Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengawasan
Setelah keluar dari ruangan VVIP , Gio tidak langsung menuju basement. Instingnya bekerja lebih cepat dari langkah kakinya. Ia menahan pintu lift dan menatap Angga yang masih sibuk merapikan laptopnya ke dalam koper.
"Kita tidak pulang sekarang, Angga. Cari ruangan Bram. Sekarang," perintah Gio tegas.
Mereka naik kembali ke lantai 15, tempat manajemen inti berada. Namun, suasana di sana jauh lebih semrawut. Puluhan staf sibuk mengangkat telepon yang terus berdering, sementara dari balik jendela besar, terlihat kerumunan wartawan di luar gerbang gedung yang seperti semut kelaparan.
"Maaf, Pak Gio, Pak Bram benar-benar tidak bisa diganggu," ucap seorang sekretaris dengan nada bicara yang cepat dan napas tersengal.
"Dia sedang menangani krisis komunikasi dengan tim legal. Nama agensi ini sedang dipertaruhkan."
Gio hanya menatap pintu ruangan Bram yang tertutup rapat dari kejauhan. Melalui kaca transparan, ia bisa melihat Bram sedang berdiri membelakangi pintu, memegang ponsel di telinga sambil menatap pemandangan kota Jakarta.
Pria itu tampak sangat terkendali, berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi di sekelilingnya.
"Sampaikan padanya," Gio melangkah maju, memberikan kartu namanya ke meja sekretaris dengan sedikit tekanan. "Ini bukan soal agensi. Saya tunggu dia di Kafe The Beanery di seberang gedung ini dalam sepuluh menit. Jika tidak, saya akan kembali ke sini dengan surat panggilan resmi."
Sepuluh menit kemudian, di sebuah sudut remang Kafe The Beanery.
Tak lama kemudian, lonceng pintu kafe berdenting. Bram masuk dengan langkah tenang, masih mengenakan kemeja slim-fit yang rapi, tanpa kerutan sedikit pun, seolah badai di kantornya sama sekali tidak menyentuh dirinya.
Bram duduk di hadapan Gio dan Angga, lalu memesan sebuah Espresso singkat kepada pelayan.
"Ah, jadi kita mulai dari mana, Pak Gio?" tanya Bram.
Gio menyeduh kopinya perlahan, lalu meletakan gelas itu dan beralih menatap Bram.
"Soal masalah Erina. Apa anda sendiri tahu apa terjadi dengan gadis itu sebelum ia dibunuh di basement?"
Tatapan tajam dari mata hazel pria itu perlahan berubah. Ia menghela napas sejenak, lalu menjawab Gio. "Saya hanya mengirimkan dia pesan di pagi hari setelah beritanya mencuat ke publik,"
"Dia tidak membalas apapun. Dan sorenya gadis itu mengirim pesan agar saya menjemput dia di rumahnya,"
"Dan saat saya sedang di perjalanan... Saya dapat kabar bahwa dia sudah meninggal," jawab Bram.
Suasana menjadi hening. Pria itu lalu meraih ponselnya dan memberikan benda itu kepada Gio. "Anda bisa lihat sendiri jika mau, silahkan."
Gio awalnya enggan, namun karena rasa penasaran ia akhirnya meraih ponsel Bram. Ia mengecek riwayat pesan pria itu dengan Erina, serta segala informasi di dalamnya. Dan yap, semua disana seperti yang dia katakan.
Bram memperhatikan Gio yang masih fokus menatap layar ponselnya. Ia lalu membuka suara, "Mungkin ada yang perlu saya tambahkan,"
"Jika anda kesulitan mencari pelakunya, bisa saja pelaku itu adalah orang yang paling tidak anda duga,"
Gio tersentak. Kata-kata itu seolah mencentil kedua telinganya. Orang yang paling tidak diduga?
...****************...
Amsterdam Belanda
Rintik-rintik hujan turun perlahan membasahi sepanjang kota Amsterdam. Arini berjalan pelan menyusuri tepi jalan dengan payu putihnya. Matanya menyusuri jalan setapak yang ia lalui.
Sebuah pesan yang ia dapatkan beberapa hari lalu kini masih mengisi kepalanya. Arini bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang itu? Dan mengapa dia bisa tahu nomor Arini?
