NovelToon NovelToon
Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Ketos / CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Ra za

Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Makan malam

Nayla terdiam, bukan karena ia tak mengerti maksud Leon, melainkan karena kalimat itu terasa terlalu besar untuk diterima dalam satu tarikan napas.

Bukan ancaman. Bukan bentakan. Tapi justru nada datar itulah yang membuat kata-kata itu seolah menempel di dada Nayla, berat dan menekan. Ia berdiri tegak di sisi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.

“tidak ingin sendiri... bagaimana, Tuan?” tanyanya akhirnya, hati-hati, memilih setiap kata agar tidak terdengar menantang.

Leon tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada langit-langit kamar, seolah ada sesuatu di sana yang lebih menarik daripada wajah Nayla. Lalu bibirnya terangkat sedikit—sebuah senyum tipis yang dingin, kosong.

“Kau terlalu banyak bertanya,” katanya pelan, “untuk seseorang yang digaji.”

Kata-kata itu seperti cambukan tak terlihat. Nayla tercekat. Seketika bahunya mengendur, kepalanya menunduk.

“Maaf, Tuan.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Leon memejamkan mata, napasnya terdengar sedikit lebih berat. Tangannya mengepal di atas selimut, seolah ia sedang berperang dengan sesuatu yang tak bisa dilihat.

“Aku tidak butuh orang yang sempurna,” ucapnya kemudian, nadanya lebih rendah, lebih pelan—nyaris terdengar lelah. “Aku hanya butuh orang yang tidak pergi… saat aku menjadi beban.”

Kalimat itu membuat Nayla mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Leon sebagai majikan yang dingin dan penuh kuasa, melainkan seorang pria yang terjebak dalam tubuhnya sendiri.

“Aku akan berusaha, Tuan,” ucapnya jujur. Tidak berjanji muluk. Tidak berlebihan. Hanya sebuah niat tulus.

Leon tidak menjawab. Ia menggeser tubuhnya sedikit di ranjang, gerakan kecil yang jelas membutuhkan tenaga. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia berkata singkat, “Bantu aku ke kamar mandi.”

Perintah itu terdengar berbeda. Lebih… manusiawi.

Nayla segera bergerak. Ia meletakkan tas belanjaan di sudut kamar, lalu mendekat. Dengan hati-hati, ia membantu Leon duduk. Kali ini, Leon tidak sepenuhnya pasrah—ia berusaha menahan tubuhnya sendiri, meski jelas kesakitan.

Mereka bergerak perlahan menuju kursi roda. Nayla bisa merasakan berat tubuh Leon, bukan hanya secara fisik, tapi juga beban emosional yang tak terucap. Saat akhirnya mereka sampai di depan kamar mandi, keringat mulai membasahi pelipis Nayla.

“Sampai sini saja,” kata Leon tiba-tiba.

Nayla berhenti. “Tuan?”

“Aku bisa mengurus sisanya.” Ia menoleh sekilas, tatapannya singkat namun ragu. “Tutup pintunya dari luar. Tapi… jangan pergi jauh.”

Nada itu bukan perintah keras. Lebih seperti permintaan yang tidak ingin diakui.

“Baik,” jawab Nayla lembut.

Ia menutup pintu kamar mandi dan berdiri di luar. Dari balik pintu, terdengar suara air mengalir. Nayla menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas panjang. Dadanya terasa aneh—antara lega karena diberi jarak, dan cemas karena meninggalkannya sendirian.

Beberapa menit berlalu.

“Nayla.”

Ia tersentak. “Iya, Tuan?”

“Ambilkan pakaian di lemari kanan,” katanya. “Yang abu-abu.”

Nayla segera melangkah ke lemari, mencari pakaian yang dimaksud. Saat kembali, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Leon duduk di kursi kecil, tubuhnya dibalut handuk. Rambutnya basah, wajahnya pucat, jauh lebih rapuh dibandingkan saat ia memarahinya.

“Aku…” Leon berhenti sejenak, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan. “Butuh bantuan sedikit.”

Nada itu lirih. Hampir seperti pengakuan kalah.

