NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Cinta Murni
Popularitas:25.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16.

Aurely tersentak. Ia segera tersenyum kecil. “Nggak.. apa apa kok Mas, kameranya bagus.”

Rizky tertawa pendek. “Biasa saja kok.” Ucap Rizky lalu kembali sibuk dengan kamera dan lap top. Ia memindah foto foto dari kamera ke dalam lap top.

Aurely mengangguk pelan. Logikanya berjalan.. “Tidak mungkin Mas Rizky yang mengambil foto foto itu. Dia tidak kenal dengan teman teman ku.” Gumam Aurely di dalam hati

Tidak mungkin. Namun tetap saja, kamera itu membuat dadanya terasa sempit. Aurely kembali bekerja, tetapi tampak ekspresi wajahnya tidak fokus pada apa yang ada di depannya.

Rizky sesekali mencuri pandangan ke arah Aurely

“Kamu kenapa kelihatan berpikir serius?” tanya Rizky, kini nadanya lebih pelan.

Aurely ragu sejenak. Lalu berkata jujur, tapi setengah. “Aku lagi nggak suka sama kamera, mas.”

Rizky terdiam. “Kenapa?”

Aurely hanya diam saja.. Ia terus melanjutkan kerjanya.. Menyiapkan buku catatan pesanan dan nota nota.

“Kalau ada masalah ceritakan. Agar tidak salah order lagi.” Ucap Rizky lalu kembali menunduk melanjutkan pekerjaannya .

Aurely menatap ke arah Rizky. Akhirnya kini ia berkata jujur. “Itu Mas.. Beberapa hari lalu ada foto Ayahku beredar di group teman kampusku dulu. Foto foto Ayah sedang bekerja di pasar ini. Diambil tanpa izin.”

Rizky mendongak keningnya mengernyit, menatap Aurely. “Serius?”

“Iya.” Jawab lirih Aurely. ”Mereka menertawakan Ayahku.”

Rizky menatap kamera di meja, lalu cepat-cepat meraih, membuka tasnya dan memasukkannya kembali kamera itu ke dalam tas ranselnya.

“Kalau gitu aku simpan dulu,” katanya. “Aku nggak akan bikin kamu nggak nyaman.” Ucap Rizky.. “Dan bukan aku pelakunya Mbak. Ini foto foto tentang usaha catering.”

Aurely terkejut. Ia tidak menyangka reaksi itu.

“Bukan gitu maksudku Mas, aku tidak menuduh Mas Rizky. ”

“Nggak apa-apa,” potong Rizky lembut. “Aku ngerti.”

Ada jeda hening di antara mereka. Tapi hening yang tidak berat.

Aurely menatap Rizky. Dan di sana, ia yakin satu hal: Bukan Rizky pelakunya. Rasa curiga perlahan luruh, digantikan oleh rasa bersalah karena membuat Rizky merasa tertuduh.

“Terima kasih,” ucap Aurely pelan.

Rizky tersenyum. “Sama-sama.” Lalu ia menutup lap top dan kembali memasukkan ke dalam laci.

Aurely menunduk. “Apa Mas pikir aku lebay…”

“Enggak,” potong Rizky pelan. Ia bangkit berdiri, siap akan berangkat ke kampus

Aurely mengangkat wajahnya.

Rizky menatap lurus ke arah Aurely, suaranya rendah. “Yang lebay itu orang-orang yang ngerasa hidupnya paling benar sampai lupa sopan.”

Aurely menelan ludah. Dadanya menghangat.

“Mereka ketawa,” lanjut Rizky. “Padahal kerja Ayahmu itu lebih jujur dari banyak hal yang mereka banggakan.”

Aurely menghela napas panjang. “Aku sudah balas di grup… lalu keluar.”

Rizky mengangguk pelan. “Itu keputusan yang sehat.”

“Mas Rizky nggak pikir aku cari masalah?” tanya Aurely

Rizky menggeleng. “Kamu menutup pintu yang memang harus ditutup.”

Hening sejenak.

Aurely memandang lantai. “Aku takut… kalau Ayah.. .”

Rizky terdiam sebentar, lalu berkata, “Kalau Ayahmu tahu, mungkin dia sedih. Tapi bukan karena fotonya. Tapi karena tahu anaknya sempat disakiti.”

