Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Dipendam
Aruna memilih bangun lebih pagi dari biasanya sejak beberapa minggu terakhir. Bukan karena tuntutan pekerjaan, melainkan karena ia ingin memulai hari dengan caranya sendiri. Ia membuka jendela apartemen kecil yang kini ia tempati, menghirup udara pagi yang masih bersih, lalu berdiri beberapa saat dalam diam.
Tidak ada lagi rumah besar yang terasa kosong. Tidak ada lagi ruang-ruang sunyi yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Tempat tinggalnya sekarang sederhana, tetapi cukup.
“Aku baik-baik saja,” gumam Aruna pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia menyiapkan kopi hitam hangat, lalu duduk sambil menatap jadwal kerjanya di tablet. Pekerjaan kini menjadi fokus utamanya, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai pijakan untuk berdiri kembali. Ia mengisi hari-harinya dengan target, rapat, dan pencapaian kecil yang dulu sering ia abaikan demi orang lain.
Kini, ia bekerja bukan untuk melupakan, melainkan untuk menemukan dirinya sendiri.
“Aku tidak akan berhenti lagi,” katanya lirih sambil meminum kopi.
Di kantor, perubahan Aruna terasa jelas. Ia lebih fokus, lebih tegas, dan tidak lagi ragu menyampaikan pendapat. Luka yang pernah menjatuhkannya kini justru membuatnya lebih hati-hati, bukan lebih rapuh.
Ia belajar berkata tidak, belajar menempatkan dirinya sebagai prioritas.
“Akhir-akhir ini kinerja kamu sangat bagus, rapi, dan matang,” ujar Daniel setelah rapat siang itu selesai.
Aruna menoleh. “Terima kasih, pak. Saya sempat ragu dengan bagian akhirnya.”
“Justru itu bagian terkuatnya,” jawab Daniel tulus.
Daniel berdiri di samping mejanya, tidak terlalu dekat, tidak pula menjaga jarak berlebihan. Kehadirannya terasa wajar. Tidak menekan. Tidak mengganggu.
“Kalau butuh bantuan untuk meeting minggu depan, bilang saja,” lanjut Daniel. “Saya lihat bebannya cukup berat.”
Aruna terdiam sesaat. “Saya akan bilang kalau butuh. Terima kasih, pak.” Katanya tersenyum sopan.
Daniel mulai hadir dalam keseharian Aruna dengan cara yang nyaris tidak terasa. Ia tidak memaksakan obrolan, tidak mengorek masa lalu. Ia hanya ada, konsisten dan tenang.
Kadang mereka makan siang bersama, kadang hanya bertukar komentar singkat tentang pekerjaan.
“Kamu kelihatan capek hari ini,” kata Daniel suatu siang.
Aruna mengangkat bahu. “Sedikit, pak. Tapi masih bisa ditangani.”
“Kalau sudah terlalu berat, jangan dipaksakan,” ujar Daniel.
Aruna tersenyum tipis. “Saya sedang belajar soal itu.”
Suatu sore, mereka pulang bareng setelah lembur. Langit mulai gelap, dan lampu-lampu kantor satu per satu padam.
“Runa, hari ini kamu gak bawa mobil?” tanya Daniel sambil meraih kunci mobil.
“Gak,” jawab Aruna. “Mobil saya masih di bengkel, lusa baru selesai.”
“Aku antar sampai depan apartemen, ya.”
“Terima kasih, pak.”
Di dalam mobil, radio diputar pelan. Tidak ada percakapan yang dipaksakan. Sunyi itu terasa nyaman.
“Ada hari-hari yang rasanya lebih berat, ya?” ujar Daniel akhirnya.
Aruna menatap keluar jendela. “Ada.”
Daniel mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.
Malam-malam Aruna kini tidak lagi dipenuhi tangis. Sesekali kenangan datang, tentang pernikahan, tentang kepercayaan yang runtuh, tentang dirinya yang terlalu lama bertahan.
Namun rasa sakit itu tidak lagi menyesakkan. Lebih seperti bekas luka yang sudah menutup, meski masih terasa saat disentuh.
“Aku tidak apa-apa sekarang,” ucapnya pelan saat berdiri di depan cermin.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah yang lelah, tetapi tidak hancur. “Aku bertahan,” bisiknya. “Dan itu cukup.”
Saat akhir pekan, ponsel Aruna bergetar. Pesan dari Daniel masuk. “Runa, kalau kamu gak ada rencana hari ini, aku mau ajak kamu minum kopi.”
Aruna membaca pesan itu beberapa kali. Tidak ada paksaan. Tidak ada nada mendesak. “Boleh. Dimana tempatnya?” balasnya.
Daniel membalas dengan mengirimkan alamat cafe kopinya, “aku tunggu ya.”
“Oke, saya berangkat sekarang.” Aruna segera bersiap untuk berangkat menuju cafe tersebut.
