罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Dojo part II
...**...
...屈しない身体...
...-Kusshinai karada-...
...'Tubuh yang tidak menyerah'...
...⛩️🏮⛩️...
Empat tokoh penting tak terlihat di dojo.
Sakaki Jin, wakil utama Oyabun dan Daigo Kagemaru—bendahara klan, tak berada di antara para anggota yang berlatih.
Mereka tengah berdiri di ruangan utama menara markas, bersama Oyabun Yamaguchi Raizen sendiri. Mengamati latihan dari balik jendela besar, tak berkata apa pun, tapi dunia di bawah bergerak dalam bayang-bayang tatapan mereka.
Di sisi kanan Oyabun berdiri Mikami Torao, wakil kedua dan eksekutor tertinggi. Tubuhnya seperti dipahat dari besi tua, dan diamnya menyimpan kematian yang hanya menunggu alasan untuk dilepaskan.
Dan di bawah sana, Noa berdiri di ambang dojo.
...⛩️🏮⛩️...
"Pagi yang bagus untuk menambah luka baru, Nakamura," suara akrab menyapa.
Noa menoleh.
Kuroda. Berdiri di ambang dojo, dua jari buntungnya tersembunyi dalam kain. Tatapan matanya tajam, tapi ada senyum tipis di bibirnya. "Kau masih bisa jalan. Artinya tubuhmu belum menyerah."
Tidak ada formalitas. Hanya kenyataan.
"Aku hampir mati lima hari lalu," jawab Noa pendek dan sinis.
Kuroda mengangkat bahu. "Maka hari ini cocok untuk mengulanginya. Dengan lebih... elegan."
Ia mendekat, lalu menunjuk ke dalam area dojo. "Kau datang sendiri tanpa disuruh. Itu artinya tubuhmu siap. Hanya pikiranmu belum yakin."
Noa menghela napas, lalu dengan nada mengancam, "Kau mau aku buktikan sesuatu?"
"Tidak. Aku mau kau belajar sesuatu."
Lalu ia menyipitkan mata. "Kau pikir kau satu-satunya orang yang membawa beban naga?"
Langkah Noa menegang.
Kaito berdiri siaga di sisi luar dojo. Diam dan mengamati.
Sebelum Noa menjawab, suara datar menyela dari belakang.
"Bebanmu berat, tapi mulutmu masih ringan ternyata, Noa-chan*."
Reiji. Sudah berdiri di sisi lain dojo, kendogi hitamnya basah oleh keringat. Matanya tersenyum tapi terlihat dingin, tanpa niat menyambut.
Akiro menyusul dari belakang, membawa dua bilah pendeknya. "Kalau kau masih cukup kuat untuk berdiri dan membalas omongan, berarti kau cukup kuat untuk diam dan menyimak."
Kuroda tertawa pendek. "Dengar itu. Bahkan seorang Yamaguchi sejati tahu kapan harus menjaga lidahnya."
Ia menunjuk lantai dojo.
"Masuklah, Nakamura."
"Lakukan satu hal hari ini," lanjut Kuroda pelan. "Belajar menerima rasa sakit bukan sebagai lawan... tapi sebagai bagian dari tubuhmu."
Noa diam. Tapi tubuhnya... maju.
...⛩️🏮⛩️...
Lantai dojo dingin saat telapak kakinya menyentuhnya.
Semua mata beralih. Latihan berhenti sebentar. Beberapa bersiul pelan. Ada yang mengangguk. Tapi tidak ada yang sampai menyapanya.
Semua mengingat. Mengawasi.
Satu langkahnya berarti satu deklarasi:
Noa belum mati.
Dan ia bertahan bukan untuk menyerah.
...⛩️🏮⛩️...
Kaede-lah yang menyambutnya pertama.
Bukan dengan salam, bukan pula dengan senyum.
Melainkan pukulan lurus ke arah wajah.
Noa hampir tak sempat menghindar. Refleksnya masih lambat—tulang selangkanya belum pulih sempurna, dan nyeri yang menjalar hingga ke telapak kaki membuatnya kehilangan momen vital sepersekian detik. Tapi dia tetap berdiri.
Kaede menatapnya, mata seperti baja yang baru ditempa. Dingin. Berat. Tak peduli.
"Kalau kau lambat seperti itu," Kuroda menimpali, "... mati bukan pilihan. Itu kepastian."
Noa menarik napas pendek. Tersenyum tipis meski darah terasa hangat di gusi.
"Terima kasih atas sambutannya," sahutnya, separuh mengejek, separuh tulus.
Kaede tidak membalas. Ia mengangguk sekali—bukan karena hormat, tapi sebagai bentuk pengakuan atas satu hal. Noa masih bertahan.
Lalu ia mundur, memberinya tempat. Bukan untuk menyambut. Tapi untuk melihat apakah Noa layak jatuh lagi.
Akiro dan Reiji tidak mengatakan apa-apa. Tapi formasi terbentuk.