Secara logis, tidak ada yang tahu nomor baru Arini disini selain Gio, Ryan, dan Pak Yono. Bagaimana orang asing bisa mengirimi ia pesan?
Beberapa hari ini juga Gio masih tidak bisa dihubungi. Arini penasaran dengan kabar terbaru disana.
Beberapa menit berlalu, Arini akhirnya tiba di kediamannya. Begitu ia meletakan payung, Bibi Aliyah tiba-tiba saja membuka pintu dan menyambut Arini dengan senyum cerianya.
"Non, selamat malam! Ayuk masuk, bibi udah bikinin sop kesukaan non, lho!" ucap Bibi Aliyah sambil menggandeng Arini.
Pintu kayu itu berderit pelan dan keduanya segera masuk ke dalam sana. Tak jauh dari kediaman itu, seorang laki-laki dengan mengenakan jas hitam memandangi kediaman Arini dengan tajam. Ia lalu meraih ponselnya dan menelpon seseorang yang jauh puluhan kilometer dari Kota Amsterdam.
"Halo, pak. Target sudah masuk rumah, sejauh ini semua baik-baik saja,"
Tak lama kemudian, seseorang menyahut dengan tawa kecil. "Bagus, terus amati wanita itu. Jangan biarkan dia ikut campur dengan masalah kita,"
"Baik pak,"
Sambungan telepon berakhir. Laki-laki itu pun berbalik dan berjalan pergi menjauh dari sana.
BRUK!
Seseorang dari kejauhan berlari dan menghantam punggung laki-laki itu dengan keras hingga dirinya jatuh ke tanah. Ia bahkan belum menoleh, namun pukulan yang keras kali menghantamnya bertubi-tubi.
"Sial! Hentikan, siapa anda?!" suaranya terdengar serak, laki-laki itu hendak bangkit namun tubuhnya sudah ditahan oleh pria dengan manik mata biru di belakangnya itu.
"Jawab pertanyaan saya, siapa anda? Dan apa urusan anda kemari?" bisik Ryan pelan dengan tajam.
"Seharusnya saya yang bertanya, siapa kau sia*lan!" ucap laki-laki itu dengan emosi.
"Jawab saja, mudah bukan? Atau.. Anda mau mati mengenaskan disini?" ucap Ryan kembali dengan tawa kecil.
Dengan pasrah akhirnya laki-laki itu menjawab Ryan. Suaranya terdengar pelan dan serak dari sebelumnya, "Saya Evan,"
"Bukan namamu, sia*lan!" sahut Ryan kesal.
Laki-laki itu menatap tajam Ryan sambil mendengus pelan. "Dasar! Sudah saya jawab, itu kan yang anda mau?!"
"Apa tujuanmu kemari, dan buat apa anda mengikuti Arini sampai ke rumahnya?" tanya Ryan.
"Saya hanya diminta untuk melihat gerak-gerik Arini dan memastikan dia tidak keluar dari zonanya." jawab Evan.
Ryan mengangkat sebelah alisnya. Ia sedikit bingung dengan ucapan laki-laki itu. "Apa maksudmu dengan zona? Memang Arini ada masalah apa denganmu?"
"Dia tidak punya masalah. Hanya kami tidak ingin dia ikut campur dengan masalah kami, paham?"
"Dan sebaiknya anda juga tidak ikut campur. Atau tidak bos kami akan membunuhmu sama seperti gadis itu." jawab Evan.
Di tengah pembicaraan keduanya, Evan lalu menarik tangan Ryan dan memukul pria itu dengan keras. Laki-laki itu berlari dengan kencang meninggalkan Ryan.
Ryan terjatuh namun ia berdiri dengan cepat dan mengejar Evan yang semakin menjauh. Keduanya berlarian di sepanjang jalan kota ditengah kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang.
Ryan hampir mendapat Evan, tangannya terangkat dan menarik kerah jas laki-laki itu. Namun dari sisi kirinya seorang pengendara motor tiba-tiba mendekat dan menepis tangan Ryan dengan kencang.
Ryan terhempas dan jatuh. Pengendara itu lalu menghampiri Evan dan membawa laki-laki itu pergi dari Ryan.
Sementara itu Ryan masih terduduk lemas di trotoar jalan sambil menatap kedua orang itu yang kini semakin menjauh dari jalanan kota.
"Sial!" umpat Ryan.
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