Tanpa berkata apa-apa, Nayla berlutut. Ia membantu Leon mengenakan celana dengan hati-hati, menjaga pandangannya tetap profesional. Tidak ada sentuhan yang tidak perlu. Tidak ada rasa canggung yang berlebihan. Hanya dua orang yang sama-sama belajar bertahan dalam situasi yang tak pernah mereka minta.

Setelah selesai, Leon bersandar di kursi, napasnya berat, matanya terpejam.

“Terima kasih,” ucapnya singkat.

Nayla terdiam sesaat. Itu pertama kalinya ia mendengar kata itu keluar dari mulut Leon. Sebuah kata sederhana, tapi terasa mahal.

Ia tersenyum kecil. “Sama-sama, Tuan.”

Beberapa saat kemudian, Leon sudah kembali duduk rapi di kursi rodanya.

“Kau mandi,” katanya. “Setelah itu, temani aku makan di bawah.”

Nayla mengangguk. “Baik.”

Saat ia melangkah keluar kamar, barulah ia menyadari napasnya masih belum stabil. Tangannya sedikit gemetar.

Ini bukan pekerjaan biasa, batinnya.

Tapi aku juga harus menghadapi nya

---

Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit lembap. Ia bahkan tidak sempat mengeringkannya sempurna. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia melirik jam dinding, ia sudah hampir melewati waktu yang Leon berikan.

Ia menarik napas sebelum mengetuk pintu kamar Leon.

“Tuan, saya sudah siap. Kita bisa turun sekarang.”

Leon menoleh, raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksabaran.

“Kau selalu membuatku menunggu,” katanya dingin. “Aku tidak suka itu.”

Nayla menelan ludah. Tidak ada pembelaan yang keluar dari bibirnya. Ia hanya mengangguk dan langsung mendorong kursi roda Leon menuju lift khusus yang terletak di ujung koridor.

Perjalanan turun berlangsung dalam diam. Tapi bagi Nayla, keheningan itu terasa berat, seolah setiap detiknya dipenuhi ketegangan yang tak terlihat.

Begitu pintu lift terbuka, aroma masakan langsung menyambut mereka. Ruang makan utama terlihat lebih terang dari biasanya. Di ujung meja, Mama Gaby sudah duduk, tangannya terlipat rapi di atas taplak, matanya berbinar begitu melihat Leon.

“Leon?” suaranya terdengar hampir tidak percaya. “Kamu turun hari ini?”

Leon mengangguk singkat. “Iya.”

Itu saja. Namun bagi Mama Gaby, satu kata itu sudah cukup membuat senyumnya melebar.

“Mama senang sekali,” katanya lirih. “Sudah lama kamu tidak makan bersama.”

Leon tidak menanggapi, tapi pandangannya sempat berhenti sejenak pada Nayla, hanya sepersekian detik, nyaris tak tertangkap.

Setelah memastikan posisi Leon nyaman di meja makan, Nayla hendak mundur.

“Saya permisi makan di dapur, Nyonya,” ucapnya sopan.

Langkahnya baru satu ketika suara Leon kembali terdengar.

“Tidak usah.”

Nayla berhenti.

“Duduk di sini,” lanjut Leon tanpa menatapnya. “kamu makan disini saja.”

Mama Gaby menimpali dengan senyum hangat, “Iya, Nayla. Sebaiknya kamu makan disini saja.”

Dengan perasaan serba salah, Nayla akhirnya duduk di kursi paling ujung. Tangannya sempat ragu saat hendak mengambil sendok. Ia tidak terbiasa makan di meja sebesar ini, apalagi bersama majikannya.

Namun begitu suapan pertama masuk ke mulut, rasa lapar yang sejak tadi ia tahan langsung mengambil alih. Tanpa sadar, Nayla makan lebih cepat dari yang seharusnya. Ia lupa menjaga gerak, lupa pada lingkungan sekitar.

Mama Gaby memperhatikannya dengan saksama. Alih-alih terganggu, wanita itu justru tersenyum kecil. Tidak ada kepalsuan dalam diri gadis itu, tidak ada usaha untuk terlihat sempurna.

