Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16.
Aurely tersentak. Ia segera tersenyum kecil. “Nggak.. apa apa kok Mas, kameranya bagus.”
Rizky tertawa pendek. “Biasa saja kok.” Ucap Rizky lalu kembali sibuk dengan kamera dan lap top. Ia memindah foto foto dari kamera ke dalam lap top.
Aurely mengangguk pelan. Logikanya berjalan.. “Tidak mungkin Mas Rizky yang mengambil foto foto itu. Dia tidak kenal dengan teman teman ku.” Gumam Aurely di dalam hati
Tidak mungkin. Namun tetap saja, kamera itu membuat dadanya terasa sempit. Aurely kembali bekerja, tetapi tampak ekspresi wajahnya tidak fokus pada apa yang ada di depannya.
Rizky sesekali mencuri pandangan ke arah Aurely
“Kamu kenapa kelihatan berpikir serius?” tanya Rizky, kini nadanya lebih pelan.
Aurely ragu sejenak. Lalu berkata jujur, tapi setengah. “Aku lagi nggak suka sama kamera, mas.”
Rizky terdiam. “Kenapa?”
Aurely hanya diam saja.. Ia terus melanjutkan kerjanya.. Menyiapkan buku catatan pesanan dan nota nota.
“Kalau ada masalah ceritakan. Agar tidak salah order lagi.” Ucap Rizky lalu kembali menunduk melanjutkan pekerjaannya .
Aurely menatap ke arah Rizky. Akhirnya kini ia berkata jujur. “Itu Mas.. Beberapa hari lalu ada foto Ayahku beredar di group teman kampusku dulu. Foto foto Ayah sedang bekerja di pasar ini. Diambil tanpa izin.”
Rizky mendongak keningnya mengernyit, menatap Aurely. “Serius?”
“Iya.” Jawab lirih Aurely. ”Mereka menertawakan Ayahku.”
Rizky menatap kamera di meja, lalu cepat-cepat meraih, membuka tasnya dan memasukkannya kembali kamera itu ke dalam tas ranselnya.
“Kalau gitu aku simpan dulu,” katanya. “Aku nggak akan bikin kamu nggak nyaman.” Ucap Rizky.. “Dan bukan aku pelakunya Mbak. Ini foto foto tentang usaha catering.”
Aurely terkejut. Ia tidak menyangka reaksi itu.
“Bukan gitu maksudku Mas, aku tidak menuduh Mas Rizky. ”
“Nggak apa-apa,” potong Rizky lembut. “Aku ngerti.”
Ada jeda hening di antara mereka. Tapi hening yang tidak berat.
Aurely menatap Rizky. Dan di sana, ia yakin satu hal: Bukan Rizky pelakunya. Rasa curiga perlahan luruh, digantikan oleh rasa bersalah karena membuat Rizky merasa tertuduh.
“Terima kasih,” ucap Aurely pelan.
Rizky tersenyum. “Sama-sama.” Lalu ia menutup lap top dan kembali memasukkan ke dalam laci.
Aurely menunduk. “Apa Mas pikir aku lebay…”
“Enggak,” potong Rizky pelan. Ia bangkit berdiri, siap akan berangkat ke kampus
Aurely mengangkat wajahnya.
Rizky menatap lurus ke arah Aurely, suaranya rendah. “Yang lebay itu orang-orang yang ngerasa hidupnya paling benar sampai lupa sopan.”
Aurely menelan ludah. Dadanya menghangat.
“Mereka ketawa,” lanjut Rizky. “Padahal kerja Ayahmu itu lebih jujur dari banyak hal yang mereka banggakan.”
Aurely menghela napas panjang. “Aku sudah balas di grup… lalu keluar.”
Rizky mengangguk pelan. “Itu keputusan yang sehat.”
“Mas Rizky nggak pikir aku cari masalah?” tanya Aurely
Rizky menggeleng. “Kamu menutup pintu yang memang harus ditutup.”
Hening sejenak.
Aurely memandang lantai. “Aku takut… kalau Ayah.. .”
Rizky terdiam sebentar, lalu berkata, “Kalau Ayahmu tahu, mungkin dia sedih. Tapi bukan karena fotonya. Tapi karena tahu anaknya sempat disakiti.”
Kedua mata Aurely berkaca kaca.. dan di saat ia mengedip.. air bening bergulir dari kedua ujungnya. Cepat-cepat ia menghapus air mata.
Rizky berdiri. Tidak menyentuh. Tidak menepuk. Ia hanya berdiri di sampingnya.
“Mbak,” katanya pelan, “kamu nggak harus kuat sendirian di sini.”
Aurely mengangguk. “Aku tahu.”