Di kafe kecil yang tenang, mereka duduk berhadapan. Cahaya matahari masuk lembut dari jendela besar.
“Aku senang kamu mau datang,” kata Daniel sambil tersenyum.
“Saya juga,” jawab Aruna jujur.
“Runa, kalau kita sedang tidak di kantor. Apa boleh jangan menggunakan kata-kata formal.”
Aruna mengernyitkan dahi, “lalu menggunakan kata-kata apa?” tanyanya.
“Panggil aja aku Daniel. Dan jangan ada kata ‘saya’.” Ujar Daniel.
Mendengar kata-kata Daniel, Aruna tersenyum. Kemudian perlahan mengangguk. “Baik, Mas Daniel.”Ujarnya.
Mereka membicarakan hal-hal ringan. Tentang buku, film, dan pekerjaan. Tidak ada masa lalu yang dipaksa dibuka.
“Aku tidak mau mengganggu batasan yang kamu jaga,” ujar Daniel suatu saat. “Tapi kalau suatu hari kamu ingin cerita, aku siap mendengarkan.”
Aruna menatapnya beberapa detik. “Terima kasih. Itu berarti sekali untuk aku.”
Perlahan, Aruna memahami satu hal. Tidak semua luka harus diceritakan. Tidak semua rasa sakit perlu diumumkan. Ada luka yang cukup dipendam, dirawat perlahan, sampai sembuh dengan sendirinya.
Ia tidak lagi mencari cinta sebagai penyangga hidupnya. Ia sedang membangun dirinya sendiri.
“Tidak masalah sendiri,” ucap Aruna suatu malam. “Kalau nanti ada yang datang, itu bonus.”
Daniel tersenyum kecil mendengarnya. “Itu cara yang sehat.”
Malam itu, Aruna duduk di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota. Ponselnya bergetar lagi.
“Selamat malam Aruna, jangan lupa istirahat. Mimpi yang indah.”
Aruna tersenyum dan membalas singkat. “Kamu juga, Mas Daniel.”
Ia menutup ponsel, menarik napas panjang. Hidupnya belum sempurna. Lukanya belum benar-benar hilang. Namun ia tidak lagi merasa hancur. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aruna tahu ia sedang melangkah maju, bukan sekadar bertahan.
Sementara di tempat lain, Revan sedang duduk di teras belakang rumahnya. Matanya menatap langit sore dengan pandangan kosong. Sejak menikah dengan Viona, ia justru sering merasa kesepian. Ada bagian dalam dirinya yang terasa hilang, sesuatu yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.
Awalnya, Revan mengira pernikahannya dengan Viona akan memberinya kebahagiaan. Ia yakin telah memilih perempuan yang tepat. Namun kenyataan berkata lain. Viona lebih banyak sibuk dengan dunianya sendiri, dunia selebritas yang dipenuhi gemerlap, kemewahan, dan sensasi tanpa henti.
Revan menghela napas panjang. Ia lalu meraih ponselnya dan menghubungi ibunya. “Halo, Ma,” ucap Revan pelan.
“Iya, Van. Ada apa?” suara ibunya terdengar lembut di seberang.
“Mama apa kabar?” tanyanya dengan nada hati-hati.
“Mama baik-baik saja, Nak. Kamu dan Viona bagaimana kabarnya?”
“Kami baik, Ma,” jawab Revan singkat.
Ada jeda sejenak sebelum Revan melanjutkan, suaranya terdengar lebih berat.
“Ma… aku merasa ada sesuatu yang tidak benar.”
Ratih terdiam sejenak. “Tidak benar bagaimana, nak?”
“Sejak menikah, aku justru merasa kosong,” ucap Revan lirih. “Aku pikir hidupku akan bahagia.”
“Lalu kamu merasa sendirian?” tanya Ratih.
Revan mengangguk. “Rumah besar, tapi rasanya tidak ada tempat untuk pulang.”
Ratih menarik napas pelan. “Pernikahan bukan tentang ramai atau mewah, Revan. Tapi tentang merasa ada teman untuk berbagi hidup.”
“Ma… apa aku salah?” suara Revan bergetar.
Ratih menjawab tenang, “Jawaban itu sebenarnya sudah ada di hatimu.”
Revan terdiam. “Aku capek.”
“Mama tahu,” sahut Ratih singkat, namun penuh makna.
“Apa mama kecewa padaku?”
Ratih tidak meninggi. “mama sedih.”
Satu kata itu membuat Revan menutup mata.
“Aku cuma ingin tenang, ma.”
“Ketenangan tidak selalu datang dari keinginan,” ujar Ratih. “Kadang datang dari keberanian mengakui kesalahan.”
“Kalau aku jatuh, apakah mama masih ada?”
“Rumah ini selalu terbuka,” jawab Ratih. “Tapi mama tidak bisa membenarkan yang salah.”
Revan menghela napas panjang. “Aku belum siap.”
“Tidak apa-apa,” ucap Ratih lembut. “Mama akan menunggu.”