Leon memperhatikan dari sudut matanya. Cara Nayla makan, cara ia menunduk malu, bahkan cara ia buru-buru meneguk air, semuanya terasa… jujur. Dan itu asing baginya.

“Kalau kau terus begitu,” ujar Leon datar, “makanannya tidak sempat turun.”

Nayla terhenti. Sendoknya menggantung di udara.

“Hah?”

Baru setelah menyadari maksud Leon, wajahnya langsung memerah. Ia hampir tersedak, buru-buru menutup mulut dan mengambil minum.

“Maaf, Tuan,” katanya pelan. “Saya tidak sengaja.”

Leon mengalihkan pandangan.

“Aku tahu.”

Nada suaranya tetap dingin, tapi tidak menusuk seperti sebelumnya.

Makan malam berlangsung tanpa banyak percakapan. Namun suasananya tidak lagi terasa kaku. Ada jeda-jeda sunyi yang justru terasa nyaman, seolah ketiganya perlahan belajar berada dalam satu ruang yang sama.

Dan tanpa Nayla sadari, malam itu bukan hanya tentang makan bersama.

Itu adalah awal dari sesuatu yang pelan-pelan berubah bukan hanya bagi Leon, tapi juga bagi dirinya sendiri.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
oramg yg pernah jatuh cinta atau memiliki perasaan pd lawan jenis ebtah suka, kagum atau cinta..dan ketika seseorng pernah jatuh cinta pasti akan tau gimana rasanya bukan malah memberikan pernyataan dengan pertanyaaan yg mengherankan diri sendiri seolah" gak pernah jatuh cinta😌
Nur Syamsi
Yuni jgn jadi ulat bulu PDA keluarga orang, baik Tia maupun Nayla mrk ini adalah wanita tulus yg dinikahi oleh pria yg mapan ., makanya jgn macam macam Yuni mas dah" an kamu jga dpat pria yg tulus mencintaimu ..
Nur Syamsi
Siapa ya apcobu tiri Tia kali ya
Nur Syamsi
Betul Tia memaafkan seseorang itu mudah tp melupakannya yg sulit 🙏🙏🙏
Nur Syamsi
Wah kabar baik ni Tianya Rafa, mungkar n Hamidun dianya
Nur Syamsi
Woi wanita ambisius yg Tdk mau dengar nasehat kamu akan tunai apa yg kamu tabur
Erna setiani
cieee Rafa
hary as syifa
Bener2 sampai akhir ceritaku diplagiat ya kak. Novel aslinya ada di apk sebelah judulnya Pesona Perawat Tuan Abraham.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎
Zani: maaf kak, kak bilang plagiat sampai akhir. apakah semuanya sama?apakah cerita dengan topik yang sama itu plagiat. Saya baca beberapa cerita novel juga banyak kesamaan. tapi bukan berarti itu plagiat.🙏
total 1 replies
Imelda Mell Lele
karya yg bagus author..aq suka..teruskan berkarya seperti ini ya..
Nur Syamsi
Bagus Tia, itu hanya wanita ular yg taunya hanya ingin ganggu kesenangan orang....
Nur Syamsi
Jgn gila Rafa dihalalin sja tu Tianya
Munawaroh Ag
ini Certa plagiat kah kok sama cerita nya sama di apk faizo
Sastri Dalila
👍👍👍
Nur Syamsi
Cepat Rafa kasian Tianya
Erna setiani
cieee cieeee Pengantin baru
Erna setiani
kamu yang mempermalukan diri sendiri Clarisa, dasar gak punya malu
Nur Syamsi
Bawa ke apartemenku Rafa nanti disana baru tunggu penjelasan setelah Redah tangisnya, kasian Tia Rafa menanggung beban...berat dr ibu dan saudara tirinya
Nur Syamsi
Dasar Davin pria serakah
Nur Syamsi
Syang Ada yg maha kuasa yg melihat kelakuan hambahnya Tdk ada kejahatan yg pernah menang tp biasanya akan berbalik PD yg oran merencanakan kejahatan itu .
Nur Syamsi
Dasar pebonor,,,,pengganggu ulatvjantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!