Rantai yang dulu memusuhi Noa kini menyisakan celah.
Cukup untuk dia masuk.
Cukup untuk dia diuji.
Dan dari sisi dojo, Kuroda memperhatikan.
Tubuhnya duduk tenang, mirip seperti bayangan.
Tapi matanya menyala seperti arang yang belum padam.
...⛩️🏮⛩️...
Latihan dimulai tanpa aba-aba.
Noa tidak diberi waktu untuk adaptasi.
Langsung satu lawan dua. Akiro dan Reiji menyerang dari arah berlawanan, gerakan mereka seolah dikoreografikan oleh satu pikiran yang sama.
Akiro membidik urat dengan bilah pendeknya.
Reiji mengincar sendi dan keseimbangan.
Noa bertahan.
Tidak dengan sempurna—nafasnya tetap kacau, gerakan lengannya masih berat.
Tapi ini kali kedua, ia tidak tumbang dalam lima langkah pertama.
Selama tiga puluh hari latihan, batas itu selalu jadi tembok yang mustahil ditembus.
Kemarin, di ujian pertarungan, untuk pertama kalinya ia berhasil melewatinya.
Dan kini, latihan yang kedua, ia kembali menegakkan dirinya setelah melewati lima langkah.
Dua kali berturut-turut.
Entah kebetulan atau keberuntungan.
Namun batas berikutnya lebih sulit.
Gerakan berikutnya serangan ganda ke arah kepala dan lutut.
Noa berguling mundur. Tapi lutut kanannya terseret terlalu lama di lantai.
Tendangan Reiji masuk.
Bugh.
Keras. Mengenai rusuk kiri.
Sakit. Perih. Tapi...
Darah naga bangkit. Sedikit.
Noa tak sadar napasnya mulai berubah. Tidak sadar matanya kembali menyala biru.
Akiro menoleh. Untuk sepersekian detik, ia ragu.
Reiji mundur setengah langkah.
Dan dalam jeda itu... Noa menyerang.
Bukan karena ingin menang.
Tapi karena tubuhnya mulai menari bersama rasa sakit. Mulai membaca bahasa yang disebut Kuroda—bahasa luka.
Rasa nyeri menjadi semacam irama. Napas pendek menjadi tempo.
Darah naga bukan hanya amukan. Tapi keselarasan.
...⛩️🏮⛩️...
Di atas ruangan seberang yang jendelanya menghadap arah dojo, Oyabun memicingkan mata.
"Roh itu mulai bangkit," gumamnya.
Sakaki Jin mengangguk di sampingnya.
"Tapi ini terlalu cepat, Raizen-sama. Kuraokami memang bukan roh yang sabar."
Torao berdiri bersilang tangan. Suaranya pelan, berat oleh makna.
"Bukan soal waktu, aniki. Tapi apakah dia mampu menjaga perbedaan antara tubuh dan jiwa. Antara dirinya... dan Kuraokami."
"Dan jika tidak, Torao-san?" tanya Jin, datar.
Oyabun menimpali dengan tersenyum sangat tipis. Senyum yang lebih mirip luka.
"Maka kita tak hanya kehilangan satu anak naga..."
Ia menoleh ke arah hutan di utara, jauh dari markas.
"... tapi memanggil perang yang belum waktunya."
Kagemaru hanya terdiam, dengan mata tajamnya memicing, pikirannya memperhitungkan segala kemungkinan.
...⛩️🏮⛩️...
Hari-hari berikutnya.
Di dalam dojo, udara terasa berat.
Bukan karena suhu, tapi karena diam-diamnya pengharapan dan skeptisisme yang terlalu lama menempel di dinding kayu dan sorot mata para saksi.
Noa sudah berkali-kali datang ke tempat ini. Hampir tiap waktu.
Pagi. Siang. Malam.
Dengan tubuh lelah, luka di rusuk, dan mata yang hampir selalu padam.
Berkali-kali ia jatuh. Berkali-kali ia kalah sebelum sempat bertarung.
Tak terhitung pukulan yang meleset, teknik yang berantakan, atau langkah yang salah arah.
Setiap kali tubuhnya menyentuh lantai, ia bangkit kembali.
Tapi selalu dengan pertanyaan yang menggema dalam diam:
'Apa gunanya?'
Tak ada yang berkata ia tidak berhasil. Tapi tak seorang pun berkata sebaliknya.
Hari ini pun tampaknya akan sama.
Sampai Kaede menendangnya.
Tendangan berputar yang meluncur cepat dan presisi, menghantam sisi kepala Noa tanpa ampun. Dentumannya membelah udara dojo, memantul di langit-langit.
Tubuh Noa terpental.
Ia tidak bangkit.
Tapi ia juga tidak pingsan.
Ia tergeletak. Napasnya berat, seperti seseorang yang baru saja tenggelam. Dunia berputar di matanya. Tapi ia sadar.
Dan ia tertawa.
...—つづく—...
...*panggilan adik/seseorang yang lebih muda...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