Karyawan yang ada di dalam show room menatap mereka berdua. “Iya Mbak , kalau ada masalah, curhat aja. Biar nggak nganjel.” Ucapnya pelan namun bersungguh sungguh, “Mbak Aurely ikut group chat catering aja.”
“Terima kasih.” Ucap Aurely mengangguk dan berusaha tersenyum.
“Okey, aku akan berangkat ke kampus.” Ucap Rizky, “ Dan hari ini Bu Wiwid tidak ke sini, Dia ke rumah sakit.”
Aurely kaget, langsung mendongak menatap Rizky.
“Ke rumah sakit?” alisnya berkerut. “Bu Wiwid kenapa, Mas?”
Rizky menggeleng pelan sambil meraih tasnya. “Bukan Bu Wiwid yang sakit.”
Aurely terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Terus siapa?”
Rizky menarik napas singkat. “Anaknya. Bu Wiwid cuma sempat nitip pesan, agar kamu cepat buat surat lamaran resmi.”
“Elin atau Elang? Kemarin mereka baik baik saja.”
“Bukan Elin atau Elang. Tapi Rembulan, adik mereka. Tadi pagi rewel dan panas.”
“Oh…” Aurely mengangguk, meski kepalanya terasa penuh. “Parah, Mas?”
“Belum tahu,” jawab Rizky jujur. “Makanya dia langsung ke rumah sakit.”
Aurely menatap meja. Bu Wiwid bukan Cuma sebagai Bos. Perempuan itu sudah menjadi guru dan motivatornya.
“Kasihan…” gumam Aurely.
Rizky berdiri, menyampirkan tas di bahu.
“Semoga saja hanya demam biasa. Mungkin Rembulan ingin lebih diperhatikan Mamanya. Dia seringnya sama Oma nya. Karena udara di pasar tidak baik buat bayi.”
“Iya, Mas.” ucap Aurely..
Rizky melangkah dua langkah, lalu berhenti lagi.
“Mbak.”
Aurely mengangkat wajah.
“Kamu jangan kebanyakan mikir hari ini. kalau ada apa apa bilang Bu Lastri .”
Aurely mengangguk pelan. “Iya.”
Rizky tersenyum tipis, lalu benar-benar pergi.
Show room toko roti kembali sunyi, menyisakan suara para karyawan yang sibuk di rumah makan dan di ruang belakang.
Aurely berdiri diam beberapa detik, lalu bergerak merapikan barang di etalase. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang.. tentang Bu Wiwid, tentang rumah sakit, tentang betapa cepat kabar buruk bisa datang tanpa aba-aba.
Ia menarik napas dalam-dalam. Semoga bukan apa-apa, batinnya.
Sesaat kemudian suara mesin mobil berhenti tepat di depan kios besar Bu Wiwid.
Aurely menoleh.
Sebuah mobil catering berwarna putih terparkir rapi. Pintu geser terbuka, dan seorang perempuan turun dengan gerakan tenang. Usianya sekitar empat puluhan. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya cantik dengan rias tipis, pakaiannya sederhana tapi terlihat mahal.
Aurely berdiri tegak tanpa sadar.
Perempuan itu melangkah masuk dan langsung ke show room tempat Aurely berada, menatap sekeliling toko dengan sorot mata yang cepat menilai.
“Kamu Aurely?” tanyanya langsung, suaranya datar tapi tegas.
“I-iya, Bu,” jawab Aurely. “Ibu siapa ya?”
“Retno.” Perempuan itu meletakkan tas di meja. “Mam… ibunya Rizky. Kakaknya Wiwid.”
Aurely terkejut. “Oh… Bu Retno.” Ia refleks tersenyum kecil. “Mas Rizky baru saja berangkat.”
Bu Retno mengangguk singkat. Tatapannya kembali menyapu toko, lalu berhenti di wajah Aurely lebih lama dari yang nyaman.
“Bu Wiwid harus ke rumah sakit,” lanjut Bu Retno. “Selama dia belum bisa ke sini, saya yang gantikan.”
“Oh, baik Bu. Terima kasih sudah..”
“Kamu tetap di sini saja,” potong Bu Retno, nada suaranya dingin. “Saya tidak minta kamu pindah ruang.”
Aurely terdiam. Senyumnya mengendur.
“Iya, Bu.”
Bu Retno duduk di kursi yang biasa diduduki Bu Wiwid. Ia membuka laci dengan kunci dari dalam tasnya. Lalu mengeluarkan buku dan amplop tebal dari dalam laci. Gerakannya cepat, dan penuh percaya diri. Jelas bukan orang baru di usaha catering ini.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi.
“Kamu yang jatuh di jalan beberapa hari lalu?” tanya Bu Retno tiba-tiba tanpa menoleh.
Aurely menelan ludah. “Ii iya, Bu.”
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting