Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Semakin Dekat
Sejak pulang dari perjalan dinas beberapa hari yang lalu rutinitas mereka nyaris tak ada berubah tugas Ririn tetap aneh tak berkurang tak dipermudah.
Mengurus hal-hal kecil yang seharusnya bukan bagian dari pekerjaan seorang asisten, semuanya masih dia lakukan bedanya hanya satu.
Makan siang dan makan malam, makan bersama Baskara kini menjadi rutinitas tambahan hampir setiap hari. Kadang di restoran, kadang dibungkus dan dimakan di mobil, kadang di apartemen.
Dan satu hal lain yang tak bisa Ririn abaikan Baskara sudah tak lagi main-main dengan perempuan.
Tak ada lagi jadwal rahasia tak ada lagi nama-nama di kalender tak ada lagi kebohongan yang harus dia susun.
Suatu malam, di sela makan malam yang berlangsung tenang, Baskara berkata tanpa menatap Ririn.
“Oh iya Rin, Saya sudah sewa apartemen.” Ungkap Baskara memecah keheningan.
Ririn berhenti mengunyah. “Apartemen, buat siapa Pak?”
"Buat kamu," sahut Baskara singkat.
Ririn melongo kaget, dia hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
“Euh posisinya, persis di depan apartemen saya,” lanjut Baskara santai. “Biar koordinasinya gampang.”
Sendok Ririn menggantung di udara dia menatap Baskara, Ririn tampak heran dan bingung.
"Ini terlalu berlebihan pak," kata Ririn masih menatap Baskara bingung.
“Kamu asisten paling sabar yang pernah saya punya,” kata Baskara lagi. “Saya apresiasi kesabaran dan ketahanan mental kamu.” Baskara membuat alasan seolah semua itu wajar dan masuk akal.
Ririn tersenyum kaku. Matanya sedikit melongo bukan karena senang di kepalanya hanya satu pikiran yang muncul jelas tugas gue pasti bakalan lebih banyak.
“Gajinya saya di potong nggak pak?” tanyanya hati-hati.
“Nggak,” jawab Baskara singkat.
"Ooh," Ririn mengangguk.
“Saya nggak mau jadi gunjingan orang pak,” Ungkap Ririn nadanya terdengar cemas.
"Anggap fasilitas kantor, Jangan terlalu di pikirkan,"
Di dalam hatinya Ririn bergumam lirih, gajinya memang utuh tapi mental health gue yang dipertaruhkan.
Ririn kembali makan, senyumnya masih terpasang rapi Karena dia tahu di hadapan Baskara, kejujuran bukan pilihan yang aman.
Dan tak seperti biasanya, malam itu Baskara mengantar Ririn sampai di depan pintu apartemen.
Lorong sempit itu sunyi, hanya lampu putih yang sedikit berkedip. Ririn berdiri di depan pintu, menarik napas pelan sebelum mengetuk.
Tok… tok…
Pintu terbuka.
Anggie berdiri di sana, mengenakan kaus rumah. Wajahnya langsung berubah terkejut saat melihat siapa yang berdiri di belakang Ririn.
“Rin?” matanya melirik cepat ke arah Baskara. “Itu?”
Ririn buru-buru memotong, suaranya tenang tapi tegas.
“Saya masuk dulu ya pak, sudah malam, terima kasih sudah mengantar saya.”
Ririn menoleh sedikit, menatap Baskara sekilas sopan, berjarak.
Baskara hanya mengangguk. “Iya.”
Tak ada tambahan kata tak ada basa-basi, Ririn melangkah masuk pintu apartemen itu tertutup perlahan, menyisakan bunyi klik yang terasa lebih keras dari seharusnya.
Di balik pintu, Ririn menyandarkan punggungnya sejenak, menghembuskan napas yang sejak tadi dia tahan.
Di luar, Baskara berdiri beberapa detik lebih lama dari yang perlu, menatap pintu tertutup itu tanpa ekspresi jelas.
Malam kembali sunyi dan di antara mereka, jarak yang seharusnya aman justru terasa semakin dekat.
Begitu pintu tertutup, Anggie langsung menoleh ke Ririn dengan mata membelalak.
“Gila, Rin,” katanya tanpa basa-basi. “Itu mantan lu? Cakep banget sumpah.”
Ririn melepas sepatunya pelan. “Jangan lebay.”
“Lebay apanya,” Anggie mendekat, suaranya diturunin setengah berbisik. “Terus ngapain dia nganter lu pulang? Sampai depan pintu pula.”
Ririn menjatuhkan tasnya ke sofa, lalu duduk lesu.
“Udah hampir dua minggu ini kayak gitu.”
“Hah?”
“Makan siang bareng, beresin apartemennya, makan malam bareng, terus pulang.”
Anggie terdiam dua detik lalu senyum jahilnya muncul.
“Itu mah PDKT, Rin.”
Ririn langsung mendongak. “Apaan sih, Gie.”
“Serius,” Anggie duduk di sampingnya. “Mana ada bos ngajak makan siang sama makan malam tiap hari.”
Ririn mendengus. “PDKT dari mana? Gue disuruh ngepel, ngelaundry baju dia, nyuruh cuci piring, belanja bulanan, itu mah kerja rodi.”
Anggie tertawa kecil. “Yaelah, itu latihan jadi istri.”
Ririn langsung merinding.
“Ih, amit-amit, Ogah playboy, nggak punya hati, jahat, Suka mengintimidasi.”
Anggie nyengir, menikmati reaksi Ririn.
“Kok dulu lu mau sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Ririn diam dia menatap lantai, lalu menjawab pelan,
"Dulu dia beda.”
“Bedanya?”
“Lembut,” kata Ririn lirih.
“Baik, nggak pernah bentak orang, nggak main-main sama cewek, hidupnya cuma kuliah sama kerja.”
Anggie menatap Ririn lebih serius. “Terus sekarang?”
Ririn mengangkat bahu. “Sekarang… entah.”
Dia bersandar di sofa, memejamkan mata sebentar.
“Yang gue tau cuma satu, Gie, gue kerja sama dia bukan karena perasaan, gue cuma butuh hidup.”
Anggie tak menggoda lagi. dia hanya menepuk bahu Ririn pelan.
“Ya udah,” katanya akhirnya. “Jangan ngomong asal nanti beneran jodoh lho.”
Ririn tersenyum tipis kuat, lalu membatin dia terlalu capek buat nolak permintaan bosnya.
Lampu apartemen kecil itu tetap menyala, menemani dua sahabat yang sama-sama tahu masa lalu memang sudah lewat, tapi kadang dia datang lagi dengan wajah yang jauh lebih rumit.