Kedua mata Aurely berkaca kaca.. dan di saat ia mengedip.. air bening bergulir dari kedua ujungnya. Cepat-cepat ia menghapus air mata.

Rizky berdiri. Tidak menyentuh. Tidak menepuk. Ia hanya berdiri di sampingnya.

“Mbak,” katanya pelan, “kamu nggak harus kuat sendirian di sini.”

Aurely mengangguk. “Aku tahu.”

Karyawan yang ada di dalam show room menatap mereka berdua. “Iya Mbak , kalau ada masalah, curhat aja. Biar nggak nganjel.” Ucapnya pelan namun bersungguh sungguh, “Mbak Aurely ikut group chat catering aja.”

“Terima kasih.” Ucap Aurely mengangguk dan berusaha tersenyum.

“Okey, aku akan berangkat ke kampus.” Ucap Rizky, “ Dan hari ini Bu Wiwid tidak ke sini, Dia ke rumah sakit.”

Aurely kaget, langsung mendongak menatap Rizky.

“Ke rumah sakit?” alisnya berkerut. “Bu Wiwid kenapa, Mas?”

Rizky menggeleng pelan sambil meraih tasnya. “Bukan Bu Wiwid yang sakit.”

Aurely terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Terus siapa?”

Rizky menarik napas singkat. “Anaknya. Bu Wiwid cuma sempat nitip pesan, agar kamu cepat buat surat lamaran resmi.”

“Elin atau Elang? Kemarin mereka baik baik saja.”

“Bukan Elin atau Elang. Tapi Rembulan, adik mereka. Tadi pagi rewel dan panas.”

“Oh…” Aurely mengangguk, meski kepalanya terasa penuh. “Parah, Mas?”

“Belum tahu,” jawab Rizky jujur. “Makanya dia langsung ke rumah sakit.”

Aurely menatap meja. Bu Wiwid bukan Cuma sebagai Bos. Perempuan itu sudah menjadi guru dan motivatornya.

“Kasihan…” gumam Aurely.

Rizky berdiri, menyampirkan tas di bahu.

“Semoga saja hanya demam biasa. Mungkin Rembulan ingin lebih diperhatikan Mamanya. Dia seringnya sama Oma nya. Karena udara di pasar tidak baik buat bayi.”

“Iya, Mas.” ucap Aurely..

Rizky melangkah dua langkah, lalu berhenti lagi.

“Mbak.”

Aurely mengangkat wajah.

“Kamu jangan kebanyakan mikir hari ini. kalau ada apa apa bilang Bu Lastri .”

Aurely mengangguk pelan. “Iya.”

Rizky tersenyum tipis, lalu benar-benar pergi.

Show room toko roti kembali sunyi, menyisakan suara para karyawan yang sibuk di rumah makan dan di ruang belakang.

Aurely berdiri diam beberapa detik, lalu bergerak merapikan barang di etalase. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang.. tentang Bu Wiwid, tentang rumah sakit, tentang betapa cepat kabar buruk bisa datang tanpa aba-aba.

Ia menarik napas dalam-dalam. Semoga bukan apa-apa, batinnya.

Sesaat kemudian suara mesin mobil berhenti tepat di depan kios besar Bu Wiwid.

Aurely menoleh.

Sebuah mobil catering berwarna putih terparkir rapi. Pintu geser terbuka, dan seorang perempuan turun dengan gerakan tenang. Usianya sekitar empat puluhan. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya cantik dengan rias tipis, pakaiannya sederhana tapi terlihat mahal.

Aurely berdiri tegak tanpa sadar.

Perempuan itu melangkah masuk dan langsung ke show room tempat Aurely berada, menatap sekeliling toko dengan sorot mata yang cepat menilai.

“Kamu Aurely?” tanyanya langsung, suaranya datar tapi tegas.

“I-iya, Bu,” jawab Aurely. “Ibu siapa ya?”

“Retno.” Perempuan itu meletakkan tas di meja. “Mam… ibunya Rizky. Kakaknya Wiwid.”

