baru satu setengah tahun, ia sudah bisa menyusun kalimat lengkap dan menunjukkan empati yang dalam. Kekuatan elektromagnetik yang sempat muncul malam itu tidak pernah terjadi lagi secara destruktif, namun terkadang lampu di rumah mereka akan sedikit meredup saat Ariel sedang berkonsentrasi tinggi.
Aris benar-benar berubah. Rasa posesifnya yang dulu mencekik kini berubah menjadi perlindungan yang penuh kasih. Ia belajar untuk memercayai Kayla, memberikan wanita itu ruang untuk bernapas dan bersosialisasi dengan warga lokal.
Suatu sore di musim dingin, salju turun dengan lembut di luar jendela rumah kayu mereka yang hangat. Aris sedang duduk di lantai, membiarkan Ariel menumpuk balok-balok kayu di atas punggungnya. Kayla berdiri di ambang pintu dapur, membawa dua cangkir cokelat panas, menatap pemandangan itu dengan senyum yang akhirnya sampai ke matanya.
"Ayah, lihat! Aku membuat menara!" seru Ariel dengan tawa riang.
Aris menoleh, menatap putranya dengan bangga, lalu menatap Kayla. Ia bangkit, mendekati Kayla, dan memeluk pinggangnya dengan lembut. Tidak ada paksaan, tidak ada ketakutan.
"Kau bahagia, Kayla?" tanya Aris, mencium keningnya.
Kayla menyandarkan kepalanya di dada Aris, mendengar detak jantung pria itu yang kini tenang. "Ya, Aris. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sedang berlari. Aku merasa sudah sampai di rumah."
Mereka tahu bahwa dunia di luar sana mungkin masih memiliki rahasia, dan masa lalu mungkin tetap menjadi bayang-bayang di sudut ingatan. Namun, di dalam rumah kecil itu, di antara tawa seorang anak kecil dan pelukan dua orang yang pernah saling menghancurkan, sebuah keluarga bahagia akhirnya benar-benar terwujud.
Mereka bukan lagi korban dan penculik. Mereka adalah dua jiwa yang rusak, yang saling memungut kepingan masing-masing untuk membangun sesuatu yang baru.
Keluarga Larsen kini hidup dalam kedamaian yang mereka perjuangkan dengan darah. Ariel tumbuh menjadi anak yang istimewa, dan Aris telah menemukan penebusan dosanya dalam cinta Kayla.