Aurely terkejut. “Oh… Bu Retno.” Ia refleks tersenyum kecil. “Mas Rizky baru saja berangkat.”

Bu Retno mengangguk singkat. Tatapannya kembali menyapu toko, lalu berhenti di wajah Aurely lebih lama dari yang nyaman.

“Bu Wiwid harus ke rumah sakit,” lanjut Bu Retno. “Selama dia belum bisa ke sini, saya yang gantikan.”

“Oh, baik Bu. Terima kasih sudah..”

“Kamu tetap di sini saja,” potong Bu Retno, nada suaranya dingin. “Saya tidak minta kamu pindah ruang.”

Aurely terdiam. Senyumnya mengendur.

“Iya, Bu.”

Bu Retno duduk di kursi yang biasa diduduki Bu Wiwid. Ia membuka laci dengan kunci dari dalam tasnya. Lalu mengeluarkan buku dan amplop tebal dari dalam laci. Gerakannya cepat, dan penuh percaya diri. Jelas bukan orang baru di usaha catering ini.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi.

“Kamu yang jatuh di jalan beberapa hari lalu?” tanya Bu Retno tiba-tiba tanpa menoleh.

Aurely menelan ludah. “Ii iya, Bu.”

1
Siti Naimah
hayo Nurul... kejahatan apalagi yang mau kau rencanakan buat mencelakai Aurel dan tempat kerjanya? ingat bisa jadi dirimu dan keluargamu yang bakal hancur
Lisa
Akhirnya yg punya ide jahat kalah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
malah nambah2i masalah mu loh Nurul 😋
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lha dalah kenapa mlh jd 2 orang yg menjatuhan sih
ohh ndak kapok2 nya
apa mau dekam di pe jara lebih lama lagi
boar di intilin om wowo di teroro bru tau
Arieee
😡😡😡Nurul si biang kerok yang gak kapok kalo belum masuk penjara
Arias Binerkah: Iya tuh Nurul anak Pak Sastro pelit bin licik
total 1 replies
Lisa
Moga setelah diadakan pengajian org² yg biasa makan.di warung itu lebih yakin bahwa warung itu bersih dr hal² mistis
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
ini si Nenek Lyncah kenapa jadi ikut2an Nurul 🙄🙄
Ai Emy Ningrum: bikin duet maut 😹😹 nyanyi dangdut sambil ngedebus 👻👻
total 12 replies
Siti Naimah
woalah..itu kok ada aja orang yg mau disuruh sama Nurul dan Nelly..maklum mungkin diberi upah yg banyak ya?
nurul supiati
masuk penjara om wowo sekalian 🤣🤣🤣 nurul dan bpknya🤣🤣
Arieee
Nurul kalo gak masuk penjara gak mungkin kapokkkkkkK 😡😡😡😡😡
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lahfalah piye too iki
mlh dadi kocar kacir
mg2 wae dang di out ben dang kapok
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehhh hayoo siapa neror itu

nahh udh di pringatin kok mlh ttp ngeyel aja
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lhaaa udh mimpi kek gtu malah masih di terusin lagi mau nyebar rumor klo pake pesugihan .blm kapok rupanya
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehh di bilang om wowo nanti ya kok pake pesugihan segala hadehh cari mati rupanya
udh kalah tp g ngaku mlah mau bikin masalh baru lagi wis iki fix dek e ora waras utek e
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pas para mahasiswa ngecek dapur dan gudang harusnya sekalian di videoin, biar ada bukti tuuh /Shy/
Ai Emy Ningrum: hmm 🧐🤔 ada mungkin seksi video2 nya ...sungguh sangat ngeselin 😕🫤
total 1 replies
Lisa
Moga rumor itu terkalahkan oleh pernyataan dr mahasiswa² yg udh liat ke dapur.
Lisa
Wah jgn sampe para mahasiswa itu percaya pd rumor itu..
Lisa
Pak Sastro ini udh tau anaknya salah eh malah dibelain dgn cara spt itu..liat aj tuh mana yg akhirnya kalah..
Siti Naimah
hari gini masih percaya sama hal2 klenik.ingat lho Nurul..kamu itu mahasiswi.. seharusnya logika dipakai😄
Nancy Nurwezia
fitnah emang kejam ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!